CHRYSTAL
Satu jam sebelumnya…
“Papa berkata, ceritakan saja apa yang mengganggu pikiranmu dan hubungi papa secepatnya.” Lagi-lagi perkataan Chris semalam tergiang.
Semalam, seperti biasanya aku menemani Chris di rumah sakit. Kebetulan saat itu Sen sedang mencari kopi ke kafetaria, meninggalkanku berdua dengan Chris. Saat itulah Chris menyampaikan pesan Papa, tapi sampai sekarang aku belum sempat untuk menghubunginya. Pekerjaan hari ini cukup menyita waktu hingga aku baru benar-benar bisa bersantai pukul empat sore.
Aku meraih ponsel di meja kerja. Tanpa sadar senyumku terbit tatkala menemukan foto selfieku bersama Sen. Pria itu sengaja memasang itu menjadi wallpaper ponsel masing-masing. Meskipun ini pemakasaannya, tapi aku menurutinya dan anehnya aku malah senyum-senyum sendiri setiap kali melihat wallpaper ini.
Setelah aku menimbang-nimbang cukup lama. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Papa. Sudah pukul empat waktu Indonesia, itu artinya sudah pukul lima waktu Singapura. Papa pasti sudah selesai dengan pekerjaaannya, jadi aku tidak akan mengganggu beliau. Tepat pada dering keempat, suara papa menggema di ujung sana.
“My Chrystal,” sapanya. Aku bisa membayangkan senyum Papa saat memanggilku seperti itu.
“Pa, aku merindukanmu.”
Papa terkekeh pelan. “Papa juga, sweetheart. Jadi, ada sesuatu yang mengganggu kepala cantikmu? Sehingga berani menelepon Papa di tengah jam kantormu.”
“Ya, pa,” bisikku. Perlahan aku beranjak menuju jendela besar yang menjadi pemandangan utama meja kerjaku. Jendela besar yang langsung menampakkan pemandangan kota Jakarta sore ini. Lalu, aku melanjutkan perkataanku, “Ini mungkin sedikit aneh. Papa tahu kemampuanku kan? Aku bisa membaca pikiran semua orang, kecuali Papa. Papa pernah mengatakan, bahwa aku tidak bisa membaca Papa karena kekuatanku tidak sehebat Papa. Tapi, ternyata ada satu orang lagi yang tidak bisa aku baca pikirannya, bahkan ketika kami bersentuhan kekuatanku seperti tidak berguna sama sekali.”
“Pria yang kamu maksud adalah Chriseon, Sweetheart?”
“Ya, pa. Bagaimana Papa tau?” Aku terpana dengan kemampuan Papa yang semakin hebat seiring bertambahnya umur.
Terdengar gelakan tawa. “Kamu lupa bahwa Papa bisa membaca pikiranmu? Papa juga selalu mengawasimu?”
“Pa,” wajahku seketika memerah, aku jadi teringat kejadian saat di restauran beberapa hari yang lalu. Beliau tahu apa yang sudah aku lakukan dengan Sen dan hal itu benar-benar memalukan. Walaupun Papa sedang tidak berada di sini, tapi beliau pasti tahu bagaimana ekspresiku. Buktinya, suara tawa Papa tak kunjung berhenti, membuatku semakin memerah dan tiba-tiba gondok karenanya. “Papa, stop laughing! It’s not funny!”
“Baiklah, Sayang. Papa akan diam.” Papa berdeham, lalu melanjutkan ucapanya dengan nada yang kembali serius. “Jadi, kamu benar-benar ingin tahu kenapa hal itu bisa terjadi padamu?”
Aku mengangguk dan aku yakin beliau pasti tahu.
“Papa tidak bisa membantumu, Chrystal.”
“Pa,” rengekku. “Katanya, aku harus menanyakan kepada Papa sesuatu yang mengganggu pikiranku.”
“Chrystal, Papa memang tidak tahu. Tapi, Papa tahu siapa yang bisa membantumu. Sekarang kembali ke tempat dudukmu dan ambil sebuah kertas dan juga pena dari lacimu.”
Perintah Papa seperti titah yang tidak bisa aku bantah. Dengan patuh, aku kembali ke meja kerja dan mengambil apa yang Papa minta. Papa mengatakan pelan dan sangat jelas, lalu aku akan menulis perkataan beliau di kerta tersebut.
“Pa, ini cuma nama orang dan kota tempat tinggalnya.” Aku kembali merengek kepadanya.
“Papa tahu sayang, sisanya besok Papa akan chat. Selamat bersenang-senang nanti malam!”
Bahkan, aku belum sempat membalas ucapan Papa, panggilan sudah diputus. Tanpa sadar aku mendesah sembari memandang selembar kertas di tanganku.
Pak Hendra
Batu, Malang.
*****
Saat ini …
“God, bagaimana ini bisa terjadi?” bisikku tanpa sadar.
Sen yang sejak tadi duduk di hadapanku sudah merubah posisi duduknya. Tubuh besar dan tegap miliknya dia sandarkan di kursi. Tangannya bersedekap di depan d**a. Mata Heterochromia iridium miliknya menatapku lekat-lekat, membuatku tiba-tiba gugup.
“Kamu bisa membaca pikiranku, Rys?” tanyanya dengan seulas senyuman menawan yang beberapa minggu terakhir sanggup membuat hatiku meleleh.
Buru-buru aku menggeleng. “Kamu kan tahu, kekuatan seperti membaca pikiran sehebat apa pun yang aku miliki tidak bisa membaca pikiranmu.”
Priaku tergelak. “Kemarilah,” perintahnya.
Tanpa perlu menyuruhku untuk kedua kalinya, badanku sudah berjalan mendekati Sen. Tangan Sen segera menarikku. Perlahan dia mendudukanku di pangkuannya dan melingkarkan tangannya di perutku. Kepalanya dia sandarkan di lengkungan bahuku.
Dia berbisik pelan. “Dunia ini lucu ya, Rys?”
“Terlalu lucu.”
Sen lagi-lagi tergelak dan masih memelukku, bahkan semakin erat memelukku. “Baiklah, Princess walaupun aku masih ingin berbicara padamu. Tapi, aku rasa saatnya kita menjemput sahabatmu. Obrolan kita bisa kita tundah nanti malam, bukan?”
Dia menekan kata nanti malam dan mengedipkan matanya, sepertinya dia mencoba untuk menggodaku. Aku hanya bisa tertawa membalas ucapannya dan lucunya, dia malah membalas tawaku dengan kecupan di pipi. Rasanya, aku ingin menghentikan waktu saat ini.
*****
Setelah percintaan panas kami malam ini, kami memutuskan untuk berbincang santai di atas tempat tidur. Punggung bersandar pada headboard. Selimut menutupi hampir seluruh badan kami. Sementara mata kami saling menatap.
Tadi, setelah menjemput Chris dan mengantarnya pulang ke apartemennya, Sen langsung mengajakku untuk makan malam. Makan malam romantis dengan suasana rooftop. Alunan pemain biola pun menambah romantisnya suasana malam itu. Awalnya, semuanya sangat menyenangkan. Karena pada dasarnya, aku jarang mendapatkan perlakuan romantos. Tapi, sayangnya di antara kami tidak ada memeriksa ramalan cuaca di ponsel masing-masing. Karena, di tengah makan malam, tiba-tiba saja hujan turun.
Aku basah. Sen basah. Anehnya Sen terlihat semakin tampan dan seksi. Bahkan, aku sampai tidak tahan dan langsung menciumnya di tengah hujan lebat. Membuatku tidak bisa melupakan bagaimana sensai berciuman dengannya, ada rasa manis-pahitnya wine dan asinnya air hujan bercampur jadi satu.
“Sayang,” panggilan Sen berhasil mengusikku dari lamunanku. “Apa yang kamu cari di Malang?”
“Seseorang,” jawabku pelan, bahkan terkesan berbisik padanya.
Seketika aku menoleh dan mendapati Sen tengah menatapku. Tatapannya berhasil membuatku seolah meleleh, karena dia terlihat seperti memujaku. Perlahan tanganku naik dan menyentuh wajahnya, lebih tepatnya aku memainkan tanganku disekitaran jambang yang menghiasi wajah tegas miliknya. “Kamu lupa bercukup.”
Sen sama sekali tidak membalas ucapannya. Dia malah meraih tanganku dan menggenggamnya erat dengan kedua matanya yang terpejam. Dia seperti mencoba merasakan sensai yang tengah dia dapat ketika tanganku bermain di wajahnya.
“Kamu tidak bertanya kenapa aku pergi ke Malang?” Sen membuka matanya dan menatapku.
“Memangnya, apa yang tengah kamu cari Sen?”
“Aku perlu ke suatu tempat. Mencari seseorang. Pemilik kalung ini.” Sen menunjuk kalung yang tengah dia gunakan.
Tanganku menuruni wajahnya menuju ke lehernya. Meraih kalung itu. Sebuah kalung berbentuk kunci kecil. Kalung yang sempat membuatku penasaran sejak awal melihatnya, tapi tidak pernah berani ku tanyakan.
“Memangnya ini kalung siapa, Sen?”
“Gadis kecilku.”
“Gadis … kecilmu?” tanyaku terbata.
Sen mengangguk, lalu perlahan dia mulai menceritakan tentang dirinya, gadis kecilnya dan juga bagaimana dia bisa mendapatkan kalung yang dia selalu kenakan selama ini. Aku merasa hatiku tiba-tiba saja nyeri saat mendengar dan melihat bagaimana dia bercerita tentang gadisnya. Tatapan matanya solah-olah dia tengah menatap wanita yang dia puja, seperti dia menatapku. Aku kira tatapan yang seperti itu hanya untukku, nyatanya ada orang lain yang mendapatkannya. Tanpa aku sadari wajahku sudah berpaling darinya dan menatap ke arah balkon.
“Sayang,” bisiknya. Aku bisa merasakan tubuhku dipeluknya erat. Kepalanya sudah dia sandarkan di bahuku dan bahkan aku bisa merasakan bibirnya mengecup pundak polosku.
“Ya.”
“Ada yang menggangu pikiranmu, kah?”
“Kamu,” jawabku jujur.
Sen semakin mempererat pelukannya. “Apa yang sedang kekasihku pikirkan?”
“Bagaimana kalau kamu memilih wanita itu? Meninggalkanku yang sekarang, seorang diri? Setelah kamu menarikku dari ruang Regan dulu, kamu satu-satunya sandaranku sekarang.”
Aku bisa merasakan tubuh Sen menegang. Jangan-jangan dia akan benar-benar meninggalkanku ketika bertemu dengan wanita itu. Kenapa aku jadi tiba-tiba ingin menangis karena pemikiran ini. Tiba-tiba sebuah tangan besar mengelus rambutku, membuatku meringis pelan. Sen.
“Sejujurnya, itu adalah salah satu yang aku takuti. Tapi, semoga itu tidak akan terjadi. Aku mencarinya hanya ingin mengembalikan kalung yang pernah dia berikan padaku belasan tahun silam. Walaupun saat ini aku belum genap berumur dua-puluh-empat, tapi aku rasa gadis kecilku sudah. Yang jelas, aku hanya ingin mengembalikan dan menepati janji kami.”
Sen menarik badanku, lalu memutar tubuhku agar menghadapnya. Dengan perlahan dia membaringkan tubuh kami. Tangan kanannya meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. “Rysta,” bisiknya sembari mencium tanganku yang berada di dalam genggamannya.
“Jika suatu saat nanti ketakutanku menjadi kenyataan, ketahuilah satu hal. Bersamamu aku merasa lengkap, bahagia, nyaman dan menjadi diriku sendiri. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyakitimu, tapi semakin kamu mencintai seseorang, maka sedalam itulah rasa sakit yang nanti dia tinggalkan. Aku berharap kamu ada di sisiku selama yang aku bisa dan yang harus kamu tahu, aku sama sekali tidak pernah memiliki perasaan ingin meninggalkanmu sejak pertama kali aku melihatmu menangis di tangga darurat beberapa bulan yang lalu.”
Seketika aku terisak pelan mendengar ucapannya. Dia memang tidak berniat untuk meninggalkanku, tapi perasaan takutnya jika bertemu kembali dengan gadis masa kecilnya membuatku merasa bahwa hatinya terbagi. Astaga, apa yang aku harapkan, kami baru berhubungan bahkan belum sampai sebulan tapi kenapa perasaanku terasa lebih kuat ketika bersama Sen dari pada saat bersama Regan dulu.
Sebuah tangan besar meraihku ke dalam dekapannya. Kepalaku dia sandarkan di d**a telanjangnya. Aku semakin terisak saat mendengar bisikannya.
“Jangan menangis, Sayang. Air matamu adalah hal terakhir yang ingin ku lihat. Air matamu juga lah yang membuatku sadar bahwa aku benar-benar takut kehilanganmu, Rysta.”
*****
Kami berdua berjalan bersisian sambil membawa koper kecil di tangan masing-masing. Hari ini penampilan Sen tampak santai dengan polo shirt putih, celana jeans selutut serta sneakers putihnya. Mata beda warnanya dia tutupi dengan kacamata abu-abu, membuatku sama sekali tidak bisa melihat kedua mata indah itu. Sedangkan aku mengenakan baju yang sama santainya dengannya. Sebuah tank top berwarna putih dan memaduh padankan dengan hot pants jeans serta sneakers putih. Kedua mataku sengaja aku tutupi dengan sebuah kacamata besar berwarna hitam.
Mungkin kami terlihat seperti sengaja menggunakan pakaian. Tapi, sebenarnya aku dan juga Sen tidak sengaja menggunakan pakian yang senada seperti ini. Tadi pagi, setelah kami terbangun, Sen buru-buru kembali ke kamarnya.
Saat kami berdua keluar kamar untuk berangkat, yang pertama kali menyadari kemiripan pakaian kami adalah Sant, adik kembar Sen. Sant tiba-tiba saja muncul begitu saja dari kamarnya. Kata-kata yang Sant yang ucapkan pada kami tadi, berhasil membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya.
“Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, kalau tiba-tiba kalian mengenakan baju yang sama tanpa ada perjanjian sebelumnya, itu sudah pasti karena di otak dan hati kalian sudah terhubung. Semacam kontak batin.”
Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan besar melingkari leherku dan membuat langkahku berhenti karenanya. Aroma parfum menyeruak di indra penciumanku, aroma segar khas parfum aigner milik seseorang yang sangat aku kenal, siapa lagi kalau bukan kekasihku. “Kamu mau ke mana, Rysta? Kamu salah jalan.”
Eh, salah jalan. Bisikannya membuatku mulai celingukkan. Benar saja, saking asyik melamun aku jadi salah jalan. Aku berdeham, sementara otakku mencari alasan agar tidak terlihat memalukan.
“Sen.” Aku melepaskan tangan Sen. “Tadi aku berniat untuk mencari toilet,” dustaku.
“Baiklah tuan putri, tapi toilet yang kamu cari ada di sana.” Sen menunjuk sebuah ruangan kecil dengan tulisan toilet. Membuat wajahku memerah karena ketahuan sekali sedang mencari-cari alasan.
Aku melangkah dengan sedikit terburu menuju ke toilet, padahal sama sekali tidak merasakan adanya panggilan alam. Sekitar lima belas menit kemudian aku sudah berada di dalam mobil sewaan dengan Sen yang tengah menyetir di balik kemudinya.
Priaku hari ini tidak terlalu banyak bicara, begitu juga denganku. Mungkin, Sen merasa seperti tengah menanti sebuah eksekusi untuk hatinya. Dia berada di sini untuk mencari gadis kecilnya dan mungkin itu yang membuatnya harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Tetap bersamaku atau memilih dengan gadis kecilnya. Tapi aku takut kehilanganmu, Sen, tanpa sadar aku mendesah.
Sebenarnya aku juga tengah harap-harap cemas. Aku penasaran sekali dengan siapa Pak Hendra yang Papa katakan itu. Apa jawaban yang akan aku terima, kenapa aku tidak bisa membaca pikiran Sen sama sekali. Rasanya kosong. Hening seperti suasana yang kami ciptakan saat ini. Bukan hanya itu juga, masalah perasaan Sen juga membuatku ikut berdebar dan kepikiran.
“Rys,” panggilan Sen berhasil mengalihkanku dari jalanan di luar sana yang cukup macet pada sabtu siang ini.
“Kenapa kamu menggenakan kacamatamu terus? Tidak biasanya?” Dia bertanya sembari melirikku.
“Jangan tanya,” balasku dengan nada sedikit judes padanya agar dia tutup mulut dan tidak bertanya macam-macam.
Namun, sayangnya Sen malah dengan teganya mengulurkan tangan dan merenggut kacamataku seenaknya. “Sen,” teriakku.
Langsung saja Sen tergelak saat menyaksikan apa yang kusembunyikan. Sepasang mata yang panda, hitam dan bengkak karena efek menangis semalaman. Masih dengan gelakan tawanya, dia menarik tanganku dan membuatku berada di dalam dekapannya.
Sen menghela napas, lalu berbisik sambil mengemudi dengan satu tangannya. “Selama di pesawat aku terus memikirkan apa yang akan terjadi nanti, bahkan saat ini pun aku masih memikirkannya. Aku benar-benar berharap ketika bertemu dengan gadis kecilku itu, tidak ada yang berubah. Kamu tetap di sisiku, itu saja lebih dari cukup untukku. Tapi, jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, aku sangat bahagia di detik-detik saat bersamamu, Rysta.”
Aku tersenyum lembut padanya. “Aku juga bahagia bersamamu, Sen.”
*****
Kami baru saja memasuki perbatasan antara kota Batu dengan kota Malang. Sen melanjukan mobil dengan sangat kencang, bahkan dalam waktu lima belas menit setelah melewati perbatasan. Aku bahkan sudah bisa melihat alun-alun kota Batu dengan bianglala besar di dalamnya dari tempat kami berada.
“Bagaimana kalau nanti malam kita ke sana?” ajaknya sambil menujuk alun-alun tersebut. Aku hanya bisa mengangguk karena benar-benar tidak sabar menunggu momen itu. “Kamu belum tahu di mana alamatnya?” lanjutnya.
Aku menggeleng. “Belum ada kabar sama sekali. Sekarang kita mau ke mana Sen?” tanyaku saat melihatnya melewati begitu saja alun-alun Batu menuju ke arah Timur.
“Menuju ke vila keluargaku, tempat di mana kejadian belasan tahun yang lalu terjadi.”
Lagi-lagi Aku hanya bisa mengangguk. Jantungku tiba-tiba saja berdebar kencang, lagi-lagi ada perasaan tidak rela saat melihatnya begitu penasaran dengan siapa gadis masa lalunya itu. Haruskah aku juga mengatakan padanya untuk tinggal, tapi melihatnya begitu bersemangat dan penasaran, aku tidak tega juga. Pada akhirnya, aku hanya berharap untuk tidak lagi dikhianati.
Tepat saat Sen membelokkan mobil ke sebuah perumahan. Ponsel di dalam sling bag ku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Papa yang hanya berisi sebuah alamat membuatku menaikan alis. Seperti tidak asing dengan alamat yang tertulis di layarku.
“Sen,” panggilku pada Sen tanpa berusaha mengalihkan tatapanku pada ponselku. “Aku baru saja mendapatkan alamatnya.”
“Great, Rys. Di mana memangnya?”
“Perumahan benua, jalan eropa utara nomor 1, Batu, Malang.” Aku membacakan alamat yang tertulis di dalam pesan singkat Papa.
“Di mana tadi? Coba kamu ulangi,” perintah Sen dan aku mengulangi sekali lagi alamat yang yang tertulis di pesan singkat tersebut.
Tiba-tiba saja tangan Sen mengulurkan ponselnya kepadaku. Menampilkan sebuah screen shoot pesan singkat Mamanya kepadanya dan seketika aku membelalakan mata. Aku benar-benar terkejutnya saat aku membaca isi pesan singkat Mama Sen.
Sen, ini alamat tempat yang kamu minta.
Perumahan benua, jalan eropa utara nomor 1, Batu, Malang.
Semoga beruntung ;)
*****