Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya alat kecil itu menunjukkan hasil kerjanya. Tertera dua garis merah di sana dan hal itu langsung membuat Leon tersenyum gembira. “Astaga, akhirnya, kau hamil, Camila!” seru Leon seolah seperti baru saja memenangkan lotre.
Walau Leon tampak senang bukan main tapi tidak bagi Camila. “A-aku hamil?” gumamnya sekaan tak percaya.
“Ya, kita akan segera punya anak!” seru Leon lagi.
Entah kenapa tiba-tiba d**a Camila sesak dan kepalanya terasa berat. Semuanya gelap dan ia tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Hingga akhirnya Camila membuka matanya lagi dan ia sudah berada si sebuah ruangan periksa. Ia menoleh ke samping dan melihat Leon tampak sedang bicara dengan seorang dokter. Di saat yang sama Leon juga menoleh ke arah Camila dan langsung berdiri.
“Ah, akhirnya kau sadar, aku cemas sekali padamu,” kata Leon seraya menghampiri Camila.
“Apa yang terjadi?” tanya Camila lemah.
“Selamat, kalian akan segera memiliki momongan, usia kandungannya sudah 5 minggu dan semuanya sehat,” jawab si dokter dengan senyuman.
Camila kembali terbelalak. Sempat ia berpikir bahwa ini hanya mimpi. Tetapi...
Matilah Camila sekarang. Apa yang akan ia katakan pada Rustam, suaminya, ketika tahu ia mengandung benih orang lain.
***
Mereka pun kembali ke apartemen milik Leon. Pria itu langsung memeluk dan menciumi Camila dengan mesra. “Aku bahagia sekali, Camila, akhirnya kita akan memiliki anak,” ujarnya.
“Kau bahagia, tapi tidak denganku, Leon,” jawab Camila membuat Leon terkejut.
Pria itu mengerutkan dahi menatap kekasihnya, “kenapa kau tidak bahagia, Camila, kita akan punya anak dan kita bisa menikah, kau akan jadi milikku seutuhnya.”
“Ini tidak semudah itu, Leon, apa kau lupa aku adalah istri Rustam?” bantah Camila.
“Mudah saja, kau tinggalkan dia dan kita bisa menikah, lagi pula kau tidak mencintainya kan?” jawab Leon.
“Lalu bagaimana dengan keluarga kami? Selama ini mereka mengenalku sebagai istri yang baik, yang selalu sabar menunggu kepulangan suaminya, pikirkan orang tuaku juga, Leon, sejak dulu mereka bahkan tidak suka aku berhubungan denganmu,” lanjutnya.
Leon menghela napas tampak menggertakkan gigi di balik dinding mulutnya, “lantas, kau mau bagaimana?” tanyanya.
Camila duduk di sofa seraya memegangi kepala yang tiba-tiba terasa pusing. Harus bagaimana? Ia tidak tahu. “Kita harus pikirkan sebuah cara sebelum Rustam kembali,” katanya.
Leon menyusul duduk di sofa dan menatap perempuan dengan rambut panjang dan bergelombang itu, “Camila, kita menikah saja, tinggalkan Rustam,” bujuknya, “dulu orang tuamu tak suka padaku karena dulu aku tak punya uang, mereka menilaiku sebagai angka nol, tapi sekarang berbeda, aku punya restoran besar, aku tak kalah kaya dengan Rustam, orang tuamu pasti tidak akan menolakku lagi karena sekarang ada darahku di dalam tubuhmu.”
Camila memejamkan mata semakin merasa pusing dengan bujukan berbumbu sedap dari Leon. “Entahlah, Leon, aku tidak bisa berpikir jernih sekarang,” ujarnya frustrasi.
Leon menghela napas, “lebih baik kau istirahat saja, kau sangat membutuhkan itu saat ini,” sarannya.
Camila pun menganggukkan kepala, menurut pada Leon. Pria itu lalu menggendong Camila menuju ke kamarnya. Ia menidurkan perempuan itu dan menyelimutinya. “Apa kau butuh sesuatu?” tanyanya.
Camila menggeleng, “tidak, aku mau tidur saja,” jawabnya.
Leon lalu mendaratkan kecupan di kening Camila dan meninggalkan wanita itu di dalam kamarnya. Camila membuka matanya setelah Leon menutup pintu. Ia tidak bisa tidur.
Camila masih tak percaya bahwa ia benar-benar hamil. Ia sangat berharap ini hanyalah mimpi buruk. Tetapi, nyatanya ini bukan saja mimpi buruk melainkan kutukan untuknya.
Camila teringat akan kenangan masa lalu. Dahulu ia dan Leon adalah sepasang kekasih. Mereka saling mencintai dan mereka bercita-cita suatu saat mereka akan benar-benar bersatu dalam ikatan pernikahan.
Tetapi kepercayaan itu hanya tinggal cita-cita setelah orang tua Camila menolak mentah-mentah kedatangan Leon. Kala itu Camila bermaksud mengenalkan Leon pada orang tuanya.
Bukan sambutan yang Leon dapat melainkan sikap angkuh dan dingin kedua orang tua Camila kepadanya. Hingga akhirnya kisah cinta Camila dan Leon harus hanya menjadi dongeng sebelum tidur.
“Kau tidak pantas bersanding dengannya, Camila,” begitu kata Julius, ayah Camila.
“Kenapa, ayah, dia pria yang baik?” protes Camila.
“Apa yang bisa dia berikan untukmu, dia bahkan datang hanya bermodalkan alas kakinya saja?” olok Julius selepas Leon pergi dari rumahnya.
Pada akhirnya Camila dinikahkan dengan Rustam, seorang nahkoda kapal yang tentu saja jumlah gajinya tidak sebanding dengan Leon yang datang hanya dengan lambaian tangan. Kisah cinta Camila dan Leon pun terpaksa harus berakhir saat itu. Camila dengan berat hati harus belajar mencintai Rustam dan melupakan Leon, kekasihnya.
Setelah menuruti kehendak orang tua, Camila kira ia akan bahagia. Nyatanya tidak juga. Rustam memang pria yang baik, bahkan mungkin terlampau baik dan sangat mencintai Camila.
Tetapi, itu saja tidak cukup karena setalah lebih dari satu tahun menanti datangnya momongan, Camila harus menerima kenyataan bahwa suaminya mandul dan tak akan pernah bisa memberinya seorang bayi.
Hingga datanglah Leon kembali ke kehidupan Camila setelah lebih dari tiga tahun menikah dengan Rustam. Camila pun kembali jatuh ke dalam pelukan Leon dan menjalin hubungan gelap dengannya.
***
Camila keluar dari kamar dan melihat Leon tengah menyajikan makanan di meja makan. Pria itu tersenyum ke arahnya, “kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya.
“Sudah, apa itu?” tanya Camila.
“Hanya olahan buah-buahan, kudengar ini bagus untuk wanita hamil jadi aku membuatkannya untukmu,” jawab Leon.
Camila lalu duduk di meja makan dan mencicipi makanan buatan Leon itu. Pria itu memang pandai memasak makanya dia bisa mendirikan restorannya sendiri dan berkembang pesat karena menu masakan yang ditawarkan memiliki rasa yang tak hanya nikmat tapi juga membuat ketagihan.
“Bagaimana?” tanya Leon.
“Ini enak, aku tidak mual karena ini, terima kasih,” jawab Camila.
“Mulai sekarang kau harus benar-benar memilih apa pun yang akan masuk ke dalam perutmu, Camila, kau harus pastikan anak kita sehat di dalam tubuhmu,” ujar Leon.
Camila hanya bisa tersenyum tipis sebagai jawaban karena ia bahkan tak tahu apakah ia harus bersyukur untuk anak dalam kandungannya atau malah menyesalinya.
***
Camila pun kembali ke rumahnya dengan di antar oleh Leon. Ia melambaikan tangan dengan senyuman kemudian masuk ke dalam rumahnya yang besar, pemberian dari Rustam saat mereka menikah.
Camila baru saja masuk ke dalam rumah tetapi tiba-tiba pintu rumahnya kembali di ketuk dan Camila pun membukanya. Ia begitu terkejut saat melihat siapa yang datang.
“Rustam?”
“Halo, istriku yang cantik,” kata Rustam, “kau mau pergi?” tanyanya melihat Camila yang tidak memakai baju rumah.
“Ah, tidak,” jawab Camila yang baru menyadari bahwa ia masih memakai celana jeans dan sepatu hak tinggi juga membawa tasnya, “em, aku baru saja pulang, tadi aku bertemu dengan Megan,” dalihnya, “kenapa kau sudah pulang?” tanyanya.
“Ini memang saatnya aku pulang, kau lupa, ya?” jawab Rustam.
“Ah, iya, mungkin aku lupa,” kata Camila.
“Tampaknya aku terlalu sering membiarkanmu sendiri, maafkan aku, ya,” ucap Rustam. “Megan, teman kuliahmu itu?” Tanya Rustam, “kalian memang dekat sekali, ya, aku ingat dia memberimu satu set alat makan dari kristal sebagai hadiah pernikahanmu.
“Ya, dia memang orang yang tidak pelit,” jawab Camila.
Rustam pun duduk di sofa dan Camila menyajikan secangkir kopi untuk suaminya. Rustam menyesap kopi itu, menikmati aromanya sampai memejamkan mata. “Ah, kopi buatanmu memang paling enak,” pujinya.
Camila tersenyum dan berusaha bersikap biasa saja padahal sebenarnya ia telah melukai martabat Rustam. “Kau mau makan?
Rustam menggelang, “tidak, aku ingin mengatakan ini padamu,” ujarnya.
“Apa itu?” tanya Camila.
“Bagaimana kalau kita mengadopsi anak?”