Megan

1128 Words
Camila pun memberanikan diri untuk bertanya, “kau mau ke mana pagi-pagi begini?” Rustam pun menoleh, “ah, maaf, ya, aku lupa bilang padamu, hari ini aku akan kembali berlayar,” jawabnya. Camila tampak terkejut, “berlayar, cepat sekali?” tanyanya seraya mengerutkan dahi. Belum selesai Camila memprotes kepergian Rustam yang mendadak pria itu sudah melangkah pergi ke teras seraya membawa tasnya. Camila pun secara otomatis mengekor di belakangnya. “Tu-tunggu, Rustam!” panggil Camila seraya menyadari bahwa ini pertama kalinya ia memanggil Rustam dengan namanya. Rustam pun menghentikan langkahnya di depan pintu, “ya?” “Em, boleh aku mengantarmu ke pelabuhan?” tanya Camila. Rustam sedikit terkejut tetapi kemudian ia merasa senang. Cepat-cepat ia menganggukkan kepalanya, “ya, eh, ya, tentu saja boleh!” serunya. Bergegaslah keduanya pergi ke pelabuhan. Di sana Camila melepas kepergian Rustam untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang nakhoda. “Aku akan pergi berlayar sekarang, jaga dirimu baik-baik,” kata Rustam. Camila menganggukkan kepala, “ya, kau juga, hati-hati dan jaga dirimu,” jawabnya. Entah apa yang membuat Camila mau menunggu sampai kapal besar yang dipimpin oleh suaminya itu meninggalkan dermaga. Rustam melambaikan tangannya seraya memandangi Camila yang juga melambaikan tangannya untuk melepas kepergian Rustam. Hati Camila jadi merasa kehilangan seiring menjauhnya Rustam bersama kapalnya. Saat sampai di rumah, entah kenapa suasana rumah yang indah itu jadi berbeda. Rasanya lebih sepi dan bahkan hampa. Ada apa ini? Kenapa Camila? Bukankah harusnya rumah terasa lebih nyaman karena Rustam tak ada? Kenapa ia justru merasa seperti ada yang hilang? *** Pagi hari ketika Camila membuka mata, sisi ranjang di sebelahnya kosong. Saat ia akan mencari di mana pemilik sisi ranjang itu ia baru ingat bahwa dia sedang menjalankan tugasnya untuk mengarungi lautan. Sejak kepergian Rustam, entah kenapa suasana rumah yang indah itu jadi sama sekali berbeda. Tak seindah seperti yang terlihat. Setiap hari pelayan dan penjaga rumah akan menyapanya dengan senyuman kemudian Camila tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Hingga suatu hari ia bertemu Megan di sebuah Cafe tempat ia biasa bertemu dengan perempuan itu. Megan adalah teman karibnya sejak masih di bangku sekolah. Sejak Camila menikah ini adalah kali pertama ia bertemu dengan perempuan berkulit sawo matang itu. “Hai, Megan, bagaimana kabarmu?” sapa Camila seraya memeluk teman karibnya itu. “Aku sangat baik, bagaimana denganmu, kau hampir tak pernah menghubungiku sejak kau menikah, kau pasti sangat menikmati masa pengantin barumu sampai kau lupa segalanya, iya kan?” goda Megan. Camila tersenyum sipu, “tidak, bukan begitu,” dalihnya, “menikah dengan orang yang tidak kau kenali itu tidak mudah,” lanjutnya. Senyum Megan memudar. Ia yang paling tahu apa yang terjadi pada Camila, “kau belum bisa melupakan Leon?” tanyanya serius. “Entahlah, tapi aku berusaha keras melakukannya,” jawab Camila. “Bagaimana dengan suamimu, kulihat dia pria yang cukup baik?” tanya Megan lagi. “Dia memang baik, dia bahkan belum menyentuhku sama sekali sejak kami resmi menikah,” ungkap Camila. “Apa? Bagaimana bisa?” Megan nyaris saja tersedak minuman yang beberapa kurang dari satu menit yang lalu disajikan padanya. “Dia melakukan itu untuk menghormatiku, dia tahu aku tidak mencintainya, itu sebabnya dia tidak ingin memaksaku untuk menjaga perasaanku,” terang Camila. Megan nyaris tak bisa menutup mulutnya, “Ya, Tuhan, baru kali ini aku tahu ada pria seperti itu di dunia ini,” gumamnya, “kalau saja aku bertemu pria seperti itu aku tidak akan membiarkan ibuku memaksaku untuk menikah,” lanjutnya. “Aku pikir dia akan memaksakan kehendaknya karena kau tahu sendiri dia berasal dari keluarga yang cukup berkuasa, dia sendiri juga seorang nakhoda, dia pasti terbiasa dengan perintah yang tak terbantahkan, tapi dia tidak melakukannya padaku, dia bahkan membatasi ranjang kami,” beber Camila. “Kau harus bisa melupakan Leon, Camila, jangan sia-siakan suamimu, dia pria yang baik, kau harus belajar mencintainya,” saran Megan. “Entahlah, Megan, bagaimana jika aku tidak bisa membuka hatiku untuknya, kau tahu aku sangat mencintai Leon, bukan?” kata Camila. “Kupikir jika Leon memang mencintaimu harusnya dia berjuang sampai titik darah penghabisan untukmu, sekarang bahkan kau tidak tahu dia ada di mana, dia langsung menyerah begitu saja tanpa satu tetes keringat,” cibir Megan. “Bagaimana dia bisa melakukannya, kau tahu bagaimana orang tuaku, Megan, Leon tidak mampu melawan kuasa ayahku, dia bahkan langsung diusir saat kubawa ke rumah,” bela Camila. “Camila, meskipun sampai hari ini aku tidak menikah tapi aku percaya kalau kita punya cinta yang kuat kita pasti bisa mempertahankannya apa pun yang kita lewati,” ujar Megan. “Jadi, menurutmu cintaku dan Leon tidak kuat?” Camila tampak tersinggung. “Walau tampaknya kalian saling mencintai, kalian tidak bisa membangun kekuatan yang lebih besar, kau bahkan tidak percaya Leon bisa memperjuangkanmu,” jawab Megan yang lantas membuat Camila terdiam. “Leon juga, dia tahu dia miskin tapi dia tetap datang ke pernikahanmu padahal dia tahu tidak mungkin kau yang mengundangnya, dia membiarkan dirinya dihina oleh ayahmu dan semua orang kaya yang ada di pernikahanmu, dia tidak setangguh yang kau kira,” lanjut Megan, “kalau aku jadi dia, aku tidak akan datang ke pernikahanmu meskipun keinginanku untuk bertemu denganmu sangat menggebu-gebu, menurutku sebesar apa pun cinta yang kita punya, harga diri harusnya lebih diutamakan,” imbuhnya. Camila benar-benar seperti dibuka pikirannya oleh Megan. Memang benar, saat Leon tahu ia akan dinikahkan dengan Rustam, Leon hanya pasrah pada keadaan dan malah datang ke pernikahannya dengan air mata. “Sekarang terserah padamu, kau masih ingin mencintai Leon yang sudah tak tahu bagaimana kabarnya itu atau kau akan menerima suamimu yang sangat baik itu dan memulai lembaran baru bersamanya?” tanya Megan. “Megan, tapi, ini tidak mudah untukku,” jawab Camila lirih. Megan menghela napas, “inilah sebabnya aku pergi dari rumah, dengan berada di rumah anak perempuan hanya akan menjadi boneka orang tuanya, seperti dirimu,” sindirmya. Camila mengerutkan dahi, “apa maksudmu?” Megan menggeleng-gelengkan kepala, “dasar Camila bodoh,” gumamnya seraya tersenyum geli, “kau itu terlalu penurut, apa pun keputusan orang tuamu kau pasti akan melakukannya, tidak bisakah kau punya prinsip? Kau perempuan masa kini, kau harus punya segalanya sendiri, lihatlah dirimu, sekarang kau bahkan tidak punya pekerjaan tetap padahal kau sangat pintar dan kau berasal dari universitas terbaik di negeri ini,” terangnya. Camila menghela napas, “Megan, kau tahu kan aku tidak melakukan itu, ayahku sangat keras dan ibuku hanya menurut,” keluhnya. “Dan kau akan jadi seperti ibumu?” sarkas Megan seraya menatap tajam pada Camila, “kau hanya akan jadi penurut meski kau tahu hatimu memberontak?” tanyanya. Camila tampak makin bingung, “lantas, sekarang aku harus bagaimana, Megan, aku sudah terlanjur menikah dengan Rustam dan hubunganku dengan Leon sudah benar-benar berakhir, kau ingin aku meninggalkan Rustam dan mencari Leon untuk kembali padanya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD