“Lo yakin mau pulang sekarang, Jake?” Entah sudah ke berepa kali Jay menanyakan hal tersebut, sejak Jake mengutarakan keinginannya untuk pulang tadi pagi.
Jake mendengus sebal. “Iya. Stop nanyain hal itu terus, gue bosen dengernya.”
“Ya tapikan lo masih perlu dirawat, Jake.”
“Jay, gue bosen di rumah sakit oke? Lagian dokternya juga udah ngebolehin gue balik, asal di rumah gue tetap isirahat dan rutin minum obat.”
Jay berdecak. “Ya iya di izinin, orang lo nya yang ngeyel mau pulang.”
Jake mengedikkan bahunya tak acuh, sibuk memasukan kancing baju ke lubangnya.
“Tapi lo janji ya, lo nggak akan banyak tingkah dan jangan lupain obat lo.”
Jake memandang aneh ke arah Jay. “Perhatian banget sih lo. Berasa pacar tahu nggak.”
Jay bergidig. “Idih, amit-amit. Maaf ya, gue masih suka cewek. Lagian lo harusnya bersyukur punya temen yag perhatian kayak gue. Ada di saat suka dan duka.”
Jake memutar bola matanya. “Ya-ya, terserah lo deh.”
Tidak lama kemudian, Jake selesia dengan persiapan pulang. Namun mendadak, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Jay membukannya, dan ternyata salah satu guru yang dekat dengan Jake datang menjenguk. “Loh, Jake, kamu udah mau pulang?” Jake mengangguk, tersenyum sekenanya. “Iya, Bu Mita Saya udah mendingan jadi udah dibolehin pulang.”
Ibu Mita memandang Jake sejenak, lalu mengangguk paham. Ia pun menyerahkan sebingkis buah-buahan. “Ini dari ibu dan guru-guru yang lain. Cepat sembuh ya, Nak. Dan Ibu juga turut berduka atas apa yang menimpa kedua orang tuamu, ya. Ibu harap kamu bisa tabah.”
Kening Jake sontak menunjukan lipatan. Ia sama sekali tak paham maksud Ibu Mita berkata demikian. Jelas, ada sesuatu yang telah ia lewatkan selama ia dirawat kemarin. Bola mata Jake praktis bergulir kearah Jay. Pandangannya menuntut penjelasan, tetapi Jay justru mengalihkan tatapannya. Melihat reaksi Jake yang demikian, Ibu Mita segera paham, bahwa Jake belum mengetahui apa pun. Seketika ia jadi merasa bersalah.
“Eun, Jake. Sepertinya Ibu nggak bisa lama-lama. Ibu ada urusan, kamu cepat pulih, ya. Ibu pergi dulu.” Wanitu itu berbalik, dan sedetik setelah tubuhnya menghilang di balik pintu. Jake mengikis jarak antara dirinya dan Jake. Sorotan pemuda itu, menajam dengan rahang yang mengeras. “Apa maksud, Bu Mita tadi? Kenapa dia ngucapin bela sungkawa ke gue?” Jay melarikan pandangannya. Jake pun lantas meremas kuat pundak temannya itu. “Jawab gue Jake!” sentak Jake kalut. “Apa sebenernya yang terjadi, hah?!”
Jay lantas memberanikan diri menatap manik Jake. “Gue akan jelasin, Jake. Tapi sebelum itu, lo harus ikut gue pergi ke suatu tempat.”
Jake mendengus, seraya menghempaskan pundak Jay. Menampik semua asumsi yang kini memenubi kepalanya.