CHRYSTAL
“Kamu gila ya?!?” teriak Regan padaku.
Kami berdua sedang berada di ruangannya. Tubuhnya yang tinggi, menjulang menghadapku dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja jati. Sedangkan aku hanya bisa berdiri dengan kepala merunduk, Regan marah besar. Dia hampir tidak pernah melakukannya, sekalinya dia melakukan hal ini, Regan terlihat menyeramkan.
“Maaf, Re ….” Aku berbisik pelan padanya.
“Kamu baru saja membuatku kehilangan klien. Chriseon Kendrick itu pemilik hotel terkemuka di Dunia dan semua karena kamu tidak bisa membaca pikirannya? Wanita tidak berguna!”
Tidak berguna. Kata-kata itu terus membeo di kepalaku. Apakah aku sudah tidak berharga lagi di matanya? Lalu, kenapa selama ini dia masih tetap begitu baik padaku? Atau sebenarnya, selama ini aku hanya menjadi alat yang dia butuhkan untuk meraih kesuksesannya. Aku benar-benar bodoh.
“Wanita sialan! Wanita tidak berguna! Dia membuatku kehilangan klien penting dan juga menghancurkan reputasiku. Seharusnya memang aku buang saja dia sejak dulu!”
Kata demi kata yang terdengar di telingku membuat kedua mataku mulai memanas. Aku memejamkan mataku yang mulai memanas. Bisikan kepala Regan membuat hatiku hancur. Benar kata Regan, aku memang sudah tidak berguna lagi untuknya. Lalu, kenapa aku masih mencintai pria jahat ini?
Keberanianku timbul. Kepala kuketegakkan dan kutatap lurus-lurus mata hitam dan gelap milik Regan. Akan kutunjukkan padanya, bahwa aku bukan sekadar wanita yang bisa dia perbudak seenaknya. Sayangnya, menatap Regan, membuat nyaliku surut seketika. Matanya tersirat jelas kemarahan karena kegagalanku.
“Re, lalu kenapa kamu tidak melepaskanku jika memang aku sudah tidak berguna?” lagi-lagi aku hanya bisa berbisik.
Aku mungkin tidak bisa memarahinya, karena aku tidak bisa. Tapi, setidaknya aku masih bisa bertanya baik-baik padanya, walaupun aku tahu pada akhirnya semua sama saja, percuma. Dia bukan Regan yang kukenal.
Senyum mengejeknya tersunging di wajahnya. “Kenapa bukan kamu yang pergi? Kamu tidak bisa melepaskanku, hingga memintaku untuk melepaskanmu, Ry?”
“Re, if I’m not worth it enough, just let me go.”
Regan menggelengkan kepalanya. Salah satu tangannya meraih sebelah wajahku. Sentuhannya tak lagi terasa hangat. Dia terlihat menakutkan. “You’re worth it enough for my business, Ry, and I don’t want to let you go.”
“Let me go.”
“Nggak, Ry. Masih ada bisnis lain yang menunggu. Walaupun sebenarnya aku sudah lelah mempertahankanmu dan semua kebodohan yang kamu lakukan.”
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang cukup keras tepat di belakangku. Kata demi kata yang terlontar membuat tubuhku kaku. Aku tidak berani menoleh, apabila itu adalah Jessica atau mungkin orang lain yang sama tidak sukanya denganku, maka Regan berhasil sangat amat menyakitiku. Yang aku lakukan hanyalah merundukan kepala dan menatap kedua kakiku.
“Mr. Kendrick,” suara Regan terdengar terkejut. Tapi meski begitu aku masih belum berani melihatnya.
“Begitukah cara anda memperlakukan seorang wanita terutama kekasih anda sendiri? Tadinya saya kembali untuk mengambil ponsel yang tertinggal, tapi malah disajikan sebuah drama. Kasian wanita ini.”
Sebuah tangan besar berkulit putih khas orang barat menyelimuti tangan kecil milikku. Aku menengadah dan menatap pria yang menjadi sumber masalahku siang ini. Pria itu jelas menatap Regan. Dia menunjukkan ketidaksukaannya.
“Pria jantan tidak akan pernah menyakiti wanita dengan tangannya dan juga perkataannya. Kalau memang anda sudah tidak bisa lagi membuatnya tersenyum, setidaknya jangan membuat dia menangis karena kata-kata anda!”
Mr. Kendrick menarik tanganku kuat-kuat, meninggalkan ruangan Regan. Langkahnya yang besar-besar itu membuatku kualahan.
“Sir … Sir ….” Panggilku berulang-ulang kepadanya, namun tidak dia gubris. Dia terus menarikku tanpa peduli Regan meneriakan namaku berulang kali untuk menyuruhku berhenti.
“Kalau dia tidak bisa melepaskan anda. Saya yang akan paksa kamu pergi dari kehidupan dia.”
*****
Mr. Kendrick terus menarikku hingga kami mencapai parkiran mobil. Aku sudah memberontak berulang kali, tapi dia seolah menulikan pendengarannya. Dia gila! Bahkan dia memilih untuk menuruni tangga dari lantai sebelas menuju ke lantai satu menuju parkiran.
Hingga saat kami mencapai lobby yang berisi banyak orang, aku sudah tidak sanggup lagi berteriak. Tenagaku sudah habis akibat menuruni sebelas lantai, berteriak-teriak tanpa henti, dan merontah-rontah.
“Masuk!” perintahnya padaku setelah kami berhasil meraih sebuah audi hitam yang kutebak miliknya.
Dia membukakan pintu penumpang untukku dan mendorongku masuk. Aku yang masih cukup kelelahan, mau tidak mau menurut. Dari wajahnya, aku rasa dia tidak akan berani memperkosaku. Sudahlah, lebih baik aku pasrah saja saat ini, pria ini sedikit gila dan cukup menyeramkan juga kalau dibantah.
Mr. Kendrick segera memasuki mobilnya. Pintu dikunci rapat dan dia langsung menjalankan mobil meninggalkan area RX. “Di mana tempat tinggalmu?” tanyanya setelah kami bergabung di jalan raya yang cukup padat siang ini.
Aku menoleh kepadanya dan bersiap-siap menyemburnya kembali. “Kamu gila ya? Kamu baru saja menculikku secara terang-terangan di depan kekasih sekaligus bosku dan yang paling parah, kamu membuatku menuruni tangga dari lantai sebelas menuju lantai satu!” teriakku sekuat tenaga.
“Aku sedang menolongmu, Nona. Menuruni tangga di tempat seperti itu akan membuatmu berhenti berteriak. Lagipula itu salahmu, untuk apa kamu berteriak-teriak di tangga darurat yang jelas-jelas hanya ada kita berdua?” Pria itu menjawab dengan santai sembari menatap kemacetan kota Jakarta.
“Kamu juga, apa alasanmu menolongku? Aku bisa gila karena aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di kepalamu!”
Kepalanya menoleh dan memberiku sebuah senyuman. Alisku mengernyit kebingungan dengan ekspresi itu. Apa maksudnya? “Tingkahmu itu mengingatkanku pada adikku. Aku juga kasian kepadamu. Jadi, itu alasan yang cukup untuk menolongmu. Katakan di mana rumahmu dan kita selesai.”
Aku terdiam sejenak sembari menatap wajahnya. Keheningan aneh ini membuatku frustasi, jadi pada akhirnya aku berusaha percaya bahwa dia memang benar-benar tulus melakukannya. Setidaknya, aku merasa aman bersama pria ini. Aku menghela napas dalam, seharusnya aku bersyukur Tuhan membuat pria ini menarikku, dia juga berhasil menjauhkanku dari Regan.
“Ikuti aku saja,” ucapku dengan suara serak.
“Baiklah.”
Aku berdeham pelan lalu mulai mengarahkan jalan kepadanya menuju tempat tinggalku. Di dalam hati, pasti nantinya pria ini akan bereaksi sama dengan Regan. Mereka akan melihat jijik tempat tinggalku dan setelah itu selesai.
“Pertigaan depan belok kiri.” Tanpa banyak berkomentar, dia segera membelokkan mobil ke arah yang kuminta.
“Berhenti di sini,” ucapku saat mobil sudah mencapai sebuah rumah tingkat yang sedikit kumuh di dekatku.
Di tempat inilah aku tinggal selama ini, tidak terlalu jauh dari jalan raya dan juga kantor. Mataku melirik Mr Kendrick yang ternyata tengah memperhatikan sekitarnya. Mengingat aku tidak bisa membaca pikirannya, aku hanya bisa mengartikan ekspresinya. Hanya saja ekspresi datar yang dia tunjukkan sama sekali menggodaku untuk bertanya. Dia juga tidak berkomentar mengenai apa pun. Dia tidak terlihat terganggu mengikutiku memasuki kos-kosanku. Karena ini kos-kosan campuran, pria bisa masuk ke kamar secara bebas.
“Silahkan masuk, sir,” ucapku sembari mempersilakannya masuk.
Untung saja, sebelum berangkat kerja aku sudah membersihkan tempat ini. Padahal, aku biasanya baru membersihkan kamar sebelum beranjak tidur. Ruangan tempat tinggalku ini hanya sebuah ruangan kecil berukuran empat kali tiga dengan sebuah single bed di dekat jendela. Kamar mandi dengan closet duduk di dalam kamar. Meja rias di dekat kaki kasur. Lemari besar dua pintu serta rak buku kecil yang berada di antara lemari dan meja rias. Untungnya sudah ada pendingin ruangan yang disediakan di sini.
“Just call me Sen,” ucapnya. Dia berjalan pelan dan menduduki tepi tempat tidur. Sama sekali tidak berasa terganggu.
“Mau minum apa?” tawarku. Rasanya masih canggung sekali memanggil nama Mr. Kendrick menggunakan nama panggilannya.
“Tidak perlu repot-repot. Aku hanya ingin membuat penawaran untukmu saat ini.”
Alisku mengernyit bingung. Dia segera menepuk tempat di sampingnya, menyuruhku untuk duduk bersamanya. Seperti perintah yang tak dapat dilanggar, aku pun berjalan pelan menurutinya.
“Aku tadi mendengar, bahwa kamu bisa membaca pikiran. Apakah itu benar?” tanyanya langsung tepat saat aku baru mendudukan pantatku pada kasur.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
“Kenapa kamu tidak bisa membaca pikiranku?”
“Aku juga masih belum mengetahuinya.”
“Jadi, kamu bisa membaca pikiran orang lain di sekitarmu kecuali aku, begitu?”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
“Berarti kamu bisa membaca pikiran anak kecil yang tadi kita temui di bawah?”
“Iya,” jawabku pelan.
“Apa yang dia pikirkan tadi?”
“Dia kesepian…, orang tuanya tidak ada waktu untuknya.”
Kini giliran Sen mengangguk mengerti. Senyum puas tersunging di wajahnya.
“Berarti kamu juga tahu bahwa kekasihmu itu ada sesuatu dengan sekertarisnya tadi?”
Kedua mataku seketika melebar mendengar ucapannya. Bagaimana Sen bisa mengetahui masalah Regan dengan Jessica. Siapa sebenarnya pria ini, Tuhan?
“Bagaimana kamu tahu?”
Sen tersenyum miring. “Karena aku pria. Cara kekasihmu menatap sekertarisnya, jelas menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan. Kamu benar-benar bodoh ya? Jelas sekali dia berselingkuh, tapi kamu masih mempertahankannya?”
Aku hanya bisa tersenyum hambar padanya. Aku tahu bahwa aku bodoh, jadi kurasa dia tidak perlu mengingatkannya berulang kali kepadaku, menyebalkan sekali. “Aku tahu aku bodoh dan kamu tidak perlu mengingatkannya berulang kali tentang kebodohanku. Kalau memang di sini niatmu hanya untuk menghinaku, lebih baik kamu pergi saja.”
“Kamu pikir aku menolongmu hanya sekadar karena kamu mengingatkanku dengan adikku? Aku menolongmu karena aku rasa … aku membutuhkanmu dan juga kemampuanmu.” Dia berhenti sejenak untuk menatap lekat-lekat ekspresi bodoh yang aku tunjukkan. “Kamu dan kemampuanmu itu bisa membantuku untuk melawan musuh-musuh perusahaanku.”
“Lalu, apa untungnya denganku, sir?”
Oh, aku membenci ini sekarang. Lagi-lagi aku digunakan sebagai alat.
“Panggil aku Sen.” Dia menggerutu pelan. “Aku akan melindungimu dari kekasihmu. Gajimu akan kunaikan tiga kali lipat daripada yang Regan berikan padamu. Lagi pula, kamu akan aman bersamaku, karena kamu tidak dapat membaca pikiranku.”
“Bagaimana caranya kamu akan melindungiku dari Regan?” tanyaku dengan sedikit ragu. Tapi aku tidak berbohong, aku merasa tertarik dengan perlindungan yang dia sodorkan.
“Pertama-tama, kamu harus meninggalkan tempat ini dan pindah ke tempat yang bisa kujangkau, mind reader.”
******