CHRYSTAL
Aku menatap langit malam yang cerah dan penuh bintang. Bulan purnama yang bulat sempurna di tengah taburan bintang. Sudah setengah jam aku berdiri di sini untuk membuatku mengantuk. Sayangnya, kantuk tak kunjung datang. Terlalu banyak yang aku pikirkan hingga membuatku hampir gila karenanya. Pertemuan kembaliku dengan Papa setelah beberapa tahun lamanya. Lalu, tentang kepalaku yang tidak kunjung berhenti memikirkan Sen.
It sounds crazy, right? Aku memikirkan Sen. Padahal aku meyakinini hatiku masih mencintai Regan, walaupun pria itu telah menginjak-injak harga diriku. Tapi, anehnya Sen lah yang akhir-akhir ini aku pikirkan. Hal ini sudah berlangsung sejak Sen memberikanku satu koin sen.
Bukan hanya itu saja, sebentar lagi aku dan Sen akan tidur sekamar. Aku dan Regan tidak pernah melakukan lebih dari ciuman, tapi aku ragu saat bersama Sen. Rasanya tidak yakin jika aku sekamar dengan Sen, aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan hal-hal v****r.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Jantungku seketika berdetak lebih cepat. Aku menghela napas berkali-kali dan berpura-pura tidak mempermasalahkannya. Tenanglah Rysta, kamu pasti bisa melewati malam ini dengan baik. Segera saja aku berbalik dan mendapati Sen tengah berjalan mendekat. Sesaat aku terdiam sembari menatapnya lurus. Aku mencoba membaca ekspresi wajahnya, yang sayangnya tetap tidak bisa k****a.
“Sen,” panggilku padanya, berpura-pura baik-baik saja.
Pria yang tadinya sempat berhenti beberapa meter di hadapanku semakin mempercepat langkah. Napasku tertahan tatkala Sen tiba-tiba memelukku. Tanpa aku sadari, tanganku sudah melingkar sempurna di badannya. Rasanya ketika dia memelukku, aku merasa seperti pulang kembali ke rumah. Perasaan nyaman dan juga aman yang ditawarkan dalam pelukan Sen, hal yang tidak pernah kurasakan saat memeluk Regan.
“Sen,” bisikku.
Dia melepaskan pelukannya. Membuatku menengadah dan mendapatinya tatapannya mengunciku. Mata indah beda warna yang dia milikki membuatku tersihir dan akhirnya hanyut di dalamnya. Perlahan tanpi pasti Sen mendekatkan wajahnya kepadaku, membuat jarak kami semakin lama semakin dekat bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku.
Tanpa sadar aku memejamkan mata, tepat ketika sesuatu yang hangat dan juga lembab berada tepat di atas bibirku. Sen menciumku. Seharusnya, aku mendorongnya atau mungkin menamparnya dengan keras, tapi tubuhku malah membiarkannya. Bahkan sekarang tanganku sudah melingkar manis di lehernya dan ikut membalas ciumannya.
Apakah dia mabuk? tanyaku dalam hati. Aku bisa merasakan rasa alkohol di mulutnya. Benar-benar ciuman yang sangat memabukkan. Awalnya, ciumannya sangatlah lembut, kini semakin menutut. Tanpa sadar aku mulai mendesah pelan saat tangannya sudah naik ke atas payudaraku dan meremasnya pelan. Tanganku juga tidak mau kalah, kini tanganku sudah beralih ke rambutnya dan menjambaknya pelan.
Astaga, dari mana pria ini mempelajari ini semua, bukankah dia tidak pernah berdekatan dengan wanita seumur hidupnya. Tapi rasanya ciuman ini membuat lututku lemas. Saking hanyutnya, aku tidak menyadari bahwa aku sudah berada di ujung tempat tidur. Pria itu mendorongku pelan hingga aku berbaring. Dia berhenti sejenak, walaupun tempat ini remang-remang karena hanya sinar bulan serta cahaya lampu tidur yang menyinari ruangan ini, tapi aku bisa melihat kedua matanya terlihat ragu untuk melanjutkannya.
Tuhan, maafkan aku. Sekali lagi, mungkin aku memang gila malam ini, karena sekarang tanganku sudah meraih tangannya. Menarik pria itu sampai nyaris menindihku. Dia menatapku sejenak dan langsung menyeringai. Gairah mulai terlihat di kedua mata beda warnanya.
Aku sadar dengan apa yang aku perbuat malam ini. Aku juga tahu bahwa aku baru mengenalnya beberapa minggu terakhir, tapi perasaan untuk menginginkan pria ini di atas tempat tidurku begitu kuat. Perasaan baru yang asing, bahkan tidak pernah aku rasakan ketika bersama Regan.
“Sen,” desahku sembari memanggil namanya.
“Rysta,” balasnya sambil ikut mendesah denganku.
Aku tahu rasanya tidak benar bermain dengan pria yang tengah mabuk. Tapi, aku juga tidak bisa menolak bahwa aku juga menginginkan pria ini. Aku juga tahu bahwa setelah malam ini, semuanya tidak lagi sama dan aku juga tidak tahu bagaimana aku harus bersikap esok hari di depannya.
Ini benar-benar gila!
*****
Lelah. Sudah bangun sejak tadi, tapi rasanya terlalu malas untuk membuka mata. Badanku seperti baru saja melakukan kegiatan berat beberapa jam yang lalu. Aku segera merapatkan tubuhku ke sesuatu yang tengah kupeluk erat, sesuatu yang lembab dan juga keras, anehnya sangatlah nyaman untuk dipeluk.
Ingatanku tiba-tiba memutar kembali kejadian beberapa jam yang lalu. Mungkin kejadian ini akan aku ingat untuk beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun kedepan. Astaga, aku masih begitu ingat bagaimana Sen memperlakukanku semalam, dia begitu lembut. Lebih mendahulukan kesenanganku daripada kesenangannya dan yang terpenting adalah dia suka sekali membuatku sampai ke puncak berkali-kali. Aku kira semalam hanya akan berlangsung sebentar, tapi anehnya tubuh ini mendambakan tubuhnya berkali-kali hingga kami baru memejamkan mata jam tiga pagi.
Sayangnya, pria itu melakukannya ketika dia tengah mabuk. Jadi, bagaimana nanti aku harus bersikap ketika dia terbangun dan mendapatiku di ranjang bersamanya dalam keadaan tanpa busana? Ekspresi apa yang akan kupasangan di depannya, ekspresi sebagai seorang korban, kah? Korban? Aku bahkan rela melakukannya berulang kali dengannya. Ya Ampun, otakku semakin melantur saja.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tengah kupeluk bergerak semakin mengeratkan dirinya kepadaku. Aku mencoba untuk mengintip sesuatu tersebut. Perlahan, aku membuka sebelah mata. Seketika aku terbelalak tatkala dua buah mata beda warna itu tengah menatapku dengan senyum di wajahnya.
"Pagi," bisiknya sembari menyeringai kepadaku.
"Pa... Pagi," balasku sedikit tergagap.
Astaga, aku benar-benar malu. Kenapa dia malah melemparkan seringaian seperti itu kepadaku. Lalu, menatapku begitu dekat dalam keadaan polos. Menyapaku dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun tidur yang membuatnya terdengar sangat seksi. Seketika itu juga aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahku. Pipiku memanas saking malunya. Tiba-tiba sebuah tangan besar meraih daguku dan membawa wajahku untuk menghadapnya. Lagi-lagi aku harus menatap kedua mata indah itu, membuatku hanyut di dalamnya.
"Rys," panggilnya.
"Ya."
"Now, you are my real grilfriend."
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Sepertinya Aku tidak salah dengar bahwa dia baru saja mengklaimku sebagai kekasihnya. Memangnya kapan dia mengajakku untuk menjadi kekasihnya? Kenapa dia benar-benar bossy dan menyebalkan sekali sih? Lalu, kenapa aku malah mengangguk pelan kepadanya? Kenapa otak dan hatiku sama sekali tidak singkron sih? Otakku sudah menyuruh untuk mencekiknya, walaupun hatiku menghangat mendengar ucapannya dan akhirnya membuat kepalaku mengangguk begitu saja. Unexpected.
Pria ini tersenyum, lalu mengacak-acak pelan rambutku. "Cobalah. Kamu aman bersamaku, remember?"
Seketika aku tersenyum saat menyadarinya. Ya, dia sangat benar. Aku aman bersamanya, aku tidak akan pernah tahu apa yang pria ini pikirkan yang artinya dia tidak bisa membuatku sakit hati karena pikirannya terhadapaku. Dan juga sudah beberapa minggu ini dia selalu melindungiku di setiap aku membutuhkan bantuan. Sepertinya, mencoba bersama pria ini tidaklah salah. Sepertinya.
*****
Sejak beberapa menit yang lalu, kami berempat sudah sampai di Universal Studio Singapore. Untuk sebuah alasan terdamparnya kami di tempat ini adalah karena Sant merengek untuk bermain di tempat ini bersama kami berempat, aku, Sen, serta calon suaminya Louis.
Baiklah, aku sebenarnya tidak mempermasalahkan ini, karena menyenangkan juga bermain di taman bermain saat hari kerja. Tempat ini jadi tidak terlalu ramai. Yang sebenarnya bermasalah di sini adalah Sen. Pria itu ada meeting dengan salah satu klien penting nanti siang dan terpaksa dibatalkan karena Sant merengek meminta untuk pulang setelah selesai makan malam di private sky dinning.
Seketika aku menggerutu pelan saat menyadari apa yang tengah Sant pikirkan. Wanita itu benar-benar ingin mengerjai kami rupanya. Dia berbisik pelan kepada calon suaminya, lalu pria itu menoleh kepada kami dengan senyuman penuh arti. “Lebih baik kita berpisah di sini, Sen. Anggap saja kita tidak saling mengenal.”
“Terserah kalian,” gerutu Sen.
Sudahkah aku bilang bahwa Sen ini adalah bunglon? Sepertinya aku sudah mengatakannya berulang kali. Dia benar-benar bunglon berbentuk manusia. Aku masih ingat pagi tadi, dia mengklaimku sebagai kekasihnya dan dengan gilanya aku menyutujuinya. Setelah itu, kami masih mengobrol sebelum berangkat ke USS, meskipun masih agak canggung berdua dengannya. Belum lagi bayangan semalam, terus berputar di kepalaku. Setelah kami berdua keluar dari kamar, keluarlah Sen yang dingin dan cuek kepadaku. Bahkan, dia tidak mengajakku berbicara hingga detik ini. Bunglon sekali, bukan? Dia membuatku benar-benar frustasi dengan sikapnya.
Sant dan Louis sudah berjalan mendahului kami dengan tangan bergandengan erat. Aku berdecak kagum, mereka benar-benar pasangan serasi dan sangat diidam-idamkan oleh semua orang termasuk diriku. Sant yang cantik walaupun hanya mengenakkan short pants jeans serta kaos putih polos dan juga sneakers maroonnya. Sedangkan, Louis, dia hanya mengenakkan celana jeans serta kaos putih polos dan juga sneakers membuatnya tetap terlihat gagah dan tampan. Aku berani bertaruh, mereka sebenarnya ingin mengenakkan baju couple, tapi tidak jadi karena terlihat memalukan.
Sedangkan, aku sendiri mengenakkan celana jeans panjang dengan baju jenis jeans berlengan panjang berwarna biru muda dan juga sepasang sneakers bututku. Sama sekali terlihat biasa saja jika dibandingkan dengan Sant. Aku segera melangkahkan kaki sedikit lebih cepat saat melihat sesuatu yang menarik perhatianku saat ini, tapi tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tanganku dan menahannya.
“Mau ke mana?” tanyanya.
Aku menoleh dan mendapati Sen. Pria itu terlihat santai dengan kaos abu-abu polos, jaket putih serta celana jeans dan juga sneakernya. Dia menatapku penasaran karena menunggu jawabanku. “Aku hanya ingin membeli itu.” Aku menunjuk sebuah food van yang menjual cotton candy.
Pria itu mengangguk mengerti, lalu menggiringku menuju ke tempat yang aku maksud sambil terus genggamanku. Dia baru melepaskan genggamannya ketika kami sudah berada di depan van. Dia meraih dua buah cotton candy di tangannya, lalu disodorkannya kepadaku setelah dia selesai membayarnya.
“Makasih,” bisikku.
Tanpa basa-basi lagi aku segera membuka bungkusan cotton candy dengan cerianya. Sudah lama sekali aku tidak memakan cotton candy. Seperti namanya permen kapas, rasanya manis ketika di makan walaupun saat baru memasukkannya ke dalam mulut seketika permen itu seolah-olah menghilang.
“Dasar anak kecil,” ejek Sen. Pria itu segera meraih wajahku dengan tangannya, lalu membersihkan sisa-sisa cotton candy yang berada di sekitar mulutku.
“Dasar bunglon.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku saat melihat wajahnya yang terlihat serius membersihkan mulutku.
Sen menengadah dan menatapku tepat di kedua mata. Tiba-tiba dia meraih kembali tanganku dan menarikku entah ke mana. “Sen,” desisku padanya. Aku benar-benar kesusahan meraih langkah panjangnya.
Baru saja dia bersikap manis, lalu sekarang berubah dingin kembali. Sebenarnya apa yang pria ini pikirkan? Frustasi! Kenapa aku tidak bisa membaca pikiran Sen? Sen menarikku memasuki sebuah jalan kecil di antara dua buah bangunan. Pria itu mendorongku agar aku berjalan mendahuluinya memasuki sebuah jalan buntu. Dia menyudutkanku dan membalikkan tubuhku agar kami berdiri berhadapan. Mengarahkan wajahnya tepat ke samping wajahku. “Tadi kamu bilang apa?”
“Dasar bunglon,” ucapku dengan suara tersekat.
“Kenapa? Kamu frustasi karena aku tidak menghiraukanmu selama beberapa jam terakhir?”
Uh, dia benar. Dia bisa membaca pikiranku ya? Aku akui, aku memang sedikit frustasi dengan tingkahnya yang berubah-ubah. Kadang dia baik, kadang dia manis, tapi beberapa detik kemudian dia akan bersikap dingin. Aku hanya terdiam tanpa membalas ucapanya. Seketika kedua mata kami bertemu dan detik itu juga aku membeku di tempatku saat merasakan bibirku dengan bibirnya bertautan. Manis seperti cotton candy yang kami makan.
“Sen,” panggilku disela-sela ciuman kami.
Dia menghentikan ciuman kami, lalu menatapku intens. “Ada apa?”
“Kenapa kamu memilihku? I’m not perfect enough for someone like you, Sen.”
Sen terkekeh pelan. “Terima kasih sudah mengatakan bahwa aku … perfect.” Dia mengedipkan matanya, lalu menegakkan kembali tubuhnya. “Kamu ingin tahu kenapa aku memilihmu?" Aku mengangguk pelan. Dia mengulurkan tangannya kepadaku. "Just hold my hand and I'll tell you everything," lanjutnya.
Dengan sedikit ragu, aku mengulurkan tanganku dan meraih tangannya. Tanpa menunggu lebih lama, dia menggenggam kembali tanganku dengan sangat erat. Lalu, berjalan perlahan keluar dari tempat sempit tadi. Selama perjalanan, aku terus memperhatikan tangan kami yang saling bertautan. Kemudian, beralih menatap wajahnya yang tampan. Tanpa sadar aku merasakan kembali keganjilan yang terjadi kepada diriku. Kenapa aku tidak bisa mendengar suara lain selain suara debaran jatungku?
*****