“Mengadopsi anak?” Camila mengerutkan dahi sekaligus ia merasa terkejut dengan ide suaminya.
“Ya, Camila, aku tahu kau selalu merasa kesepian saat aku pergi, setiap hari kau harus sendirian di rumah dan hanya ditemani pelayan, jika ada seorang anak hari-harimu pasti akan jadi lebih berwarna,” tutur Rustam.
Tiba-tiba saja setetes keringat mengalir di punggung Camila. Di saat ia tengah mengandung benih orang lain suaminya malah menyarankan untuk adopsi anak. Ia bahkan masih kebingungan dengan kehamilannya yang tak pernah ia sangka-sangka. Suatu saat perutnya juga pasti akan membesar dan tentu menjadi pertanyaan.
Camila lalu tersenyum tipis, “aku akan pikirkan itu,” jawabnya.
***
Karena Rustam pulang Camila pun tidak akan berhubungan dengan Leon bahkan untuk sekedar menelepon. Dia akan kembali ke panggung sandiwara, memerankan sosok istri yang baik, yang setia pada suaminya dan menjadi kebanggaan dalam keluarga.
Malam ini Camila sudah mempersiapkan diri. Ia sengaja berendam cukup lama dalam bak mandi menggunakan bunga dan s**u agar kulitnya lembut dan juga wangi. Tak lupa ia juga mencuci wajah dan rambutnya agar ia tampak makin cantik.
Camila keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk dan rambutnya yang basah dibiarkan terurai begitu saja. Saat itu Rustam tampak sedang merebahkan diri di ranjang, menunggunya.
Rustam memandangi istrinya yang amat rupawan itu. Bukan saja cantik tetapi tubuhnya juga indah. Molek bagai sebuah biola yang siap ia mainkan. Ia akan sangat bangga memainkan biola yang indah itu.
“Sayang, kau sudah selesai?” tanya Rustam.
Camila hanya menganggukkan kepala di ambang pintu kamar mandi kemudian menggigit bibirnya. Rustam pun beranjak dari tempat tidur menghampiri istrinya. Ia mengulurkan tangan menarik tangan Camila. Pemandangan bibir yang digigit itu luar biasa menghipnotis.
Inilah ritual yang akan selalu ia lakukan kala ia kembali ke rumah. Menariknya dalam peraduan dan memainkan musik-musik romansa bersama Camila.
Rustam menatap wajah Camila yang sangat cantik walau tanpa riasan. Ia menangkupnya kemudian mengikis jarak antara dirinya dan Camila.
Bibir Camila manis. Dia adalah bunga penghasil nektar paling memabukkan yang pernah ada. Dan Rustam adalah lebahnya, yang menghisap nektar itu hingga habis tak bersisa. Ia mendekap bunga yang cantik itu, tak ingin pergi darinya.
“Ah, Camila, aku rindu padamu,” ucap Rustam dengan matanya yang berkabut.
Camila hanya pasrah atas apa saja yang dilakukan Rustam padanya. Ia merasakan getar-getar menyengat dari tiap sentuhan jari-jemari Rustam di tubuhnya. Ia lunglai dan jatuh dalam buaian yang ia rindukan itu. “Oh, Rustam, aku mencintaimu,” ucapnya.
Malam ini seperti malam-malam mereka yang lalu-lalu. Malam pengantin yang begitu indah. Karena jarang sekali bertemu, setiap kali berjumpa rasanya seperti pada saat pertama kali merajut asa. Ada rasa keingintahuan yang dipenuhi debaran. Debaran itu bagai kidung merdu tentang asmara.
Camila di bawa terbang tinggi hingga ke awan. Angin segar menerpanya di atas sana. Ia melayang bagai burung yang terbang bebas ke sana dan ke mari. Rustam lalu berkata, “apakah ini perasaanku saja, Camila, kau tampak lebih berisi dari terakhir kali aku menyentuhmu, tubuhmu juga tampak lain, seperti orang yang sedang hamil muda.”
JDDEEERRRRR!!!!
Camila mendelik tersambar kilat yang datang entah dari mana. Ia pun jatuh menukik menuju ke lautan di bawah sana. Celaka! Ia tidak bisa berenang! Bagaimana ia akan selamat padahal ia sudah semakin jauh dari permukaan?
Camila membuka matanya lebar-lebar. Kamarnya tampak gelap pertanda hari masih gelap. Rustam memeluknya dari belakang. Mereka tidur di balik selimut yang sama dan memang hanya selimut itu saja yang menutupi tubuh keduanya.
Apa itu tadi? Mimpi?
Tiba-tiba saja keringat dingin membasahi tubuh Camila hingga udara menjadi terasa panas dan menyesakkan. Ia perlahan melepaskan diri dari pelukan Rustam keluar dari dalam selimut.
Camila memakai gaun tidurnya kemudian mengambil air dan pergi ke balkon. Ia menghirup udara malam yang dingin di sana. Ia memikirkan bagaimana caranya agar ia selamat dari celaka yang mengintainya diam-diam.
Bayi dalam perutnya itu bisa saja menjelma menjadi malaikat maut untuk Camila. Tidak, dia adalah Camila yang sangat dicintai suami dan juga keluarganya. Dia adalah istri yang baik, nyaris sempurna. Cantik, lembut, setia, sabar menunggu kedatangan suaminya. Camila tidak bisa tiba-tiba berubah menjadi wanita pengkhianat dengan tipu muslihatnya yang jahat.
Bayi ini harus disingkirkan!
***
Paginya, Camila menyiapkan sarapan untuk Rustam. Entah kenapa masakan pelayannya hari ini membuatnya merasa sangat mual. Camila berusaha sekuat mungkin untuk menahannya. Ia tidak boleh terlihat mencurigakan di depan Rustam.
Tak lama kemudian Rustam pun datang ke meja makan. Camila pun mengambilkan makanan dan minuman untuk Rustam kemudian duduk di samping pria itu. “Terima kasih, sayangku,” ucap Rustam setelah melihat piringnya penuh dengan makanan.
Camila sendiri juga mengambil makanan yang tak memiliki bau-bau aneh yang akan membuatnya mual dan muntah di pagi hari. Melihat isi piring Camila yang bahkan tak terisi sampai setengahnya membuat Rustam bertanya, “apa kau sedang diet?”
Camila terdiam menyadari isi piringnya yang amat sedikit, “ya, semalam kau bilang tubuhku lebih berisi jadi mulai hari ini aku ingin diet,” jawabnya.
“Tidak papa, kau tidak gendut kok, hanya sedikit berisi,” kata Rustam.
“Em, Rustam, hari ini sebenarnya aku ada janji dengan Megan, kami akan pergi ke mall, aku boleh pergi?” tanya Camila.
“Memangnya itu tidak bisa ditunda? Aku baru saja pulang kau malah mau pergi bersama temanmu, lagi pula kalian bisa kapan saja bertemu kan?” protes Rustam tampak tak merasa senang.
“Tapi, aku sudah janji, dia bilang dia ingin ditemani mencari kain yang bagus untuk usahanya,” dalih Camila.
“Usaha?” Rustam mengerutkan dahi.
“Ya, dia sedang memulai usaha fashion, kebetulan aku punya beberapa butik langganan yang mungkin saja bisa berbagi pengalaman dengan Megan, itu pasti akan sangat membantunya memulai usahanya,” tutur Camila.
“Dia harus sekali pergi hari ini?” tanya Rustam lalu menghela napas, “padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” katanya.
“Aku hanya sebentar saja, setelah itu kita bisa pergi jalan-jalan,” ujar Camila.
“Benar, kau hanya sebentar?” tanya Rustam.
“Iya, sayang, jangan khawatir,” jawab Camila seraya mencubit hidung Rustam yang mancung.
“Baiklah, kau boleh pergi, tapi hanya sebentar saja, ya,” putus Rustam.
“Iya, iya,” jawab Camila.
Camila tidak akan pergi menemui temannya, Megan. Itu hanya alasannya saja karena sebenarnya ia akan menemui Leon untuk membicarakan soal kehamilannya.
***
Sampailah Camila di restoran milik Leon. Saat ia tiba Leon langsung menyambutnya dengan penuh cinta. “Halo, sayangku, ini pertama kalinya kau menemuiku di saat suamimu pulang,” katanya sambil berusaha memeluk Camila.
Tetapi Camila langsung menghindar karena ia sadar ia ada di tempat umum dan di mata umum ia tidak punya hubungan apa pun dengan Leon. “Kita harus bicara sekarang,” katanya serius.
Leon sempat merasa tak senang karena ia tak bisa bermesraan dengan Camila di depan umum. Tetapi kemudian ia menanggapi Camila dengan serius, “baiklah, ayo, ke ruanganku,” ajaknya.
Mereka pun pergi ke ruangan Leon di restoran itu dan menutup pintu rapat-rapat memastikan tak ada satu pun yang bisa mendengar pembicaraan mereka. “Sayang, aku senang kau menemuiku secara tiba-tiba seperti ini,” kata Leon seraya berusaha mencumbui Camila.
Tetapi, Camila langsung menepis dan mundur, “hentikan, Leon!”
“Ada apa, Camila, kau tampak aneh?” protes Leon.
“Cukup, Leon, kita harus hentikan ini semua!” tegas Camila.
“Apa maksudmu?” tanya Leon dengan dahinya yang berkerut.
“Kita harus akhiri hubungan kita, Leon, kita tidak bisa selamanya seperti ini,” putus Camila.
“Kita memang tidak akan selamanya seperti ini, kita akan menikah karena kita akan punya anak,” kata Leon.
“Tidak!” bantah Camila, “aku akan gugurkan bayi ini!”