Lima

1127 Words
“Eum, Mas-mas.” Jake menghampiri seorang pemuda yang tampak beberapa tahun lebih tua darinya. Lelaki itu baru saja ke luar dari sebuah mini market. Lelaki dengan jaket kulit serta celana jeans belel itu memandang penuh tanya ke arah Jake, yang notabenya orang asing, yang tiba-tiba memanggilnya. “Maaf ganggu waktunya sebentar. Saya mau nanya, apa Mas bisa ngelihat dua anak kecil yang berdiri di belakang saya?” Sebelah alis tebal pria asing itu terangkat. Bola matanya bergulir menuju arah yang di tunjukkan Jake. Di sana dua makhluk kerdil berdiri. Yik yang stagnan, sementara Yok yang menguap bosan. Ia lelah melihat aksi Jake yang baginya sangat konyol nan bodoh, sebab orang ini sudah orang kesekian yang pemuda itu lempari pertanyaan serupa. “Apa maksud lo?” Lelaki itu lantas bertanya dengan aksen agak nyolot. Ia maju selangkah. “Lo mau nakut-nakutin gue? Nggak ada siapa pun di situ!” Jake berjengit. Sepertinya kali ini ia bertanya pada orang yang salah. “Eh nggak Mas. Maaf ya, Mas.” Jake buru-buru mgacir dari sana sebelum skenario selanjutnya memburuk. Pemuda dengan bibir tebal itu menarik tungkai kaki memasuki mini market hendak memberi minuman. Tenggorokannya kering omong-omong. Jake pun langsung bertandang ke bagian minuman, membuka lemari pendingin dan menyomot sebotol minuman bersoda berwarna gelap. Yik dan Yok yang baru kali pertama melihat hal-hal itu, menampilkan raut penasaran. Bola mata mereka yang irisnya berwarna hijau pekat berpendar ke segala sudut, kuriositas mereka yang sedari tadi membumbung tinggi makin-makin meluap-luap. Yok hendak meraih sebuah botol yang di dalamnya berisi air berwarna kuning terang yang sedari tadi menarik perhatiannya—sebab warnanya persis air seni troll, tapi belum juga ujung jari gempalnya menyentuh sisi botol yang berembun, Jake tahu-tahu menggeplak punggung tangannya. Membuat kurcaci itu mendelik tidak suka. “Hei kenapa memukul?!” serunya tak terima. “Kalian makhluk jadi-jadian jangan coba-coba sentuh apa pun di sini,” geram Jake. Salah satu karyawan yang sedang menata camilan ke dalam rak, memandangnya aneh sebab di penglihatannya Jake tampak berbicara sendiri. Merasa di perhatikan, Jake pun menoleh lalu melempar senyum canggung. Ia buru-buru melangkah pergi ke kasir dengan perasaan dongkol. Orang tadi pasti sudah menganggapnya gila karena berbicara sendiri. “Berhenti, Yok. Kau tahu kita tidak boleh membuat kerusuhan di sini. Ingat tujuan awal ke sini hanya untuk membawa pangeran kembali.” Jake kontan mendengus mendengar penuturan Yik pada Yok. Pangeran-pangeran. Sejak kapan pula ia menjadi pangeran. Ia ini cuma pemuda biasa yang baru saja di tinggal bunuh diri oleh kedua orang tuanya, dan sekarang tidak tahu harus berbuat apa untuk menyambung hidup selain menjadi parasit sahabatnya, Jay. Penjaga kasir perempuan yang sedang memindai barcode botol minuman Jake, melirik pemuda itu dengan sorotan rikuh. Mengira dengusan tadi di tujukan untuknya. “Ya, ya. Aku tahu, Yik. Berhenti mengingatkan ku tentang hal itu terus,” sahut Yok setengah bodo amat, dan setengah pundung. Ia melipat lengan di depan d**a, membuang muka. “Ini saja, Mas? Mau tambahan pulsanya?” Jake menggeleng atas pertanyaan yang si kasir berikan. “Totalnya tiga ribu delapan ratus rupiah, Mas.” Jake merogoh sakunya. Mengeluarkan selembar uang lima ribuan, lalu merogoh saku lainnya sebab seingatnya ia punya beberapa uang receh di sana. Jake pun menyerahkan delapan ratus rupiah itu, yang terdiri dari satu uang koin lima ratusan, satu koin dua ratusan, dan satu seratusan kepada kasir tersebut. Di saat seperti ini ia harus sebisa mungkin menekan pengeluaran. Jake menerima kembalian sebesar dua ribu rupiah, lalu segera melenggang pergi. Yik dan Yok masih setia mengekorinya. Ia memutar tutup botol, langsung meneguk air di dalamnya penuh nafsu. Dari sudut matanya ia dapat melihat dua makhluk aneh itu menatapinya tanpa kedip. Jake menelan tegukan terakhir seraya memikirkan cara-cara supaya bisa terlepas dari makhluk aneh tersebut. Tangan kanannya meremas botol minuman, lalu melemparkannya ke dalam tong sampah yang berada di belakang tubuh Yik dan Yok. Botol itu melayang di atas kepala mereka, lalu masuk dengan mulus ke tong sampah. “Hei, dengar.” Yik semakin menatap Jake intens dengan pandangan berbinar-binar serupa anak kecil yang baru saja diberi permen, sesuatu yang sesungguhnya membuat Jake tak nyaman. Sementara Yok cuma meliriknya tanpa minat. “Tadi kalian bilang, kalian ingin membawa gue bersama kalian kan?” Yik mengangguk-nganggukan kepalanya semangat. Jake ngeri kepala itu bisa copot saking kerasnya makhluk itu menggerakan kepalanya. “Baik. Gue akan ikut dengan kalian—“ “Benar kah?!” Yik tahu-tahu memotong kelewat antusias. Suaranya yang cempreng membuat Yok yang bediri di sebelahnya kontan menutup telinga seraya memberengut. “Benar kah, Pangeran mau ikut dengan kami kembali. Kalau begitu ayo, kita kembali sekarang juga. Kita harus bergegas, Pangeran.” Yik meraih pergelangan tangan Jake. Tanpa aba-aba langsung menyeret pemuda itu, tetapi Jake sigap menahannya. “Et-et. Bentar dulu. Gue kan belum selesai ngomong. Jangan asal serobot gitu dong,” sungut Jake seraya melepaskan cengkraman Yik dari pergelangan tangannya. Lumayan kuat juga. “Tapi tadi, Pangeran mengatakan mau ikut dengan kami.” Yik mendadak menjadi agak muram. “Iya. Tapi ada syaratnya.” “Syarat? Apa syaratnya.” Yok mendengus. Jake belum sempat mengutarakan syarat tersebut, Yok tahu-tahu menyerobot. “Sudah lah, Yik. Terlalu lama, kita seret saja dia sekarang. Maka masalah bisa selesai dengan cepat.” Jake memelot, menatap makhluk yang sedari tadi bertindak menyebalkan itu dengan sengit. Yok menatapnya tak kalah sengit. “Yok, tidak bisa begitu. Kita akan membawa Pangeran, tanpa menyakitinya,” tolak Yik tak setuju. Yok mengedikkan bahu tak acuh. “Aku hanya tak yakin dengan syarat yang akan orang ini berikan. Dia ini aneh, syaratnya pasti tidak mungkin normal. Dari pada menyusahkan kita lebih lama, lebih baik menyeretnya, bukan?” Jake mengacungkan telunjuknya pada makhluk pendek yang baru saja menyebutnya aneh. “Dengar ya, sampai kapan pun gue nggak akan pernah mau ikut kalian. Kalau makhkuk jelek satu ini tidak mau kooperatif. Lebih baik kalian pergi dari sini sekarang juga. Hush-hush.” Setelah berkata demikian dengan nada suara yang agak keras, sampai beberapa orang yang berada di sekitarnya menoleh dengan pandangan prihatin serta ngeri, Jake langsung melenggang pergi dengan langkah lebar begitu saja. “Kasian anak itu, padahal masih muda.” “Benar. Aku harap dia bisa cepat sembuh.” “Ibu, kakak itu tadi bicara dengan siapa?” “Bukan siapa-siapa, Nak. Tidak usah di pikirkan ya, itu tidak baik. Ayo kita pergi.” Demikian beragam komentar orang-orang di sana, yang malas Jake hiraukan. Sementara di sisi lain, Yik memukul belakang kepala Yok keras, sampai-sampai nyaris membuat saudaranya itu terseungkur. “Aduh! Kau apa-apaan sih?!” Yik memelotot garang. “Kau yang apa-apaan?! Kenapa berkata begitu pada, Pangeran?! Lihat pangeran menjadi semakin menjauh! Kita di sini tidak sedang bermain-main Yok. Kita harus segera membawa Pangeran kembali sebelum semuanya terlambat.” Selanjtunya Yik berlari menyusul Jake. Meninggalkan Yok yang masih sibuk mengusap-usap bagian kepalanya yang nyut-nyutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD