“Ini semua karena mu, Yok. Sudah kubilang harusnya kau hati-hati!” Samar-samar Jake mendengar seruan-seruan galak itu. Dari warna suaranya, sepertinya seorang wanita. Kemudian selanjutnya terdengar suara yang tak kalah galak, tetapi dengan jenis suara yang lebih berat, suara seorang lelaki. “Haduh, mana aku tahu kalau dia akan terpental dengan mudah begitu. Dia jauh lebih lemah dari bayanganku.”
Detik beerikutnya terdengar bunyi pukulan, diiringi ringisan. “Haduh, kenapa memukul, sih?”
“Itu salahmu, bodoh. Berhenti mencari-cari alasan. Lakukan sesuatu cepat, supaya dia sadar.”
“Haduh, tenang saja, Yik. Dia Cuma pingsan, tidak mati.” Kembali terdengar pukulan. “Sebentar lagi juga dia sadar. Nah lihat-lihat, matanya bergetar. Sepertinya sebentar lagi ia akan siuman.”
Jake membuka kelopak matanya perlahan, masih ada sedikit pening yang mengiringi. Waktu penglihatannya sudah jernih sepenuhnya, Jake dikejutkan oleh dua makhluk kecil yang tengah menatapnya lekat-lekat. Sontak Jake meloncat bangun. “Siapa kalian?” Jake menatap keduanya silih berganti. “Apa mungkin... kalian hantu penunggu gedung ini.”
Salah satu makhluk berambut berdiri kaku ke atas, tanpa atasan, serta celana bercorak kulit harimau, membisiki teman di sebelahnya yang berambut ikal panjang. “Kau yakin dia orangnya? Dia terlihat bodoh.” Jake kontan mendelik mendengarnya, sementara sosok itu mendapat sikutan di perutnya.
Sosok berambut ikal dengan pakaian seperti jaket bulu, melangkah sejengkal. “Perkenalkan, aku Yik si kurcaci, dan dia Yok si kurcaci juga. Dia saudaraku, kami di sini untuk menjemputmu, Pangeran.”
Jake mengerutkan keningnya dalam. Tidak dapat memahami maksud perkataan sosok itu. Apa kata mereka barusan? Mereka kurcaci? Jake mengedarkan pandangannya ke sekitar, lalu meraba-raba tubuhnya. “Apa aku sudah mati?” Kedua makhluk itu saling beradu pandang. “Apa sekarang aku berada di surga.” Jake menggeleng. “Tidak, tidak. Aku tidak mungkin berada di tempat itu. Lalu apa ini neraka? Tapi tempat ini sangat mirip dengan tempat aku mencoba bunuh diri tadi.”
“Sudah kubilang, dia itu bodoh. Sepertinya kita salah orang, ayo kita pergi,” ujar si rambut berdiri kaku yang tadi dikenalkan bernama Yok, mencoba meraih lengan temannya tapi tidak sempat karena Yik keburu maju selangkah lagi. Yik mengulas senyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang besar. “Kau tidak mati, Pangeran. Aku tahu pasti sangat sulit bagimu memahami ini semua. Jika aku diposisimu aku mungkin akan bereaksi sama, atau bahkan lebih,” tutur Yik. “Aku akan coba jelaskan semudah mungkin. Kami berasal dari dunia yang berbeda dari dunia ini. Negeri tempat kami tinggal disebut, I-Land. Dan kau adalah pangeran dari negeri kami. Sembilan belas tahun lalu Raja Ok, ayahmu, mengirimmu ke dunia ini. Dan sekarang kami di sini bertugas menjemputmu, karena tanggung jawab besar sudah menantimu di dunia kami. Ah, tidak, maksudku di dunia kita.”
Jake terdiam. Tidak satu pun dari penuturan Yik yang bisa diterima oleh akal sehatnya. Jake pikir makhluk itu baru saja mendongeng.
“Kemarilah, Pangeran. Sekarang sudah waktunya kau kembali.”
Jake memandang uluran tangan Yik. “Lo pikir gue percaya sama omong kosong kalian? Denger, hari gue sudah cukup berat, lebih baik kalian cari orang lain untuk kalian ajak bermain.” Setelah berkata demikian, Jake melenggang pergi. Akan tetapi kedua makhluk itu keras kepala, terus mengikutinya. Merasa muak, pada langkah kesekian Jake menghentikan langkah, dua makluk itu turut berhenti. “Berhenti ngikutin gue, oke? Sana cari orang lain buat lo ajak main.”
“Kami tidak pernah bermain-main, Pangeran. Sejak pertama kami memutuskan menjemputmu, kami datang dengan kesungguhan.”
Jake mendengkus, lalu tak sengaja pandangannya menemukan pos polisi tidak jauh darinya. Jake lantas menghampiri salah satu polisi yang sedang berjaga. “Pak,” panggil Jake, dan polisi itu menoleh. “Bisa bantu saya? Dua anak ini dari tadi terus mengganggu saya.” Polisi itu melirik ke arah tunjukan Jake, lantas menghela napas panjang. Namun respon polisi tersebut, tidak seusai ekspetasi Jake. “Pergilah, Anak. Jangan mengganggu tugasku. Ini bukan pekerjaan main-main.”
“Bukan, bukan aku. Tapi mereka. Lihat, mereka bahkan mencoba menakut-nakutiku dengan memakai kostum begitu.” Jake mencoba menjelaskan pada polisi tersebut. Namun tampaknya pokisi itu tak kunjung memahami maksud Jake. Sementara Yok yang melihat usaha Jake, menguap lebar. Tak lama kemudian polisi lainnya muncul.
“Ada apa?”
“Bukan apa-apa. Hanya remaja nakal lainnya yang mencoba membodohiku dengan mengatakan kalau ia diganggu oleh dua anak kecil. Bagaimana mungkin dia berpikir aku akan percaya, ketika dia terus menunjuk-nunjuk udara kosong dari tadi.”
Bola mata Jake agak membesar mendengarnya. Ketika ia hendak menyanggah pernyataan polisi itu, Yik menahan lengannya. “Hentikan, Pangeran. Kau hanya akan membuat dirimu terlihat semakin bodoh di mata mereka. Karena memang tanpa seizin kami, tak satu pun manusia di dunia ini bisa melihat kami.”
Jake sungguh ingin membenturkan kepalanya detik itu juga.