Camila terpaku menatap Leon yang berusaha tegar melihatnya telah menjadi milik orang lain. Ia berusaha keras untuk tidak menangis karena Leon juga sedang berusaha. Ia tidak mau membuat usaha Leon gagal hanya dengan setetes air mata.
Keduanya saling pandang hingga Rustam dibuat penasaran dengan apa yang telah terjadi di antara keduanya. Camila berusaha keras untuk mengucapkan kata maaf tetapi bibirnya bahkan kesulitan untuk bergerak.
“Selamat, ya, atas pernikahanmu,” ucap Leon sekuat tenaga menahan angin ribut yang memporak-porandakan hatinya yang tinggal puing-puing. “Sayang sekali, aku tidak bisa lama-lama di sini, semoga kau bahagia dan selamat menempuh hidup baru,” pungkasnya kemudian pergi meninggalkan Camila yang terpaku di pelaminan menatap punggung Leon yang kian berlalu.
“Siapa pria itu, kenapa dia menatapmu seperti itu?” akhirnya Rustam menanyakan tentang Leon pada Camila, “tampaknya kalian saling mengenal?” tambahnya.
Camila tertegun. Sejak tadi ia tak mengucapkan apa pun pada Rustam karena ia memang tak tahu apa yang harus ia katakan. Pada akhirnya bibir yang terkunci itu terbuka, “dia Leon, mantan kekasihku.”
Hanya itu. Mendengar jawaban Camila, Rustam yang dipenuhi rasa penasaran kemudian terdiam. Seolah merasa sangat puas dengan hanya satu jawaban. Ia pun menyimpulkan bahwa ia tengah berada di antara dua orang yang saling mencintai tetapi tidak bisa bersatu.
Hingga acara pernikahan usai, tak ada satu pun kata yang ucapkan Camila. Pun Rustam yang tak lagi menanyakan apa pun. Lalu, sampailah mereka di tempat terakhir acara pernikahan mereka, kamar pengantin.
Kamar pengantin itu tidak lain dan tidak bukan adalah kamar milik Camila. Malam ini adalah malam terakhirnya untuk tinggal di kamar itu karena besok Rustam akan membawanya pergi untuk memasuki kehidupan yang baru.
Semua anggota keluarga membiarkan keduanya berada di dalam kamar karena ini harusnya menjadi malam paling membahagiakan untuk Camila dan Rustam. Tetapi, sebenarnya tidak untuk Camila. Sejak ia melihat pintu kamarnya ditutup, rasanya sangat mengerikan duduk di ranjangnya sendiri.
Mungkinkah itu akan terjadi malam ini?
Jantung Camila berdetak kencang dengan matanya mengawasi langkah Rustam yang menuju ke arahnya. Ia baru saja membersihkan dirinya di kamar mandi.
“Kenapa kau hanya duduk?” tanya Rustam.
Otak Camila mulai melayang. Kenapa ia hanya duduk? Apakah Rustam ingin itu terjadi sekarang? Rustam ingin Camila melepas pakaian dan melayaninya, begitu? Tapi, ia sama sekali tidak siap.
“Kau tidak mau mandi?” tanya Rustam lagi, “selama berjam-jam kau memakai gaun itu, pasti gerah sekali,” lanjutnya.
Oh, Rustam hanya menyuruh Camila mandi. Ia sedikit lega mengetahuinya. Tapi, setelah mandi... . Atau, bagaimana kalau tiba-tiba Rustam masuk ke kamar mandi saat ia sudah tak memakai apa pun?
“Maaf, ya, aku lelah sekali, jadi aku akan tidur duluan,” kata Rustam seolah menjawab kegelisahan Camila. Pria itu pun dengan santai merebahkan diri di ranjang yang sudah ditaburi bunga mawar.
Sesekali Camila melirik dengan mata waspada. Apa benar yang dilakukan pria itu? Dia tidur? Di malam pertama?
Tak lama kemudian terdengar suara napas teratur dari Rustam. Camila pun melihat lebih dekat lagi dan ia sangat tidak menyangka karena pria itu benar-benar tidur di malam pengantin.
Walau dipenuhi rasa aneh tetapi Camila akhirnya benar-benar merasa lega. Ia pun berjalan tanpa beban ke kamar mandi dan membersihkan diri. Tanpa ia ketahui, Rustam membuka matanya lagi setelah mendengar pintu kamar mandi yang ditutup.
Rustam sadar bahwa gadis cantik yang sudah menjadi istrinya itu tidak mencintainya. Meski ia memiliki raga Camila tapi tidak dengan hatinya karena sudah menjadi milik orang lain, milik pria miskin yang mengucapkan selamat tinggal di pelaminan tadi.
Rasanya sungguh menyesakkan ketika tahu perempuan yang akan menyerahkan sisa hidup untuknya ternyata mencintai orang lain. Bagaimana ia bisa menyentuh perempuan yang sesungguhnya tidak bersamanya?
Rustam pun kembali memejamkan mata saat terdengar suara pintu kamar mandi yang kembali dibuka. Matanya sedikit mengintip dan ia melihat Camila yang keluar menggunakan baju tidur berbahan satin tanpa lengan dengan celananya yang pendek.
Sebagai lelaki normal melihat pemandangan seperti itu tentu saja membuat Rustam kesulitan menahan diri. Di bawah sana ia bahkan langsung sigap dan bersiap. Tetapi, karena Camila tak mencintainya ia tak ingin mendapatkan malam pertama yang hampa dan bahkan hanya menimbulkan luka saja bagi istrinya. Camila harus menyerahkan diri dengan suka rela baru ia bisa dengan tenang menyentuh wanita itu.
Tak lama kemudian Camila pun bersiap tidur di sisi Rustam. Perempuan itu tampak ragu mulanya. Tetapi, melihat tidur Rustam yang sangat meyakinkan, Camila tetap berbaring di sisi Rustam walau dengan masih menjaga jarak.
Rasa lelah mengantarkan Camila pada rasa kantuk yang luar biasa. Udara malam ini agaknya membawa serbuk berisi obat tidur dengan dosis yang tinggi. Tanpa butuh waktu lama Camila pun terbawa melayang ke alam mimpi.
Rustam kemudian membuka matanya dan menoleh ke samping. Dipandanginya Camila yang sudah terlelap. Cantik sekali bagai Aurora dalam dongeng anak-anak.
Rustam kemudian membuka matanya dan menoleh ke samping. Dipandanginya Camila yang sudah terlelap. Cantik sekali bagai Aurora dalam dongeng anak-anak. Tiba-tiba Camila menggeliat dan merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Rustam.
Mata Rustam mendelik ketika melihat apa yang ada di balik baju tidur Camila. Benda itu tampak menyembul dan mengintip dengan nakalnya menggoda iman Rustam. Astaga, ini akan menjadi malam yang tidak mudah.
***
Pagi-pagi Rustam bangun seperti orang yang baru saja mimpi dikejar hantu. Matanya langsung terbuka lebar dan ia cepat-cepat menoleh ke samping. Camila masih tidur dengan posisi membelakanginya. Ia lalu mengintip ke dalam selimutnya. Semuanya masih terpakai rapi. Berarti aman, semalam tidak terjadi apa-apa.
Rustam bernapas lega. Syukurlah ia tidak menyakiti istrinya yang perlu banyak waktu untuk beradaptasi itu. Ia menoleh lagi ke arah Camila dan melihat perempuan itu masih lelap sekali. Tak ingin membangunkannya, Rustam pun pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Camila juga bangun. Ia langsung melihat ke dalam selimutnya dan bernapas lega saat seluruh pakaiannya masih terpasang dengan baik. Ia juga tak merasakan apa pun di bawah sana. Katanya, bagian sensitif itu akan terasa nyeri saat pertama kali. Tak ada noda darah juga di ranjangnya. Baiklah, itu berarti memang tidak terjadi apa pun semalam.
Sekarang Camila harus bersiap karena hari ini juga Rustam akan membawanya pergi dari rumah dan keluarga yang membesarkannya. Ia jadi merasa gugup, hanya tinggal beberapa saat lagi hidupnya akan benar-benar berubah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi, tampaknya ini tak akan mudah karena ia akan hidup bersama orang yang tidak ia cintai.