Apakah Kau Mencintaiku 2

1313 Words
Melihat putrinya pergi begitu saja tanpa pamit membuat Tuan Julius merasa geram. Ia merasa malu karena putrinya sudah berbuat tidak sopan di depan tamu pentingnya. Merasa keadaan tidak lagi sedap dirasakan, Tuan Smith pun memutuskan untuk pergi. “Sepertinya kami harus pamit sekarang,” kata Tuan Smith. “Ah, cepat sekali, maaf atas ketidaksopanan putriku, Tuan Smith, sebenarnya aku belum memberitahukan hal ini padanya, aku yakin dia hanya malu,” kata Tuan Julius. “Ya, mengenai perjodohan, kita bisa bahas ini lain kali,” putus Tuan Smith. “Ah, sekali lagi, maafkan kami, Tuan, maafkan putriku, aku akan pastikan perjodohan ini tetap berjalan,” jawab Tuan Julius. “Ya, ya, semoga saja perjodohannya berjalan dengan lancar,” pungkas Tuan Smith kemudian pergi meninggalkan rumah Tuan Julius di susuk Rustam yang berjalan di belakang ayahnya. *** “Ibu, kembalikan ponselku, ibu dan ayah tidak bisa begini padaku, biarkan aku memilih jalanku sendiri,” Camila berusaha meraih ponsel dari tangan ibunya. “Jika ibu kembalikan ponselmu kau pasti akan terus berhubungan dengan pria miskin itu, ibu tidak akan kembalikan!” tegas Nyonya Berlin seraya menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya. “Ibu, aku mencintainya!” Camila setengah berteriak, “saat aku sudah menikah nanti aku yang akan menjalaninya, ibu, biarkan aku memilih calon suamiku sendiri, memangnya ibu tega membiarkan aku berumah tangga dengan pria yang bahkan aku belum pernah melihatnya?” “Dulu ibu juga tidak mengenal ayahmu, tapi lihatlah, apa ibu hidup susah? Apa kau pernah kekurangan? Orang tua tahu apa yang baik untuk anaknya dan itu yang sedang ibu dan ayah lakukan untukmu, Camila!” tegas Nyonya Berlin. “Ibu, kumohon, kembalikan ponselku, hanya itu satu-satunya caraku untuk berhubungan dengan Leon,” pinta Camila memohon. “Sekali tidak, tidak!” Nyonya Berlin tak ingin mengembalikan ponsel Camila. Ia membalikkan badan hendak pergi meninggalkan Camila. Baru saja akan melangkah ke pintu, Tetapi, baru saja akan melangkah ke pintu, ia dikejutkan oleh suaminya yang entah sejak kapan ada di depan pintu menatap tajam ke arah Camila. Camila pun tak kalah terkejut dari ibunya. Ia menatap takut ke arah ayahnya yang kini berjalan mendekat ke arah ibunya. Tuan Julius merebut ponsel Camila dengan kasar kemudian membanting ponsel itu ke lantai. “Astaga, ayah!” seru Camila melihat satu-satunya cara dia berhubungan dengan Leon dihancurkan oleh ayahnya. “Siapa yang mengajarimu bersikap seperti tadi, kau pergi begitu saja, apa kau ingin mempermalukan ayah?” omel Tuan Julius. “Ayah, aku tidak mau perjodohan ini, aku tidak mau menikahi orang yang tidak kucintai,” jawab Camila dengan air mata yang mulai meleleh. “Lantas, kau akan menikahi pria miskin itu, kau pikir hidup ini cukup hanya dengan cinta?” Camila menautkan telapak tangan sambil berlutut dan memohon pada ayahnya, “ayah, percayalah padanya, dia pria yang baik, aku pasti bahagia bersamanya.” “Percaya katamu? Memangnya aku tidak tahu siapa dia, dia seorang yatim piatu yang hanya tinggal bersama neneknya yang sudah penyakitan, sebagian gajinya habis untuk biaya pengobatan, bagaimana dia akan memberimu makan, Camila, kau pikir setelah kau menikah kau masih akan minta makan pada ayah?” terang Tuan Julius dengan nada tinggi. “Tapi, aku mencintainya, ayah, aku sangat mencintainya,” rintih Camila. “Sekarang kau menangis, Camila, tapi lihatlah besok, kau akan melihat sendiri, rumah tangga tidak cukup bila hanya dibangun dengan cinta, kau akan sadar kau sudah benar meninggalkan pria itu,” kata Tuan Julius kemudian menegakkan punggungnya, “ayah akan mulai mencari tanggal yang baik untuk pernikahanmu dengan Rustam, lupakan pria itu, suatu saat kau akan berterima kasih pada ayah karena ayah telah membukakan jalan menuju bahagia untukmu,” pungkasnya kemudian pergi meninggalkan Camila. Si ibu sempat terpaku sejenak melihat putrinya tersedu-sedu di lantai. Kasihan. Tetapi, ia merasa suami memang benar. Untuk apa memilih pria miskin itu. Sejak dahulu keluarganya dikenal makmur bahkan dia dan suaminya kerap kali di panggil ‘Raja Tanah’ oleh orang-orang. Mana mungkin seorang raja tanah tiba-tiba memelihara rumput liar. Camila lalu menoleh ke arah ibunya, mencoba meminta belas kasihan pada orang yang telah melahirkannya itu. “Ibu, kumohon,” pintanya lirih. Nyonya Berlin menghela napas, “maaf, nak, tapi, ayahmu benar, kau adalah bunga matahari yang memang seharusnya menatap sinar matahari, bukannya rumput liar di bawahmu,” katanya kemudian berlalu meninggalkan Camila di dalam kamarnya. *** Sejak hari itu Camila tidak lagi bebas pergi ke mana pun. Ia lebih sering di rumah dan jika pergi harus ditemani salah seorang kakaknya atau minimal seorang sopir yang tentu saja akan melapor pada Tuan Julius jika sampai Camila menemui Leon. Camila sudah bagaikan pungguk merindukan bulan. Hampir setiap hari ia melamun di balkon kamarnya. Menatap halaman matahari yang terbenam kemudian menyelimutinya dengan langit malam. Suatu hari Camila melihat sebuah mobil mewah berhenti di beranda rumahnya kemudian Rustam bersama ayahnya turun dari mobil tampak membawa sesuatu. Tak lama kemudian sebuah mobil lain juga datang dan beberapa orang turun dari dalam mobil itu. Entah apa lagi keperluan mereka. Mungkin mereka akan membicarakan tanggal pernikahan sesuai kata ayahnya. Penasaran dengan apa yang akan ayahnya bicarakan dengan Rustam dan Tuan Smith, Camila pun mengintip dari balik dinding. Beberapa barang tampak diletakkan di atas meja dan yang paling menjadi sorotan bagi Camila adalah satu set perhiasan dengan batu permatanya yang berkilauan. “Baiklah, kalau begitu, minggu depan kau akan jadi pengantin, Rustam, kau akan menjadi menantuku!” seru Tuan Julius. Camila terperangah. Secepat itu pernikahannya dengan Rustam akan berlangsung. Sambil menahan tangis ia lalu kembali ke kamar. Ia menumpahkan air matanya di sana sebanyak-banyaknya. Terdengar suara riuh orang-orang yang ada di ruang tamu dan Camila menutup telinganya rapat-rapat. Tak lama kemudian ayahnya datang meletakkan sebuah undangan dengan desain khusus di samping Camila. Gadis itu pun hanya bisa termenung menatap inisial namanya dan nama Rustam terpampang di bagian sampul undangan itu. “Kau boleh mengundang pria itu ke pernikahanmu,” kata Tuan Julius. Camila terkejut, “untuk apa aku mengundangnya, aku hanya akan menyakitinya lebih dari sebelumnya, ayah?” tolaknya. “Ayah rasa itu perlu, anggap saja sebagai salam perpisahanmu padanya,” jawab Tuan Julius tanpa perasaan. “Tidak, aku tidak akan pernah mengundangnya, aku bahkan tidak ingin ada di pernikahan itu!” tegas Camila. Tuan Julius mengambil kembali undangan itu, “kalau kau tidak mau, biar ayah saja yang mengundangnya,” katanya santai. Camila terperangah, “ayah sungguh kejam!” serunya, “apa ayah bermaksud menghinanya, bukankah ayah sudah mendapatkan apa yang ayah mau, ayah bahkan tidak pernah mengatakan bawa aku akan menikah minggu depan,” protesnya. “Sekarang kau bilang ayah kejam, tapi suatu hari nanti kau akan bilang ayah adalah yang terbaik karena sudah memilihkan pasangan yang baik untukmu, dia tampan, berpendidikan, mapan dan tentu saja dari kalangan seperti kita,” jawab Tuan Julius kemudian tersenyum sinis, “lebih baik sekarang persiapkan dirimu, rawatlah kulitmu itu dengan produk kecantikan bukan dengan air mata, kau harusnya bahagia menyambut hari pernikahanmu,” suruhnya. “Bahagia? Memangnya ayah tahu apa yang membuatku bahagia, ayah bahkan tidak pernah bertanya apa yang aku mau, ayah adalah ayah paling tidak berperasaan di dunia ini!” rutuk Camila penuh kemarahan. Tuan Julius tampak tak peduli dan berlalu begitu saja meninggalkan Camila bersama sepucuk surat undangan ditangannya. *** Dan, tibalah hari pernikahan Camila dan Rustam. Keduanya pun berdiri di pelaminan menyalami para tamu undangan yang datang. Sejak dinyatakan sah sebagai istri Rustam, sepatah kata pun belum ia sampaikan pada pria itu. Rustam pun hanya diam seraya sesekali melempar pandangan ke arah Camila yang tampak sendu. Camila tak peduli meski seribu kali Rustam memandanginya. Ia sedang gundah. Takut. Kalau Leon benar-benar datang, apa yang akan ia sampaikan padanya. Hati pria itu pasti hancur berkeping-keping. Dan benar, Leon datang ke acara pernikahan Camila yang digelar dengan begitu megahnya. Pria itu datang memakai kemeja sederhana tampak tak risih walau orang-orang mulai mencibir penampilan Leon yang sangat bisa ditebak bahwa ia miskin. Leon melangkah naik ke pelaminan dengan senyum tabahnya dan menyapa, “hai, Camila.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD