CHRYSTAL
Beberapa hari ini berjalan dengan sangat baik. Benar-benar sangat baik dan menurutku ada rasa nyaman tersendiri. Setelah pada akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar membuka hatiku pada Sen. Dua minggu terakhir berjalan dengan aku menemukan diriku semakin dekat dengannya. Setiap malam, kami berdua selalu berbicara tentang berbagai hal, entah keluarganya, sahabatnya ataupun tentang pekerjaan. Tidak bisa aku pungkiri, ada rasa menyenangkan juga saat melihat Sen di sana, duduk di kursi kebesarannya dengan wajahnya yang menatap serius macbooknya. Aku juga senang melihat Sen tertidur di sampingku ketika malam datang, menatap wajah tenangnya yang tengah tertidur begitu dekat. Bahkan, aku juga sangat senang melihat Sen menyeringai padaku. Matanya yang penuh gairah, perutnya yang sixpack saat dia tidak mengenakan sehelai kain ketika kami b******a.
Gila, bukan? Aku bahkan hampir tidak mengenali diriku sendiri saat bersama Sen. Regan tidak pernah memaksaku melakukan seks. Pria itu selalu meminta, tapi aku hanya bisa memberikan hingga tahap ciuman saja. Ada perasaan seperti, aku tidak bisa memberikan seluruhnya untuk Regan. Terkadang di tengah ciuman panas kami pun, pikirannya sering ke mana-mana. Tapi, ketika bersama dengan Sen, aku merasa pria ini hanya memikirkanku ketika kami bersama. Sen selalu menatapku tepat di kedua mataku. Yang paling penting adalah aku percaya pada Sen. Jadi, entah bagaimana akhir kisah cinta kami, bersama ataupun tidak, aku benar-benar tidak akan pernah menyesal bahwa Sen lah pria pertamaku.
“Permisi, bisakah saya bertemu dengan Mr Kendrick?” Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku menengadah dan menemukan seseorang yang membuat kedua mataku membulat sempurna, bagaimana pria ini bisa berada di sini.
“Sedang apa kamu di sini?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Pria itu hanya mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti.
“Bekerja tentu saja. Aku sudah membuat janji dengan Mr Kendrick. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa langsung tanya padanya.” Pria itu menyeringai padaku. Tanpa mempersilahkan duduk atau beramah tamah, aku meraih telepon dan menghubungi nomor esktensi Sen.
“Ya?” jawab suara di ujung sana.
“Sir, di sini ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Dia mengatakan bahwa dia sudah memiliki janji dengan anda, tapi saya lihat hari ini anda tidak memiliki janji dengan siapapun.”
“Suruh saja dia masuk, Rys. Tolong sekalian bawakan kami minuman ya.”
“Baik, sir.” Aku menutup telepon dengan lesu, ternyata mereka benar-benar ada janji bertemu. Belum juga aku mempersilakan pria tadi untuk masuk, aku malah menemukannya sudah memasuki ruangan Sen seenaknya saja. Benar-benar tidak sopan.
Tenanglah Rysta, ingat kamu harus bersikap professional. Berpura-puralah untuk tidak mengenalnya. Jadi, Rysta, kamu tidak mengenal pria yang barusan saja masuk ke ruangan Sen.
Aku memaksa badan untuk bangkit dari kursiku menuju ke pantry dan membuatkan dua buah kopi untuk kedua orang di dalam. Bagaimana pria itu bisa tahu aku ada di sini. Lalu, bagaimana pria itu bisa membuat janji dengan Sen dan aku tidak mengetahuinya? Pikiranku melayang, bahkan, aku tidak sadar bahwa aku sudah berada di pantry yang berisi beberapa OB serta seorang front office yang kebetulan tengah membuat minuman juga. Mereka tersenyum sopan kepadaku, tanpa dibuat-buat. Inilah yang aku suka dari FAL Hotel, semua orang di sini benar-benar baik terhadapku, tidak seperti saat aku berada di RX.
Aku segera membuatkan kopi yang diminta Sen secepat yang aku bisa. Sebenarnya, aku tergelitik untuk mengerjai pria tadi, dengan memasukkan dua sendok teh garam ke dalam kopinya. Tapi, aku rasa lebih baik aku mengerjainnya dengan sangat manis, sweet revenge. Aku mencampurkan satu sendok teh kopi bubuk ke masing-masing cangkir. Dua sendok teh gula ke cangkir Sen dan enam sendok teh gula ke cangkir lainnya. Menuangkan air panas ke dalamnya, lalu mengaduk dan mencampurnya menjadi satu. Aku tertawa setan di dalam hati, benar-benar manis bukan? Setelah selesai menyeduh kopi, aku bergegas kembali ke tempat mereka. Berpura-pura manis dan menyaksikan penderitaan pria itu.
Ternyata, susah juga membuka pintu dengan dua tangan yang tengah membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Sedikit kerja keras dan ekstra semangat untuk balas dendam, aku berhasil membuka pintu sialan tersebut. Sen dan pria itu tengah berbicara berhadapan di meja Sen. Mereka berdua tampak serius bahkan tidak menyadari kehadiranku. Aku meletakkan cangkir kopi dengan hati-hati dan sedikit berdoa agar tidak tertukar ke hadapan mereka masing-masing.
“Silakan diminum kopinya, sir,” ucapku kepada pria di hadapan Sen. Sengaja untuk berbasa-basi padanya dan mengulur-ngulur waktu agar bisa melihat pria itu melotot padaku.
“Tentu saja,” balas pria itu sembari berkedip kepadaku. “Sekretaris anda cantik sekali, Mr Kendrick,” pujinya, tapi pujian itu tidak membuatku melayang seperti wanita kebanyakan yang mendapatkan pujiannya. Aku hanya membalas pujian itu dengan sebuah senyuman, tanpa berniat membalasnya. Aku berbalik dan mendapati wajah Sen sudah menggelap, membuatku kaget ketika melihat ekspresinya yang seperti itu.
“Wanita ini adalah kekasihku, jadi jangan berani-berani menggodanya!” Aku benar-benar terkejut mendengar peringatan Sen pada Pria itu dan hal itu berhasil mmembuatku tanpa sadar tersenyum. Setidaknya, Sen tidak menyembunyikan hubungan kami kepada dunia, walaupun sedikit kaget saat mendapati Sen mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan.
“Sayang sekali.” Pria itu menampakkan wajah menyesalnya, yang aku tahu penuh dengan kepura-puraan. “Kalau kekasihnya bukan anda, mungkin aku sudah berusaha untuk menjadikkan diriku sebagai selingkuhannya.”
“Baiklah. Saya rasa pembicaraan ini selesai.” Sen bangkit dari duduknya diikuti dengan Pria itu. “Hari ini kamu sudah bisa mulai bekerja di bagian marketing hotel. Rysta akan mengantarmu dan jangan berani menggodanya atau hidupmu tidak aman, dude!”
“Aku tidak akan berani melakukannya, sir. Terima kasih sudah membantuku untuk bekerja dari bawah.” Mereka berdua berjabat tangan dengan sopan. Sedangkan aku, walaupun aku tidak mengerti sama sekali dengan yang terjadi, aku tetap mengikuti perintah atasanku.
“Sebelum meninggalkan kantormu, sepertinya aku harus mencoba kopi buatan kekasih anda, maksud saya sekretaris anda.”
Pria itu meraih kopinya dan meminumnya perlahan. Kedua matanya membulat sempurna. Aku tahu pria itu kini melirikku geram. Aku juga tahu pria itu berusaha untuk tidak meledak saat itu juga. Aku tertawa terbahak di dalam hati. Sweet revenge, right?
*****
Kami berdua berjalan dalam keheningan menuju ke lift. Bahkan, ketika lift tertutup di hadapan kami pun, kami masih saling terdiam. Pria itu mungkin masih kesal terhadapku dan aku juga enggan berbicara padanya. Padahal aku benar-benar penasaran, kenapa pria ini bisa berada di sini saat ini? Tanpa sepengetahuanku pula.
“Kamu benar-benar keterlaluan.” Suara pria itu berhasil membuatku menolehkan. Aku menghela napas dan pada akhirnya berjalan mendekatinya. Menatap pria itu dengan tertarik.
“Bagian mana yang keterlaluan?” tanyaku padanya.
“Membuatkanku secangkir kopi yang sangat manis, apa kamu tahu, aku bisa kena diabetes karenanya?” Aku tertawa dan tanpa sadar air mataku juga ikut menetes mendengar ucapannya. Aku merindukan pria ini, bahkan aku merindukan bagaimana dia kesal saat aku mengisenginya. “Kamu juga keterlaluan. Memangnya kamu tidak bisa menghubungiku? Kamu pikir hanya Papa saja yang merindukanmu? Mama merindukanmu. Aku juga merindukanmu, Kak,” lanjutnya.
Perkataannya berhasil membuatku berlari ke dalam pelukannya. Wajahku sudah penuh dengan air mata. Adik kecilku berada di sampingku dan aku tidak bisa mengatakan pada dunia kebenaran tentang hubungan kami. Dia membalas pelukanku. Begitu erat dan saling merindukan, walaupun hal itu benar-benar jarang kami tunjukan satu sama lain.
“Kakak juga merindukanmu, Chris. Kamu benar-benar sudah hampir berumur dua-puluh-tiga tahun dan kamu sudah dewasa sekarang.”
“Tentu saja aku sudah dewasa!” Dia melepaskan pelukannya, lalu meraih wajahku untuk menghapus air mataku yang terus mengalir. “Kamu bahkan melewatkan ulang tahun ke dua-puluh-satu dan dua-puluh-duaku, lalu kamu juga tidak melihatku meminum birku secara legal.”
Semua perkataannya memang terdengar emosional, melihat bagaimana aku begitu dekat dengan pria ini. Chris adalah satu-satunya adik kecilku setelah Mama memutuskan untuk berhenti hamil lagi semenjak kegugurannya saat usiaku lima tahun. Meskipun Chris benar-benar terlihat menyebalkan dan kami suka mengerjai satu sama lain, tapi kami tahu kami benar-benar dekat dan saling menyayangi.
“Siang ini, makan siang lah bersamaku. Aku ingin berbicara padamu. Papa juga.”
Tepat Chris selesai berbicara, pintu lift terbuka di lantai tiga dan kami tahu percakapan penuh emosional kami harus segera berakhir. Aku mendahului Chris. Melupakan bahwa mungkin wajahku terlihat aneh setelah menangis. Sekarang yang terpenting adalah, berjalan dengan tatapan penuh percaya diri. Seulas senyum dengan wajah lurus ke depan. Berjalan perlahan menuju salah satu ruangan divisi marketing berada. Walaupun aku tidak tahu alasan yang tepat kenapa adikku bisa bekerja di sini, yang jelas di dalam hatiku aku memiliki kelegaan yang luar biasa. Akhirnya salah seorang keluargaku berada di dekatku. Aku tidak sendirian lagi.
*****
“Benar makan siang dengan sahabatmu? Nggak bohong, kan?” Lagi-lagi pertanyaan itu kembali Sen lontarkan.
“Percayalah, Sen,” ucapku dengan gemas.
“Baiklah. Selamat makan siang, baby.” Dia menutup panggilannya, bahkan sebelum aku membalas ucapannya. Sesaat aku tersipu dengan caranya memanggilku Baby. Aku menyukai panggilan itu dan aku suka mendengarnya memanggilku seperti itu dengan aksen inggrisnya yang kental.
“Ah, kakakku tengah jatuh cinta.” Sebuah suara berhasil membuyarkan lamunanku.
Tanpa peringatan, aku melayangkan cubitanku pada Chris yang tengah mengemudi di sampingku. Cubitan yang berhasil membuatnya mengadu kesakitan, padahal aku tahu itu tidaklah sakit. Itu hanya cara dia menunjukkan bahwa dia menghormatiku dengan berpura-pura bahwa aku bisa menyakitinya.
“Cukup, kak. Kita sudah hampir memasuki restauran,” ucapannya berhasil membuatku berhenti dan menoleh. Kenapa aku tidak kaget jika dia membawaku menuju ke restauran Prancis ini, karena bagaimanapun ini adalah salah satu restauran kebanggaan Chris yang dia rintis sejak umur delapan-belas-tahun dan sekarang sudah berkembang dengan pesat dengan berbagai cabang di seluruh Indonesia.
“Aku benar-benar tidak akan terkejut jika kamu mengajakku ke sini.”
“I’m not gonna give you a surprise, kak.”
Chris memarkirkan mobil di parkiran khusus untuknya. Lalu, kami segera memasuki restauran dengan tangannya yang merangkul bahuku. Kalau orang lain yang melihatnya, mungkin akan berfikiran bahwa aku adalah kekasih Chris. Sejak dulu, Chris tidak pernah memanggilku kakak selain di depan keluarga. Semua orang mengira kami sahabat sejak kecil, karena umur kami yang dekat, lalu kami tidak mirip. Karena hal inilah, Chris sering memanfaatku agar dia bisa putus dengan kekasih-kekasihnya.
“Jangan merangkulku. Terakhir kali kamu merangkulku dua tahun yang lalu, aku mendapat sebuah tamparan di pipi.” Aku menepis rangkulan Chris.
“Astaga, mereka semua kan di Singapura bukan di Indonesia.”
“I don’t wanna take a risk.”
“Duduklah.” Dia menunjuk sebuah ruangan yang terletak di sudut. Aku melangkahkan kakiku ke sana, menuju ke tempat yang tidak kalah vintage dari sudut lainnya. Ruangan tanpa pintu, yang langsung mendapat view jalanan Jakarta. Sebuah meja berbentuk segi empat dengan empat kursi yang mengelilingnya. Aku mengambil tempat seperti biasa, sudut kanan dekat dengan kaca.
Biasanya, aku ke sini bersama dengan keluargaku. Aku berada di sudut kanan, sedangkan Chris akan berada di sampingku. Sedangkan Mama dan Papa di hadapan kami. Aku jadi sangat merindukan mereka. Andai saja Mama tidak bersih keras dengan keputusannya, aku mungkin tidak akan kabur dengan Regan dulu.
“Kak,” panggilan Chris membuatku menatapnya. Dia duduk di sampingku dengan sebuah cokelat hangat di tangannya. Dia pengertian sekali. “You’ll get better.”
“Kalian sudah datang rupanya. Untung saja papa punya six sense dan bisa merasakan kehadiran kalian.” Mr Maxwell, papaku, berdiri di depan meja. Pria berdarah Tionghoa-Indonesia-Prancis itu masih terlihat tampan bahkan diusianya yang mungkin hampir setengah abad. Badannya masih tegap karena beliau masih pergi ke gym dua kali seminggu. Wajahnya yang terlihat penyanyang yang hanya ditunjukkan kepada keluarga kecilnya.
“Pa,” bisikku yang seketika berubah menjadi sebuah isakan pelan. Akhirnya, setelah bertemu kembali dengan Papa, aku bisa memanggilnya Papa kembali.
“My Chrystal.” Panggilan itu malah sukses membuatku semakin terisak. Sebuah pelukan yang sangat menenangkan, berhasil meredam tangisanku. Pelukan yang sangat nyaman, bahkan lebih nyaman dari pelukan Sen padaku setiap Malam. Pria yang membuatku jatuh cinta sejak pertama kali aku dilahirkan. Pria itu adalah Papaku.
“Pa,” panggilku.
“Sshh, Papa juga merindukanmu, sweetheart.”
“Maafkan Chrystal, Pa.”
Papa melepaskan pelukannya sambil menyodorkan tissue. “Papa mengerti. Papa sangat mengerti tentangmu saat ini. Papa juga bersyukur kamu akhirnya bertemu dengan Sen, pria yang jauh lebih baik dari kekasihmu dulu.”
Seketika tubuhku membeku saat menyadari sesuatu. Apakah Papa tahu bahwa aku dengan Sen sudah melakukan hal itu, bahkan dalam keadaan kami berdua belum menikah. Wajahku tiba-tiba memanas dan aku benar-benar melupakan bahwa aku baru saja menangis tadi. Papa terbahak melihat tingkahku yang menjadi pemalu.
“Wah, kak, kamu sepertinya sudah melakukan yang tidak-tidak bersama pria billionaire berkebangsaan Inggris itu.”
“Shut up, Chris!” Aku melemparkan bantal kursi padanya yang berhasil ditangkis dengan mudah. Dia benar-benar tidak tahu tempat saja.
“Sudahlah kalian. Papa jadi merindukan keluarga kecil Papa berkumpul sekarang.” Papa menatapku dalam-dalam. “Papa tahu apa yang sudah kalian perbuat, sweetheart. Tapi, Papa tidak bisa melarangnya, itu gejolak masa muda. Lagi pula, dulu Papa dan Mama juga melakukannya.”
“Wow, Pa, jangan-jangan kakak itu dibuat saat kalian belum menikah?” Aku melotot menatap Chris yang berkata tidak-tidak.
“Kamu benar Chris. Kami baru menikah dua bulan, tapi ternyata Mama kalian sudah hamil sekitar hampir empat bulan. Kami bahagia mengetahui tentang kehamilan itu.”
“Sweetheart.” Papa meraih tanganku dan menggenggamnya. “Mama sangat amat merindukanmu. Pulanglah.” Aku menggeleng. “Papa mengerti dan Papa tidak akan memaksa. Tapi, jika suatu saat terjadi sesuatu, pulanglah. Kamu bisa menghubungi Chris kapan pun kamu mau, karena dia sekarang akan mengawasimu dari jauh. Kamu tahu, tidak ada tempat pulang terbaik selain kembali bersama keluarga kecilmu.”
“Thanks, Pa.”
Papa mengangguk. Beliau mulai berbicara perlahan dan menjelaskan mengapa dia mengirim Chris dan meminta Sen agar menerimanya menjadi salah satu pegawai di FAL. Chris diminta untuk menjagaku. Papa benar-benar takut, kejadian yang menimpahku bersama Regan terulang kembali. Tapi, aku yakin, kejadian itu tidak akan terulang, karena Sen selalu bersamaku. Papa juga mengatakan bahwa Mama sangat merindukanku, ingin aku kembali, tapi sayangnya Mama masih pada pendiriannya untuk menjodohkanku dengan anak sahabatnya.
“Chrystal, sweetheart. Papa akan mengingatkanmu satu hal, minggu depan adalah ulang tahun Chris. Jadi—“
“Jadi, kamu harus datang, kak. Papa sudah menyiapkan pesta untukku. Ini adalah ulang tahun ke dua-puluh-tiga ku dan aku ingin kakak hadir.” Chris memotong ucapan Papa.
“Tapi, di Singapura. Bagaimana caranya aku bisa menyelundup ke sana tanpa sepengatahuan Sen?”
“Kami sudah merencanakan sesuatu. Kamu tenang saja.” Chris mengedipkan sebelah matanya padaku.
“Kalau begitu, Papa harus segera pergi. Chris, maafkan Papa tentang kejadian beberapa menit lagi.” Papa segera bangkit dan berjalan keluar restauran.
Chris menatapku bingung dan mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Adikku ini tidak memiliki kekuatan sepertiku ataupun Papa. Lagi pula, aku juga tidak bisa membaca pikiran Papa, jadi aku tidak bisa membantu Chris sama sekali. Chris berjalan dan duduk tepat di sampingku.
“Kamu merindukan tempat ini?” tanyanya yang hanya ku jawab dengan sebuh anggukan. Chris merangkulku kembali. Kepalanya dia sandarkan di bahuku. Adik kecilku merindukanku.
“Aku juga merindukan tempat ini.” Chris berbisik padaku.
Tunggu, tiba-tiba saja aku mendengar sesuatu yang ganjil. Maksudku, kenapa semua orang menjadi begitu terpakau pada seorang pria. Hampir semua orang di dalam restauran berbisik-bisik memuji betapa tampan pria yang baru saja memasuki restauran.
“Rysta,” seseorang memanggilku dengan suara yang sarat akan amarah. Kami berdua refleks menoleh dan mencari sumber suara. Di sanalah, di ujung ambang pintu ruangan, aku menemukan priaku tengah berdiri. Wajahnya menahan amarah dan satu hal yang menakutkan, mata beda warnanya menatapku lurus, tak berkedip. Mata yang biasanya menatapku dengan lembut berubah menjadi amarah. Ini benar-benar tidak baik.
*****