BAB 12

2625 Words
CHRISEON “Sen,” balas Rysta dengan nada yang santai seperti biasanya. Padahal aku sempat menemukan keterkejutan dari sorot matanya, tapi sekarang ekspresinya sudah kembali normal. Seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan apa pun padaku. Lihatlah orang di sampingnya. Pria itu sudah melepaskan pelukannya pada Rysta, dengan gelagapan. Jelas seperti baru saja melakukan kesalahan. Jauh berbeda dengan sikap yang kekasihku tunjukan. “Sedang apa kalian di sini?” Aku mencoba untuk tidak menyemburkan amarah. “Kamu yang sedang apa di sini, Sen?” Aku berjalan mendekati meja, tanpa menjawab pertanyaan Rysta. Pria di sampingnya, Chris, terlihat tidak baik-baik saja ketika melihatku. “Sen, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.” Chris berusaha menjelaskan, namun sayangnya aku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku benar-benar marah sekaligus kesal. Satu-satunya yang menjawab penjelasannya adalah kepalan tanganku yang menghajarnya berulang kali. Perasaan apakah ini? Sekarang aku merasa benar-benar kesal dan ingin membunuh Chris. Pria itu kurang ajar, dia berani memeluk Rysta yang notabennya adalah kekasihku. Kalau tadi aku tidak melewati restauran ini dan tidak sengaja melihat wajah Rysta di jendela, mungkin aku tidak akan mengetahui tentang kelakuan mereka di sini. “Sen,” teriakan Rysta bahkan tidak menghentikanku untuk terus memukul Chris yang sudah terlihat babak belur. “Oh, come on, Man. Apakah kamu tidak bisa berkelahi dengan benar?” ejekku padanya yang hanya dibalas dengan sebuah senyum tipis. “God, Sen. Stop it!” sebuah tarikan memisahkanku dari Chris yang sudah terkapar di lantai. Wajah Rysta penuh dengan air mata. Bahkan, setelah dia menarik tubuhku, dia tidak memedulikanku. Rysta segera berlutut di depan Chris sembari menangisi pria itu. Astaga, aku benar-benar sangat kesal! Bagaimana bisa Rysta malah menangisi pria yang sudah memeluknya diam-diam di belakangku. Selingkuh? Tidak mungkin! aku tersenyum miris dengan pemikiran bodohku. Perlahan, aku mendekati Rysta dan memegang pundaknya pelan. “Rysta, kita pergi,” ajakku dan malah mendapati tanganku ditepis olehnya. Rysta bangkit dan langsung menatapku. Kedua tangannya bersendekap di depan d**a. Matanya menggelap, tersirat kemarahan, namun air matanya masih terus mengalir. Membuat hatiku mencelus begitu saja. Jangan menangis kumohon. Aku benar-benar merasa bersalah jika melihat air mata wanita paling penting dalam hidupku mengalir, terlebih air mata itu karenaku. “Kamu gila ya, Sen?” teriaknya. “Rysta.” Perlahan Aku mendekati Rysta, mencoba memegang tangannya dan lagi-lagi ditepis olehnya. “Kamu baru saja membuatnya babak belur! Kamu gila?” “Rys, aku yang seharusnya marah di sini bukannya kamu. Kalian bertemu diam-diam di belakangku dan aku baru saja melihat kalian berpelukan!” “Kamu pikir aku Regan? Aku sudah mengatakan padamu, bahwa aku sedang makan siang bersama sahabatku.” Rysta semakin terisak dan aku semakin merasa bersalah. Aku kembali mencoba menyentuh lengan Rysta dan aku bersyukur kali ini dia tidak kembali menepis tanganku. “Rysta, aku tidak menyamakanmu dengan Regan,” bisikku padanya. “But, you did!” “Kamu tidak mengatakan bahwa Chris Maxwell lah sahabatmu, Rysta.” Rysta mendongak dan menatapku. “Kalau aku mengatakan bahwa Chris adalah sahabatku, aku yakin kamu tidak akan mengizinkanku keluar. Itulah kenapa aku tidak mengatakannya!” “Rys,” panggilku, berusaha mendekapnya tapi tangannya mendorong tubuhku pelan. “Pergi! Pergi, Sen!” usirnya. “Rys, please.” “Just go, Sen.” Wanitaku berbalik begitu saja, meninggalkanku sendirian dan masih terpaku di tempatku karena pengusirannya padaku baru saja. Rysta sekarang bahkan sudah berteriak-teriak memanggil pelayan restauran dan memintanya untuk membawa Chris menuju ke rumah sakit. Tanpa sadar aku meringis. Rasanya lumayan sakit melihat wanitaku seperti tidak menganggap kehadiranku. Pada akhirnya, aku berbalik dan meninggalkan restauran dengan perasaan sedih mendapati penolakannya dan juga perasaan menyesal karena telah membuatnya menangis. ***** Di sinilah aku berakhir malam ini, menatap dari kejauhan pagar depan rumahku yang masih tertutup rapat. Sangat berharap pagar itu segera terbuka dan menampakkan wajah wanitaku. Berusaha berfikir bahwa dia akan pulang ke rumah ini, secepatnya. Tapi nyatanya, sudah hampir jam sepuluh malam, dia belum juga kembali. Aku mulai sedikit khawatir padanya. Was-was. “Wah, apa yang sedang kakakku lakukan di tempat seperti ini?” sebuah suara memecahkan keheningan. Aku berbalik dan mendapati Sant baru saja menuruni tangga. Dia berjalan mendekat. Sepertinya Adik kembarku baru saja akan pergi tidur, melihat hanya mengenakkan gaun tidur pink pastel selututnya. “Where’s, Lou?” tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraannya. “Lou kembali ke London tadi siang, aku sudah mengatakkannya kepadamu semalam. Mungkin kamu lupa, aku tidak heran.” Sant terkekeh pelan, lalu dengan santainya dia bergelayut manja padaku. “Kamu kenapa, Sen?” bisiknya. “Tidak apa-apa.” “Jangan berbohong. Kamu tidak bisa berbohong padaku, Sen.” Aku terkekeh pelan, membenarkan ucapannya. Aku menggiringnya menuju sofa dan mendudukannya di sana. Kami berdua duduk bersisian di sofa dengan adikku berada di dalam dekapanku. “Kamu benar-benar sudah dewasa, Sant.” Aku berbisik kepadanya sembari mengelus pelan rambutnya dengan sayang. Sudah lama sekali rasanya aku tidak memeluk adik kembarku ini dan berbicara berdua dengannya sekedar bertanya tentang bagaimana harinya, mungkin sejak dia sudah memiliki Louis sebagai kekasih. “Kamu tahu, manusia pada akhirnya akan menjadi dewasa. Aku tahu kamu juga sama dewasanya denganku, tapi berhentilah untuk bersikap kamu bisa menangani segala hal sendirian. Kamu memiliku, walaupun pada akhirnya aku tak bisa membantu masalahmu, setidaknya kamu sudah membaginya denganku, Sen.” “Thanks, little sister.” Setengah jam berlalu dengan aku yang pada akhirnya menyerah dan menceritakan kejadian hari ini kepada Sant. Adikku itu pendengar yang sangat baik, itulah kenapa aku benar-benar suka bercerita apa pun kepadanya. “Kamu benar-benar keterlaluan!” ucap Sant pada akhir ceritaku. “Oh, God. Not again. Sudah cukup Rysta yang mengataiku, kamu jangan ikutan.” “Kamu memang benar-benar kertelaluan, Sen. Apakah pria selalu bermain otot untuk menyelesaikan masalah? Kamu kan bisa mencoba bertanya, berpikirlah dengan kepala dingin. Gunakan otakmu untuk berpikir positif, bukan malah menggunakan ototmu untuk melakukan hal negatif.” “Kamu tau jelas, aku benar-benar tidak sadar melakukannya. Tiba-tiba saja aku menghajar pria sialan itu dan membuatnya seperti itu.” Sant terkekeh pelan. “Kamu hanya sedang cemburu, brother.” Belum sempat aku membalas ucapan Sant, terdengar pintu depan terbuka. Rysta segera menaiki tangga, mungkin dia tidak mengetahui keberadaan kami berdua di dalam ruang tamu. Karena sejak tadi sofa besar yang kami duduki berhasil menenggelamkan tubuh kami. Tanpa sadar, aku terus memperhatikan tubuh wanitaku dari belakang. Punggungnya perlahan menghilang di ujung tangga. Sebuah tusukan pelan pada tulang rusukku, membuatku meringis dan aku tau maksud Sant padaku. “Go. Get her!” ***** Baiklah, aku sudah berada di depan pintu kamarnya. Berdiri seperti orang bodoh yang hanya memandangi pintu kamarnya tanpa melakukan apa pun. Pengecut sekali kamu, Sen. Jadi, aku punya dua pilihan yang sulit saat ini. Haruskah aku masuk dan memulai pertengkaran atau tidak memulai pertengkaran dan mendiamkan wanitaku. Sialnya, hatiku memilih untuk memulai pertengkaran dan berharap malam ini juga semua masalah sialan ini selesai. Astaga, sudah berapa kali hari ini Aku mengatakan kata sialan. Aku mendengus sembari membuka pintu kamarnya yang kebetulan sekali tidak dia kunci. Seketika aku membeku saat melihat Rysta. Dia tengah berdiri di tepi tempat tidur, sementara sebuah koper besar terbuka di sana. Diisinya koper dengan baju-baju dari lemari pakaian. Jangan bilang Rysta mau pergi dariku, dia tidak akan pernah bisa melakukannya. Buru-buru aku mengunci pintu kamar, lalu bergegas mendekat. Sepertinya, Rysta tidak menyadari kehadiranku, dia sama sekali tidak menghentikan kegiatannya. “Kalau Sant tidak menyuruhmu untuk menyusulku, kamu pasti tidak akan menyusulku, kan?” Tiba-tiba Rysta bertanya tepat pada saat aku hampir mencapainya. “Sant tidak menyuruh pun, aku akan tetap menghampirimu, Rys.” Aku berusaha meraih tangannya, namun lagi-lagi dia menepisnya. Ekspresi wajahnya masih terlihat marah, membuatku hanya bisa meringis. “Rysta, I’m so sorry. Don’t go,” bisikku. Rysta menghentikan aktivitasnya. Dia melempar salah satu bajunya ke koper dengan bengisnya. “Kamu baru saja mengirim Chris ke rumah sakit karena babak belur! Dia bahkan belum sehari bekerja di kantormu dan kamu sudah membuatnya tinggal di rumah sakit.” “Rys, dengarkan aku. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah kalau kamu memilih untuk lari dari masalah itu, Rys. Duduk dan kita berbicara, Sayang.” Aku meraih lengannya dan menggiringnya untuk duduk di tepi tempat tidur. “Berdiri saja,” ucap Rysta dan aku hanya bisa menurutinya. Kami berdiri berhadapan. Aku menatapnya, sedangkan wanitaku malah membuang mukanya. Pada akhirnya, aku yang meminta maaf padanya tentang masalah yang terjadi hari ini. “Baiklah. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi siang, Rys. Aku benar-benar kesal karena kamu tidak jujur kepadaku tentang sahabat mana yang kamu maksud.” “Kalau aku mengatakannya pun, kamu pasti tidak percaya dan tidak akan mengizinkannku.” Lagi-lagi aku hanya bisa meringis karena aku membenarkan ucapan Rysta. Mana mungkin aku akan mengizinkan Rysta makan siang dengan pria mana pun, apalagi Chris Maxwell yang terkenal playboy. “Baiklah. Aku mengakui aku tidak akan mengizinkanmu jika kamu meminta izin untuk makan siang dengan pria mana pun.” “Sen, aku akan memberitahumu beberapa hal. Pertama, aku minta maaf padamu karena aku tidak jujur kepadamu. Kedua, Chris sahabatku dan dia sekarang masuk rumah sakit gara-gara kekasihku. Ketiga, aku bukan Regan yang selingkuh di belakangmu. Keempat, aku rasa aku tidak suka dengan sikapmu yang main hakim seenaknya.” Rysta kembali lagi untuk melanjutkan kegiatannya, tapi tanganku lebih kuat dan menahannya di tempatnya. Aku tahu aku salah. Aku sadar apa yang aku lakukan memang membuatnya tampak seperti seorang pendosa. Perlahan, aku menariknya ke dalam dekapanku. “Rysta.” Aku mulai berbisik kepadanya. “Aku tidak pernah menganggapmu seperti Regan. Regan adalah Regan dan Kamu bukan dia. Sayang, dengarkan aku. Aku marah padanya, karena dia memelukmu. Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesal saat melihatmu diperlakukan seperti itu olehnya.” “Tapi bukan gitu caranya, Sen,” bisiknya lirih. “Aku tau. Aku salah. Tapi, aku benar-benar tidak percaya persahabat antara pria dan wanita dewasa. Bagaimana jika dia menyukaimu? Dan akhirnya kamu menyukainya? Lalu, semua hal berubah karena kalian berdua saling menyukai. Aku rasa aku mulai benar-benar menyukaimu.” Aku merasakan tubuh di dalam dekapanku menegang. Aku tahu, aku baru saja mencoba jujur dengan perasaanku. Walau harus kuakui, Rysta bukanlah wanita yang sepenuhnya aku pikirkan, setidaknya untuk saat ini Rysta lah yang pertama. Perlahan, tubuh Rysta berbalik. Wajahnya kembali penuh dengan genangan air mata. Membuatku semakin bersalah karenanya. Aku meraih wajahnya dan menghapus air matanya. “Jangan pergi, Rys. Semarah apa pun kamu terhadapku, kita selesaikan bersama-sama. Jangan pergi.” “Kamu harus tahu, aku tidak akan pernah menyukai Chris dan Chris tidak akan pernah menyukaiku. Percayalah padaku, Sen. Dan berjanjilah padaku, jangan main hakim sendiri.” “Aku percaya padamu dan aku berjanji padamu, Sayang.” Aku menariknya dan memeluknya erat. Lalu, aku melanjutkan ucapanku. “Seharusnya, kita merayakan pertengakaran pertama kita sebagai kekasih.” Kemudian, kami berdua sama-sama terbahak karena mendengar candaanku. Aku hanya bisa menghela napas lega, karena akhirnya wanitaku kembali tersenyum manis, setelah seharian aku membuatnya menangis. ***** Beberapa hari terakhir berjalan dengan baik. Setelah pertengkaran itu, aku dan Rysta sudah kembali berbaikan. Aku sudah meminta maaf pada Chris dan pria itu juga tidak mempermasalahkan insiden kemarin. Yang paling membuatku tertawa gara-gara kepanikanku kemarin adalah sebenarnya Rysta tidak benar-benar pergi, dia hanya berniat untuk menginap di rumah sakit bersama Chris, karena Chris sendirian dan dia merasa bertanggung jawab karena membuat Chris babak belur. Karena tidak memiliki ransel atau tas besar lain untuk membawa pakaian-pakaiannya, akhirnya dia menggunakan kopernya. Tentu saja, aku tidak mengizinkan Rysta. Aku hanya mengizinkannya untuk merawat Chris setelah pulang dari kantor hingga jam besuk berakhir setiap harinya. Tapi, Rysta tetap lah Rysta, wanitaku itu baru mau pulang ketika Chris sudah terlelap. Untung saja, Chris hanya dirawat inap selama tiga hari, karena aku tidak terlalu suka melihat perhatian Rysta pada Chris. Tiba-tiba aku mendengar ponselku berdering. Seketika sebuah senyuman terukir di wajahku saat melihat siapa yang mengubungiku saat ini. Tanpa membuatnya menunggu lebih lama aku segera mengangkatnya. “Hi, beautiful.” “Berani-beraninya kamu menggoda istriku!” sebuah teriakan di ujung sana membuatku tergelak. Selalu seperti ini. Sensitif sekali pria tua satu ini. “Dad, aku anakmu,” belaku. Terdengar sebuah aduhan kesakitan. Aku tahu, pasti Momlah yang membuat Dad kesakitan seperti itu. Membuatku benar-benar semakin tergelak. Akan selalu seperti ini, Dad mencemburuiku dan Mom akan selalu membuat Dad cemburu dengan lebih menyayangiku. “Sen, bagaimana kabarmu, son?” tanya Mom dengan suara ceria khasnya. “Tidak terlalu buruk, Mom.” “Dua bulan jauh dari kalian membuat semakin merindukan kalian. Untung persiapan pernikahan Sant membuat Mom sibuk akhir-akhir ini. Tebak sekarang kami ada di mana?” “Kantor?” jawabku tepat setelah melirik sebuah jam dinding. Jam menunjukkan pukul setengah lima sore waktu Indonesia, menurut perhitunganku di London masih menunjukkan pukul sebelas siang. Jadi, mau di mana lagi mereka berada sekarang. “Salah. Kita sedang berada di Nice. Astaga, Mom benar-benar senang,” dengan suara cerianya, Mom mulai bercerita tentang bagaimana hari ini dia berakhir di Nice yang hanya aku tanggapi dengan kata ‘Ya’ atau ‘Dad benar-benar gila’ dan juga ‘Berhentilah menggoda satu sama lain ketika kalian menelepon anak kalian’. Sebuah ketukan mengintrupsi kami. “Masuk,” teriakku setelah meminta Mom untuk mengintrupsi ceritanya. Rysta memasuki ruanganku. Baju kerjanya sudah dia ganti dengan baju yang lebih santai. Sebuah mini dress berwarna mint green dengan sepasang sneaksers berwarna putih miliknya. Membuatku tanpa sadar berdecak kagum. Dia begitu indah hanya dengan sesuatu sesederhana itu. Hari ini Aku sudah berjanji akan menemaninya menjemput Chris setelah jam kantor selesai. Lalu setelahnya, aku ingin mengajak Rysta untuk makan malam berdua. Tapi, sepertinya dia harus menunggu sedikit lebih lama karena Mom masih asyik di ujung sana tanpa berniat untuk menghentikan ceritanya. Tepat ketika Rysta duduk di hadapanku dengan dipisahkan sebuah meja. Wajahnya menyungingkan sebuah senyum yang membuatku tersihir karenanya. Aku meraih sebuah post-it berwarna biru yang kuletakkan disebuah box Aku menulis sesuatu di atasnya, lalu menempelkannya di meja di hadapan Rysta. Jangan menggodaku dengan pakaianmu, Sayang. Rysta terkekeh pelan mendengarnya, lalu membalas post-it ku dengan cara yang sama. Dia meraih post-it berwarna merah muda, menulis sesuatu di atasnya dan meletakkannya di meja di hadapanku. Fyi, aku tak menggodamu. m***m! You did! Siapa yang menyuruhmu untuk menggunakan baju sexy itu! Kami terus mengobrol menggunakan post-it. Ini benar-benar sangat menyenangkan, bahkan aku tidak benar-benar mendengarkan Mom dengan baik. Hingga sebuah pertanyaan yang Mom lontarkan kepadaku, membuatku berhenti menulis dan memfokuskan diriku pada beliau. “Kamu pernah bertanya tentang suatu tempat puluhan tahun yang lalu kan, Sen?” tanya Mom di akhir ceritanya tentang persiapan pernikahan Sant. “Mom sudah tahu itu di mana?” “Sayang, kemarin kamu bilang di mana?” seketika aku mendengar teriakan Mom pada Dad. Mungkin saat ini Dad sedang tidak berada di samping Mom. Hingga aku mendengar Dad berbicara pada Mom dan terjadi keheningan untuk beberapa saat. Sen, I need to talk with you. “Jadi di sana, Mom? Bisakah kamu mengatakan secara detail bagaimana caranya aku ke sana?” tanyaku setelah Mom mengatakan di mana tempat yang sedang aku cari. I need to talk with you too, Rys. Mom terus bercerita secara detail bagaimana caranya aku bisa berada di sana secepatnya. I need to find her soon. Agar masalah hati ini segera selesai, walaupun ada sedikit ketakutan, apabila aku mengetahui siapa wanita di masa laluku, Rysta bisa saja kecewa dengan pilihanku. Aku mengambil post-it biruku dan menulis sesuatu di sana. Aku akan pergi ke sana besok pagi, saat weekend dimulai. Semakin cepat masalahku selesai, semakin cepat pula ke mana hatiku memilih. Aku harus pergi ke Malang. Seketika itu juga aku serta Rysta melotot membaca post-it kami berdua. Karena kami berdua harus pergi ke tempat yang sama. Entah apa maksud dari ini semua, tapi bagaimana bisa kami berdua menulis kalimat serupa dalam waktu bersamaan. Bahkan, karena terlalu kagetnya, aku sudah melupakan bahwa Mom masih diujung sana tengah bercerita tentang liburan lainnya bersama Dad. Apakah ini yang disebut takdir? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD