CHRISEON
Aku membelokkan mobil memasuki sebuah rumah besar bergaya mediteran di salah perumahan yang terletak di pinggir kota Jakarta. Dulu, sebelum kedua orang tuaku memutuskan untuk pindah ke London, mereka menempati rumah ini meskipun hanya sekitar lima tahun. Tapi kenangan yang mereka ciptakan membuat rumah ini lebih dari sekadar lima tahun bagi mereka. Intinya, dari segala hal yang Mom ceritakan padaku tentang masa lalunya bersama Dad, rumah ini memiliki kisah tersendiri. Tanpa sadar aku menggeleng pelan saat menyadari betapa romantisnya mereka berdua sampai semua tempat yang mereka singgahi memiliki cerita mengenai mereka.
"Kita di mana?" Tiba-tiba sebuah suara mengusik lamunanku.
Kepalaku menoleh menuju sumber suara. Wanita aneh ini cantik dengan wajah ovalnya. Rambut lurus sebahunya digerai indah. Dia mengenakan sebuah gaun hitam selutut yang melekat sempurna di tubuhnya, seolah-olah gaun itu memang dijahit khusus untuknya. Seketika aku mendengus kesal saat menyadari bahwa lagi-lagi aku memperhatikan detail wanita ini. Astaga, apa otakku sudah konslet karena tiba-tiba saja dia membuatku melakukan hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya?
"Kamu kan bisa membaca pikiran, kenapa harus bertanya?" sindiriku.
Dia mendengus kesal. "Aku tidak bisa membacamu! Lagi pula tadi itu gerbang otomatis, jadi tidak ada satpam dan kemungkinan besar penjaga tempat ini berada di suatu tempat di sekitar sini," jelasnya.
Menganggumkan! Awalnya aku sempat tidak percaya, tapi dia baru saja membuatku hampir mempercayainya dengan kemampuannya itu. Dia bahkan mengetahui sedetail ini. Jujur saja, saat pertama kali datang ke rumah ini beberapa hari yang lalu, aku tidak menduga bahwa pos satpam yang di depan adalah pos satpam palsu. Hingga Dad mengajakku berkunjung ke ruangan khusus penjaga yang berada tidak jauh dari rumah utama.
Tanpa sadar aku menyunggingkan sebuah senyuman untuknya. "Kamu akan segera tahu, Miss." Aku mengedipkan mataku, lalu menuruni mobil.
Sekilas aku melirik bagasi. Sebuah mobil Lamborgini putih terparkir manis di sudut bagasi. Ingatan tentang saudari kembarku itu bisa mendapatkan mobil Lamborgini, berputar di kepala. Mobil itu adalah hasil imbalan agar Sant mau ikut untuk pindah ke Indonesia dan Dad setuju membelikannya. Padahal, tanpa mobil itu pun Sant tidak akan bisa menolak permintaan Dad. Hanya gara-gara ucapan iseng Sant, tiba-tiba saja mobil yang dia ingingkannya sudah terparkir manis di garasi kami beberapa hari yang lalu. Oke, lebih baik kita lupakan saja soal mobil itu, karena ada yang lebih penting.
Rysta menuruni mobil dengan perlahan. Dia mengikutiku memasuki rumah melalui pintu samping yang berada di garasi. Tiba-tiba aku mendengar sebuah langkah kaki yang tengah berlari menuju ke tempat kami. Kepalaku mendongak dan sedikit terkejut dengan yang aku dapati saat ini.
Sant, saudara kembarku itu berhenti di bawah tangga. Wajahnya penuh dengan air mata, riasannya luntur terutama maskarannya yang membuat sekitar matanya menghitam. Dia pasti baru saja menangis hebat. Sant terkejut menemukanku. Diliriknya Rysta sekilas, lalu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sant segera berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Poor her," bisik Rysta.
Kepalaku refleks menoleh. Ekspresi yang Rysta tunjukkan seolah-olah menyiratkan bahwa dia merasakan apa yang Sant rasakan. Aku melipat kedua tangan di depan d**a. Tubuhku berputar secara otomatis untuk menghadapnya. Wanita ini mendapatkan perhatianku penuh saat ini.
Rysta seolah mengetahui bahwa aku tertarik dengan ucapnnya barusan. Dia ikut-ikut berbalik dan membuat kami saling berhadapan. Rysta berdeham pelan, lalu berkacak pinggang di sampingku. Sepertinya, dia akan kembali berisik sebentar lagi. Dasar gadis bawel dan banyak maunya.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanyanya dengan nada ketus.
Kedua tangannya disilangkan di depan d**a, benar-benar menunjukkan bahwa dia tengah menantangku. Hei, di sini aku yang berkuasa nona. Buru-buru Aku menggeleng sebagai jawaban. Namun tampaknya dia sama sekali tidak mempercayai ucapanku. Dia melangkah pelan mendekatiku dan menelitiku dari atas hingga bawah. Membuatku hanya bisa mengernyitkan dahi.
“Apa masalahmu?” desisku tidak suka padanya.
“Aku masih heran, aku tidak bisa membacamu. Tapi, aku tahu bahwa kamu sangat khawatir dengan adikmu. Benar kan?” tanyanya pelan.
“Kalau kamu tahu, kenapa masih bertanya? Demi Tuhan, bagaimana kamu tahu dia adikku?”
Dia malah terkekeh pelan. Perlahan dia mundur dan membuat dirinya santai di depanku. “Sejujurnya, ini kekuatan baru yang aku kuasai. Jadi, aku bukan hanya bisa membaca pikiran orang yang ingin aku baca, melainkan aku juga bisa tahu tentang masa lalu mereka. Sayangnya, aku tidak bisa membaca masa depan mereka , sir.”
“Berarti, kamu juga tahu tentangku dari ingatan Sant?”
Kepala Rysta menggeleng pelan, terlihat tak bersemangat. “Aku tahu kalian bersaudara dari memori singkat di kepalanya saat kalian bayi sampai kalian mungkin berumur empat atau lima tahunan. Setelah itu, yang berhasil aku lihat hanya masa lalu Sant tanpamu, Sen.”
Tanpa sadar aku tersenyum saat gadis ini memanggil namaku tanpa embel-embel sir seperti yang sudah-sudah. Aku memiringkan kepala, lalu menatapnya penuh minat karena fakta yang baru saja dia lontarkan.
“Kamu bisa membaca pikiran seseorang via phone atau mungkin video call?” tanyaku padanya, karena seketika aku merasa bahwa aku punya ide cermelang.
Rysta terdiam cukup lama, hingga akhirnya mengangguk ragu. “Aku rasa… video call.”
Aku menyeringai kepadanya. Sepertinya aku memang harus benar-benar mencoba kemampuan wanita ini, benarkah dia memiliki kemampuan yang sejak tadi dia koar-koarkan. Dengan sigap Aku meraih genggaman tangannya dan menariknya menuju ke salah satu tempat kesukaanku yang berada di sudut rumah ini. Ruang kerjaku.
*****
Kami duduk bersisian di sebuah sofa bed cokelat. Ruangan ini berukuran enam kali lima, di setiap sisi ruangan ditutupi oleh rak-rak buku dengan berbagai macam buku kesukaan Dad dan Mom kecuali sebuah pintu di ujungnya yang tidak di tutupi oleh rak-rak buku.
Di tengah-tengah ruangan ada sebuah lingkaran yang sedikit menurun dengan sofa bed besar yang menutupi lingkaran tersebut. Sofa tersebut bisa menampung kira-kira empat hingga lima orang. Dan saat ini aku dan Rysta tengah berselonjor santai di sana. Rysta masih agak sedikit canggung dengan keberadaanku di sekitarnya. Tuhan, memangnya apa yang dia pikirkan? Aku akan menerkamnya di tempat ini begitu?
Seketika Aku mengernyitkan alis saat nyatanya bayangan aku menerkam Rysta di tempat ini benar-benar terlitas. Buru-buru Aku menggeleng pelan, lalu mulai fokus dengan laptop yang berada di pangkuanku saat ini. Hm, seperti yang kuduga Louis pasti sedang tidak aktif Skype pada jam sebelas siang waktu London.
Pria itu sibuk, dengan gelar Duke yang dia miliki tidak mudah baginya untuk terbebas dari pekerjaan. Apalagi Weal and Wealth Bank milik keluarganya yang saat ini tengah dia pimpin. Anehnya Sant-lah, wanita satu-satunya yang dengan setia menemaninya dengan kesibukannya. Mereka berdua saling mencintai bahkan karena terlalu mencintai, Sant bisa melepaskan Louis begitu saja. Dasar adik bodoh, dengusku tanpa sadar.
Aku meraih ponsel, lalu mulai mencari ID caller Louis yang berada di phonebook milikku. Dengan segera aku menghubunginya. “Louis,” sapaku pada seseorang di ujung sana.
“Hi, Sen,” nadanya terdengar datar, tidak seperti biasanya.
“I’m on skype now, We have to talk.”
Panggilan segera kuputus begitu saja. Sekitar semenit setelahnya, Skype Louis yang tadinya berwarna merah berubah menjadi hijau. Tanpa menunggu lebih lama, Aku mulai memanggilnya melalui video call.
Tidak berselang lama, layar hitam bergambar foto lama Louis dan Sant berubah menjadi layar penuh dengan wajah Louis. Pria itu menatapku dengan ekspresi datar, padahal biasanya dia akan tersenyum sembari memamerkan gigi putih sempurna miliknya.
"What happen?" tanyanya dengan nada bosan.
"You've changed a lot," jawabaku sembari memperhatikan setiap detail wajah Louis yang bisa kulihat melalui layar laptopku.
"I know, and you know the reason why."
Aku mengangguk paham. Sementara di sampingku, Rysta tengah asyik membaca salah satu novel romansa kesukaan Mom yang entah kapan dia ambil.
"Aku akan memperkenalkan temanku. She will help you."
Louis mengeryitkan alisnya bingung. "Menolong, bagaimana?"
"Kamu akan tahu sebentar lagi."
Tanganku yang bebas segera menarik paksa novel yang tengah Rysta baca. "Yaaa," rengeknya pelan.
Dia menoleh kepadaku dengan wajah cemberut yang membuatnya tampak semakin cantik dan menggemaskan. Astaga, ada apa dengan otakku? Sejak bertemu dengannya pikiranku menjadi aneh-aneh saja.
"Apa?" tanyanya kesal.
"Do your job, Miss." Aku menariknya mendekatiku. Hingga kami berdua duduk bersisian dan sangat dekat, bahkan saking dekatnya aku bisa mencium aroma parfum Rysta.
"She is Rysta, my friend," kenalku pada Louis. Aku menoleh kembali kepada Rysta yang saat ini tengah menatap Louis dalam diam. "And he is Louis, my friend from London and he was Sant’s boyfriend," jelasku.
Gadis itu hanya mengangguk. "Don't hate her, sir. She loves you like you did."
Ada sedikit keterkejutan di kedua mata Louis dengan perkataan Rysta padanya barusan. Louis mengarahkan pandangannya padaku, meminta penjelasan kenapa Rysta bisa mengetahui apa yang dia rasakan.
"Sir, saya bisa membaca pikiran anda sekaligus melihat memori anda. Segala hal yang pernah terjadi dengan anda, saya sudah mengetahui semuanya." Rysta tersenyum manis kepada Louis.
Louis mendengus kesal sembari tersenyum mengejek. "Kalau dia memang mencintaiku, kenapa dia memutuskanku begitu saja?"
"Karena dia terlalu mencintaimu hingga dia berani mengambil keputusan ini. You both never being apart even one day since you're fifteen. because of it, she thinks long distance relationship never work for you."
Louis mengedip-kedipkan kedua matanya. Tatapannya memancarkan kekaguman yang mendalam kepada Rysta. "Sen, you don’t tell my story to Rysta, right?"
Aku menggeleng mantap. "Aku bahkan tidak mengatakan apa pun tentang dirimu, Lou."
Rysta terkekeh pelan. “Saya mengetahui dari diri anda sendiri, sir. Lagi pula, menurut saya, anda juga harus memaklumi kekasih anda yang emosinya tidak labil saat ini.”
Lagi-lagi aku menoleh pada Rysta sembari mengernyitkan kedua alisku penuh tanya. “Memangnya kenapa dengan adikku?”
“Ingat-ingat, apakah beberapa hari terakhir ini Sant sedikit aneh dari biasanya?” Rysta menatapku dalam. “Saya melihat Rysta menangis. Di kamarnya saya rasa. Lalu, kalau tidak salah dia jadi lebih manja daripada biasanya dan mudah menangis, kan?” Dia bertanya seolah memastikan sesuatu yang sudah dia ketahui.
Aku melirik Louis mengangguk pelan, seolah dia mengingat-ingat apakah perkataan Rysta benar atau tidak. Tapi aku juga merasakan hal yang sama. Beberapa hari ini Sant jadi lebih sensitif dan juga lebih manja. "Kenapa memangnya dengan adikku?" aku mengulangi pertanyaanku.
Wajah Rysta berubah kesal, lalu dia kembali menoleh kepada Louis. Gadis itu tersenyum manis dan nampak sangat tulus kepada Louis. "Selamat sir. Saya rasa anda bisa menjadi seorang ayah yang baik."
"What?" teriak kami bersamaan.
Louis berteriak dengan nada takjub dan tidak percaya. Dan tentu saja berbeda dengan teriakan yang aku lontarkan. Aku benar-benar terkejut mendengar fakta yang Rysta ungkapkan kepada kami. Jadi, adik kembarku itu hamil bersama pria bangsawan ini dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang uncle. Tuhan, waktu benar-benar cepat sekali, bahkan aku saja belum memiliki kekasih ataupun mulai melakukan tujuan utamaku berada di sini.
"Dia tidak tahu tentang ini, sir. And I think she wants one thing from you, sir." Rysta mendekatkan wajahnya kepada Louis, seolah dia ingin berbisik kepadanya.
"What's that?" Louis mengernyitkan alisnya bingung, tapi jelas di kedua matanya terpancar kebahagiaan.
"She wants you," bisik gadis itu pelan.
Seketika wajah berubah bingung. "Bagaimana bisa aku meninggalkan seluruh pekerjaanku di sini?"
"Kamu bisa, sir. Kalau kamu ingin dia kembali padamu, buat Sant jadi milikmu. Kamu tahu, aku bisa mendengar suara lonceng gereja yang berbunyi di dalam kepalamu. Pantai pasir putih yang indah. Laut biru yang membentang di hadapan kalian yang tengah berpelukan selepas pemberkatan. Indah dan benar-benar harus jadi kenyataan."
Senyum Louis merekah di wajahnya. Dia mengangguk yakin, sedangkan aku masih begitu terpana menatap Rysta dalam diam. Gadis itu mengucapkan semuanya dengan pandangan menerawang dan seolah terpesona. Dia semakin cantik seperti itu. Aku menggeleng pelan sekali lagi saat menyadari pikiranku itu. Demi Tuhan aku baru menemuinya tadi siang di tangga darurat dan sedang menangis, tapi kenapa sejak saat itu aku tidak bisa mengatakan selain bahwa dia cantik.
Aku mengalihkan pandanganku kembali kepada Louis. Aku berdeham pelan dan berperan kembali menjadi seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya. "Kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu, Lou."
"Tentu saja. Tapi, meninggalkan semua ini? Aku butuh waktu, Sen. Three days and I'll take mine to be mine forever."
Aku mengangguk mengerti. "I'm happy for you guys."
Tak ada balasan dari Louis. Pria itu terlalu bahagia, sementara Aku kembali menatap Rysta. Gadis itu terus menatap Louis dengan senyuman di wajahnya. Seolah-olah dia menatap sendiri apa yang Louis bayangkan saat ini. Aku jadi mulai sedikit percaya dengan gadis ini. Mugkin dia bisa membantuku dengan kekuatannya.
*****
Selama perjalan menuju ke ruangan lain di rumah ini. Aku sempat berfikir tentang segala hal yang Rysta ucapkan. Dia seolah benar-benar tahu apa yang Sant dan juga Louis inginkan. Aku masih ingat tadi bagaimana Rysta membangun kembali kepercayaan diri Louis. Meyakinkan kembali Louis tentang perasaannya dan tentu saja mengatur sebuah rencana rahasia yang hanya kami bertiga yang mengetahuinya.
Wanita itu terus menuturkan apa pun yang ada dipikirannya, begitu lancar bahkan terlalu fasih berbahasa inggris untuk seorang gadis yang bekerja di perusahaan besar hanya karena kemampuannya membaca pikiran seseorang ataupun seorang gadis yang pernah tinggal di sebuah kos-kosan kecil sedikit kumuh di dekat kantor kekasihnya.
Awalnya, aku tidak menyangka bahwa Rysta bisa dengan mudahnya mengobrol dengan Louis. Seolah-olah gadis itu memang sudah biasa berbicara dengan bahasa Inggris, sama sepertiku dan Sant. Walaupun kami berdua lama tinggal di London, tapi kami fasih berbahasa Indonesia, karena Dad dan Mom lebih sering menggunakan bahasa Indonesia saat di rumah.
Wanita itu mengikutiku. Tangan kirinya menggenggam kuat-kuat koper merah besar miliknya. Aku juga masih ingat, bahwa aku sedikit terkejut menemukan merk koper yang dia bawa. Merk terkenal dan mahal yang hanya dijual di luar negeri, bahkan di Indonesia tidak banyak yang mengetahui tentang merk ini. Tapi, aku berpikiran bahwa kekasihnya-lah yang memberikan untuknya. Dia benar-benar gadis yang mengejutkan.
Aku membuka perlahan pintu di hadapanku. Sebuah kamar tidur luas berukuran empat kali lima bernuansa putih gading membentang di depan kami. Tidak sebesar kamarku ataupun kamar Sant apalagi kamar kedua orang tuaku, tapi setidaknya kamar ini cukup layak untuk di tempati wanita ini.
“Jadi, sir, aku akan tinggal di sini bersamamu dan saudaramu?” tanyanya ketika aku terus berjalan memasuki kamar tersebut.
“Don’t call me sir. Aku lebih suka kamu memanggilku dengan namaku.” Aku menduduki salah satu ujung tempat tidur yang sekarang kuanggap sebagai miliknya. Wanita itu berdiri di hadapanku. Cukup jauh untuk kugapai tapi cukup dekat untuk sekadar mengobrol dengan nyaman. Dia seolah membuat jarak aman untuk dirinya sendiri. “Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu. Kamu sama sekali bukan tipeku. Kalau kamu bertanya kenapa aku memintamu untuk tinggal di sini dan juga mempertahankanmu yang baru saja kukenal jawabannya adalah, karena aku rasa kamu bisa membantuku, Nona.”
Tatapannya yang tadi menunjukkan sifat bertahannya, perlahan berubah menjadi tatapan terkejut. “Bagaimana kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan?” bisiknya pelan.
Aku terkekeh pelan. “Mungkin aku juga bisa membaca pikiran seseorang.”
Buru-buru Aku beranjak dari tempat tidur dan melewatinya begitu saja. Wanita itu hanya diam tanpa mengatakan sepata kata pun, bahkan setelah aku menutup pintu kamarnya.
Membaca pikiran? Bahkan, aku tidak pernah percaya ada orang yang bisa melakukan hal itu. Tapi, wanita itu, membuat semua yang aku pikirkan berubah dalam waktu hanya beberapa jam saja. Dan wanita itu benar-benar lucu ketika menyangka bahwa aku bisa membaca pikiran, padahal dari emosi di kedua matanya sudah terlihat jelas apa saja yang dia pikirkan.
*****
Perlahan aku membuka sebuah ruangan yang terletak tepat di sebelah kamarku. Ruangan yang sejak kecil telah menjadi ruang tidur seorang Princess keluarga Kendric. Kini Princess itu sudah dewasa dan akan segera menjadi ratu di kerajaannya sendiri.
Ruangan ini gelap ketika aku memasukinya. Yang aku ketahui Sant tidak akan mematikan lampu kamar sebelum beranjak tidur. Dan sekarang baru pukul delapan malam, tentu saja itu bukan waktu tidur Sant, mengingat predikat Princess kalong yang disematkan untuknya.
Aku meraba pelan dinding untu mencari perlahan saklar. Ketika lampu berhasil menyala dan menyinari seluruh ruangan. Aku menemukan Sant tengah meringkuk seperti bayi di tengah tempat tidur berukuran king size nya. Aku tidak tahu apakah dia tertidur atau mungkin menangis, wajahnya tidak terlihat jelas dari sini.
Perlahan, aku mendekati tempat tidur. Hatiku tersayat saat melihat salah satu wanita paling kucintai menangis seperti itu. Jujur, aku tidak menyukai fakta bahwa Sant harus menangis seperti ini. Aku menaiki tempat tidurnya. Membuat tatapan kosongnya perlahan mencari sebuah sosok yang mengusik keheningan yang dia ciptakan.
Sant menatapku sayu. Kedua matanya sudah tak bercahaya seperti saat kami baru menampakkan kaki di Indonesia. Aku tahu, saat itu dia baru saja bertengkar dengan Louis, tapi tatapannya masih bercahaya. Mungkin saat itu, yang Sant tahu, pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah wajar. Tapi, entah kenapa pertengkaran itu berujung pada berpisahan yang adikku sendiri putuskan.
Dan setelahnya cahaya di kedua matanya perlahan meredup. Dia selalu murung. Aku menidurkan diriku di sampingnya. Mataku menatap wanita yang memiliki garis wajah yang sama denganku. Menatap matanya biru dan cokelat miliknya, seperti halnya kedua mataku yang membuat semua orang mengatakan bahwa kedua mata kami tertukar. Kedua mata itu terus menatapku tapi tangisan itu tidak pernah berhenti mengalir menuruni kedua matanya.
“Kenapa kamu melepaskannya, Sant?” bisikku padanya.
“Karena aku mencintainya, Sen,” balasnya lemah.
“Dia juga mencintaimu dan dia ingin kamu kembali bersamanya.”
Sant menggeleng lemah.
“Jarak bagi kami adalah suatu perpisahan, Sen. Jika jarak sudah tercipta, aku tahu, kami tidak akan pernah bisa selamanya.”
“Itu kan hanya pikiranmu, Sant. Bagaimana jika jarak bisa menguatkan cinta kalian?” Aku menjadi kesal dengan sifatnya yang seperti ini, sangat amat pesimis.
“Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan dia nantinya. Lebih baik sekarang, setelah itu aku bisa belajar melupakannya dan menemukan penggantinya.”
Aku mendengus kesal padanya, lalu memukul kepalanya dengan tanganku. “Dasar bodoh! Cinta itu butuh keberanian untuk mendapatkannya. Kalau kamu tidak mau mengambil risiko seperti patah hati, jangan jatuh cinta!”
Sant balas mendengus pelan padaku. Perlahan, aku merapatkan diriku padanya. Lalu, meraih Sant ke dalam pelukanku. Mencium keningnya sayang dan mengelus punggungnya.
“Aku menyangimu, sis. Stupid! Don't let him go, if he’s worth enough to fight for.”
*****