CHRISEON
“Kamu pasti bercanda,” gumaman Rysta berhasil membuatku meminggirkan mobil di depan sebuah rumah yang entah milik siapa.
Rysta masih tercengang. Kedua tangannya memegang ponselku dan ponselnya. Wajahnya benar-benar menggemaskan. Tanpa sadar aku tersenyum melihat wajah cantiknya yang menampakkan ekspresi seperti itu. Mungkin, kalau harus melihatnya setiap hari ekspresi wajahnya ini, aku rasa aku tidak akan pernah bosan. Tuhan, bagaimana bisa aku meninggalkan wanita yang begitu indah seperti Rysta? Wanita yang berhasil membuatku berani memulai sebuah hubungan untuk pertama kali dan juga berani melakukan sesuatu yang lebih untuk sepasangan kekasih.
“Rysta,” panggilku.
Tanganku mengelus rambutnya, namun sepertinya Rysta masih benar-benar terkejut hingga tidak memedulikanku. “Sayang,” panggilku sekali lagi.
Kali ini Rysta beraksi. Dia mengulurkan tangannya dan menyerahkan kembali ponselku. “Kamu bercanda kan, Sen?”
“Bercanda?” Aku menaikan sebelah alisku bingung. “Aku benar-benar tidak bercanda. Mom memang mengirimkan pesan itu padaku tadi pagi, sengaja aku screen shoot agar lebih mudah melihatnya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa langsung membuka aplikasi messages ku dan bacalah sendiri.”
Rysta segera meraih kembali ponselku. Dengan terburu wanitaku itu mengutak-atik benda itu dan wajahnya seketika berubah menjadi pucat, sepertinya dia sudah menemukan pesan Mom padaku.
“Aku sendiri juga tidak paham, kenapa kita bisa diarahkan ke tempat ini. Jangan pernah berpikir aku mengerjaimu, aku tidak sedang mengerjaimu.”
“Aku tahu, aku tahu. Tapi, ini benar-benar…,” sebelum sempat dia menyemburkan berbagai argument dari mulutnya, aku buru-buru membungkamnya dengan sebuah ciuman yang berhasil membuatnya terdiam.
Tanganku dengan cekatan mengambil kembali ponselku dan memasukannya ke saku celana. Aku melepaskan ciuman kami dan berhasil membuat wajah memerah dan seperti biasa dia masih terlihat sangat menggemaskan.
“Kamu sebenarnya mau bertemu siapa, Rys?”
“Seseorang,” balasnya dengan berbisik.
“Aku tahu, Rysta. Siapa?”
Rysta menggeleng. “Aku belum bisa mengatakan siapa orangnya. Please.”
Aku mengangguk, karena mendesaknya percuma saja. Tanganku meraih wajahnya dan mulai menyibak anak-anak rambut Rysta agar aku bisa melihat wajahnya secara jelas.
“Aku mengerti,” bisikku.
Perlahan dengan pasti, aku mendekatkan kembali wajahku dengan wajah Rysta dan mulai kembali mencium bibir mungilnya. Bibir yang terkadang sangat menyebalkan apabila sudah mulai menggerutu ataupun berkata pedas. Anehnya, aku sadar bibir itulah yang membuatku tidak pernah berhenti. Rysta, kenapa dengan mudahnya dia membuatku gila bahkan tanpa aku sadari setiap kali mencium, menatapnya dan melakukan segala sesuatu bersamanya aku semakin masuk ke dalam pesonanya.
*****
Aku menghentikan mobil di depan sebuah gerbang raksasa berwarna putih. Dari luar saja aku bisa melihat bagaimana gaya villa keluargaku ini. Benar-benar seperti mereka, orang tuaku. Esklusif dan bergaya eropa modern. Bahkan alamat rumah saja sudah jelas sekali bahwa tempat ini memang dibuat seperti layaknya perumahan ala Eropa kebanyakan. Aku heran, kenapa mereka mencintai Indonesia tapi selalu membuat segala hal berbau Eropa di mana-mana. Labil sekali.
Terlihat dari mobil, seorang satpam berpakaian putih bergegas keluar dari sebuah pos yang berada di samping pagar dan berjalan menghampiri kami. Aku segera membuka jendela mobil dan melepaskan kaca mataku.
“Cari siapa ya, mas?” tanyanya.
“Saya Chriseon Kendrick, anak Mr Deon Kendrick.”
“Sebentar ya, mas.”
Satpam yang bertubuh tinggi dan sepertinya sudah berumur hampir empat puluh tahunan itu segera kembali ke pos jaganya. Sekitar tiga menit menunggu, pintu di hadapanku itu terbuka sempurna.
“Kita sudah sampai, Rys.” Aku memarkirkan mobil sewaan kami di depan pintu masuk.
Kami berdua menuruni mobil bersamaan. Aku tahu pasti Rysta terpana dengan pesona yang villa ini pancarkan. Karena aku tidak bisa berbohong dan harus mengakui bahwa saat memandang villa ini menjulang tepat di hadapanku, aku sangat terpesona. Walaupun villa ini tidak sebesar mansion Kendrick di Inggris, tapi jelas tempat ini benar-benar di desain hampir menyerupai mansion di Inggris.
Benar-benar mengingatkanku kepada Mom, ketika aku melihat sebuah air mancur besar dan dikelilingi dengan bunga-bunga mawar putih di bawahnya. Benar-benar kesukaan Mom. Aku jadi merasa Mom ada di sekitarku ketika melihat taman itu.
“Ayo masuk,” ajakku.
Aku meraih koper kami dan tidak lupa untuk merangkul tubuh Rysta agar wanita itu tidak melamun dan juga pergi jauh-jauh dariku. Terakhir kali aku tidak merangkulnya atau sekadar menggenggam tangannya, dia hampir pergi entah ke mana.
Perlahan aku menggiringnya menaiki tangga untuk menuju ke pintu masuk utama. Sayangnya, meskipun ini villa keluargaku, aku sama sekali tidak memiliki kunci tempat ini. Mom juga berkata bahwa ada orang yang menjaga villa ini, mangkannya tempat ini terawat. Aku mengetuk pelan pintu kayu besar bercat putih di hadapan kami.
“Tempat yang cantik,” puji Rysta.
“Dan tempat yang benar-benar meningatkanku pada Mom,” balasku.
Terdengar deritan pelan dari dalam. Perlahan pintu terbuka dan tepat saat pintu di hadapanku terbuka sempurna, seketika itu juga tubuhku membeku. Di hadapan kami, berdiri seorang wanita muda, mungkin berumur dua puluhan sepertiku. Wanita dengan wajah pribumi jawanya, berkulit sawo mata dengan wajah lonjong miliknya. Satu lagi yang membuatku terpaku, ketika wanita itu tersenyum kepada kami, dua lesung pipi menghiasi wajahnya. Walau senyum dan lesung pipi itu tidak seindah milik Rysta, tapi tetap saja hatiku mencelus melihat wanita itu berdiri di sana.
“Selamat datang di villa keluarga Kendrick. Saya Cahaya, anak kepala pelayan di sini.”
Satu hal yang muncul pertama kali di dalam kepalaku adalah apakah perempuan ini yang aku cari?
“Oh, hai,” balasku pada akhirnya. Jelas sekali aku gugup dan aku bisa merasakan tanganku dengan kasarnya di tepis begitu saja oleh Rysta.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu.
“Aku mencari Pak Hendra, bisakah aku bertemu dengan beliau?” Rysta berjalan mendahuluiku untuk mendekati Cahaya.
“Sayang sekali, nona, Ayah saya sedang pergi dan baru akan kembali besok pagi.”
“Kami akan menginap di sini.” Aku menyusul Rysta dan mensejajarkan diriku di sampingnya. Aku mengulurkan tanganku pada wanita itu dan segera dibalasnya. “Chriseon. Chriseon Kendrick.”
“Ah, sir. Selamat datang di villa keluarga Kendrick. Kalau begitu saya akan segera menyiapkan dua kamar untuk kalian.”
“Satu kamar.” Aku segera menoleh saat mendengar Rysta berkata satu kamar.
“Satu … kamar?” wanita bernama Cahaya itu mengernyit heran.
“Iya, satu kamar saja. Kami sudah menikah. Jadi, satu kamar saja,” jelas Rysta.
Wajah Rysta benar-benar sangat tidak enak dilihat. Dia cemberut dengan kedua tangannya dia sendekapkan di depan d**a. Kacamatanya juga sudah dilepaskan dan sudah bertenger manis di atas kepalanya.
“Saya baru tahu kalau anak Mr Kendrick yang pertama sudah menikah.”
“Ya, ya, kami sudah menikah.” Aku berusaha untuk menahan tawaku agar tidak menyembur saat melihat ekspresi Rysta yang seperti itu. Sepertinya dia benar-benar tidak menyukai keberadaan Cahaya, karena sebenarnya aku juga sama tidak menyukai keadaan seperti ini.
“Baiklah kalau begitu, akan segera saya siapkan kamarnya.”
Kami memasuki villa yang teryata dalamnya jauh lebih indah dari yang aku duga. Ditata dengan sangat apik dan tentu saja mengingatkanku bahwa Dad menyukai ruang tamu dengan rak-rak buku dan sofa yang ditata di depan perapian. Bisa di bilang tempat ini menyerupai seperti mansion di Inggris, walaupun jauh lebih indah di sana. Hanya saja ini benar-benar lebih indah dari rumah kami yang ada di Jakarta.
Tiba-tiba aku merasakan seseorang merangkul erat lenganku. Aku menoleh dan mendapati Rysta memeluknya erat. Dari wajahnya tersirat jelas sekali bahwa dia sangat ketakutan. Aku tahu sayang, aku juga merasakan ketakutan yang sama sepertimu. Aku mencium puncak kepalanya, bermaksud menenangkannya.
“Just swear you'll stand right by my side, Sen,” bisiknya. Tapi, tak satu kata pun yang keluar dari mulutku, karena aku sendiri berusaha untuk melakukannya.
*****
Sudahkah aku mengatakannya pada kalian bahwa kekasihku itu benar-benar wanita yang susah sekali ditebak? Sejak tadi dia minim sekali berbicara, benar-benar seperti bukan dirinya. Jika aku bertanya padanya, baru dia akan menjawabnya.
Tadi, setelah kami sampai di kamar, dia langsung menghindariku dan tidur begitu saja. Mengatakan bahwa dia kelelahan. Lalu, sekarang dia bahkan berjalan ogah-ogahan menuruni tangga. Bahkan, beberapa kali dia menghindari tanganku yang berusaha untuk menggenggamnya. Astaga, apakah wanita merajuk itu selalu menyebalkan seperti ini?
“Rysta.” Aku menarik wanitaku tepat saat kami berada di lantai bawah. Dengan sedikit memaksa, aku mengarahkannya menuju ke kamar mandi terdekat. “Tenanglah, sayang,” bisikku saat mendapati Rysta berusaha untuk melepaskan genggamanku di tangannya.
Aku mengunci pintu toilet di belakangku dan mendorong wanitaku hingga badannya menyentuh dinding kamar mandi. Kami berdua terdiam dan saling memandang. Tanpa sadar aku meneliti wajah Rysta, kedua mata hitamnya, hidungnya yang kecil, pipinya yang chubby dan tatapanku jatuh ke bibir mungilnya.
Tanpa bisa dicegah dan entah siapa yang memulai, bibirku sudah berada di atas bibirnya. Tangan Rysta sudah melingkar manis di leherku, sedangkan tanganku sudah melingkar di pinggulnya. Aku menarik Rysta agar dia bisa lebih merapatkan dirinya padaku.
“Rys.” Aku menghentikan ciuman kami dan menatapnya lurus tepat di kedua mata gelapnya, lalu berbisik pelan padanya. “Kamu kenapa?”
Rysta hanya menggeleng pelan.
“Tell me everything. Aku tidak bisa membaca pikiran seseorang, jadi aku hanya ingin kamu mengatakan apa yang ada di kepala cantikmu itu.”
Seketika aku sedih saat melihat setetes demi setetes air mata yang turun dari kedua mata indah milik Rysta. Giginya menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tidak mengeluarkan isakan. Perlahan, tanganku meraih wajahnya untuk menghapus air matanya.
“Aku takut,” lirihnya. “Bagaimana kalau wanita tadi adalah gadis kecilmu. Lalu, kamu sadar bahwa dia cinta sejatimu. Kamu pergi bersamanya dan aku sendiri.”
Suaranya terdengar putus asa, membuatku menariknya lebih erat ke dalam dekapanku. Rysta membenamkan wajahnya di atas dadaku, hingga aku bisa merasakan sensasi basah yang air matanya ciptakan pada kaosku. Aku mengelus rambutnya pelan dan sesekali menciumi puncak kepalanya.
“Aku masih di sini, kan? Aku tidak bisa berjanji apa pun padamu, tapi satu hal, aku juga sama takutnya kehilangmu, Rysta. Jadi, tersenyumlah dan nikmati apa yang ada sekarang. Bersama kita buat memori seperti besok salah satu di antara kita pergi.”
Rysta mengangguk pelan. Aku melepaskan pelukanku dan kali ini sebuah senyuman terbit di wajahnya dan dua buah lesung pipitnya muncul. Aku mendekati wajahnya dan mencium kedua lesung pipit miliknya dan berakhir di bibirnya.
“Berhentilah menangis dan malam ini nikmati kencan kita di sini.” Aku mengedipkan sebelah mataku dan di balas dengan sebuah senyuman yang semakin lebar dari wajahnya. “Kamu cantik kalau tersenyum.”
“Sen,” panggilnya.
Aku menaikan kedua alisku sebagai balasan.
“Katanya kamu mau mengajakku ke alun-alun kota tadi?”
Dengan mantap aku menganggukan kepalaku.
“Aku punya satu permintaan.”
“Apa itu, Rys?”
“Ke sananya jangan naik mobil ya.”
“Ha?” Seketika aku melongo. “Lalu, kamu ingin berjalan kaki? Dari tempat tadi ke sini saja perlu lima belas menit dengan mobil, apalagi jalan kaki.”
Rysta menggeleng dengan sebuah seringai di wajahnya, membuat perasaanku tidak enak.
“Kita ke sana dengan sepeda motor!” ucapnya dengan nada ceria yang berhasil membuatku melongo.
“Ha?” sekali lagi aku melongo mendengarnya. Sepeda motor, astaga bagaimana kita bisa ke sana menggunakan kendaraan seperti itu, menyentuhnya saja tidak pernah apalagi menggunakannya. “Aku tidak bisa mengendarai sepeda motor, Rysta. Kamu juga bisa sakit, di luar dingin.”
Kekasihku itu hanya mengedipkan sebelah matanya dengan sebuah senyuman yang membuat wajahku tiba-tiba saja memucat. Dia benar-benar membuatku ketakutan saat ini, permainan apa lagi yang akan Rysta mainkan.
*****
“Sayang, kamu gila ya?” teriakku padanya.
Rysta hanya terbahak di depanku, sedangkan tanganku sudah memeluk pinggangnya erat-erat. Bagaimana dia bisa melewati bis-bis kota yang besar itu dengan kecepatan yang menurutku tidak dibenarkan.
“Pelan-pelan,” teriakku kembali.
“Kamu bawel sekali sih sebagai pria! Tenang lah, aku sudah sering menggunakan sepeda motor dulu.”
Ejekan Rysta berhasil membuatku menggerutu di belakangnya. Rasanya harga diriku diinjak-injak. Kenapa harus sepeda motor, kenapa tidak kuda saja? Kalau kuda aku pasti dengan bangga menunjukkan kemampuanku padanya. Tapi sepeda motor, aku benar-benar buta dengan alat transportasi satu ini. Seharusnya, aku sebagai pria yang membonceng kekasihku. Aku pemegang kendali, kenapa sekarang malah Rysta yang memegang kendali. Bukankah ini terlihat sangat konyol? Gara-gara sepada motor sialan ini.
Coba saja tadi satpam villa tidak membawa sepeda motornya, mungkin saat itu Rysta akan menyerah dan tidak akan melanjutkan pemikiran gilanya. Tapi nyatanya, satpam villa membawa sepeda motor yang akhirnya pemikiran gilanya menjadi kenyataan.
Tiba-tiba aku merasakan sepeda motor yang kami naiki memelan. Kepalaku menoleh ke sekeliling dan mendapati ternyata kami sudah berada di sekitaran alun-alun. Sepertinya, aku terlalu asyik melamun dan juga menggerutu hingga tidak menyadari bahwa sekarang sudah sampai.
Rysta memarkirkan motor dan hal itu membuatku bersyukur karena akhirnya aku bisa menuruni sepeda motor sialan ini. Dia berbalik dan saat ini menatapku, tanganya perlahan naik dan melepaskan helm yang tengah kugunakkan, membuatku terpaku di tempatku saat melihat wajah cantiknya dibalik helm yang dia gunakan.
“Kamu cantik,” bisikku.
“Terima kasih, sir.” Dia kembali terkekeh, membuatku hatiku menghangat dengan mudahnya.
Kami berdua berjalan menuju ke area alun-alun dengan tangan bergandengan setelah Rysta selesai dengan urusan permotoran dan perparkiran yang tidak ingin aku tahu. Rysta menarikku sembari setengah berlari menuju ke sebuah bianglala besar yang berada di tengah-tengah alun-alun. Bianglala dengan hiasan lampu di badannya menambah kecantikan tempat ini.
“Ayo naik bianglala!” teriaknya.
Tangannya lagi-lagi menarikku dan membuatku berjalan di belakangnya. Dari belakang aku bisa melihat wajahnya yang tampak bahagia, walaupun aku tahu sebenarnya dia ketakutan. Aku benar-benar bersyukur dia tidak berlarut-larut untuk menangisi keadaan yang bahkan nantinya belum tentu terjadi. Aku juga sangat bersyukur karena dia mendengarkan kata-kataku untuk membuat memori bersama.
Berjam-jam berada di sini, mulai sore hingga beberapa jam kemudian. Jujur, aku tidak akan pernah bosan, karena ada Rysta di sampingku. Mulai dari menaiki bianglala yang mengharuskan kita untuk mengantri selama kurang lebih setengah jam hanya untuk beberapa menit di atas bianglala, berdua saja dan mengobrol tentang apa saja. Lalu, setelahnya, kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman yang berada di depan air mancur dengan ornament-ornamen apel di atasnya. Bukan hanya air mancur, tapi juga pemandangan lampu-lampu indah yang bianglala ciptakan bisa terlihat dari tempat kami. Lalu, kedua tangan kami juga tengah sibuk memegang sebuah gula kapas yang tadi sempat aku beli.
Satu setengah jam kami mengobrol sembari menghabiskan gula kapas di tangan kami rasanya tidak pernah cukup. Aku segera menariknya menuju ke sebuah ayunan yang berada di arena bermain anak-anak, anggap saja aku tidak tahu diri dan tidak sadar umur. Aku menyuruh Rysta untuk mengikutiku duduk di atas ayunan, walaupun harus dengan pertikaian kecil, akhirnya Rysta duduk juga di atas ayunan.
“Sen, terima kasih,” teriaknya saat ayunan menerbangkan tinggi.
Tepat dia menghentikan ayunannya, dia menoleh dan menatapku. Aku membalasnya dengan sebuah senyuman dan berkata. “Aku sudah bilang, kan? Nikmatin apa yang ada sekarang. Buat memori seperti salah satu di antara kita pergi keesokan harinya.”
Rysta mengangguk dan tersenyum lebar.
*****
Sekitar pukul sebelas malam, kami tengah berada dalam perjalanan kembali menuju villa. Butuh waktu hampir dua jam lamanya untuk kami mengantri hingga menyelesaikan makanan kami di salah satu tempat makanan kaki lima.
Aku masih ingat jelas tempat makan itu dan betapa ramai tempatnya, namanya adalah Pos Ketan Legenda. Rasanya aku benar-benar membutuhkan stok kesabaran berkali-kali lipat saat membeli makanan di sana. Kami harus mengantri selama kurang lebih empat puluh lima menit dan setelah itu masih harus mencari tempat untuk menghabiskan makanan. Sayangnya, kami berdua tidak mendapatkan kursi dan meja untuk makan, yang akhirnya terpaksa duduk di pinggir jalan dan memakan sepiring ketan dengan segelas teh hangat yang sudah menjadi dingin.
Selama itu pula, senyuman di wajah Rysta tidak pernah pudar dan aku benar-benar bersyukur karenanya. Bahkan, sampai sekarang pun senyuman itu masih terlihat jelas di mataku. Perjalan pulang, aku tidak meneriakinya lagi, karena ternyata dia memilih untuk melajukan motor dengan pelan-pelan dan sesekali kami mengobrol.
Tidak pernah di dalam diriku melihat wanita seperti aku melihat Rysta. Aku juga tidak pernah merasakan kehangatan dan debaran terhadap seorang wanita, kecuali pada Rysta. Merasakan khawatir, marah dan berbagai emosi karena seorang wanita bernama Rysta. Yang paling penting, perasaan ini ada karena Rysta ada.
“Kita sudah sampai,” ucapan Rysta berhasil membuat lamunanku berhenti.
Kami berdua menuruni motor setelah gadisku itu berhasil memarkirkan motor dengan baik di depan rumah. Tanganku malam ini terus menggenggamnya erat, bahkan selama perjalanan menuju ke kamar, aku tidak pernah mau melepaskan genggaman tangan kami. Begitupun juga Rysta.
Pandanganku teralihkan, saat melihat sebuah bayangan wanita berada di balkon rumah. Aku kembali menoleh dan mendapati Rysta juga melihat sesosok bayangan wanita sama sepertiku. Tangannya meraih wajahku dan mengelusnya.
“Bicaralah padanya,” bisiknya pelan. Perlahan dia mendekatkan bibirnya pada bibirku dan menciumku dalam. “Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyesal. Membuat memori bersamamu adalah salah satu hal yang menganggumkan, Sen.”
Rysta menjauhkan dirinya dariku. Melepaskan genggaman kami dan berbalik memasuki kamar. “Sen, semoga hatimu memilih yang terbaik,” bisiknya sekali lagi dan kali ini dia benar-benar menghilang di balik pintu kamar.
Aku tahu, Rysta sudah mengikhlaskan apa pun pilihanku nanti. Aku juga sangat tahu, di dalam diriku sendiri, aku tidak pernah sanggup mengetahui kebenaran apa yang terjadi nantinya. Karena, aku tidak ingin kehilangan Rysta di hidupku, dan aku rasa, untuk waktu yang lama aku tidak ingin kehilangan Rysta.
Perlahan, aku melangkah menuju ke balkon. Ternyata di sana wanita itu tengah berdiri dengan gaun tidur panjang berwarna putihnya. Angin mengibarkan rambut panjang sepunggunya. Aku tahu wanita itu pasti tengah menatap hanparan lampu yang berbentuk seperti bintang di sana. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku dibelakangnya.
“Cahaya, boleh saya bicara sama kamu?”
*****