BAB 10

2334 Words
CHRISEON “Just hold my hand and I’ll tell you everything,” ucapku sembari mengulurkan tangan padanya. Dari kedua matanya, aku tahu dia ragu. Dia hanya menatap uluran tanganku, tapi tak juga menggapainya. Hingga beberapa detik keheningan yang kami ciptakan, dia pun meraih tanganku. Tanpa menunggu lama, aku segera menggenggam tangan itu erat, lalu menariknya keluar dari jalanan sempit ini. Dia masih juga terdiam, bahkan aku juga ikut terdiam. Baiklah, sudah waktunya untuk mengatakannya kepada wanita ini, kenapa aku bisa seperti ini. "Jadi, kamu masih tertarik mendengar alasannya?" Aku melirik wanita itu melalui sudut mataku. Rysta hanya mengangguk pelan. Aku menghela napas perlahan. Mencoba mengurangi debaran jantungku yang menggila. Lalu, mulai bergumam pelan. "Sederhana. Aku menyukaimu.” Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menahan langkahku. Aku menoleh dan mendapati Rysta sudah berhenti di tengah keramaian. Tatapannya yang mengunciku, membuatku tidak bisa mengalihkan perhatianku kepada hal lain. Tanpa sadar tanganku menariknya agar merapatkan diri padaku. Lalu, tanganku melingkar dengan pas di pinggangnya. Pasti, saat ini semua orang di sekitaran kami sedang menatap kami dengan tatapan aneh atau mungkin tertarik. Tapi yang jelas, aku benar-benar tidak peduli dengan sekitarku, yang aku pedulikan adalah wanita yang berada di dalam pelukanku saat ini. “Kamu … pasti bercanda,” bisiknya. Tanganku yang bebas meraih wajahnya. Menelurusi setiap jengkal wajah yang akhir-akhir ini memenuhi kepalaku. Wajah yang hanya diulas riasan tipis terkesan natural. Ibu jariku menuluris bibir tipisnya yang sejak tadi ingin aku cium lagi dan lagi. Bibir tipis merah muda alami yang hanya dipulas dengan sebuah lipgloss rasa strawberry. God, kenapa ada orang yang begitu bodoh melepaskan wanita sesempurnanya. “Untuk apa aku bercanda? Dad pernah berkata padaku, bahwa perasaan seseorang bukan untuk sebuah candaan. Perasaan itu sesuatu yang sensitif, karena sekalinya perasaan itu tersakiti, maka maaf saja tidak bisa mengobatinya.” Aku mendesah. “I really really like you. I’m serious.” “Lalu, sikapmu terhadapku?” Aku menyeringai padanya. “Kamu tahu dengan jelas, bahwa aku belum pernah memiliki hubungan dengan wanita manapun. Bahkan dekat dengan mereka saja tidak,” seketika sebuah ingatan tentang Rysta yang tengah menangis di tangga darurat, membuatku tersenyum. “Lalu, kamu hadir. Menangis di tangga darurat sialan itu. Di situlah aku tahu, aku sudah mulai tertarik kepadamu dan berusaha keras mengakui bahwa itu bukan ketertarikan. Kamu wanita pertama yang membuatku seperti ini dan aku tidak tahu bagaimana cara bersikap yang benar terhadapmu.” Rysta menganggahkan mulutnya, lalu mengantupkannya kembali. Dia berpikir, mungkin sedang merangkai kata-kata untuk membalas semua alasan yang aku lontarkan padanya. “Sen, apa ini tidak terlalu cepat?” “Siapa sih yang akan tahu kapan dan di mana hati kita berlabu ke hati seseorang? Aku menyukaimu dan aku tahu kau juga menyukaiku. Remember, last night?” Aku mengedipkan sebelah mataku, yang seketika membuatnya merunduk malu. “Jadi.” Aku meraih dagunya, lalu menengadahkan wajahnya agar dia menatapku dan aku bisa menatap kedua mata cokelat terangnya. “Biasakan dirimu menjadi kekasihku. Deal?” Dia mendengus geli, namun terlihat jelas bahwa dia juga menahan tawanya saat ini. “Bilang aku gila. Deal!” Kami berdua terbahak, lalu tanpa pikir panjang lagi. Di tengah keramaian Universal Studio Singapura. Aku meraih wajahnya dengan kedua tanganku dan menciumnya dengan penuh perasaan. ***** Seorang wanita berdiri di sebuah balkon di bawah sinar bulan purnama. Gaun putih selututnya berkibar indah terhempas angin, begitu juga dengan rambut hitam sebahunya yang berkibas indah karena angin yang berhembus kencang. Siapa wanita itu? Rysta kah? Aku berjalan mendekatinya. Tiba-tiba saja dia berbalik dan seketika itu juga aku terdiam. Siapa dia? Wajah itu buram. Tak terlihat. Apakah dia gadis kecilku? Dia mendekatiku dan menarik tanganku, lalu menggenggamnya. "Sen," panggilnya. Tangannya merayap ke sekitaran leherku. Ternyata dia meraih kalung yang melingkari leherku. "Ini? Masih ingatkah kamu?" tanyanya lirih. "Kamu. Siapa?" Dia terkekeh pelan. "Aku wanita yang memberimu kalung ini, Sen." Dia terdiam, lalu tangannya merayap kembali dan kali ini diraihnya wajahku. "Sebentar lagi umurku dua-puluh-empat. Temukan aku." "Bagaimana caranya?" bisikku lirih. "Umur kita lima tahun. Di salah satu kota dingin di Indonesia. Dekat dengan bintang bumi bertaburan." Wanita itu melepaskan dirinya dariku. Berjalan mundur menuju balkon tadi dengan wajah buramnya yang terus menatapku lurus. "Hei," teriakku terus memanggilnya, tapi dia tidak juga menghiraukan panggilanku dan terus berjalan menjauh. Aku mencoba mengejarnya, tapi semakin lama dia semakin jauh dan anehnya aku tak juga bisa menggapainya. Aku terus mengejar wanita itu dan seketika itu juga aku terjatuh terjerembab. Ketika mataku mengerjap, napasku sudah tidak lagi beraturan. Aku terbangun di tempat tidurku, di Indonesia. Sendirian di dalam kegelapan. Rasanya mimpi barusan terasa nyata, karena aku benar-benar kelelahan. Aku menatap sekelilingku dan ingatan beberapa jam yang lalu berputar. Tepat pukul sembilan malam, kami sampai di rumah, di Indonesia. Badan rontok karena mengelilingi ratusan hektar USS. Aku bahkan langsung tertidur begitu sampai ke kamar, hingga mengabaikan keberadaan Rysta. Mataku menjelajah gelapnya kamar, mencari jam digital. Seketika mataku membulat saat menyadari masih pukul satu pagi, yang artinya semua orang pasti sedang terlelap. Aku mencoba untuk menidurkan diriku kembali, tapi lagi-lagi aku terbangun. Tiba-tiba aku teringat Rysta, segera saja aku beranjak dari tempat tidurku. Berjalan keluar menuju ke kamar tidur Rysta yang tidak terlalu jauh dari kamarku. Seluruh penjuru ruangan sepi dan juga gelap, bahkan karena terlalu gelapnya, aku sudah beberapa kali menabrak perabotan rumah. Untungnya saja tidak ada satupun yang membuat ribut. Setelah beberapa menit berjuang di tengah kegelapan malam, aku berhasil berdiri di depan kamar Rysta. Mengetuknya pelan beberapa kali. Di dalam keheningan malam, aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat. Perlahan pintu di hadapanku terbuka. Seketika itu juga aku membeku saat menemukan Rysta tengah berdiri di tengah cahaya yang begitu kontras dengan gelapnya ruangan. Wajahnya mengantuk. Rambutya berantakan. Tapi, dari itu semua, yang membuatku ingin mendorongnya ke atas tempat tidur adalah pakaian tidurnya. Tanpa sadar aku berdecak pelan, demi Tuhan, siapa yang menyuruhnya menggunakan baju tidur yang sangat seksi seperti itu. Hanya selembar kain dengan tali spaghetti berwarna putih gading tipis yang sangat amat pendek. Tenanglah, Sen. Kamu harus sabar. Ingat besok pagi ada meeting penting yang harus kamu datangi. Jadi malam ini, kamu harus tidur yang cukup, agar besok pagi tidak bangun dengan mata pandamu. Tapi, sayangnya, aku benar-benar tidak bisa mengalihkan tatapanku dari tubuh Rysta. “Sen,” panggil Rysta. Aku berdeham pelan. Mencoba menyembunyikan perasaan gugupku, lalu mencoba mengalihkan mataku dari pemandangan tubuh indah ke wajah cantiknya. Rasanya benar-benar menyenangkan mengetahui bahwa dia dengan sukarela dan juga sadar mau menjadi kekasihku. “Sen,” panggilnya sekali lagi sambil menguap sesaat. “Kamu, masih bangun?” Dia tersenyum geli. “Tadinya aku masih tertidur, sebelum akhirnya … mendengar ketukan pintu kamar. Ada apa?” “Eh….” Aku terdiam sebentar, mencoba mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba saja menyerangku. “Boleh aku tidur di kamarmu?” tanyaku pada akhirnya. Rysta membulatkan matanya, lalu mengerjap pelan. “Kenapa?” “I just can’t sleep, please.” Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. “Kamu tahu kan, besok pagi aku harus menghadiri rapat penting, tapi aku tidak bisa tidur. Aku juga berjanji, aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu.” “Baiklah,” putusnya tanpa pikir panjang dengan seulas senyum manisnya. “Thank you, baby.” Aku mendaratkan sebuat ciuman singkat kepadanya tepat di bibir yang berhasil membuatnya membeku di tempatnya berdiri saat ini. Tanpa menghiraukannya yang masih mematung. Aku sudah membaringkan badanku di atas tempat tidurnya dan langsung memejamkan mataku. Beberapa detik berlalu, aku bisa mendengar pintu yang ditutup. Suara langkah kaki mendekat kembali terdengar. Aku merasakan samping tempat tidur bergerak, tandanya Rysta sudah berada di sampingku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat wanita itu tengah menatapku. Kedua matanya seolah menghipnotisku, membuatku tanpa sadar sudah menghilangkan jarak di antara kami untuk memeluknya erat. “Tidurlah,” bisikku. Rysta bergumam pelan sembari merapatkan pelukannya sendiri padaku. Aku mencium keningnya. Mencium aroma tubuhnya dalam-dalam. Seolah-olah aroma harum yang tercium dari tubuhnya adalah obat tidur. Rasa kantuk yang tadi sempat hilang seketika muncul kembali. Rasanya kedua mataku berat dan detik itu juga aku tertidur dengan Rysta di dalam pelukanku. Aku benar-benar tidak akan bosan mengatakan bahwa dia adalah rumah. Sepertinya otakku sudah tidak beres gara-gara Rysta, tapi aku menyukai fakta ini. ***** “Hi, Mom,” sapaku pada seseorang di ujung telpon. Sekitar seminggu setelah mimpi itu, aku baru berani untuk menghubungi Mom. Tepat jam makan siang aku menelepon, yang artinya saat ini di London masih pukul enam pagi. Pasti, Mom tengah sibuk di dapur. Aku jadi membayangkan, Mom tengah berdiri di dapur dengan celemeknya. Memasakan sarapan untuk kami bertiga. Seketika aku merindukan masakan Mom saat ini. “Hello, sweetie,” suara Mom berhasil membangunkanku dari lamunanku. “Mom, stop call me sweetie. I’m almost 24.” Aku menggerutu kepadanya, yang langsung mendapatkan sebuah tawa ringan milik Mom yang sangat amat aku rindukan. “I know. But, you’re still my boy, Sen. What’s wrong?” tanyanya. “Persiapan pernikahan Sant dan Louis, ada kendala, Mom?” Aku mencoba mengalihkan percakapan kami. Mom selalu tahu apa yang kami rasakan. Seperti misal, saat Sant tengah jatuh cinta pada Louis, tapi adik kecilku itu tidak juga menyadarinya. Mom tahu dengan mudahnya dan memberikan saran-saran yang cukup membantu. Tapi, saat ini belum saatnya aku bertanya tentang kenapa aku menghubungi beliau pagi-pagi seperti ini. “Ya, berjalan cukup lancar. Hanya saja aku sedikit kesal dengan keluarga Crawford yang tidak mengizinkan kita membayar sepeser pun biaya pernikahan. Ini seperti penghinaan pada keluarga Kendrick. Mereka pikir keluarga Kendrick tidak mampu membayar pesta pernikahan putrinya saja,” sungut Mom. Aku terkekeh pelan mendengarnya. “Mom, seluruh inggris pun tahu seperti apa keluarga Kendrick dan tentu saja keluarga Lou tidak meremehkan keluarga kita, Mom. Bukankah, kalian sudah berkontribusi? Dad mengatakan padaku bahwa dia akan menutup FAL Hotel di Nice satu hari penuh?” “Oh, ayolah. Itu hanya menutup hotel saja, tapi untuk biaya pernikahan seperti gaun, dekorasi, makanan, undangan dan semuanya, mereka yang membayarnya.” Mom masih marah-marah tidak jelas di ujung sana yang berhasil membuatku menggeleng tidak percaya. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka. Sebuah kepala menyembul dari celah pintu dan di sanalah aku menemukan wajah cantiknya tengah tersenyum kepadaku. Dia sedikit terkejut menemukanku tengah menelpon seseorang. Dia bergumam pelan dan mengatakan sesuatu seperti Aku akan kembali nanti. Aku segera menggeleng dan menyuruhnya untuk mendekatiku. Wanitaku dengan enggan mendekatiku. Awalnya, dia hanya berjarak sekitar beberapa meter dariku, tapi aku terus menyuruhnya mendekat hingga berada beberapa senti dari tempatku duduk. Segera saja, aku mengulurkan tangan dan menariknya hingga dia terduduk di atas pangkuanku. Tanganku yang bebas, melingkari pinggannya, sedangkan saat ini badannya sudah dia rebahkan di atas tubuhku. “Aku tahu ini jam makan siang dan aku tidak ingin menjadi makan siangmu saat ini, sir,” bisiknya di telingaku. Seketika aku menatapnya dengan tatapan lapar, yang kami berdua tahu apa arti dari tatapanku itu. Aku menghela napas, lalu mencoba fokus kembali kepada Mom yang masih  mengadu kesal saat ini. “Mom, tenang lah. Louis adalah pengantin pria dan semua biaya pernikahan adalah pengantin pria yang menanggung. Mom kan bisa menghabiskan uang untuk pernikahanku kelak.” Di ujung sana aku bisa mendengar Mom terpekik senang. Seolah-olah aku baru saja mengatakan sesuatu yang dia tunggu-tunggu. Ya, mungkin Mom merasa bahwa anaknya ini akhirnya tidak memilih menjadi seorang biksu atau pria tua lajang seumur hidupnya, seperti yang kukatakan padanya dahulu. “Kamu, tidak gay kan, Sen?” tiba-tiba Mom berbisik pelan. “Mom, aku masih menyukai wanita!” teriakku tanpa sadar. Aku merasakan tubuh di atasku berguncang pelan. Aku melirik Rysta yang sudah terbahak karena ucapanku barusan. Aku kembali fokus pada Mom, kalau tidak bisa-bisa aku benar-benar langsung memutuskan teleponku dan memakan wanitaku di atas meja kantor saat ini. “Baiklah-baiklah. Mom benar-benar tidak sabar menantinya.” Mom terkekeh pelan. “Sen, sudah cukup basa basi kita. Jadi, sebenarnya ada apa denganmu?” Mom tetaplah Mom. Tanpa aku perlu mengungkapkan apa yang ada di kepalaku, Mom selalu tahu semuanya. Dia benar-benar wanita pembaca pikiran yang sebenarnya, bukan Rysta. Aku mendesah pelan. “Sebenarnya aku hanya ingin bertanya padamu satu hal,” bisikku. “Oh, apa?” Mom bertanya dengan nada tertarik. “Saat umurku lima tahun. Di salah satu kota dingin di Indonesia. Dekat dengan bintang bumi bertaburan. Mom tahu itu di mana?” “Di mana ya? Mom lupa,” ucapnya setelah keheningan beberapa saat. Aku mendesah pelan. “Oh, ayolah Mom. Mom kan punya ingatan super.” “Itu sudah hampir dua-puluh tahun berlalu dan Mom tidak memiliki ingatan super, kecuali ingatan tentan Dad mu. Nanti kalau Dad sudah selesai mandi, Mom akan bertanya padanya dan segera memberitahumu, bagaimana?” “Sure, Mom. Thanks. I love you.” “I love you, too, Son. Call you later.” Aku memutuskan panggilan dan meletakannya di atas meja. Merasakan sesuatu menarik dasiku, aku melirik dan mendapati Rysta tengah menatapku dengan kedua mata cokelat terangnya. Sepertinya, wanita itu sedang penasaran terhadap sesuatu. “Ada apa? Kamu penasaran?” godaku. Wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal. “Kenapa kamu selalu bisa membaca pikiranku, sedangkan aku tidak?” “Karena.” Aku meraih wajahnya dengan tanganku. Jari telunjuk berjalan pelan dan memutari kedua matanya. “Mata cokelat ini yang mengatakan semuanya, mereka seolah bercerita tentang apa yang tengah kamu pikirkan saat ini, baby.” “Ck, untuk seorang pria yang tidak pernah dekat dengan wanita seumur hidupnya, kamu benar-benar termasuk perayu ulung.” “And he’s your boyfriend.” Dia terkekeh pelan, lalu tersenyum dan di situlah aku menemukan kembali sebuah cekungan manis di pipinya. Lesung pipi yang baru aku sadari sekitar semingguan yang lalu. Benar-benar penuh kejutan bukan? Seolah, beberapa minggu sebelumnya lesung pipi itu tidak pernah muncul dan sekarang selalu muncul. “Sepertinya aku lebih tertarik menjadikan kekasihku sebagai makan siang.” Aku mendekatkan bibirku pada bibirnya dan dia menerima bibirku dengan suka cita. Kami segera menautkan bibir. Sepertinya siang ini akan berakhir dengan dia berada di atas meja kerjaku sebagai makan siang. Aku masih ingat, sisa jam makan siang itu, kami berdua benar-benar membuat kantorku menjadi sangat ribut dengan desahan kami. She’s so delicious. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD