Kedatangan Leon

1356 Words
Leon mendelik seakan tak percaya apa yang baru saja ia dengar. “Apa katamu, kau akan menggugurkannya?” “Ya, aku tidak bisa mempertahankan anak ini, Leon,” jawab Camila, “Rustam berniat mengadopsi anak, aku tidak bisa mengakhiri pernikahanku dengannya begitu saja terlebih dengan masalah seperti ini, aku tidak bisa mencoreng namaku sendiri dalam keluargaku,” ungkapnya. Leon menatap Camila dalam-dalam seraya menggenggam kedua lengan Camila, “seperti ini bagaimana maksudmu?” tanyanya, “maksudmu perselingkuhan kita, kau tidak ingin di cap sebagai pengkhianat, bagitu?” “Leon, mengertilah, ini sangat tidak mudah untukku...” kata Camila. “Kau pikir ini juga mudah untukku?” potong Leon, “aku sangat lama menunggumu, Camila, aku sudah menderita selama ini karena menunggumu, sekarang kau ingin meninggalkanku demi nama baikmu?” “Leon, kumohon, jika sampai Rustam tahu kehamilan ini bukan saja aku yang akan celaka tapi juga kau,” bujuk Camila. “Kau bilang kau mencintaiku, Camila, apa kau tidak menyayangi bayi dalam perutmu itu, dia juga darah dagingmu,” bujuk Leon, “bukankah kau juga mendambakannya, Camila, seharusnya kau tinggalkan Rustam karena dia tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan,” hasutnya. “Aku memang mencintaimu, Leon, aku juga menginginkan anak ini, tapi tidak dengan cara seperti ini,” bantah Camila. “Camila, kumohon,” Leon berlutut seraya menggenggam jemari Camila, “kau tahu, aku sudah berencana untuk membeli rumah,” ungkapnya, “aku akan cari rumah dengan lokasi yang teduh dan asri lalu kita akan tinggal di sana bersama anak-anak kita, sesuai impian kita dulu,” lanjutnya. Camila terkenang akan masa lalunya dulu bersama dengan Leon. Kala ia masih menjalin hubungan asmara dengannya. Saat itu Camila mengungkapkan impiannya pada Leon di sebuah taman yang dibangun di tepi sungai besar di kota. “Leon, suatu saat jika kita menikah, aku ingin kita tinggal di sebuah rumah sederhana yang teduh dan asri, halaman yang luas untuk kita berkebun dan juga anak-anak bisa bermain dengan gembira.” Camila tertegun melihat Leon. Apa yang tidak bisa dilakukannya sekarang. Dia punya uang dan mudah saja mewujudkan impian Camila yang dulu. Tetapi, kenyataannya pria itu hanyalah bayang-bayang dalam rumah tangganya dengan Rustam. Dan bagaimanakah sebuah bayangan bisa mewujudkan impian? “Aku mau pulang sekarang,” kata Camila. “Camila, kau tidak akan menggugurkan bayi kita kan?” tanya Leon. Camila membisu dan membalikkan badan. Jemarinya yang lentik memutar gagang pintu. Tetapi kemudian lengannya di tarik oleh Leon, “Camila, jawab aku,” desak pria itu. “Aku akan memikirkannya lagi,” jawab Camila kemudian membuka pintu dan meninggalkan Leon yang termangu di tempatnya. Leon jadi merasa ragu dengan Camila. Ia sangat takut calon anaknya akan benar-benar digugurkan oleh Camila. Perempuan itu, walau ia tahu ia juga tidak sungguh-sungguh ingin melenyapkan bayi tak berdosa itu, demi menjaga nama baiknya, ia bisa melakukan apa pun karena sejak dahulu Camila dan keluarganya memang sangat menjaga nama baik mereka. *** Camila kembali ke rumah, menemui suaminya. Saat ia sampai di rumah Rustam tampak sedang membaca buku-buku sejarah di ruang tengah. “Aku pulang, sayang!” seru Camila seraya memeluk Rustam dari belakang. Rustam pun segera menutup bukunya dan mengecupi tangan Camila yang memeluknya. “Halo, sayang, akhirnya kau pulang juga,” katanya. Ia lalu melihat sebuah jam tangan berbahan kulit berwarna coklat melingkar di pergelangan Camila. “Kau beli jam baru? Seingatku aku tidak pernah membelikan jam seperti ini untukmu?” tanya Rustam. Camila terkejut saat sadar bahwa ia memakai jam itu. Jam itu sebenarnya dari Leon, hadiah untuk Camila setelah Leon berlibur ke Eropa. “Ah, em, ya, aku membelinya beberapa waktu lalu saat aku ke mall bersama Megan,” dalihnya. “Mall di negara ini?” Rustam mengerutkan dahi. “Iya, memangnya kenapa?” Tanya Camila. “Memangnya di negara ini sudah ada jam seperti itu? Tampaknya jam itu keluaran salah satu negara di Eropa, dan jika dilihat dari modelnya seperti itu sangat mahal?” pikir Rustam. “Ah, sebenarnya...” Camila mulai merasakan keringat mengalir di punggungnya. Ia kebingungan mencari kata-kata. “Apa kau gunakan tabunganmu untuk membeli jam itu?” tanya Rustam. “Tentu saja tidak!” sahut Camila, “aku tidak mungkin sampai membobol tabunganku hanya untuk membeli sebuah jam,” lanjutnya. “Lantas?” Rustam kembali bertanya. “Em, sebenarnya, em, ini... barang palsu,” jawabnya lirih. Rustam menghela napas, “kenapa kau sampai membeli yang palsu, apa kau sangat menginginkan jam itu?” tanyanya. “Ya, jam ini sangat bagus dan keluaran terbatas, harganya yang sangat tinggi membuatku ragu untuk membeli yang asli, jadinya aku beli saja yang palsu,” dalih Camila. Rustam lalu berdiri dan menatap istrinya. Ia menangkup wajah Camila, “kalau begitu, aku akan belikan jam yang asli untukmu,” putusnya. Camila terperangah, ia tahu Rustam akan berkata demikian. Karena Rustam sangat mencintainya, apa yang Camila inginkan ia pasti akan memberikannya. “Ah, tidak perlu, Rustam, ini saja sudah cukup untukku,” tolaknya. “Bukankah kau sangat menginginkannya?” tanya Rustam. “Ya, sebelumnya iya, tapi sekarang sudah tidak lagi, lagi pula jam yang asli pasti sudah habis terjual karena memang sangat terbatas,” jawab Camila. “Kalau begitu, apa ada hal lain yang kau inginkan?” tanya Rustam, “katakan saja, aku akan belikan,” lanjutnya. Camila tersenyum, “em, ya, sebenarnya ada beberapa hal yang kuinginkan,” jawabnya dengan senyum penuh arti. Rustam menggamit pinggul istrinya, “baiklah, mari kita beli hal apa saja yang kau inginkan!” sahutnya. Mereka pun pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota. Mereka memasuki toko-toko penjual tas dan juga pakaian wanita. Camila hanya tinggal menunjuk saja pakaian mana yang ia inginkan dan Rustam akan dengan entengnya merogoh kantong untuk membayarnya. Setelah itu mereka memasuki sebuah toko sepatu dengan brand yang cukup terkenal. Rustam melihat sebuah sepatu dengan ukuran yang pas untuk Camila. Model sepatu itu tampak seperti terbuat dari kaca dan terdapat sedikit manik yang berkilauan di bagian depannya. Rustam lalu mengambil sepatu itu dan menunjukkannya pada Camila. “Sayang, cobalah ini.” Camila yang sedang memilih-milih model sepatu di sebuah rak lalu menoleh dan matanya terbuka lebar saat melihat sepatu pilihan Rustam, “astaga, cantik sekali,” sahutnya seraya menghampiri Rustam. Rustam kemudian berlutut dan memakaikan sepatu itu pada Camila. Setelah terpakai dengan baik ia kembali berdiri dan memandangi sepatu dan si pemakainya. Ia lalu tersenyum, “kau seperti Cinderella,” ujarnya. Camila tersenyum, “benarkah?” Rustam menganggukkan kepala, “ya, coba kau pakai gaun, kau pasti semakin mirip dengan Cinderella,” katanya. “Kau mau aku pakai ini?” tanya Camila. “Kalau kau suka ambil saja,” jawab Rustam. “Bailklah, aku ambil yang ini,” putus Camila. Setelah puas berbelanja mereka pergi ke sebuah restoran dan mengisi perut di sana. Hari ini Camila sangat dimanjakan oleh Rustam sampai makan pun Rustam menyuapinya. “Kau ini, kita seperti pasangan baru saja, memangnya tidak malu dilihat orang-orang?” tegur Camila dengan wajahnya yang merah padam. “Biarkan saja, mereka pasti iri pada kita, biar saja kita selalu seperti pasangan baru, memangnya kau tidak suka, bukankah semua wanita ingin agar suaminya selalu bersikap romantis seperti saat-saat baru menikah?” jawab Rustam. Camila tersenyum sipu mengakui hal tersebut. “Aku benar kan? Kau juga menginginkan hal itu kan?” goda Rustam, “sekarang aku sedang menjaga hubungan kita agar tidak layu, kita kan jarang bertemu, harusnya kita memang seperti ini saat kita bisa bertemu karena tidak ada anak...” Rustam tiba-tiba terdiam, merasa enggan meneruskan kata-katanya. “Anak maksudmu?” tanya Camila yang rona bercahaya dalam wajahnya tiba-tiba memudar. “Maaf kalau aku membuatmu sedih,” ucap Rustam. Camila tersenyum tabah kemudian menggenggam jemari Rustam, “tidak papa, aku baik-baik saja sayang,” jawabnya. Rustam pun menggenggam jemari Camila erat-erat. Wajahnya yang semula ceria tiba-tiba saja berubah kusut. Andai mereka bisa memiliki anak, andai Rustam bisa menumbuhkan benih dalam tubuh Camila. *** Rustam dan Camila akhirnya pulang setelah puas bersenang-senang. Tetapi, saat akan sampai ke rumah Camila mendelik karena melihat mobil Leon berada tepat di depan rumahnya. Pria itu pun berdiri di depan gerbang, tampak menunggunya. Celakalah Camila kalau sampai Leon bertemu dengan Rustam. Apa maunya pria itu sampai ia berani datang ke rumah Camila?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD