Tujuh

1271 Words
“JAKE ANYING CEPETAN IDUPIN LAMPUNYA WOIII!!” Jay masih setia berteriak-teriak heboh. Rasanya kuping Jake bisa saja jebol gara-gara pemuda itu. Jake juga khawatir kalau dia tidak segera menghentikan aksi cowok itu, bisa saja para tetangga yang lain datang menggerebek mereka. Duh, dasar Jay. Apa sih yang cowok itu pikirin teriak-teriak malem-malem begini. Dewa batin Jake menggerutu sebal. Jake buru-buru mengayunkan tungkai kakinya menuju kamar mandi. Tapi, ya karena gelap gulita alhasil kaki Jake tidak sengaja membentur suatu benda keras, yang Jake tebak adalah kaki meja. Jake meringis kecil, tetapi detik berikutnya kembali di bikin makin pundung gara-gara Jay lagi-lagi berteriak makin heboh. “WOI JAKE KALO DALAM HITUNGAN TIGA LO NGGAK IDUPIN LAMPUNYA, GUE BAKAL KUBUR LO—“ “DIEM ANYING!! NGGAK USAH TEREAK-TEREAK!!” Akhirnya Jake tidak bisa menahan diri lagi membalas teriakan tersebut. “BUKAN GUE YANG MATIIN LAMPUNYA!! INI TUH SATU RUMAH MATI LAMPU!” Jake mengurut-ngurut kakiknya, lantas meraba-raba meja mencari di mana letak ponselnya. “Kok bisa sih mati lampu gini!!” Jay kembali berteriak, tetapi tak sekeras yang sebelumnya. Jake menyahut lagi lebih sewot. “Ya mana gue tahu anying!! Gue bukan petugas PLN!!” Komunikasi dengan cara saling teriak begini membuat Jake merasa kalau mereka ini tidak jauh beda dengan makhluk rimba yang tinggal di hutan. “Ih kok kamu kasar anying-anying!!” Jake memutar bola matanya dongkol. “LO DULUAN YANG NGE ANYING-ANYINGIN GUE YA ASUU!!” Jake menyalakan ponselnya yang akhirnya ia temukan, mengaktifkan aplikasi senter. “Ahh Jake tolongin gue dong!! Terus gue gimana ini!!” “Bodo amat!” sahut Jake tak sungguh-sungguh. Begini-begini dia tidak setega itu membiarkan Jay terjebak di kamar mandi bertemankan kegelapan. Jake baru saja membalikan badannya, dan seketika itu juga sorotan cahaya dari ponselnya memperlihatkan dua sosok makhluk kerdil tersenyum kelewat lebar di hadapannya. “WAA SETAN!!” Jake tak bisa tak terkejut karenanya, alhasil ia melompat mundur dengan delikan mata horor. Tumit kakinya tidak mendarat dengan sempurna sehingga ujung-ujungnya ia terjatuh dengan boko-ng yang mencium lantai dengan keras. “HAH?! APAAN?! SETAN?! MANA SETAN?! NGGAK USAH NAKUT-NAKUTIN GUE LO ANYING!!” Jake meneguk saliva. Tangannya mencengkram kuat ponsel, masih mengarah ke presensi dua makhluk tadi. Dentuman jantungnya sempat melonjak beberapa detik. “Pangeran! Pangeran tidak apa-apa?” Yik hendak mendekati Jake yang masih stagnan dalam posisinya. Ia menjauhkan diri dari Yik, saat kurcaci tersebut mau menyentuhnya. “Nggak usah pegang-pegang!” seru Jake galak, sukses membuat Yik menarik langkah mundur. “Kalian? Kenapa balik lagi sih? Terus gimana ceritanya bisa masuk?!” “Ya lewat pintu lah,” celetuk Yok. Yik mengangguk-ngangguk, membenarkan ucapan Yok. “Betul apa kata Yok barusan, Pangeran. Kami masuk lewat pintu.” Jake mengusak rambutnya frustasi, benar juga sih. Mereka masuk pasti lewat pintu. Jake juga tak mengerti mengapa, ia bisa menanyakan pertanyaan konyol macam itu. “Terus kenapa kalian balik lagi ke sini? Bukannya tadi udah pergi?” Yik menggeleng. “Kami tidak pernah pergi, Pangeran. Tadi kami hanya memberi ruang pada Pangeran dan mengawasi Pangeran dari jauh. Tapi karena kami tiba-tiba mendengar teriak-teriakan dari dalam sini, jadi kami menyusul masuk,” jelas Yik. Kurcaci perempuan itu lantas memandangi Jake dengan sorotan khawatir. “Pangeran tidak apa-apa?” Jake mendengus. Perlahan bangkit dari posisi jatuh yang tidak ada elit-elitnya itu. Sejenak ia memandangi kedua makhluk tersebut, lalu menyemburkan napas lelah. “Minggir, gue mau lewat.” Lalu melenggng menuju kamar mandi tempat Jay terjebak. Namun baru setengah jalan, dia justru di suguhi pemandangan yang tidak senonoh. Jake memelotot, Jay yang berdiri dua meter darinya juga memelotot. Bagaimana tidak, saat ini pemuda itu tengah berdiri tanpa busaana sehelai pun dan rambut serta badan yang penuh busa. “Jay, lo—lo nagapain?” Jake spechless. Jay seolah baru tersadar, buru-buru menutupi burungnya yang menjadi konsumsi publik. “Lo sih lama! Mana pake segala tereak setan! Lo pikir gue nggak takut apa?!” “Ya seenggaknya ambil handuk dulu kek. Duh mata gue jadi ternodai ‘kan.” Jay bersungut tak terima. “Ya mana sempet anying!! Lo pikir gue sempet mikir mau ngambil handuk dalam kondisi kayak gini!” Wajah Jay merah padam, antara malu dan kesal bercampur jadi satu. “Nggak usah sok-sok ternodai gitu ya! Lo pikir gue nggak merasa ternodai aset masa depan gue lo liatin begitu?!” tukas Jay sewot. “Lagian mana sih setannya—“ “Tuh di samping lo, tangannya lagi mau megang burung kecil lo,” celetuk Jake asal. Kendati demikian, Jay rupanya betulan takut. Ia mendelik lebar sebelum akhirnya melompat memeluk Jake. “NGGAK USAH PELUK-PELUK! LO BASAH!” Jake kontan dibikin berteriak. Berusaha melepaskan Jay yang memeluknya erat. “LEPASIN GUE BURUNG PERKUTUT!” “Nggak mau! Salah lo sendiri ngomong gitu!” Jay kembali menukas sewot. “Pokoknya lo harus temenin gue bersihin diri di kamar mandi nggak mau tau!!” Jake berjengit, masih berusaha melepaskan Jay yang menempelinya seperti kukang. “Idih ogah!” “Huwee, nanti kalau gue di apa-apain sama setan m***m gimana dong? Masa lo tega sih?!” ujar Jay nyaris merengek. “Bodo amat! Lagian setan mana yang sudi nganuin burung kecil kayak lo!” “Ya mana gue tahu setan mana, kan tadi lo yang bilang ada setan yang mau megang aset gue. Dan stop bilang burung gue kecil ya! Kecil-kecil gini dia cabe rawit tau.” Jake memutar bola matanya malas. “Ya masa lo percaya sih. Gue nggak nyangka ternyata lo sebego ini.” Jay merengut. “Ya nggak sih. Tapi tetep aja jadi kebayang tahu! Ngeri! Pokoknya sekarang lo temenin gue, titik nggak pake koma.” Jay lantas segera menyeret Jake, yang detik itu memilih pasrah pada keadaan. Dari pada harus bertahan pada situasi ajaib itu lebih lama. Sementara itu di salah satu sudut, dua makhluk dunia lain yang sedari tadi menyaksikan adegan delapan belas plus itu dalam diam. Mereka tak menyangka akan di suguhi adegan begitu. Seumur-umur ini pertama kalinya mereka menonton yang seperti itu. Seru juga ternyata. Tanpa sadar mereka menggumamkan hal yang sama dipikiran mereka. “Kau lihat sendiri ‘kan Yik.” Yok yang bersedekap d**a sembari bersandar pada dinding menjadi yang pertama buka suara. “Orang itu bo-doh. Apa yang kau harapkan dari orang sepertinya. Dari pada membuang-buang waktu di sini, lebih baik kita kembali.” “Kau tidak boleh berkata seperti itu mengenai Pangeran Yok. Pangeran begitu karena dia sudah terlalu lama hidup di dunia ini. Kau lihat sendiri ‘kan apa yang terjadi pada Si Tua Yaj. Pangeran hanya memerlukan sedikit dorongan,” pungkas Yik penuh keyakinan. Melihat binar mata saudara kembarnya yang tidak ada keraguan sedikit pun, membuat Yok cuma bisa menghela napasnya panjang. “Terserah kau saja lah. Tapi ingat perjanjian kita Yik. Kalau sampai besok malam kau tidak bisa membawa Pangeran bodoh itu dengan cara baik-baik. Maka selanjutnya giliranku untuk membawanya dengan caraku sendiri.” “Tentu saja. Kau tidak usah khaawatir, aku selalu mengingatnya kok. Aku pastikan sebelum matahari terbenam besok, Pangeran akan menyerahkan dirinya secara suka rela. Maka dari itu Yok, berhenti melalukan sesuatu yang dapat membuat Pangeran semakin jengkel pada kita.” Yok mendengus malas. “Iya-iya. Aku tidak akan melakukannya.” Yik tersenyum lebar. “Bagus. Itu baru namanya saudaraku yang luar biasa.” “WOI-WOI KOK SENTERNYA DI MATIIN SIH?!” Yik dibikin terjengit kaget gara-gara teriakan yang terdengar lagi. “Hape gue lowbat! Diem di situ bentar gue mau ambil senter di kamar lo. Kalau nggak salah lo punya senter yang biasa lo bawa waktu pramukan dulu kan?” “IYA! TAPI JANGAN TINGGALIN GUE SENDIRI!” “Berisik!!” Yik pun mengembuskan napas berat seraya memijit pangkal hidungnya penat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD