Enam

1001 Words
Jake tidak menyiakan-nyiakan kesempatan. Ia memanfaatkan kesempatan tadi untuk kabur dari dua makhluk tadi. Kedua tungkai kakinya ia pacu secepat mungkin menuju rumah Jay. Sesekali ia melihat ke belakang, untuk memastikan dua makhluk tadi tidak berhasil mengejarnya. Ia bisa bernapas lega sebab tak menemukan tanda-tanda makhluk itu. Napas Jake terengah-engah sesampainya di depan pagar setinggi dua meter itu. Jake membukanya, lampu-lampu tampak sudah dinyalakan. Itu berarti orang tua Jay atau Jay sudah kembali. Akan tetapi baru saja Jake melangkah tenang, seruan cempreng yang tidak asing mengejutkannya. Ia menoleh menuju sumber suara dan menemukan YIk berdiri di sana, di belakangnya Yok menyusul. “Kalian? Kalian kenapa bisa tiba-tiba ada di sini?” Yik mengerjap-ngerjap. “Tentu saja kami mengikuti, Pangeran. Kenapa Pangeran terllihat kaget sekali seperti itu.” “Tentu saja dia kaget, dia kan mau kabur dari kita,” celetukan Yok, membuat Yik memandangnya penuh penuntutan. Jake di bikin tak nyaman karenanya, ia merasa seperti pihak bersalah di sini. Padahal ‘kan tidak begitu. “Terus memang kenapa kalau gue mau kabur dari kalian? Salah gue? Dengar ya, kalian ini cuman makhluk aneh yang tiba-tiba muncul lalu memanggil gue dengan sebutan Pangeran-pangeran.” Jake menirukan intonasi suara Yik saat mengatakannya. “Dan meminta gue untuk ikut dengan kalian entah ke mana itu. Kalian pikir siapa yang nggak akan kabur gara-gara itu. Siapa yang bisa memastikan kalian nggak akan macam-macam sama gue. Terlebih setelah apa yang makhluk jelek itu katakan.” Jake menunjuk Yok. Jake menghela napasnya panjang. Repetannya membuat dua makhluk itu cuma bisa terdiam. “Dengar baik-baik. Gue baru saja mengalami hal tidak menyenangkan kemarin. Kehilangan kedua orang tua gue karena bunuh diri bukan lah hal yang mudah di terima.” Entah mengapa Jake tiba-tiba mengatakannya. “Jadi gue mohon sama kalian, cari orang lain untuk kalian ajak bermain-main. Gue sudah cukup lelah dengan rentetan peristiwa nggak terduga yang menimpa ku kemarin.” Yik dan Yok bergeming. Mereka cuma memandangi Jake dengan pandangan yang sullit di artikan. Jake baru saja hendak memutar tubuh, ketika suara sahabatnya mendadak menginterupsi. “Jake?” Jake menoleh, dan menemukan Jay sudah berdiri beberapa meter darinya. Entah sejak kapan pemuda itu sudah berdiri di sana. “Lo ngapain di sana?” Jake berusaha menarik senyum, ia mengikis jarak dengan Jay. “Nggak ngapa-ngapain, kok. Lo kenapa di sini?” “Gue tadi nggak sengaja lihat lo dari teras cuma berdiri di sini nggak masuk-masuk, jadi gue samperin.” Jake meneliti keadaan sebentar. Sepertinya Jay tidak mendengar saat ia mengomel sendiri tadi. Jake mengudarakan tawa yang malah terkesan canggung. “Haha. Bukan apa-apa, kok. Tadi gue nggak sengaja lihat kodok lagi kawin.” Jay mengernyit. “Ngapain lo nontonin kodok kawin?” “Penasaran aja. Masuk yuk. Kodoknya udah pergi juga.” Jake menarik Jay agar pergi dari sana. Ia sempet melirik sekilas ke arah Yik dan Yok yang ternyata maih staganan di sana. Jake pun mendeliki mereka, delikan pengusiran. “Dasar sinting!’ seru Jay. “Apa sih nggak usah tarik-tarik, gue bisa sendiri.” Jake melepaskan tarikannya, membiarkan Jay berjalan lebih dulu darinya. Sekali lagi ia memeriksa keberadaan Yik dan Yok, dan ternyata mereka sudah menghilang dari sana. Jake menghela napas lega, akhirnya bisa terlepas dari makhluk aneh itu. Ia harap mereka tidak akan muncul lagi. * “Om sama Tante belum balik?” tanya Jake yang tak mendapati tanda-tanda keberadaan orang tua sahabatnya itu. Jay yang sedang di dapur menyahut. “Belum. Katanya balik minggu depan, nenek sakit, jadi mereka ngejenguk. Sekalian mantau proyek Papa yang di sana.” Jay mengeluarkan dua bungkusan, dan menyerahkannya satu pada Jake. “Nih, belum makan ‘kan lo?” Jake menerimanya dengan senang hati. Perutnya memang sudah keroncongan dari tadi. “Makasih. Lo emang sahabat gue yang pengertian.” Jake lantas mengambil piring dan sendork, duduk di hadapan Jake. Bersiap menyantap sebungkus nasi goreng yang menggugah selera. “Emang. Kurang baik apa coba gue jadi sahabat lo.” Jake menyuap satu sendok pertama. “Eh tapi, kok lo nggak ikut jenguk nenek lo sih. Dasar cucu durhaka.” “Yeu, seenaknya. Gue juga pengen ikut. Tapi kata mama-papa nggak usah. Gue perlu fokus belajar biar tembus SBMPTN lo tahu sendiri gue nggak mungkin berharap sama SNMPTN.” Jake manggut-manggut. “Makanya dulu tuh belajar yang bener. Jangan main mulu.” Jay mendengus. “Lo kedengeran kayak nyokap gue, kalau ngomong gitu.” Jake menedikkan bahunya acuh, lanjut menyantap nasi goreng yang tahu-tahu sudah tinggal setengah. “Lo sendiri gimana? Yakin nggak mau lanjut? Nilai lo yang segitu yakin mau lo anggurin?” Jake tak langsung menjawab. Ia menelan gumpalan nasi goreng di tenggorokannya terlebih dahulu, lalu melegakannya dengan seteguk air minum. “Bukannya nggak lanjut, gue cuma ambil gap year. Tahun ini gue mau kerja dulu,” “Lo tahu ‘kan Jake, lo nggak oerlu kayak gitu? Nyokap sama bokap gue pasti dengan senang hati mau bantu lo kok.” Jake menggeleng seraya tersenyum. Menghargai kebaikan keluarga Jay. “Gue tahu, Jay. Gue cuma mau ngelakuin apa yang masih bisa gue lakuin sendiri.” Jay menatap Jake sebentar. Lantas mengangguk paham. “Yah, kalau itu udah keputusan lo sih, apa boleh buat.” “Besok rencananya gue udah mulai nyari lowongan kerja. Kalau lo ada info gitu, langsung kasih tahu gue.” Jay mengacungkan jempolnya. Setelah selesai makan malam, Jake menawarkan diri mencuci piring kotor, sementara Jay pergi membersihkan diri ke toilet. Suasana menjadi sunyi, cuma bunyi gemericik air yang terdengar. Dalam keadaan begini, seluruh rentetan peristiwa yang menimpannya dapat dengan mudah menginvansi relung memorinya. Segalanya terjadi terlampau tiba-tiba sampai Jake kebingungan bagaimana harus mencerna semuanya. Selama ini orang tuanya terlihat baik-baik saja, sampai sulit rasanya Jake menerima kalau mereka memutuskan pilihan egois seperti itu, terlepas dari hutang-hutang yang melilit mereka. Jake meletakan piring terakhir ke dalam rak, seraya mengembuskan napasnya. Mencoba menghilangkan sesak yang mendadak muncul. Tidak ada dua detik dari itu, pencahayaan di seluruh rumah itu mendadak padam, di susul teriakan histeris Jay. “WOY JAKE ANJING IDUPIN LAMPUNYA ANYING! GUE LAGI KERAMAS!!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD