14. Rahasia Rumit

2279 Words
Setelah malam moccacino coffee rasa cinta yang disajikan oleh suaminya, Silvia menjadi ketagihan dengan minuman olahan kopi tersebut. Setiap malam rasanya kurang lengkap tanpa mengecap minuman kopi buatan Andra itu. Tentu saja Andra tidak merasa keberatan untuk melakukan suatu hal yang membuat dirinya dan juga Silvia bahagia. Sederhana sebenarnya bahagia versi dua orang itu. Bisa duduk berdua menikmati secangkir kopi, menghabiskan waktu dengan mengobrolkan apa saja tanpa beban. Namun kini kesederhanaan itu menjadi begitu rumit dan sulit untuk diwujudkan. Rasanya baik Andra maupun Silvia hubungan jarak jauh terasa lebih baik saat komunikasi menjadi hal mewah yang wajib untuk dijaga. Daripada berdekatan seperti ini, komunikasi menjadi tidak ada harganya sama sekali. Setiap hari waktu Silvia habis untuk mengurusi pekerjaannya di kantor dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Rasanya makin ke sini, Andra menjadi pihak paling egois di rumah ini. Seolah menjadikan Silvia tidak lebih dari pembantu rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga. Bagaimana tidak berpikiran seperti itu. Semua pekerjaan rumah telah selesai dikerjakan oleh Silvia bahkan sebelum Andra membuka mata di pagi hari. Beberapa kali Andra sudah meminta Silvia untuk tidak mengerjakan semuanya dan membagi pekerjaan rumah pada Andra jika memang tidak sanggup, tapi Silvia kekeh pada pendiriannya untuk mengerjakan semuanya sendiri. Pertengkaran kecil pun sering terjadi di dalam rumah yang tidak terlalu luas itu hanya karena meributkan hal-hal yang sebenarnya sepele. “Bukannya aku dulu pernah bagi pekerjaan rumah ini sama kamu ya, Sil?” tegur Andra pagi itu saat tidak menemukan istrinya di dalam kamar dan seluruh penjuru rumah. Ternyata Silvia sedang berada di loteng untuk menjemur pakaian. “Nunggu kamu kelamaan, Dra. Cepat kelar bisa cepat istirahat aku,” jawab Silvia enggan menyerahkan pada Andra pekerjaan yang sedikit lagi selesai itu. “Lagi pula kamu itu laki-laki, kamu itu raja di rumah ini.” Tidak menggubris jawaban istrinya, Andra turun dari loteng dengan muka masam dan kesal. Silvia hanya bisa mendesah pasrah menghadapi sikap keras kepala suaminya itu yang sampai sekarang belum bisa ditaklukkan. “Jadi ambil tempat di mana untuk buka kafenya, Dra?” “Di dekat gedung perkantorannya Mas Dastan.” Dari nada bicaranya yang ketus, sepertinya Andra masih kesal. “Kenapa nggak dekat kantorku aja, sih?” “Udah banyak kafe di daerah sana.” “Oh gitu. Itu bangunannya berupa ruko atau apa, tempatnya yang mau kamu sewa?” “Rumah lawas, ditinggal pemiliknya ke luar negeri. Keluarganya nggak ada yang mau menempati. Jadi disewakan. Pemiliknya sudah kasih izin boleh dibuka kafe di rumah itu, asal nggak mengubah bentuk asli bangunan,” jelas Andra masih dengan wajah cuek dan malas-malasan. “Awas angker loh! Tar banyak hantunya, gimana? Rumah lama dan nggak berpenghuni, kayak di film-film horor. Hiiihh...” canda Silvia yang tahu kalau untuk ukuran laki-laki, Andra itu terbilang penakut pada hal-hal yang bersifat astral. “Meski nggak ditempati tapi rumahnya terawat. Aku udah lihat kondisi rumahnya. Lagian posisi rumah itu nggak jauh dari perkantoran, pusat perbelanjaan dan diapit rumah-rumah berpenghuni lain. Aku sudah tanya-tanya masyarakat sekitar apa pernah ada kejadian di luar nalar di rumah itu. Hampir sebagian masyarakat bilang nggak ada.” Silvia menyeringai mendapati penjelasan serius dari Andra. “Terus, kamu udah punya konsepnya?” “Udah.” “Boleh lihat?” “Nggak boleh. Rahasia!” Silvia menarik sehelai rambut halus di pergelangan tangan Andra, membuat suaminya itu memekik lirih lalu mengusap bekasnya. “Sama istri sendiri main rahasia-rahasiaan. Awas ya!” “Kamu juga sama suami sendiri main rahasia-rahasiaan.” Lidah Andra terjulur meledek Silvia. “Dih, apaan sih? Aku nggak ada rahasia kok.” “Yakin?” tantang Andra lalu beranjak dari sofa depan televisi menuju kamarnya. Andra kembali di samping Silvia yang masih duduk menonton televisi sedang menayangkan film kartun keluarga di hari Minggu pagi menjelang siang. “Bisa jelaskan sama aku, kenapa nama kamu nggak tercantum dalam daftar anggota pers resmi yang ikut liputan JFC 2016?” (Jember Fashion Carnival) Silvia melongo mendengar pertanyaan mengejutkan dari Andra. Belum sempat ia mencerna pertanyaan pertama, Andra sudah menyodorkan kembali pertanyaan berikutnya seraya menyerahkan amplop warna coklat kayu yang tadi ia ambil dari kamar. “Kamu juga nggak ada dalam foto tim TvM bersama Bupati Jember. Kamu juga nginep di hotel yang jaraknya cukup jauh dari lokasi JFC. Sedangkan semua tamu pers menginap di hotel terdekat dengan lokasi acara, entah itu lokasi start ataupun finishnya.” Silvia masih diam, memegang amplop yang diserahkan oleh Andra tanpa sempat melihat isinya. “Bisa nggak kamu ceritakan kondisi JFC itu, singkat aja.” “Aku lupa.” “Oh, lupa? Kalau gitu kamu pasti masih nyimpan kartu tamu pers resmi kamu dari Pemerintah Jember kan? Aku tahu kamu selalu menyimpan setiap kartu pers setiap kali selesai liputan.” “Aku masuk pakai kartu tanda pengenalku sebagai wartawan TvM.” “Bohong! Aku bahkan nggak melihat kamu seliweran waktu JFC berlangsung.” “Karena kamu nggak ikut nonton. Kamu aja nolak tiket gold yang aku kasih sebagai permintaan maaf dari aku, ya kan?” Silvia berkilah. “Iya aku memang nolak. Karena aku memang nggak bisa nonton. Kalau aku niat nonton, di tribun paling depan pun aku bisa, tinggal bilang aja sama teman-teman aku yang jadi panitia. Aku harus jaga showroom. Jalur JFC melewati depan showroom, bahkan atraksinya seringkali di depan showroom. Aku takut ada kegaduhan atau keributan, jadi aku nggak berani ninggalin tempat sampai acara benar-benar selesai.” “Ya trus maksud kamu apa, Dra? Aku nggak ngerti sama arah omongan kamu.” “Aku punya rekaman resmi JFC 2016, dan nggak ada kamunya sama sekali. Jawab aku dengan jujur. Di mana kamu waktu acara itu? Ralat, kamu beneran liputan atau ikut liputan karena sedang melarikan diri dari suatu hal?” Wajah Silvia berubah pias mendapat pernyataan sekaligus pertanyaan tidak terduga dari Andra. Membuang muka dari tatapan mengintimidasi suaminya, Silvia membuka dan mengeluarkan isi amplop. Mendesah pasrah Silvia memasukkan kembali isi amplop lalu meletakkan isi amplop di atas meja kopi. “Aku memang nggak liputan.” “Trus kamu di mana?” “Setelah pengambilan gambar singkat di garis start, aku kembali ke hotel.” “Kenapa pilihan kamu harus Jember?” “Waktu itu aku dengar tim kreatif acara kebudayaan sedang briefing membahas soal liputan JFC di Jember. Aku langsung browsing lokasi kota itu dan mengumpulkan informasi singkat soal JFC. Aku bohong sama Bang Vino supaya dapat ijin keluar jauh dari Jakarta. Cuma alasan liputan yang akan dimaklumi oleh abangku itu.” “Tujuan kamu apa liputan bohongan itu? Sampai bohongi semua orang loh.” “Benar yang kamu bilang. Aku melarikan diri dari sesuatu yang membuat aku ketakutan setengah mati.” “Apa, Sil? Bilang sama aku!” Silvia menggeleng lemah. “Aku belum siap cerita sama kamu. Semuanya masih samar di bayangan aku, Dra. Tolong jangan desak aku lagi untuk mengingat suatu hal yang sudah susah payah aku lupakan. Kalau semuanya sudah jelas, kamu adalah orang pertama yang akan aku ceritakan kebenarannya.” Silvia beranjak dari sofa menuju kamar, meninggalkan Andra yang terdiam dengan berbagai pertanyaan tertahan di ujung lidahnya. ♡♡♡ Sejak mereka berdebat hari itu, Silvia menjadi seperti orang asing bagi Andra. Suasana canggung tumbuh subur di tengah keduanya. Terlebih lagi Andra mulai disibukkan dengan renovasi tempat yang akan dia jadikan sebagai kedai kopi. Tidak jarang juga Andra lembur sampai menginap demi mengejar target, renovasi segera diselesaikan dan kedai kopi miliknya bisa segera dibuka. Keduanya hanya bertemu saat malam hari, itupun dalam kondisi benar-benar lelah dan mengantuk. Tidur adalah pilihan yang tepat untuk menghindari perdebatan yang berujung pertengkaran seperti siang itu. Silvia yang sensitif dihadapkan pada Andra yang emosi karena Silvia belum juga mau membuka rahasia besarnya pada suaminya. Seminggu sudah kekacauan dalam rumah tangga yang tidak berujung harus dihadapi oleh Silvia. Sikap dingin seorang Andra menjadi makanan sehari-hari Silvia. Pemicu dinginnya Andra cuma satu, kejujuran Silvia. Andra hanya ingin Silvia jujur dan tidak menyembunyikan apa pun dari Andra. Silvia yang biasa mudah diluluhkan hanya dengan secangkir moccacino, kali ini seolah menjelma menjadi prasasti yang sulit dihancurkan. Andra mulai jenuh dan akhirnya membiarkan begitu saja Silvia dengan bungkamnya. Laki-laki itu sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah mencari tahu soal apa pun lagi terkait rahasia besar yang disembunyikan oleh Silvia. Biarkan saja Silvia bicara sendiri kalau memang mau bicara. Kalau nggak mau, ya sudah. Begitu pikiran realistis seorang Andra. ♡♡♡ Siang itu Andra menghampiri kantor Silvia. Setelah dua hari tidak pulang ke rumah, baru ini mereka bertemu. Ada rindu menyapa tatapan keduanya. Haruskah hidup berjauhan, supaya rindu itu terasa indah? Tanyakan pada mereka yang sudah akrab dengan jarak. Silvia mengajak Andra makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari kantornya. Cukup berjalan kaki santai, sepuluh menit sampai. “Ikut aku ke bandara ya,” ajak Andra usai menandaskan makan siangnya. “Ngapain?” “Jemput Dicha. Aku nggak paham jalan ke bandara.” “Dicha?” “Iya, Delisha. Adiknya Mas Dastan, adik iparnya Mbak Kikiy. Yang artinya iparku dan iparmu juga. Masa kamu nggak kenal?” ujar Andra sambil menyeringai bodoh saat telah selesai menjelaskan siapa Delisha dalam silsilah keluarganya. Silvia berdecak kesal. “Aku sibuk. Ada meeting dengan kepala produksi,” kilahnya. “Tadi bilangnya hari ini free. Ayolah, Sil. Jemput doang ini. Nanti kalau aku nyasar gimana? GPS kadang suka nggak valid.” “Abangnya dia ke mana, sih? Kenapa nggak abangnya aja yang jemput.” Silvia mulai merajuk tidak jelas. “Lagi sakit. Ayahnya juga. Kamu pilih mana, Dicha dijemput kita atau dijemput Bang Vino? Kebetulan Bang Vino lagi di Jakarta nih.” “Ya udah ayo,” ucap Silvia malas. Kemenangan berada di tangan Andra. Keduanya lalu meluncur menuju bandara. Di tengah perjalanan Silvia diam seribu bahasa dan hal itu membuat Andra tidak nyaman. Iseng Andra melontarkan pertanyaan yang mampu membuat Silvia terpancing untuk bersuara. “Kalau Mas Dastan dan Bang Vino itu berteman baik, berarti kamu sama Dicha juga akrab dong ya?” “Nggak juga, B aja,” jawab Silvia tak acuh. “Kenapa B aja? Dicha itu menarik menurut aku. Anaknya juga asyik, seru diajak ngobrol apa aja. Aneh aja kenapa kamu nggak bisa akrab sama dia.” Silvia melirik malas pada Andra. Perbuatannya itu tertangkap oleh Andra kala mobil sedang berhenti karena traffic light sedang menyala merah. Andra menahan senyumnya melihat ekspresi kesal yang tercetak jelas di wajah Silvia. “Kenapa gitu banget mukanya?” “Kamu naksir Delisha? Kenapa nggak ngincer dia aja dulu?” “Kalau aku sama Delisha namanya nggak memperluas jaringan keluarga. Masa kakak dapatnya kakak, adik dapat adiknya. Apa kata cocotnya tonggo?” “Maksudnya?” “Spekulasi dari tetangga yang maha benar kalau sampai aku jadi sama Delisha. Lagian aku kurang suka tipe hubungan yang masih ada hubungan kekeluargaan seperti itu.” Silvia tertawa sumbang ketika paham maksud dari ucapan Andra. “Delisha memang seperti yang ada dalam pandangan kamu. Karena kamu kenal dia juga baru-baru ini. Kalau kamu kenal dari jaman baheula, paling juga kamu eneg sama tingkahnya.” “Kenapa gitu?” “Dia kelewat manja menurutku. Hobinya dulu nyusahin Bang Vino.” “Yang disusahin Bang Vino kenapa jadi kamu yang nggak suka?” Silvia hanya menaikkan kedua bahunya. Karena mobil telah memasuki areal parkir bandara, Andra tidak melanjutkan pembahasan soal Delisha lagi. Melihat ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Silvia juga masih tidak ada perubahan. Sepertinya Andra datang tepat waktu. Delisha sudah menunggu di ruang tunggu kedatangan dengan bawaannya yang sangat banyak. “Hei, udah lama?” sapa Andra pada gadis berambut panjang dan kecokelatan yang sedang sibuk menghitung trollinya. “Akhirnya ada juga yang jemput aku. Makasih ya, Mas Andra udah mau repot jemput aku.” “Nggak masalah. Ini semua barang kamu?” Delisha mengangguk sambil menyeringai, hingga matanya yang tidak terlalu bulat itu menyipit. Cara Delisha tertawa mengingatkan Andra pada suami kakaknya. “Ya udah ayo,” ujar Andra membantu Delisha mengambil alih mendorong troli yang lebih besar. “Tunggu bentar bisa, Mas? Aku janjian sama teman aku. Dia dari Tehran. Pesawatnya nggak sampai setengah jam lagi sampai. Boleh?” “Barang bawaan kamu aja udah ngepas satu mobil itu. Mana muat ditambah barang temen kamu lagi.” Silvia menimpali sebelum Andra mengiyakan permohonan Delisha. “Eh, Kak Via. Apa kabar?” sapa Delisha dengan tatapan bersahabat. “Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik aja,” jawab Silvia ketus. “Teman aku nggak ikut mobil Mas Andra kok. Dia udah dijemput temannya. Aku cuma pengen ketemu dia aja bentar,” ujar Delisha sebelum Silvia sempat menyela permohonan gadis itu. “Ketemu setelah dari bandara bisa kan?” sahut Silvia masih dengan wajah masamnya. “Udahlah, cuma nunggu nggak sampai setengah jam ini. Nggak masalah kan?” Andra berusaha menengahi perdebatan dua makhluk Tuhan yang ingin dimengerti itu. “Ya masalah bagi aku, karena aku harus balik kerja, Dra!” kesal Silvia. “Acara kamu udah tayang pagi tadi, kan? Seingatku kamu nggak punya acara lagi abis ini. Nggak tiap hari ini aku ngerepotin kamu, Sil,” protes Andra. Mendengkus kesal dengan bibir tak berhenti berdecak, Silvia mengempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kursi ruang tunggu. Tidak ada perdebatan lagi. Hingga setengah jam berlalu, akhirnya teman yang dimaksud oleh Delisha datang juga. ♡♡♡ “Jagapati? Lo penyiar radio plat merah, kan?” tanya Silvia tak ketinggalan dengan ekspresi terkejut saat berkenalan dengan seorang laki-laki lebih muda darinya. “Kamu kenal Kak Via?” Delisha bertanya pada teman laki-lakinya yang baru bergabung dengannya itu. Laki-laki yang bernama Jagapati itu menggeleng ragu. Membuat Silvia malu karena ternyata laki-laki itu mengaku tidak mengenalnya. Silvia geram dan ingin marah besar saat ini. Kedua matanya terpejam dengan tangan mengepal penuh amarah tanpa ada satu orangpun yang tahu gerakan itu. ~~~ Noted: Untuk yang ingin tahu soal JFC, selengkapnya bisa baca di cerita berjudul "Jodoh Nggak kemana (Love At First Sight)" ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD