Lembaran Baru 2

1464 Words
Rustam tertegun sejenak mendengar pertanyaan Camila. “Ah, di sini, ya, em, kita, e...” ia kebingungan harus menjawab apa. Laki-laki mana yang tak ingin tidur sekamar bahkan seranjang dengan istrinya terlebih mereka pasangan baru. “Kau ingin kita tidur sekamar, ya?” tanya Camila lagi. Rustam menatap Camila tampak tak membantah kata-kata perempuan itu. Camila kemudian berkata lagi, “kalau begitu tidurlah di sini, aku tidak papa, lagi pula aku harus berterima kasih atas hadiah yang kau berikan bukan?” “Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa pun selama kau tidak mengijinkannya,” ujar Rustam. Camila tersenyum tipis, “terima kasih,” ucapnya. *** Malam pun tiba dan Camila naik ke kamar lebih dulu. Ia merebahkan diri di ranjang dengan tenang. Tetapi ketenangannya itu tak berangsur lama karena baru saja ia akan memejamkan mata Rustam sudah menyusulnya hingga membuatnya sedikit terkejut. Bagaimanapun juga ia belum terbiasa ada orang lain berada satu kamar dengannya terlebih ia baru mengenalnya. Rustam tersenyum dengan sopan, “maaf kalau aku mengganggumu, aku sudah sangat mengantuk jadi aku segera ke sini,” tuturnya. “Tidak, kau tidak mengganggu, aku hanya belum terbiasa ada orang lain satu kamar denganku,” jawab Camila. Rustam kemudian pergi ke sisi ranjang miliknya dan memposisikan diri membelakangi Camila, “aku akan tidur sekarang, jangan khawatir, aku benar-benar tidak akan melakukan apa pun, tidurlah,” katanya. “Ya, selamat malam,” jawab Camila dengan gugup. “Selamat malam,” jawab Rustam kemudian benar-benar memejamkan mata. Camila mematikan lampu meja di nakas yang berada tepat di sisinya. Mendengar suara napas Rustam yang teratur ia pun melihat pria itu lebih dekat. Dia sudah benar-benar tidur. Ia jadi berpikir kasihan juga pria itu. Dia pria yang baik tapi harus mendapatkan istri yang hatinya sudah dimiliki orang lain. Mungkin bukan Camila yang tidak beruntung karena cintanya yang kandas tetapi Rustamlah yang lebih tidak beruntung karena menikahi gadis yang tidak bisa dimilikinya seutuhnya. *** Pagi hari Rustam sudah duduk di meja makan sementara Camila baru saja bangun dan langsung menuruni tangga. Ia sangat terkejut saat melihat Rustam sudah duduk di meja makan dengan Martha menyajikan makanan untuknya. Camila mempercepat langkahnya dan menuju ke meja makan. Ia menundukkan kepala dan berkata, “ma-maafkan aku, aku kesiangan jadi tidak bisa menyiapkan sarapan untukmu,” sesalnya. Rustam tersenyum lembut, “tidak papa, sekarang kemarilah, kita sarapan dulu,” ajaknya. Camila terkejut karena Rustam tak memarahinya seperti yang ia kira. Tak tampak kekesalan sedikit pun di wajah pria itu dan malah ia mengambilkan piring yang di isi dengan makanan untuknya. “Kenapa hanya berdiri di situ, ayo, kita sarapan, kau tidak mau sarapan denganku?” tanya Rustam. “Ah, iya, aku akan sarapan denganmu,” jawab Camila kemudian cepat-cepat duduk di kursinya. Sambil makan sesekali Camila melirik ke arah Rustam yang tampak biasa saja. Tak habis pikir, pria itu benar-benar tidak marah. Di tengah rasa canggung yang di rasakan perempuan itu, Rustam kemudian bertanya, “apa kau tidak ingin pergi ke suatu tempat?” Camila menoleh, “apa?” tanyanya seraya menerka-nerka maksud Rustam mungkin adalah mengajaknya untuk bulan madu. Rustam kemudian tersadar bahwa niatnya untuk mengajak Camila bulan madu atau bahkan sekedar berkencan tidak mungkin bisa saat ini. “Ah, lupakan saja,” gumamnya. “Kau mau mengajakku ke mana?” tanya Camila. Bukan memberi kesempatan. Ia hanya berusaha berbaik hati sedikit pada Rustam karena telah memperlakukannya dengan baik. Rustam tampak terkejut dengan matanya yang berbinar. Ia pun tersenyum senang, “ya, barang kali ada tempat yang ingin kau kunjungi, atau mungkin ada tempat yang sama sekali belum pernah kau datangi, aku akan membawamu ke sana,” jawabnya. “Sebenarnya ada tempat yang ingin kudatangi,” ungkap Camila. *** Sampailah mereka di sebuah halte bus yang tak jauh dari pusat kota. Sebelumnya Rustam harus lebih dulu memarkirkan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan dekat halte itu. “Kukira kau ingin menuju ke sebuah taman atau tempat-tempat indah lainnya,” pikir Rustam. Camila menggeleng, “tidak, kota ini cukup kecil dan hampir seluruh tempatnya pernah kudatangi,” jawabnya. “Lantas, dari sekian banyak tempat di kota ini kenapa kau malah datang ke halte ini?” tanya Rustam. Camila tersenyum tipis, “aku hanya suka tempat ini,” jawabnya seraya memalingkan muka. Ia suka halte itu karena di sanalah tempat kali pertama ia bertemu dengan Leon. Kala itu ia baru saja keluar dari pusat perbelanjaan tempat ia Rustam memarkirkan mobilnya tadi. Sopirnya tak bisa datang menjemput dan tak ada satu pun taksi yang bisa ia pesan. Jadi, ia terpaksa harus naik bus umum. Saat ia berjalan menuju ke halte itu hujan turun dengan derasnya membuat Camila harus berlari seraya membawa barang belanjaannya. Tepat saat kakinya pertama kali menginjak lantai halte barang-barang yang baru saja dibelinya itu berjatuhan saking banyaknya. Sebuah tangan lalu membantunya memungut belanjaan itu. Ialah Leon yang langsung membuat Camila jatuh hati pada pandangan pertama. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang menawan membuat mata kaum hawa tak bisa berpaling darinya. Sungguh kebetulan saat Camila datang lagi ke halte itu hujan pun turun membawa kenangan masa lalunya. Memang benar kata orang, bahwa ternyata hujan turun bukan untuk membasahi bumi tetapi untuk mengingatkan orang-orang akan kenangan-kenangan mereka di masa lalu. “Ya, ampun, hujannya lebat juga, tampaknya kita akan cukup lama menunggu di sini,” ujar Rustam. Camila tersenyum tipis lagi, “tidak papa, lagi pula aku memang ingin berlama-lama di sini,” katanya. “Aku penasaran, kenapa kau suka halte ini, bukankah halte ini sama saja seperti halte yang lain, tidak ada yang spesial dari tempat ini?” tanya Rustam. Tak mungkin Camila mengatakan bahwa halte itu adalah tempat pertama kali ia bertemu Leon. Lagi pula kisahnya dengan Leon juga sudah benar-benar berakhir sejak ia dinikahi Rustam. Rasanya mungkin percuma saja mengenang Leon di tempat itu. “Menurutku halte ini adalah tempat yang paling nyaman untuk menikmati hujan,” jawab Camila seraya memandangi rintik-rintik hujan. “Jadi, kau suka menikmati hujan?” tanya Rustam. “Sebenarnya tidak juga,” jawab Camila, “hanya saja hujan pintar sekali menghipnotis orang, suara rintik-rintiknya yang berbenturan dengan banyak benda dan juga hawa sejuk yang ia bawa, rasanya aku ingin masuk ke dalam hujan itu sendiri,” tuturnya. Rustam tampak menyimak dengan baik kata-kata Camila, “wow, tak kusangka kau mengartikan hujan sedalam itu,” pujinya. Camila tersenyum, “bagi sebagian orang hujan mungkin hanya air dari langit yang membasahi bumi, tapi untuk beberapa orang hujan mungkin menjadi perantara untuk mereka dan kenangan,” tuturnya lagi. Rustam tersenyum menyadari istrinya adalah wanita yang lembut. Tiba-tiba Camila berdiri, “hujannya sudah reda, ayo, pergi dari sini,” katanya. Rustam sedikit terkejut dan menoleh ke luar. Benar, hujan sudah reda. Saking senangnya memerhatikan Camila ia sampai tak sadar hujan sudah reda. Ia pun segera berdiri menyusul Camila yang lebih dulu berjalan ke jalanan. Saat Camila akan melangkahkan kaki menyeberangi jalan tanpa ia sadari sebuah mobil tengah melaju ke arahnya. Rustam yang menyadari hal itu pun berlari dan menarik lengan perempuan itu. TIIIINNNNN!!!!! Terdengar suara klakson yang begitu kencang seiring dengan jatuhnya Camila dalam pelukan Rustam. Melihat mata pria itu dari dekat dalam keadaan seperti ini entah kenapa ia jadi merasa sangat dilindungi. Ia merasa aman berada di dekat pria itu. “Astaga, lain kali kau harus hati-hati, untung saja mobil itu tidak menabrakmu,” omel Rustam. Camila tertunduk, “maafkan aku,” ucapnya. “Kemarilah, aku akan memegangimu,” kata Rustam seraya menggenggam tangan Camila erat-erat. Tangan yang tanpa ragu menggenggamnya itu dipandangi Camila seraya sesekali ia memandangi Rustam yang dengan hati-hati menyeberangi jalanan yang cukup ramai. Hingga sampailah mereka ke seberang jalan baru Rustam melepas genggamannya. “Maaf, aku tidak bermaksud menyentuhmu, habisnya aku takut kalau kau lengah nanti terjadi sesuatu padamu seperti tadi,” kata Rustam seraya melangkah di depan Camila, “ayo, kita akan ke mana lagi?” Entah kenapa Camila terpaku setelah mendengar kata maaf dari Rustam. Jika saja mereka adalah pasangan yang sama-sama jatuh cinta, Camila pasti amat bahagia memiliki suami seperti Rustam. Sayang sekali, cinta itu bahkan tidak ada dalam hati Camila. *** Hari-hari berikutnya Rustam dan Camila tetap tidur dengan cara yang sama. Meski berada satu kamar tetapi mereka tidak saling bersinggungan. Suatu hari Camila terbangun di tengah malam dan memandangi Rustam yang tertidur pulas di sisinya dengan sebuah guling yang menjadi batas di antara mereka. Bagaimana bisa ada pria seperti Rustam? Seharusnya pria itu protes, marah atau bahkan langsung menceraikan Camila karena tahu Camila tak bisa mencintainya dan bahkan tak mau disentuh. Tapi, pria itu tetap bersikap baik pada Camila. Harus bagaimana perempuan itu membalas kebaikan pria itu? Ah, tetapi, bukankah itu keputusan Rustam sendiri? Camila tak pernah memintanya. Haruskah ia membalasnya? Esok hari Camila dikejutkan oleh Rustam yang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas besar. Mau ke mana dia, apa dia putus asa dan memilih menyerah menghadapi Camila yang tak bisa mencintainya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD