Megan menghela napas sambil geleng-geleng kepala, “astaga, aku punya teman yang sangat cantik tapi dia juga sangat bodoh,” gerutunya lirih sementara Camila kini malah planga-plongo seperti orang yang sungguh bodoh.
“Menurutmu apa yang lebih mungkin kau lakukan sekarang?” tanya Megan.
Camila melipat bibirnya seraya membatin, “mulai mencintai Rustam.”
“Benar, kau harus belajar mencintai suamimu!” seru Megan seakan mendengar apa yang Camila pikirkan, “ya, Tuhan, aku sangat terkejut saat kau bilang dia tidak menyentuhmu hanya untuk menghormati perasaanmu padahal dia suamimu sekarang,” pujinya, “kalau kau biarkan terus suatu hari dia pasti akan lari mencari gadis lain,” sambungnya.
“Kau ini bicara apa?” gerutu Camila.
Megan menaikkan sebelah alisnya, “kenapa? Itu mungkin saja terjadi, meski dia tidak setampan Leon tapi dia jauh lebih kaya, coba pikir, gadis mana yang tak akan mau dengannya?” ujarnya kemudian tersenyum menggoda “kalau saja kau benar-benar meninggalkannya aku akan langsung datang melamarnya.”
“Apa sih, kau ini, jangan asal bicara,” protes Camila.
Megan terkekeh geli kemudian berkata, “nanti bilang saja, ya, kalau kau memang tidak membutuhkannya.”
“Ah, kau ini,” Camila ikut tersenyum geli.
***
Setelah sampai di rumah Camila terus memikirkan kata-kata Megan padanya. Dilihatnya kembali suasana rumah indahnya yang benar-benar berbeda setelah tak ada Rustam. Entah kenapa kini bukan saja rumah itu yang sepi tetapi juga hatinya.
Sekarang ia harus makan sendirian di meja makan dan pergi ke ranjang tanpa melihat Rustam ada di sampingnya. Ah, mengapa dirinya? Mungkinkah ini Rindu? Tetapi, bukankah cintanya sudah habis untuk Leon saja?
Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu dan Camila benar-benar tersiksa dengan perasaannya sendiri. Hingga suatu hari ia menghubungi Megan di tengah malam. Cukup lama ia menunggu jawaban karena sudah tentu Megan sudah tidur dan suatu hal yang konyol bagi Camila yang menghubungi wanita independen itu tengah malam begini.
“Halo, siapa?” jawab Megan akhirnya dengan suaranya yang parau.
“Halo, Megan, maaf, aku mengganggu tidurmu,” kata Camila.
“Oh, kau rupanya, Camila, ada apa kau malam-malam begini menghubungiku?” tanya Megan.
“Em, sebenarnya aku menanyakan sesuatu padamu, entah kenapa setelah Rustam pergi suasana rumah jadi berbeda padahal semuanya tersedia di sini, menurutmu apa aku merindukan Rustam, apakah mungkin aku mulai mencintainya?” tanya Camila panjang lebar.
Di seberang sana Megan yang matanya masih terasa lengket tiba-tiba mendelik dan benar-benar terbangun, “astaga, Camila, kau menghubungiku tengah malam begini hanya untuk menanyakan hal itu?” omelnya, “kau kan sudah dewasa, harusnya kau tahu perasaanmu sendiri,” lanjutnya.
“Ya, aku hanya tidak yakin...” belum selesai Camila bicara sudah dipotong oleh omelan Megan lagi.
“Ya, ampun, Camila, besok jam 7 pagi aku harus sudah sampai di bandara untuk menjemput klienku dan aku baru tidur 1 jam lalu karena aku menyiapkan berkas yang harus kubawa.”
“Tapi, tapi, barang kali kau bisa lebih membuatku yakin dengan perasaan ini,” kata Camila dengan lugunya.
“Astaga, Camila kau masih menanyakannya, tanyakan pada dirimu sendiri, aku mau tidur!” seru Megan dengan kesal kemudian menutup telepon.
Camila terkejut karena telepon tiba-tiba dimatikan. Ia merengut karena kesal tetapi kemudian menyadari salahnya sendiri karena mengganggu jam tidur orang lain. Apalagi Megan, perempuan galak yang sibuk itu, dia akan langsung marah-marah kalau sampai waktu tidurnya diganggu.
Kini Camila malah semakin resah dan gelisah. Ia coba untuk berbaring tapi malah semakin terjaga. Matanya tak bisa menutup karena jika tertutup bayangan Rustam akan hadir di dalamnya.
Ia coba untuk keluar ke balkon memandangi pemandangan danau di malam hari dari sana. Cahaya bulan sabit jatuh menimpa air danau dan memantulkannya ke sekitar sehingga danau yang sebenarnya muram itu tampak lebih cantik.
Camila jadi merasa seperti danau itu dan Rustam adalah bulan sabut di atas sana. Menyinarinya dengan cahaya sehingga malamnya tidak kelabu. Perempuan itu memejamkan mata ketika hawa dingin mulai membelai kulitnya.
Tiba-tiba desau angin membisikkan nama Rustam ditelinganya. Camila pun terkejut dan langsung membuka mata. Ah, ya, kapan terakhir kali ia memikirkan Leon atau setidaknya mengingat namanya saja?
Sudah berbulan-bulan berlalu sejak Rustam pergi, Camila baru sadar bahwa selama ini ia menantikan suaminya kembali. Entah mengapa ia sangat rindu, ingin cepat-cepat bertemu. Resah, Camila pun kembali ke kamar dan mengambil ponsel. Ia menekan nomor yang entah sejak kapan ia menghafalnya.
Cukup lama Camila menunggu. Tak ada jawaban. Hingga tanpa terasa daftar panggilan di ponselnya sudah dipenuhi oleh nama Rustam. Kecewa, Camila meletakkan ponselnya karena tak kunjung mendapat jawaban. Mungkin Rustam sedang beristirahat atau ia sibuk mengemudikan kapalnya. Camila pun berbaring dan pada akhirnya ia bisa terlelap.
***
Paginya, suara ponsel di sisi bantal Camila berdering membangunkan Camila. Camila melirik ponsel itu dengan mata yang masih mengantuk. Nama Rustam tertera di sana. Cepat-cepat ia menjawab telepon itu. “Halo, Rustam, maaf, aku baru saja bangun tidur,” katanya.
“Halo, Camila, em, apa aku mengganggumu?” Rustam terdengar tak enak di seberang sana.
“Ah, tidak, tidak papa,” jawab Camila.
“Baiklah, aku hanya ingin memberitahu kalau sebentar lagi aku pulang, sebenarnya hari ini aku bisa sampai di rumah tetapi karena cuaca yang buruk sehingga perjalananku harus ditunda, jadi, jika bukan malam ini mungkin besok pagi aku akan sampai di rumah,” tutur Rustam.
Tiba-tiba hati Camila membuncah seperti mendapat hadiah yang paling dia inginkan, “sungguh? Kau benar-benar pulang?” ia tak bisa menahan rasa bahagianya.
“Iya, em, kalau kau mau aku ingin mengajakmu jalan-jalan setelah aku pulang, kau mau kan?” tanya Rustam tampak ragu.
“Tentu saja aku mau!” seru Camila kemudian tersadar betapa senangnya dia hingga ia tersipu malu karena Rustam mendengar betapa bahagia dirinya.
Di seberang sana Rustam pun tersenyum senang karena ajakannya tak mendapat penolakan, “baiklah, aku akan tutup teleponnya,” katanya yang sebenarnya ragu untuk mengakhiri telepon itu.
“Ya, em...sampai jumpa, Rustam,” ucap Camila malu-malu.
“Sampai jumpa, Camila,” jawab Rustam kemudian telepon benar-benar berakhir.
Camila melompat-lompat di atas kasur saking senangnya. Kemudian ia menyadari tingkah konyolnya. Kenapa dirinya bisa sesenang ini mendengar Rustam akan pulang. Apakah benar ia telah jatuh hati pada Rustam?
***
Seharian Camila menunggu kedatangan Rustam. Berkali-kali ia bolak-balik ke ruang tamu berharap pintu rumahnya akan diketuk oleh Rustam sehingga ia bisa cepat-cepat membukanya dan langsung bertatap muka dengan suaminya.
Tetapi hingga hari telah gelap belum juga ada suara ketukan pintu. Padahal Camila sudah berdandan dan memakai pakaian yang bagus. Rambutnya sekarang sudah berantakan dan warna lipstiknya juga sudah memudar.
Camila sudah lelah mondar-mandir di ruang tamu dan ia duduk di sofa. Rasa kantuk mulai memberatkan matanya. Hampir saja ia tertidur di sofa itu tetapi kemudian rasa kantuknya terusir oleh suara ketukan pintu.
Camila mengerjap dan langsung berlari ke pintu besar itu. Ia membukanya lebar-lebar dan matanya seketika berbinar kala menemukan orang yang selama ini ia rindukan ada di depan mata.
“Rustam, akhirnya kau pulang juga,” kata Camila.
Rustam tersenyum, “apa kau menungguku?” tanyanya ragu karena dalam benaknya masih terpikir bahwa Camila tak mencintainya.
Camila tertunduk malu, “ya, aku menunggumu sejak tadi,” jawabnya kemudian menyadari bahwa ia belum merapikan penampilannya yang sudah berantakan sejak tadi. “Ah, maaf, rambutku berantakan,” katanya lirih.
“Tidak papa, lagi pula kau selalu cantik,” puji Rustam yang entah kenapa merasakan sebuah getaran hebat melihat Camila yang malu. “Ayo, masuk,” ajaknya seraya menyeret kopernya.
Tetapi, tiba-tiba Camila menggenggam lengan Rustam sehingga pria itu pun berhenti. “Tunggu, Rustam!”
“Ada apa?” tanya Rustam.
“Aku...” Camila tak pernah merasa semalu ini sebelumnya, bahkan pada Leon. Seperti ada sesuatu di dalam dadanya yang akan meledak seiring dengan kata-kata terbata yang keluar dari mulutnya. “Em, aku...aku mencintaimu, Rustam,” ungkap Camila akhirnya.
Rustam terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa. Matanya berbinar-binar dengan senyum bahagia mengembang dibibirnya. Tangannya yang memegangi koper melepas benda kotak hitam itu dan dibiarkan jatuh ke lantai. Kini kedua tangannya beralir menangkup wajah Camila yang cantik. “Benarkah itu, aku tidak sedang berhalusinasi?” tanyanya.
Camila mengangguk malu, “aku mencintaimu, suamiku,” ulang Camila lebih keras.
Rasa bahagia meluap-luap didada Rustam. Ia pun memeluk Camila erat-erat. Ia menciumi kening Camila, pipinya, kemudian berakhir di bibir ranum perempuan cantik itu. Dengan ciuman itu pula hati Camila jadi merasa lega karena apa yang bersarang di sanubarinya kini telah terbebas membawa kebahagiaan yang luar biasa melimpah.
“Malam ini akan aku serahkan mahkotaku,” ujar Camila.
Rustam semakin merasa bahagia. Akhirnya ia akan meneguk madu cinta yang manisnya tiada tara itu. Ia pun langsung meraih tubuh Camila dan menggendongnya sambil berkata, “permaisuriku.”
Camila pun melingkarkan kedua tangannya dileher Rustam, pasrah di bawa Rustam menuju kamar pengantin yang selama ini hampa karena tiada kasih antara Rustam dan Camila sebagai pengantin baru.