Apakah Kau Mencintaiku?

1115 Words
Paginya, masih dengan memakai gaun tidur Camila turun ke lantai bawah. Ia melihat Rustam yang tidur di sofa, tampak meringkuk seperti janin dalam kandungan. Camila memandangi pria yang tidur tanpa selimut itu. Mungkin saja semalaman ia kedinginan. Camila lalu membelai wajah suaminya. Ada rasa bersalah yang bergelayut dalam sanubarinya. Suaminya adalah pria yang nyaris sempurna. Tak ada yang kurang dari dirinya melainkan ia tidak bisa memberikan Camila seorang anak. Terkadang Camila pun berpikir. Mengapa ia bisa kembali jatuh dalam pelukan Leon. Padahal sebagai seorang lelaki Rustam mungkin saja lebih baik darinya. Meski sama-sama mencintai Camila, tetapi Rustam lebih dewasa. Dia punya sifat mengayomi. Mungkin karena Camila yang tak tahan dengan rasa sepi yang selalu menemaninya. Sudah berbulan-bulan ditinggal Rustam mengarungi lautan, tak ada tawa dan tangis seorang anak pula. Rustam merasakan belaian di wajahnya. Sebuah tangan lembut yang selama ini membawa kehormatan dirinya dan juga keluarga. Itu dahulu, sekarang tangan itu membawa setumpuk kotoran yang hina dan dilemparkan tepat di wajahnya. Rustam pun membuka matanya dan bangun dari tidur. Camila dengan cepat menarik tangannya dan mundur selangkah ketika Rustam duduk dengan sigap. “Maaf, aku membangunkanmu, kenapa kau tidak tidur di kamar, em, maksudku kamar yang lain?” tanya Camila. “Aku ketiduran di sini,” jawab Rustam singkat kemudian berdiri, hendak meninggalkan Camila. Tetapi, langkah Rustam terhenti oleh Camila. “Rustam?” panggil Camila. Rustam hanya berdiri dan berusaha bersedia mendengar apa pun yang akan dikatakan oleh Camila tetapi ia enggan untuk menatap wajah wanita itu. “Aku tahu mungkin aku tidak pantas, tapi aku minta maaf, aku mohon maafkan aku,” pinta Camila yang kemudian berlutut menyentuh kaki Rustam, “aku mohon, ampuni aku, Rustam, aku tidak tahan dengan rasa sepi ini sehingga saat Leon datang aku pun jatuh padanya dan semakin terlena karena dia bisa mengisi kekosongan yang kurasakan” bujuknya dengan isak tangis, “aku sudah berniat menggugurkan bayi ini dan aku akan menyetujui saranmu untuk mengadopsi anak, aku mohon, ampuni aku, Rustam,” lanjutnya. Rustam mendelik saat mendengar niat Camila yang ingin menggugurkan kandungannya, “apa? Kau ingin melenyapkan bayi tak berdosa itu?” Camila semakin terisak, “lantas, aku harus bagaimana, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan jika sampai kau tahu aku hamil anak orang lain, aku tidak bisa membiarkan rumah tangga kita kacau karena keluarga kita tahu hal ini,” tuturnya. “Kenapa kau tidak berpikir untuk meninggalkanku saja, Camila, bukankah aku tidak sempurna sedangkan Leon bisa membuatmu bahagia, bukankah jika kau meninggalkanku kau bisa memulai hidup baru dengannya?” tanya Rustam. “Mana mungkin aku bisa melakukannya, Rustam, orang tuaku tak pernah setuju aku dengan Leon, lagi pula hubungan kami adalah hubungan gelap, akan jadi apa aku jika baru memulainya saja sudah dengan cara seperti ini,” jawab Camila. Rustam akhirnya membalikkan badan dan menatap wanita yang berlutut padanya itu, “bangunlah, Camila,” pintanya. Camila pun berdiri dan menatap Rustam. Mata mereka saling bertemu. Cukup lama Rustam hanya diam menatapnya. Camila pun dibuat semakin takut dengan apa yang akan Rustam putuskan padanya. “Katakan padaku dengan jujur, Camila, apa kau mencintai Leon?” tanya Rustam akhirnya. Camila terdiam, berusaha sekuat tenaga menelan salivanya. “Apakah Camila mencintai Leon?” pertanyaan itu kini juga menjadi pertanyaan bagi Camila. Ia lalu menjawab, “aku tidak bisa mengatakan apakah ini cinta atau aku hanya terkesan saja pada Leon, tapi aku selalu senang berada di sisinya, aku merasa dia selalu bisa menghiburku saat aku gundah, dia mengisi hari-hariku saat aku harus menanggung sepi karena kau pergi,” jawabnya. Rustam memejamkan mata seraya mengepalkan tangan. Hatinya sakit. Bagai ditusuk-tusuk belati. Ia membuka matanya lagi, menatap mata Camila dan mencoba menyelam di dalamnya. “Lantas, apa kau mencintaiku? Jika sekarang tidak, pernahkah kau mencintaiku, sekali saja?” tanyanya. Pertanyaan Rustam lagi-lagi menjadi pertanyaan bagi Camila. Apakah ia mencintai suaminya? Ingatan Camila pun berputar kembali ke masa lalu. Kala ia pertama kali bertemu dengan Rustam. Saat itu ia masih berhubungan dengan Leon meski hanya bisa melalui ponsel karena tak mendapat restu dari kedua orang tuanya. “Nona Camila?” seorang pelayan memanggil Camila ke kamarnya. Camila yang sedang membaca buku pun menoleh, “ada apa?” tanyanya. “Tuan besar memanggil Anda untuk turun ke ruang tamu,” jawab si pelayan. Camila meletakkan panggilannya dan memenuhi panggilan sang ayah. Ia melangkah menuruni tangga dan melihat di bawah sana tampak seorang pemuda dengan lelaki seumuran ayahnya tampak duduk di sofa seraya mengobrol dengan Tuan Julius. Rustam yang mendengar suara langkah kaki, matanya mendongak ke atas tangga dan melihat seorang gadis dengan rambut panjang yang terurai tampak melangkah ke arahnya. Wajahnya cantik dan tubuhnya semampai. Sebuah gelang kaki membuat langkah gadis bernama Camila itu terlihat seksi. Rustam sampai tak berkedip memandanginya. “Camila, kenalkan, ini Tuan Smith dan putranya, Rustam,” kata sang ayah begitu Camila sampai. Entah kenapa saat mata Camila bertemu dengan sosok Rustam, hatinya jadi gundah. Ada sebuah firasat buruk yang mungkin saja akan menimpa kisah cintanya bersama Leon. Dengan ragu Camila bersalaman dengan keduanya. “Kau tahu, Camila, Tuan Smith dan ayah sudah mengenal cukup lama, dulu dia membeli tanah milik ayah dan sejak saat itu kami berteman,” tutur Tuan Julius, “dan dia punya seorang putra yang sangat membanggakan, ini dia, Rustam, masih muda tapi sudah menjadi seorang nahkoda,” lanjutnya. Camila hanya melirik sesekali ke arah Rustam tanpa memberi sedikit tanggapan. Tak berapa lama sang ibu, Nyonya Berlin datang menyajikan minuman. Camila sampai terkejut karena tak biasanya sang ibu mau mengajikan minuman. Biasanya pelayan yang melakukannya1. Tapi kaki ini ia langsung turun tangan, tamu ini pasti sangat penting. Nyonya Berlin lalu duduk di samping suaminya dan menatap Camila, “nak, kami akan langsung berterus terang saja, kami berniat menjodohkanmu dengan Rustam, putra Tuan Smith,” ungkapnya. Camila terbelalak. Ia sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. Sementara itu yang lain tampak tersenyum gembira dengan perjodohan ini. Terlebih Rustam yang beberapa kali mencuri pandang ke arah Camila. Tak tahan dengan gelak tawa antara orang tuanya dengan Rustam dan Tuan Smith, Camila pun langsung beranjak meninggalkan semua orang di ruang tamu dan berlari ke kamarnya. Camila yang pergi tanpa pamit itu membuat mereka yang ada di ruang tamu jadi terdiam. Saat itu juga Rustam tahu bahwa Camila tidak menyetujui perjodohan ini. Camila menangis meratapi kisah cintanya yang di ambang kehancuran. Ia lalu membuka layar ponsel, hendak menghubungi Leon dan memberitahukan hal ini padanya. Tetapi, tiba-tiba ponsel yang sudah dekat ke telinga Camila itu direbut. Camila menoleh ke belakang dan terkejut melihat ibunya. “Ibu?” “Ternyata kau masih berhubungan dengannya, iya?” Nyonya Berlin menatap marah ke arah Camila, “kalau ayahmu tahu hal ini bukan saja ponselmu yang ia rebut tapi mungkin juga kebebasanmu,” tandasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD