Tiga

1000 Words
“Waktu gue dapet kabar dari pihak rumah sakit kalau lo dirawat di sana, di saat yang bersamaan sebenernya gue juga dapat kabar kalau kedua orangtua lo ngalamin kecelakaan tunggal. Awalnya gue pikir lo dirawat karena kecelakaan itu, tapi sampai rumah sakit akhirnya gue tahu penyebabnya bukan hal yang sama.” Jay melirik Jake yang Cuma menatap kosong nisan kedua orang tuanya. Jay menggigit bibirnya, agak ragu sesungguhnya mengatakan hal selantunya. Namun ia harus, ia tak bisa menyembusnyikannya, dan Jake berhak tahu. “Tapi hasil autopsi dari kepolisian menyatakan, kedua orang tua lo sudah meninggal semenit sebelum kecelakaan itu terjadi.” Pernyataan Jay yang satu itu total menarik perhatian Jake. Jay pun melanjutkan. “Mereka meninggal karena bunuh diri, Jake. Overdosis.” Jake tak tahu lagi harus bereaksi bagaimana. Segalanya terlalu mendadak baginya. Setelah semua fakta yang ia peroleh dari Dani kemarin, setelah semua luka yang ia peroleh. Lalu sekarang ini? Orang tuanya yang dinyatakan meninggal bunuh diri overdosis obat? Jake rasanya tak mau memercayai itu semua, tapi itulah fakta pahit yang harus ia terima. Satu hal yang terasa janggal baginya adalah, untuk apa ayah dan ibunya melakukan itu? Setahunya, tidak ada alasan bagi mereka untuk mengakhiri hidup dengan cara demikian. Atau barangkali, Jake hanya tidak tahu? Jay meremat pundak Jake. “Maaf karena baru ngasih tahu lo sekarang, karena gue nggak mau kondisi lo drop kemarin kalau ngeder berita ini.” Jate tetap bungkam. * Mengapa ayah dan ibu melakukan itu? Mengapa mereka tega meninggalkan Jake sendirian? Pertanyaan-pertanyaan yang terus menerus berputar di kepala Jake, akhirnya kini terjawab ketika Jake sampai di kediamannya dan menemukan beberapa orang pria mengangkut properti rumahnya. “Jake Shine?’ tanya pria paruh baya gendut yang kala itu menghampirinya yang hanya mampu berdiri linglung di depan pintu rumahnya. Jake memerhatikan orang itu sejenak, sebelum mengangguk pelan. “Maaf karena harus mengatakan hal ini, Anak. Tuan Shine memliki banyak hutang yang tidak sanggup ia bayar selama bertahun-tahun dan sepertinya tidak akan pernah ia lunasi? Jadi dengan terpaksan kami harus menyita semua properti yang ia miliki.” Jake masih mengunci bibirnya rapat-rapat. Jadi karena ini? Karena tidak sanggup melunasi seluruh hutangnya, mereka memilih kabur? Meninggalkan Jake yang barangkali bisa saja menjadi gelandangan setelah ini? Jake terkekeh kecil, tidak tahu ia harus sedih atau mengumpat saat ini. Pria paruh baya tadi yang melihat Jake demikian, Cuma menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. Karena semua itu, maka di sinilah Jake berakhir sekarang. Di rumah sederhana keluarga Jay, yang dengan senang hati memberikannya tumpangan gratis sehingga Jake tidak harus berakhir di jalanan. Kini benak Jake dipenuhi dengan pikiran-pikiran, apa yang harus ia lakukan? Langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya? Jake tentu tidak bisa menumpang di rumah Jay selamanya. Jake bahkan tak memiliki waktu untuk berduka, lantaran kemelut benaknya itu. “Gue tahu lo lagi mengkhawatirkan banyak hal sekarang.” Lamunan Jake terbuyar, begitu Jay bersuara. “Tapi, Jake ada satu hal yang harus lo yakinin. Kalau semesta ini punya banyak rencana. Sekarang mungkin lo kehilangan banyak hal, tapi besok siapa yang tahu kalau lo bisa saja mendapat hadiah yang nggak pernah terpikirkan sebelumnya.” Jake bungkam. Jay lalu menarik selimut seraya berkata. “Istirahatlah, Jake. Lo perlu banyak tenaga buat menghadapi dunia yang baru esok hari.”   Sewaktu Jake bangun, jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Jay sudah tak terlihat di sampingnya saat itu. Orang tua Jay juga tak terlihat di mana pun. Barangkali bekerja, atau memiliki urusan lain. Mereka meninggalkan jake sendirian, dengan sepiring nasi goreng yang ditinggalkan di atas meja makan. Jake memutuskan memakannya, demi menghargai usaha ibu Jay. Tak tahu harus melakukan apa, Jake lantas memutuskan berjalan-jalan tanpa arah. Ia hanya akan mengikuti ke mana langkahnya membawanya pergi. Selama berjam-jam Jake tak mengistirahatkan kakinya. Dari matahari masih terik bersinar sampai nyaris tenggelam di ufuk barat. Pada satu titik, Jake melihat sebuah bangunan tua kosong. Entah dorongan dari mana, ia lantas memilih memasuki gedung itu. Ditemani cahaya temani bias cahaya dari gedung di sebelah, Jake menyusuri gedung tua tersebut. Sampai akhirnya ia sampai di atap gedung itu. Embusan angin langsung menampar kulitnya di detik pertama ia menginjakan kakinya di sana. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam saat Jake sampai, membiarkan malam menguasai langit. Dari atap itu, Jake dapat menyaksikan betapa padatnya kota tempat ia tinggal. Saking padatnya, sampai-sampai rasanya tak ada celah untuk bernapas. Tanpa pemuda itu sadari, langkahnya terus maju. Berhenti di tepi gedung. Pandangan Jake otomatis mengarah ke bawah. Entah berapa meter tingginya, dan entah bagaimana rasanya jatuh dari atas sini. Pemuda bersurai lebat itu, menarik napas dalam-dalam. Merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, seolah-olah tengah menyambut udara agar dapat lebih leluasa menerpanya. “Apa, bakal lebih baik kalau seandainya gue mati juga? Kayak mama dan papa,” bisik Jake pada dirinya sendiri. Keinginan untuk menyusul kedua orang tuanya mendadak tumbuh. Ia tak memiliki apa pun lagi. Tak akan ada yang menangisinya bila ia pergi. Barangkali Jay akan menangis, tapi itu tak akan berlangsung lama. Malah sebaliknya, jika Jake pergi ia tak harus membebani siapa pun lagi karena harus mengurusinya. Ya, mungkin ini adalah pilihan yang tepat. Sebab selain itu Jake bisa mengutarakan kekecewaannya pada kedua orang tuanya di dunia itu. Dunia tempat mereka yang telah tiada pergi. Itu pun bila tempat itu memang benar-benar ada. Jake kembali menengok ke bawah. Mensugestikan pada dirinya sendiri kalau itu tidak akan sakit. Semuanya akan terjadi dengan cepat, dan tanpa Jake sadari rasa sakit itu sudah hilang. Jake baru saja menggeser telapak kakinya mendekati pinggir gedung, ketika tiba-tiba saja manik matanya menangkap sesuatu yang aneh di bawah sana. Sesuatu yang bersinar. Awalnya redup, tetapi semakin lama Jake memerhatikannya, cahaya itu semakin terang. Satu hal yang membuat Jake terperanjat adalah sewaktu cahaya itu melesat dengan kecepatan kilat menyambar tubuhnya. Sampai-sampai tubuh Jake terhempas menabrak dinding yang berjarak beberapa meter di belakangnya. Napas Jake tertahan, begitu rasa nyeri mengaliri punggungnya. Pening menghampiri kepalanya, sehingga ia harus ambruk. Sedetik sebelum kegelapan menguasainya, penglihatannya menangkap sesuatu yang tak bisa diterima oleh nalarnya. Yaitu ketika cahaya tadi yang mulai berubah ke suatu wujud yang tak begitu jelas Jake lihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD