Lembaran Baru

1158 Words
Camila dan Rustam berhenti tepat di depan sebuah rumah yang dari depan saja sudah nampak keindahannya. Camila bahkan langsung terpukau melihatnya. Rumah itu tidak besar tapi arsitektur rumah itu sangat menawan. Bukan terlihat seperti rumah melainkan kastil jika dilihat dari luar. “Rumah ini adalah hadiah pernikahan dariku, maaf, kalau tidak sebesar rumah keluargamu, tapi setidaknya ini cukup untuk kita berdua,” kata Rustam. Camila hanya mengangguk pelan kemudian dengan lirih mengucapkan terima kasih. Sekarang baru terbayang betapa suksesnya Rustam dan betapa kaya Tuan Smith. Rumah di depan matanya itu meski tak lebih besar dari rumah Tuan dan Nyonya Julius, tetapi Camila bisa menafsirkan berapa banyak uang yang bisa dihabiskan untuk membuat rumah itu. Gerbangnya yang tinggi berwarna keemasan. Dari gerbang yang menempel pada sepasang pilar nan kokoh itu muncul seorang penjaga yang tersenyum ramah seraya membukakan jalan untuk Rustam dan Camila. “Selamat datang Tuan dan Nyonya,” sambut penjaga itu ketika Camila dan Rustam memasuki area rumah dengan mobil mereka. Kini mereka berhenti tepat di depan rumah lalu Rustam membukakan pintu mobil untuk Camila. Perempuan yang masih perawan itu turun dengan mata yang seperti tersihir. Sungguh makin indah rumah itu dari dekat. Rumah itu benar-benar seperti kastil. Bahkan ada satu bagian rumah yang berbentuk seperti menara lengkap dengan atapnya yang berbentuk kerucut. Dari tempat Camila berdiri ia bisa melihat ada sebuah piano yang terletak di atas bangunan mirip menara itu. Ia jadi merasa bak seorang putri dari dunia dongeng yang akan memasuki kastilnya. Pintu utama yang besar lalu dibukakan oleh seorang pelayan yang menyambut keduanya dengan ramah. “Selamat datang Tuan dan Nyonya, saya sudah menyiapkan makanan untuk Anda berdua dan kamar kalian juga sudah siap,” ujar Martha, si pelayan. Rustam menoleh ke arah Camila, “kau mau makan dulu, setelah itu kita berkeliling?” tawarnya. Camila menganggukkan kepala, “ya, aku akan makan dulu,” jawabnya. Mereka pun menuju ke ruang makan yang letaknya dekat dengan dapur. Selama menuju ke sana mati Camila terus mengelilingi seisi penjuru rumah yang bisa dijangkau oleh matanya. Hingga sampailah ia di ruang makan dengan meja bundar cukup besar terletak di bagian tengahnya. Di sana Martha langsung menyajikan makanan yang sudah ia masak dan semuanya masih hangat. Rustam segera menarik kursi untuk Camila dan mempersilakan perempuan itu duduk. Camila pun dengan canggung duduk di kursi yang sudah Rustam sediakan untuknya. Dalam hati ia merasa heran, bagaimana bisa Rustam bisa bersikap baik seperti itu padahal ia tahu ia menikahi perempuan yang mencintai orang lain. Rustam bahkan mengambilkan makanan untuk Camila. “Ah, tidak usah, aku bisa mengambilnya sendiri,” cegah Camila. Rustam pun tersenyum, “tidak papa, sebelum kau melayaniku, aku harus melayanimu dulu,” jawabnya lembut. Setelah puas dengan masakan Martha yang nikmat Rustam mengajak Camila untuk berkeliling rumah. Di lantai bawah terdapat sebuah ruang tamu cukup besar, sebuah dapur yang berdekatan dengan ruang makan, satu ruang TV yang letaknya berada di tengah dan dua kamar yang salah satunya sudah ditempati oleh Martha. Di lantai atas adalah letaknya kamar tuan rumah. Ada dua kamar besar di sana dan memiliki toiletnya masing-masing. Yang paling besar akan ditempati Camila dan Rustam. Ada juga satu area cukup luas di lantai atas dan masih kosong yang bisa digunakan untuk berkumpul bersama keluarga. Dari area yang cukup luas itu pula terdapat sebuah pintu kayu menuju tempat serupa menara yang Camila lihat tadi. Area itu cukup untuk sepasang kekasih berdansa dengan alunan musik piano dari seorang pianis handal. Selain itu di lantai itu pula terdapat sebauh balkon besar yang akan muat untuk dijadikan sebagai panggung menari. Rumah itu tidak ada kekurangannya. Seluruh sudutnya begitu indah hingga membuat Camila benar-benar bagai seorang putri. Di tambah lagi rumah itu terletak tepat di depan sebuah danau buatan yang cantik. Jarak antara gerbang rumahnya ke tepian danau itu hanya sekitar dua rumah saja sehingga danau itu bisa dilihat dengan jelas dari mana pun. “Apa kau suka rumah ini?” tanya Rustam. Camila yang sejak tadi memandangi pemandangan sekitar rumah pun menoleh. Ia tersenyum lembut, “aku suka, terima kasih untuk hadiah pernikahannya,” ucapnya kemudian matanya meredup. “Kenapa?” Rustam mengerutkan dahi. “Bukankah kau tahu bahwa aku tidak mencintaimu, kenapa kau malah memberiku hadiah pernikahan seindah ini?” tanya Camila. Rustam diam sejenak, tampak sudah menebak ia akan mendapat pertanyaan seperti itu. Ia lalu menjawab, “rumah ini sudah aku persiapkan sebelum aku mengenalmu, entah seperti apa istriku kelak aku sudah memutuskan akan menjadikan rumah ini sebagai hadiah pernikahan, jadi, kuharap kau tidak menyesali hadiah ini.” “Ah, maaf, aku bukannya menyesali hadiah ini, tapi, aku hanya heran kenapa kau masih bersikap baik padaku padahal kau tahu hatiku milik orang lain,” kata Camila. Hati Rustam sakit sekali saat mendengar kata Camila bahwa hatinya milik orang lain. Ia jadi terbayang akan betapa sulit jalannya ke depan. “Karena sekarang aku suami, aku punya kewajiban untuk membuatmu bahagia,” jawabnya. Camila tertegun. Bagaimana ia bisa bahagia? Mungkin ia memang tinggal di rumah yang begitu indah. Dilayani dengan baik dan semua kebutuhannya tercukupi dengan baik. Tetapi, apa ia bisa bahagia bersama seseorang yang tak bahkan tak bisa memiliki hatinya? “Bagaimana jika aku tidak bisa melayanimu dengan baik, atau mungkin saja aku tidak akan pernah bisa melayanimu?” tanya Camila, “em, ya, ini memang kewajibanku, aku pun tahu kau pria yang baik, kau tidak akan memaksaku, tapi...” Camila tampak ragu. “Jangan khawatir, bukankah kau tahu aku tidak akan memaksamu, jadi aku akan menunggumu,” putus Rustam dengan sedikit rasa sesal dalam hatinya. Bagaimana bisa ia mengucapkan hal itu padahal ia tahu ia sudah menginginkan Camila. Ia menginginkan wanita itu sejak kali pertama berjumpa. “Ya, berapa lama pun kau butuh waktu, aku mau menunggu,” lanjutnya dengan senyum tulus. Camila terperangah, merasa menjumpai orang yang benar-benar baik. Ia jadi merasa berhutang pada Rustam. Ia bukan saja diberi hadiah pernikahan yang indah tetapi juga kesempatan untuk menyiapkan dirinya sendiri. Camila pun membalikkan badan. Kembali menatap danau buatan di depan sana. Benarkah ini akhir antara dirinya dengan Leon. Pria itu bahkan tak tampak lagi batang hidungnya sejak terakhir kali ia melihatnya. Apakah Camila harus belajar mencintai Rustam yang kini adalah suaminya. Camila menoleh ke arah Rustam, mencoba memandangi pria itu sejenak. Dia pria yang sangat baik. Padahal sebelumnya ia kira ia telah menikahi pria angkuh yang menggunakan harta dan kekuasaan untuk memenangkan seorang gadis. Camila menatap langit di atas sana yang mulai mendung. Duhai, Leon, benarkah sama sekali tak ada kesempatan untukmu? Rintik hujan tiba-tiba turun mengguyur Rustam dan Camila. Rustam pun cepat-cepat menutupi Camila dengan jaketnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Di bawanya Camila masuk ke dalam kamar untuk melihat kamar mereka yang paling besar di antara kamar lainnya. “Bajumu basah, sebaiknya kau ganti pakaian sekarang,” kata Rustam. Camila hanya mengangguk pelan, “em, boleh aku tanya sesuatu?” tanyanya. “Apa itu?” Rustam tampak penasaran. “Di rumahku kita berada satu kamar, apakah di sini juga?” tanya Camila hati-hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD