15. Pelan-pelan Terungkap

2126 Words
Pada dasarnya manusia dikarunia akal untuk mengingat dan melupakan sesuatu sesuai kehendaknya. Namun bila Tuhan berkata lain, kita bisa apa. Terkadang ada sesuatu hal yang bisa dengan mudah untuk dilupakan, justru menjadi hal yang mudah untuk diingat. Begitupun sebaliknya. Manusia boleh membuat skenario tentang jalan kehidupannya, tapi Tuhan telah menentukan skenario yang paling tepat bagi umatNya dalam bentuk Takdir. Seperti itulah yang terjadi pada Silvia saat ini. Dia membayangkan sesuatu yang susah ditangkap oleh nalar, saat berhadapan dengan teman yang dinanti oleh Delisha sejak setengah jam yang lalu. Bayangan tentang kejadian buruk yang pernah menimpanya beberapa tahun silam seolah berputar ulang di kepalanya. Membuat pikiran bawah sadarnya berkata, 'kamu tidak kenal pria ini. Dia juga tidak mengenalmu'. Namun Takdir berkata lain saat realitanya Jagapati atau yang biasa akrab dipanggil Jagad itu berkata, “Iya, gue Jagad. Lo Mbak Via wartawannya TvM, kan? Lo masih inget gue, Mbak?” ujar teman laki-laki Delisha tersebut antusias, setelah Silvia menyebutkan namanya dua menit yang lalu. Andra menepuk bahu Silvia karena belum menjawab pertanyaan Jagad, malah bengong menatap laki-laki muda di hadapannya itu. Silvia lantas memegangi kepalanya menahan sakit karena berusaha mengenyahkan suara bising di telinganya yang membuat tubuhnya seperti berotasi. Seluruh isi bandara seolah berputar dengan sangat cepat mengelilingi Silvia. Dengan sigap Andra menangkap tubuh Silvia yang limbung ke bahu kirinya. “Sil, kamu kenapa?” tanya Andra khawatir. Padahal saat berangkat ke bandara tadi istrinya itu baik-baik saja. Silvia menggeleng lalu seperti biasa dia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. “Aku nggak ingat dan nggak kenal sama kamu,” tukas Silvia dingin. Jawaban itu adalah hasil rekayasa otak bawah sadarnya setelah berotasi.  Keterkejutan mewarnai ekspresi wajah Jagad atas jawaban yang diberikan oleh Silvia. “Sorry, sorry...atau mungkin lo ingetnya gue Jagapati, iya?” Jagad masih berusaha mengingatkan Silvia tentang siapa dirinya. Silvia menggeleng lalu melesat secepat kilat dari Bandara. Hanya sebuah pesan yang Silvia kirim pada Andra, mengatakan kalau dia kembali ke kantor menggunakan jasa taksi. Andra hanya bisa menghela napas berat menghadapi sikap Silvia yang makin hari makin tidak bisa dimengerti dengan pikiran sederhananya. Setelah mengantar Delisha sampai rumahnya, Andra tidak lantas langsung pulang ke rumahnya sendiri. Sekali lagi dia memilih menghindari Silvia. ♡♡♡ Setelah pertemuan singkat di bandara, keesokan harinya Jagad menemui Silvia di kantor TvM. Namun Silvia tetap kekeh tidak mengenal Jagad sama sekali. Lelah menghadapi sikap keras Silvia, akhirnya Jagad mengajak Andra bertemu untuk membicarakan soal Silvia. Bukan hal yang sulit menemukan nomor kontak handphone Andra bagi Jagad. Dan sekarang dua lelaki berbeda usia itu sudah duduk di sebuah rumah tua yang disulap oleh Andra menjadi tempat nongkrong yang nyaman. “Kapan launchingnya, nih, Mas?” tanya Jagad saat menjelajahi calon kedai kopi milik Andra ini. “Sekitar dua atau tiga mingguan lagi. Masih ada beberapa perabot yang belum kelar, trus masih mau finishing bagian outdoornya. Kamu mau minum apa, Gad? Ngopi?” “Aku nggak ngopi. Air mineral aja, Mas.” Andra masuk ke sebuah ruangan yang hanya dibatasi oleh sliding door. Lalu keluar kembali dengan membawa dua botol air mineral dingin. “Duduk di sana aja,” ajak Andra di sebuah sudut ruangan yang sudah dilengkapi set sofa leather berwarna hitam. “Aku tadi dari kantornya Mbak Via. Dia kekeh nggak inget aku.” Jagad membuka obrolan mereka. Kening Andra berkerut. “Tapi kamu merasa kenal Silvia?” tanyanya heran. “Kenal, Mas. Aku sering ketemu dia kalau liputan. Dari dia juga aku belajar banyak hal tentang jurnalis.” “Kira-kira kamu tahu alasan Silvia pura-pura nggak kenal kamu?” Bukannya menjawab, Jagad malah mengeluarkan laptop kemudian memperlihatkan sebuah berkas video pada Andra. “Apa pun yang Mas lihat dari video ini, satu hal yang harus Mas tepati, jangan pernah beranjak dari sisi Mbak Via,” tukas Jagad sebelum menekan tombol play pada video tersebut. “Dia istri saya. Saya berjanji menjadi pendampingnya bukan cuma di hadapan manusia, tapi juga di hadapan Allah.” Jagad tersenyum lalu menekan tombol play pada layar laptopnya. Dari kualitasnya, video yang ditampilkan Jagad adalah sebuah rekaman kamera pengawas sebuah apartemen. Terlihat dari layar laptop nama apartemen lengkap dengan tanggal dan waktu kejadian. Dalam rekaman tersebut, terlihat Jagad memasuki lobi dan menemui resepsionis. Rekaman kamera pengawas hanya menyimpan gambar tanpa suara. Jagad lalu menjelaskan apa yang terjadi di dalam rekaman video itu. “Hari itu adalah hari pertama aku liputan di Jakarta. Waktu masih di Surabaya aku cuma siaran doang. Ternyata kalau di Jakarta aku juga diwajibkan nyari berita sendiri.” Jagad terlihat bersitegang dengan resepsionis yang bertugas. Tidak lama kemudian Silvia datang dengan kamera yang menggantung di lehernya, juga tas hitam di tangannya. “Aku nggak boleh masuk menemui Mbak Gista yang menjadi narasumber untuk beritaku, karena aku lupa nggak membawa Id Card. Nggak lama Mbak Via datang. Kami kenalan, lalu aku menjelaskan tujuanku. Mbak Via kemudian mengkonfirmasi kantorku setelah mendengar keluhanku. Setelah tahu aku benar-benar penyiar di radio yang aku bilang di awal, Mbak Via membantuku masuk tanpa kesulitan.” Di dalam lift, tas yang menggantung di pundak Silvia mengarah pada kamera pengawas yang ada di lift. Dari kamera pengawas tas tersebut terlihat ada cahaya merah yang berkedip-kedip dari tas yang dibawa Silvia. “Silvia bawa tas apa ya, Gad? Kenapa ada kayak lampu kedip-kedip gitu warna merah?” tanya Andra penasaran. “Kayaknya tas itu ada alat perekamnya, Mas. Mbak Via ngomongnya ke sana juga mau wawancara Gista. Dia bilang datang sama temannya. Tapi sampai sekarang aku nggak pernah tahu dengan siapa Mbak Via datang hari itu. Mbak Via mungkin nggak nyadar kalau posisi kameranya sedang on.” Andra mengangguk paham. Video berhenti karena durasinya sudah habis. “Kamu dapat video itu dari mana?” “Dikirim seseorang ke email Indonesiaku. Sejak tinggal di Tehran aku nggak bisa buka media sosial apa pun termasuk email Indonesiaku. Nah, hari itu aku dapat akses untuk membuka media sosial Indonesiaku termasuk email. Ternyata video ini sudah dikirim sehari sebelum aku berangkat ke Tehran. Email yang digunakan untuk mengirimkan file video itu fake semua datanya dan kayaknya sekali pakai gitulah.” Jagad mengarahkan kursor ke berkas video lain. Lalu menekan tombol play kembali. Video kedua sepertinya video yang diambil dari kamera yang dibawa oleh Silvia. Karena sepanjang jalan hanya terdengar suara langkah kaki dan koridor apartemen. “Mbak Via kayaknya deket ya sama Gista?” Terdengar suara Jagad bertanya pada Silvia. “Ya, gitulah. Eh, tunggu bentar. Kayaknya Gista lagi ada tamu deh. Pintunya kok buka ya?” Itu suara Silvia. “Gista nggak pernah lupa tutup pintu unitnya meski ada tamu. Kayaknya ada yang nggak beres.” Perlahan alat perekam kembali bergerak, tapi kali ini lebih terjaga langkahnya. Langkah alat perekam kembali terhenti di dalam unit apartemen. Arah titik kamera perekam mengarah ke dalam sebuah kamar. Merekam dua orang laki-laki dan perempuan saling berteriak. Sayangnya posisi laki-laki membelakangi kamera, jadi hanya terekam punggungnya saja. “Aku nggak mau gugurin anak ini!” “Kalau kamu nggak gugurin anak ini nama Bapak akan tercoreng. Kamu tau kan kalo Bapak tahun depan mau nyalon, Gis!” “Nggak peduli. Kalau perlu aku akan bongkar busuknya dia di depan publik.” Terdengar sebuah tamparan keras mengenai pipi seseorang. Seorang perempuan berambut lurus sebahu jatuh tersungkur ke lantai. Laki-laki bertubuh kekar tadi duduk di atas perempuan itu lalu mencekik leher perempuan yang tak lain adalah Gista. “Dasar anak haram kamu! Kamu mau biarin anak kamu tumbuh jadi anak haram kayak kamu, hah?” Laki-laki yang tidak terlihat wajahnya itu terus mencekik leher Gista. Tangan Gista terulur untuk meraih sebilah gunting yang tidak jauh dari jangkauannya. Saat hendak menusuk punggung laki-laki yang mencekiknya, maut berkata lain. Laki-laki itu beranjak dari tubuh Gista karena mendengar dering ponsel dari atas ranjang. Gunting yang berada di tangan Gista tidak bisa tertahan lagi gerakannya, lantas menancap tepat di perut perempuan itu. “Gistaaa? Oh God, apa yang kamu lakukan, Gis?” Laki-laki tadi berteriak lalu merengkuh tubuh Gista yang sudah berlumuran darah. Dan video pun berhenti. “Aku narik tangan Mbak Via untuk pergi dari sana. Mbak Via syok berat awalnya. Bukannya ikut aku pergi, Mbak Via malah mengambil gambar dengan kamera yang menggantung di lehernya beberapa kali. Setelah mengambil gambar malah dia yang nyeret aku mengajak lari dari apartemen. Saking ketakutannya, Mbak Via sampai ninggalin tas yang isinya kamera perekam di depan unit apartemen,” jelas Jagad. “Setelah itu aku dan Mbak Via berpisah. Ini ada video satu lagi. Tapi dari rekaman kamera pengawas apartemen, jadi nggak ada suaranya seperti video pertama tadi.” Terlihat Silvia melangkah cepat di lobi menuju lift. Sesampainya di koridor menuju unit apartemen Gista, seseorang membekap mulut Silvia lalu menyeret menuju tangga darurat. Masih dengan membekap mulut Silvia. Dari gerakannya laki-laki itu meminta Silvia untuk diam. Kemudian mengajak Silvia berbicara. Terlihat dalam video, Silvia hanya mengangguk lalu menangis sesenggukan. Laki-laki itu memberikan jaketnya pada Silvia dan keduanya keluar dari pintu tangga darurat. “Laki-laki itu siapa?” tanya Andra merasa aneh pada laki-laki yang membantu Silvia berdiri. “Nggak tahu, Mas. Wajahnya buram.” “Kayaknya beda orang sama laki-laki yang di kamar tadi,” gumam Andra. “Iya, Mas. Yang ini badannya nggak terlalu kekar. Kalau laki-laki yang tadi agak gede badannya.” Jagad memutar ulang video kedua pada durasi waktu terakhir, lalu mencari perbedaan yang disebutkan oleh Andra dengan video ketiga. “Iya bener beda, Mas.” Andra mengusap wajahnya dengan kasar. Sama sekali tidak masuk di nalarnya permasalahan ini. “Kamu kenapa nggak lapor polisi?” Jagad cukup terkejut dengan pertanyaan Andra. “Aku nggak langsung lapor polisi. Aku masih syok berat. Jujur ini pengalaman pertama buat aku. Setelah tenang, aku langsung lapor polisi kok. Tapi aku menyembunyikan identitasku waktu melapor.” “Setelah hari itu kamu pernah ketemu Silvia lagi?” tanya Andra lagi. “Ketemu, tapi lama banget, Mas. Mungkin satu atau dua tahun setelah kejadian itu.” “Responnya Silvia gimana waktu ketemu lagi?” “Dia lupa sama aku kayak tadi. Mungkin karena memang kita ketemu juga baru sekali itu kan. Akhirnya aku coba kenalan dari awal tanpa mengungkit kejadian di video itu. Setelah itu dia banyak bantu aku masuk ke gedung parlemen dan departemen kementrian. Mengenalkan aku ke banyak orang yang memiliki pengaruh dalam pemerintahan. Sampai suatu hari aku mengungkit kejadian Gista, tahu-tahu dia langsung memutus kontak kami. Dia juga mulai jarang kelihatan liputan. Kata temannya, Mbak Via promosi jadi senior kreatif. Trus dapat beasiswa S2 ke Melbourne.” “Selain kita siapa lagi yang tahu soal video ini?” “Nggak ada yang tahu termasuk Delisha. Dia tahunya aku pulang ke Indonesia untuk liburan dan ada pergantian dubes. Tujuan utama aku pulang ke Indonesia sebenarnya untuk menanyakan apa maksud Mbak Via mengirimkan video-video tadi padaku.” Menghela napas lega, Andra menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Kenapa rasanya semakin ke sini semakin rumit. Dia masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Silvia sampai melupakan kejadian itu dan tidak menceritakan tentang apa pun padanya. Seketika Andra berdoa semoga istrinya itu baik-baik saja. ♡♡♡ Hari ini adalah hari keempat Andra tidak pulang ke rumah. Kesepian mulai mendera keseharian Silvia. Setiap kali ditanya, Andra menjawab sedang sibuk dan tidak ingin diganggu untuk sementara waktu. Setiap kali pulang dari kantor yang didapati oleh Silvia hanya kondisi rumah yang kosong, sepi dan gelap. Biasanya ada Andra yang akan mengagetkan atau melakukan tingkah konyol yang selalu membuat Silvia tersenyum hingga tertawa. Silvia menyentuh setiap barang yang biasa digunakan oleh Andra. Saat menatap coffee maker di samping kulkas, Silvia membayangkan Andra sedang berdiri membelakanginya untuk membuat secangkir kopi. Meletakkan barang belanjaannya dari supermarket, Silvia meraih ponselnya yang tidak menampilkan sebuah notifikasi pesan atau satu pun panggilan telepon dari Andra. Hanya sebuah pesan yang dikirimkan Andra pagi tadi, mengabarkan kalau Andra pulang ke Jember hari ini. Silvia berusaha menelepon Andra, tapi dua kali dihubungi, Andra menolak panggilan telepon Silvia. Setengah jam kemudian baru Andra yang menghubungi Silvia. “Udah di rumah?” “Iya. Kamu sampai mana?” “Sampai Solo. Aku cuma dua hari aja di Jember. Kamu hati-hati ya, Sil.” “Andra?” “Dhalem?” Andra menjawab dalam bahasa Jawa yang artinya apa. “Kangen kamu.” “Iya aku juga. Ya udah kamu solat trus istirahat. Udah makan kan?” “Udah solat dan makan. Kamu juga hati-hati ya. Salam sama Mama, Mbak Katrin dan si kembar.” “Insya Allah nanti disampein.” Panggilan telepon diakhiri. Silvia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Aroma parfum serta keringat Andra masih menempel di ranjang, bantal dan guling yang biasa digunakan laki-laki itu. Aroma itu selalu bisa menjadi penenang terbaik bagi jiwa Silvia yang kalut saat ini. Seolah sedang memeluk suaminya, Silvia kemudian terlelap begitu saja sambil memeluk guling milik Andra. Diiringi lagu-lagu yang disimpan Andra di dalam Ipod hadiah dari Andra saat mereka melakukan pendekatan tiga tahun yang lalu. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD