13. Moccacino Rasa Cinta

2278 Words
Andra merasakan ada yang aneh dari Silvia beberapa hari ini. Sesuatu yang biasa ada dalam diri seorang Silvia seolah menguap entah ke mana. Silvia terlihat lebih pendiam, sensitif, gusar saat malam, juga diselingi dengan mengigau hebat dalam tidurnya. Awalnya Andra menduga karena Silvia sedang dalam periode datang bulannya. Namun menengok kalender yang ada di atas meja di kamar mereka, hari PMS Silvia masih sepuluh hari lagi. Ketika ditanya apa ada masalah atau sesuatu yang mengganggu, Silvia menjawab hanya ada sedikit masalah dalam pekerjaannya. Andra mulai merasa kesabarannya seperti teruji saat waktu yang biasa mereka luangkan untuk sekadar minum kopi bersama dan mengobrolkan banyak hal, seolah terkikis habis oleh segala kesibukan Silvia di luar rumah. Berkas yang Andra minta tentang liputan Silvia di Jember tahun 2016 silam sudah sampai dengan selamat. Andra sengaja tidak meminta temannya untuk mengirimkan melalui email atau sosial media. Andra menitipkan pada Riki yang akan mengunjunginya ke Jakarta terkait rencana Andra untuk membuka sebuah kedai kopi yang berkonsep. Selain daftar pers yang diundang secara resmi oleh pemerintah Kabupaten Jember, teman Andra juga menitipkan beberapa lembar foto yang membuat Andra semakin merasa ada yang ganjal dan penasaran untuk menguak rahasia apa yang sedang coba disembunyikan oleh Silvia. Namun Andra tidak akan gegabah untuk menanyakan langsung soal kecurigaannya ini pada Silvia. Andra harus mencari bukti kuat bahwa ada yang tidak beres di balik liputan Silvia beberapa tahun lalu. Sebisa mungkin Andra bersikap normal. Selayaknya tidak sedang penasaran pada apa pun. Andra bersikap cuek seperti biasa pada apa pun yang Silvia lakukan, baik di rumah maupun di luar rumah. Andra sudah malas berdebat soal kesibukan Silvia yang luar biasa. Tanpa sepengetahuan istrinya, Andra membuat daftar nama-nama orang yang akan dia temui, demi mencari sebuah informasi tentang suatu hal yang sedang coba disembunyikan oleh Silvia darinya. Ada beberapa nama yang Andra coret dari daftar di agendanya. Hardi, Krisna dan Dinda. Mereka bertiga adalah teman baik Silvia. Keyakinan Andra kuat, salah satu di antara mereka pasti akan membocorkan pada Silvia, soal suaminya itu sedang menggali informasi tentang istrinya melalui teman-temannya. Bukannya Andra takut berhadapan dengan Silvia, hanya saja ia merasa kurang etis saja dan lagi berdebat dengan Silvia yang sedang dalam kondisi labil adalah keputusan kurang tepat. Orang pertama yang coba Andra temui adalah Dwita. Pagi tadi mereka sudah membuat janji untuk bertemu di kedai kopi tidak jauh dari taman kanak-kanak, tempat anak bungsu Dwita bersekolah. “Udah lama, Dra?” sapa Dwita setelah menemukan Andra sedang duduk di ujung ruangan kedai kopi bernuansa klasik ini. “Kopiku masih panas.” Dwita tertawa kecil. Ia mengerti ucapan Andra. Itu artinya Andra belum terlalu lama menunggunya. “Kamu nggak pesen kopi atau yang lain?” “Enggak, Dra. Aku kurang suka.” “Yah, aku ngopi sendirian dong,” timpal Andra dengan nada bercanda. “Andra...Andra, kamu tuh emang cocok, ya, sama Silvia. Akhirnya dia bisa menghabiskan sisa usianya dengan coffee lovers seperti dirinya.” “Oya? Kamu tahu banget ya soal Silvia?” “Ya begitulah. Dia teman yang asyik. Sayangnya aku harus pindah ke Polandia waktu itu. Semoga saja jalinan pertemanan kami yang sempat renggang ini bisa rapet lagi.” “Kalau Gista itu apa suka kopi kayak Silvia juga?” Dwita terkejut karena pembahasan mereka soal Silvia, tiba-tiba membelok ke Gista. “Seingatku sih iya, Dra. Dulu kami pernah nongkrong bareng di kafe, abis konferensi pers sama jubir presiden kalau nggak salah, dia pesan minuman yang sama dengan Silvia. Hot moccacino kalau nggak salah.” Satu point yang mulai Andra kumpulkan. Gista suka kopi. Pantas saja saat di Melbourne, Silvia selalu pesan moccacino ukuran jumbo untuk dirinya dan Gista. Rupanya kesukaan mereka berdua sama. Namun asumsi Andra terpatahkan. Bagaimana kalau Gista yang ingin dia cari tahu adalah Gista yang berbeda dengan yang dikenal oleh Dwita. Andra tidak boleh pesimis. Ia yakin akan menemukan titik terang tidak lama lagi. “Gista itu profesinya konsultan pernikahan bukan?” “Sebelum jadi reporter televisi dia pernah bekerja di sebuah perusahaan jasa konsultasi pernikahan. Kata temen-temen wartawan, sebulan sebelum kejadian naas itu, dia baru meresmikan sebuah biro jasa konsultasi problem rumah tangga. Tapi karena skandal perselingkuhan Ayahnya yang seorang pejabat parlemen mulai terkuak ke permukaan, Gista malu banget, lalu memilih menutup biro jasa itu. Miris banget nasib dia.” Point kedua yang bisa Andra kumpulkan soal Gista adalah Gista seorang konsultan. Sama dengan profesi Gista teman Silvia yang sering istrinya temui saat di Melbourne. “Nah, kabarnya yang menulis artikel tentang perselingkuhan Ayahnya itu, emmh...emmh, Silvia. Tapi Silvia marah besar waktu ditanya soal itu. Dia merasa tidak pernah membuat berita murahan kayak gitu,” lanjut Dwita memberi informasi pada Andra. Point ketiga, pernyataan Dwita soal Silvia yang menulis artikel tentang perselingkuhan pejabat. Bukan Silvia banget, pasti ada yang nggak beres ini. Gumam Andra dalam hatinya. “Kamu kenapa nanyain soal Gista? Apa kamu kenal dengan Gista?” tanya Dwita yang heran dengan setiap pertanyaan yang Andra ajukan. “Karena Silvia nggak pernah mau jawab setiap ditanya soal Gista.” “Bener tuh. Tahu nggak, nomer handphoneku, akun sosmedku diblokir semua sama Via cuma gara-gara aku suka tanya-tanya dia soal kasus Gista waktu itu.” “Kasus Gista? Kasus skandal Ayahnya?” Dwita menggeleng lalu melihat sekelilingnya. Seperti ketakutan ada orang lain mencoba mencuri dengar obrolan mereka berdua. “2016 yang lalu, terjadi kasus penyerangan di unit apartemen Gista. Dugaan polisi tuh perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Sebuah berita juga menyebutkan kalau darah yang berceceran di apartemen sesuai dengan DNA kerabat Gista dan hasil pemeriksaan itu memang darah Gista. Sayangnya, sampai detik ini pelakunya nggak ketangkap. Dugaan lainnya setelah dibunuh, mayat Gista dibuang ke laut. Tapi bukti-bukti yang menguatkan semua dugaan itu nggak ditemukan, termasuk alat bukti pembunuhan dan juga fisik korban. Kasus itu ditutup begitu saja enam bulan kemudian. Tujuannya supaya tidak mencoreng nama baik Ayah Gista yang akan maju dalam pemilihan kepala daerah tahun 2017.” Kuduk Andra meremang mendengar cerita Dwita soal Gista. Agaknya laki-laki itu cukup menyesal ingin tahu lebih jauh soal Gista. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mau mundur, langkah Andra sudah kepalang jauh, jadi Andra berusaha mengabaikan rasa takutnya itu. “Trus Silvianya gimana? Dia di mana waktu kejadian temannya itu hilang?” “Dia syok berat. Setiap ditanya Silvia selalu bilang nggak tahu apa-apa. Katanya dia lagi liputan trus ponselnya hilang dan bukti-bukti kedekatannya dengan Gista juga kayak lenyap gituloh, Dra. Aneh deh. Nggak ada satupun yang bisa buktikan kalau Silvia dan Gista itu teman dekat. Lagian juga memang nggak banyak yang tahu kalau Silvia cukup dekat dengan Gista.” Menghela napas panjang, Andra mencoba melegakan tenggorokan beserta dadanya yang terasa sesak mendengar setiap hal yang disampaikan oleh Dwita. “Kamu punya foto Silvia dan Gista, nggak?” Dwita menggeleng lemas, menyesal karena tidak bisa membantu Andra lebih jauh. “Menurut kamu yang pernah bertemu Gista, dia orangnya seperti apa karakternya?” “Gimana ya, Dra, jelasinnya. Gista itu cewek aneh menurutku. Rasanya dia itu nggak pantes jadi wartawan. Dia itu terlalu pemalu, tertutup, dan susah bergaul. Ada yang bilang setiap berita yang dikirim ke meja redaksi di stasiun televisi tempat Gista bekerja itu adalah hasil kerja keras Silvia. Tapi mereka cuma bisa menduga tanpa bukti apa pun. Nggak ada yang berani cari tahu. Sedangkan Silvia itu termasuk wartawan bahaya buat kami para jurnalis. Membuat gara-gara dengan Silvia, sama dengan cari mati. Silvia selalu punya sesuatu hal yang bisa mengancam dan menjatuhkan siapa pun.” “Pantes kamu takut daritadi mau cerita banyak soal Silvia sama aku?” Dwita mengangguk lalu meringis. Dia membayangkan apa yang akan Silvia lakukan pada dirinya, jika sampai Silvia melihat suaminya sedang duduk berdua di kedai kopi bersama perempuan yang baru sekali ini bertemu, tapi sudah membeberkan banyak hal pada orang asing di hadapannya ini. Namun Dwita tidak menyampaikan ketakutannya itu pada Andra. Dia berusaha bersikap senormal mungkin. “Silvia sama Gista itu satu sekolah? Atau mungkin satu almamater waktu kuliah?” Andra masih terus saja menggali soal dua orang itu. “Kalau satu sekolah kayaknya enggak deh, Dra. Gista itu agaknya lebih tua usianya dari Silvia. Mungkin sekitar tiga sampai empat tahun lebih tua. Kalau kampus, setahuku Gista itu lulusan KL. Silvia kan kuliahnya di Jogja.” “Jadi, mereka kenal waktu sudah sama-sama berprofesi sebagai wartawan ya?” “Mungkin. Eh, udahan ya, Dra. Sekolah anakku udah bubaran tuh. Salam sama Silvia ya. Bye.” Dwita pergi begitu saja dari hadapan Andra. Karena sudah mendapatkan cukup informasi untuk hari ini, Andra memilih pulang saja. ♡♡♡ Silvia pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Saat masuk rumah ia mendengar suara gaduh di dapur. Silvia bergegas menuju asal suara suaminya sedang berteriak. Silvia menemukan suaminya itu sedang memegang spatula dengan sedikit ketakutan berdekatan dengan kuali, sehingga laki-laki itu memberi jarak cukup jauh antara tubuhnya dengan kuali tersebut. “Lagi apa, Dra?” Andra menyeringai saat melihat Silvia melangkah ke arahnya. “Kamu udah pulang? Naik grab? Kok nggak denger suara motornya Hardi?” “Diantar Pak Romi. Sini aku ganti. Kamu mau makan?” tukas Silvia mengambil alih spatula di tangan Andra Andra mengangguk lalu menyerahkan spatula ke tangan Silvia. “Pak Romi itu siapa?” tanya Andra kemudian. Silvia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Andra. “Kirain kamu nggak mau tahu dengan siapa aja aku berteman,” jawab Silvia dengan nada agak sinis. “Maksud kamu?” Andra tidak mengerti lalu beranjak dari kursinya. Langkah Andra terhenti saat melihat Silvia memutar pemantik kompor gas lalu menyajikan telur baru yang istrinya itu goreng sendiri. Karena telur yang digoreng oleh Andra tadi sudah tidak layak makan. Selain telur, Silvia menyiapkan sayur yang sudah dipanasi sebelumnya, beserta piring yang sudah terisi nasi porsi makan Andra. Andra mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh saat Silvia meninggalkan dirinya di meja makan, setelah mengisi gelasnya dengan air dingin. “Kamu nggak makan?” tanya Andra yang hanya mendapat jawaban berupa gelengan dari Silvia. Selesai makan Andra menghampiri Silvia di kamar. Di dalam kamar, Silvia sedang menatap lemari pakaian yang pintunya tertutup. “Ngeliatin apa?” “Aku ngerasa kayak ada yang sesuatu yang tersembunyi di dalam lemari itu,” jawab Silvia tanpa melihat Andra. Jawaban Silvia membuat Andra penasaran, lalu ikut berdiri di samping istrinya. “Mau dibongkar?” Andra menawarkan sekaligus meminta izin pada Silvia untuk membongkar isi lemari tersebut. Tanpa menunggu besok, Andra membantu Silvia membongkar isi lemari pakaian. Namun keduanya tidak menemukan hal yang aneh di dalam lemari tersebut. “Kamu lagi cari apa memangnya?” tanya Andra membantu Silvia membereskan kembali seluruh barang-barang yang dikeluarkan dari dalam lemari tadi. “Aku juga nggak tahu, Dra.” Hanya suara napas kasar Andra yang mewakili kekesalannya. “Maaf,” ujar Silvia merasa tidak enak pada Andra. “Kamu tuh aneh, Sil. Kalau ada yang dipikir jangan dipendam sendiri. Kamu kan udah punya aku sebagai tempat berbagi. Aku lebih tepat dijadikan orang yang bisa jaga rahasia besar kamu daripada teman. Kamu tahu kenapa? Karena aku suami kamu.” Andra mengusap kepala Silvia dengan lembut lalu keluar dari kamar. Setengah jam kemudian Silvia menyusul Andra ke dapur, lalu duduk di kursi makan memerhatikan suaminya sibuk dengan coffee maker, kompor dan panci. Ekspresi dan tingkah konyol Andra saat berhadapan dengan kompor seperti tadi seolah lenyap, berganti dengan Andra yang keren di mata Silvia. “Oya, Riki waktu itu ke Jakarta ada perlu apa, Dra? Tumben dia bisa ninggalin kafenya?” “Oh....aku minta ditemenin dia untuk lihat lokasi, sama ngenalin dia ke Aidil juga.” “Lokasi untuk apa, Dra?” “Seingatku bukannya udah pernah cerita ya sama kamu, kalau aku punya rencana mau buka coffee shop di Jakarta. Kamu lupa?” Silvia diam, berusaha mengingat dengan keras kapan Andra pernah membicarakan soal akan membuka kafe dengannya. Anggukan kepala Silvia membuat Andra tersenyum sinis. “Aku ada rencana mau buka kafe di Jakarta. Karena nggak mungkin buat aku untuk mencari pekerjaan kantoran seperti kamu. Lagian aku udah terlalu nyaman menjadi wiraswasta,” jelas Andra membawa secangkir kopi panas untuknya, juga secangkir moccacino untuk Silvia. “Selain untuk menghasilkan uang dengan membuka kafe, apa tujuan kamu?” “Aku akan kasih tahu pelanggan yang datang cara membuat dan menikmati kopi yang tepat dan enak. Mau tau motto coffee shop aku?” Silvia mengangguk antusias. “Apa?” tanyanya tak sabar. “Hidup terlalu singkat untuk menikmati kopi yang buruk,” jawab Andra dengan bangga. Keduanya lalu tertawa bersama. “Sudah dapat tempatnya? Beli atau sewa?” “Ada tiga alternatif tempat. Masih mau cek lingkungan dulu. Kalau oke mau kontrak dulu setahun. Nggak berani langsung beli, takut nggak sesuai ekspektasi awal. Jadi kan bisa cari tempat lain kalau ngontrak.” Tiba-tiba kening Silvia mengernyit saat mencicipi moccacino buatan suaminya. “Kenapa?” tanya Andra bingung saat mendapati ekspresi Silvia yang seperti itu. “Ini apa?” “Moccacino coffee kesukaan kamu. Kenapa?” “Kok rasanya beda?” “Beda gimana?” Gantian kali ini kening Andra yang mengernyit. “Ini tuh enak banget, Dra. Moccacino terenak yang pernah aku coba. Kelasnya tuh coffee shop bergengsi banget.” Andra menahan tawanya. Membiarkan sejenak Silvia menikmati minuman rasa kopi kesukaannya yang dibuatkan oleh suaminya. “Kamu kasih tambahan apa ke dalam moccacino ini, Dra?” tanya Silvia sambil senyum-senyum sendiri menikmati minuman yang masih terasa panas itu. “Cinta,” jawab Andra cuek. Mendaratkan sebuah kecupan di pipi Silvia, Andra berlalu meninggalkan dapur. Meninggalkan Silvia yang masih tidak merespon mendengar jawaban singkat dari Andra, yang sukses membuat Silvia membisu. “Jangan lupa matiin lampu dapurnya, Sil,” teriak Andra dari dalam kamar. Rencana pertama Andra berhasil untuk mendekati Silvia yang hampir hilang tenggelam dalam lautan kesibukannya. Pelan-pelan Andra akan membuat Silvia berbicara dan membuka sendiri rahasia yang dipendamnya selama ini di hadapan Andra dengan cara Andra. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD