Celakalah Camila

1228 Words
Matilah Camila sekarang. Rustam makin melaju mendekat ke rumah dan Leon juga tampaknya sudah menyadari kedatangan Camila. Andai saja bisa Camila ingin menghilang saat itu juga. Sayangnya sudah terlambat. Ia sudah tidak bisa menghindar lagi. Mobil yang ia tumpangi kemudian berhenti. Rustam tampak mengerutkan dahi, mengingat-ingat apakah ia pernah mengenal pria yang berhenti di depan gerbang rumahnya itu. “Tampaknya aku pernah melihat orang itu, tapi di mana, ya?” gumam Rustam. Darah Camila pun mulai berdesir di dalam tubuhnya. Rustam memang pernah melihat Leon. Bukan saja melihat bahkan bertemu walau cuma sesaat. Saat di hari pernikahan Camila dengan Rustam, Leon datang untuk mengucapkan selamat. Masih teringat jelas dalam ingatan Camila. Kala itu ia sedang berdiri di pelaminan bersama dengan Rustam, menyalami para tamu undangan yang hadir. Camila amat terkejut dengan kedatangan Leon. Tangannya bahkan bergetar saat bersalaman dengan Leon yang ia putuskan hubungannya hanya melalui telepon. “Selamat atas pernikahanmu, Camila, semoga kau bahagia,” ucap Leon kala itu. Camila tak bisa berkata apa-apa dan hanya mata nanarnya yang bicara. Leon lalu bersalaman dengan Rustam seraya tersenyum pahit hingga sebagai lelaki sekaligus sebagai seorang suami membuat Rustam bertanya-tanya. “Kalian saling kenal? Kenapa dia menatapmu seperti kau sudah menyakitinya?” begitu pertanyaan Rustam. Camila tertegun sesaat kemudian menjawab, “dia Leon, mantan kekasihku.” Sesingkat itu Camila menjawab dan hanya sebatas itu pula Rustam bertanya tentang Leon. Setelah Leon pergi meninggalkan acara pernikahan Camila yang digelar begitu megahnya dengan luka di d**a, tak pernah terdengar lagi kabar tentang Leon. Sejak saat itu pula Camila benar-benar memulai kehidupan yang baru bersama dengan Rustam. *** Rustam keluar dari dalam mobil menemui Leon yang masih berusaha ia ingat-ingat. Camila menyusul tetapi hanya berani berdiri di samping pintu mobil, menatap dua pria di depannya dengan harap-harap cemas. Akankah Leon akan membeberkan semuanya? “Maaf, ada perlu apa Anda di sini, apakah kita saling mengenal?” tanya Rustam dengan sopan. Sejenak Leon menaikkan sebelah alisnya, menyadari bahwa Rustam mungkin melupakannya. “Ya, kita saling mengenal,” jawab Leon membuat Camila yang mendengar hanya bisa menelan saliva. Leon melirik Camila yang tampak sangat ketakutan, terutama istrimu, dia sangat mengenalku,” lanjutnya. Rustam mengerutkan dahi kemudian menoleh ke arah Camila sejenak lalu kembali menatap Leon. “Ada urusan apa kau dengannya?” tanyanya. Leon melirik Camila lagi. Perempuan itu sudah sangat pucat. Bibirnya, seluruh wajahnya bahkan juga kakinya, semuanya bergetar hebat. Tampak sekali Camila sangat takut ia akan membeberkan semuanya. Tentang hubungan gelap mereka, tentang kehamilan Camila. Sementara di seberang sana, Camila benar-benar merasa hidupnya akan tamat saat itu juga. Citra yang sudah ia bangun selama ini di dalam keluarga Rustam juga keluarganya sendiri akan hancur terkena gempuran penuh noda dari Leon. Ia mungkin akan langsung dibuang dan di coreng dari daftar keluarga, dan sekaligus ia tak akan pernah mewarisi harta keluarganya yang kaya raya. Ini salah Camila sendiri. Ia sangat gegabah. Seharusnya ia tak mengatakan pada Leon bahwa ia akan menggugurkan bayi dalam kandungannya. Ini salahnya. Ia sangat bodoh! Leon kemudian menatap serius ke arah Rustam. “Istrimu hamil, dan bayi dalam kandungannya adalah benihku.” JDEEERRRRR!!! Bagai di sambar petir seluruh d**a Rustam terasa sangat terasa sakit. Sambaran itu seketika menghancurkan hatinya hingga hanya menyisakan puing-puing yang berserakan di mana-mana. Camila pun bagai di tusuk dengan tombak yang matanya sudah dilumuri dengan racun paling mematikan yang pernah ada. Tombak itu langsung menghujam jantungnya hingga ia tak dapat bernapas lagi. Entah kenapa dunia seketika berhenti padanya. Rustam kemudian menoleh ke arahnya. Kecewa. Camila tak bisa berkata apa-apa. Bahkan menangis pun ia tak mampu meski ia sangat meminta hal itu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia tidak bisa lagi merasakan berat tubuhnya. Ia sangat berharap ini adalah mimpi. Semuanya terjadi begitu mendadak dan tak pernah ia duga hal ini akan terjadi. Ia melihat Rustam dan Leon berlari ke arahnya dengan wajah yang sama-sama terkejut sekaligus cemas. Tetapi, entah kenapa Camila seperti sangat lemah pada gravitasi bumi dan, dia jatuh. “CAMILA!!!” Camila membuka matanya. Ia hanya melihat langit-langit rumahnya kemudian ia membuka matanya lebar-lebar. Segera Camila bangun dari tempat tidurnya yang ternyata hanyalah sebuah sofa. Matanya semakin terbuka lebar ketika ia melihat Rustam dan Leon duduk di tempat yang sama. Di ruang tamunya. Sungguh celaka, ini bukan mimpi. Leon kemudian berusaha mendekat begitu menyadari Camila sudah sadar. Tetapi ia terhenti oleh Rustam yang lebih dulu duduk di samping Camila. “Bagaimana keadaanmu, kau merasa pusing?” tanya Rustam dengan nada bicara seperti biasa, lembut dan penuh perhatian. Camila tertunduk, tidak berani menatap suaminya. Ia membiarkan rambutnya yang jatuh menutupi wajahnya, berusaha bersembunyi. “Em, ya, aku tidak papa, pusingnya sudah mereda,” jawabnya. “Sungguh, barang kali kau perlu obat, atau kita ke dokter saja?” tanya Rustam lagi. Camila menggeleng, “tidak perlu, sungguh, aku baik-baik saja,” jawabnya. Rustam kemudian menghela napas. Suasana hening untuk beberapa saat. Leon menatap Camila dan Rustam yang duduk berdampingan. Ia sangat cemburu, seperti melihat keduanya saat berada di pelaminan. “Bayi itu milikku, dan karena darahku mengalir di dalam tubuh Camila, maka, aku akan meminta Camila darimu,” ujar Leon dengan nada dan tatapan serius. Rustam seketika menoleh. Pun Camila sangat terkejut mendengar Leon yang amat berterus terang. “Berani sekali kau bicara seperti itu di depanku,” desis Rustam. “Serahkah saja istrimu padaku, lagi pula kami saling mencintai, kau tak pernah ada dalam hatinya,” kata Leon dengan santai. Rustam kini menatap Camila dan bertanya, “benarkah itu, Camila?” Camila tidak menjawab, ia mengunci mulutnya rapat-rapat. Leon pun terkekeh melihat hal itu. “Lihatlah reaksi istrimu, dia memang tak pernah mencintaimu, itu karena kau tidak bisa mengisi rahimnya,” oloknya, “bertahun-tahun kau biarkan dia sendirian, kau pikir wanita mana yang akan bertahan, beruntung sekali aku cepat datang dan menyembuhkan luka karena rasa sepi yang kau buat itu,” lanjutnya. Rustam naik pitam dan langsung berdiri, “diam, kau!” bentaknya lalu mengacungkan tangan, “lebih baik sekarang kau pergi dari sini atau aku akan panggilkan keamanan untuk menyeretmu!” Leon terkekeh lagi kemudian berdiri dengan santai, “tak perlu repot-repot, aku bisa pergi sendiri, tapi urusanku belum selesai di sini, jadi, mungkin aku akan datang lagi lain waktu,” ujarnya kemudian menatap Camila penuh arti, “Camila sayang, sekarang aku sudah membukakan jalan untukmu, kita bisa bersatu lebih mudah sekarang, pintu kebahagiaan sudah menanti kita,” ujarnya dengan mesra. Camila hanya melirik dengan tatapan tajam di balik rambut panjangnya. “Sialan, kau, Leon!” rutuknya dalam hati. Leon kemudian menatap Rustam sejenak dengan senyuman mengejek kemudian berkata, “aku pergi dulu,” pamitnya lalu keluar dari rumah Rustam dan Camila. Rustam tertegun, masih berdiri. Ia hanya menghela napas panjang membiarkan Camila yang terdiam kemudian pergi meninggalkan Camila ke lantai dua rumahnya. Camila pun hanya bisa memandangi punggung suaminya yang berlalu lalu menangis terisak meratapi nasibnya yang sudah diambang kehancuran. *** Malam harinya saat Camila dan Rustam bersiap untuk tidur. Dengan ragu Camila naik ke ranjang. Rustam tengah duduk bersandar dengan bantal seraya membaca buku. Tetapi, saat matanya melihat Camila ada di sisinya, ia langsung beranjak pergi meninggalkan Camila seorang diri di dalam kamar. “Rustam?” panggil Camila dengan nada memohon. Tetapi, jangankan menoleh, panggilan Camila seolah ditepis begitu saja oleh Rustam. Sekarang harus bagaimana Camila. Malam ini mungkin akan jadi yang terakhir bagi dirinya dan Rustam. Besok pasti seluruh keluarga akan berkumpul untuk menghakiminya kemudian ia akan dibuang jauh-jauh dari keluarga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD