Delapan

887 Words
  Selesai dengan adegan teriak-teriakan heboh dramatis antara Jay dan Jake, kini keduanya sedang sama-sama duduk di atas ranjang, sembari menonton sebuah film laga dari laptop Jay. Ternyata tidak hanya rumah Jay yang lampunya mati, tetapi satu komplek. Memang katanya sedang ada pemadaman bergilir. Tadinya Jake menawarkan menonton film horor, mumpung keadaan yang gelap gulita ini bisa mendukung agar suasana lebih mencekam. Namun Jay menolak keras usulan tersebut. Akan tetapi baru setengah jam film tersebut berputar, laptop Jay sudah bawel memperingati baterai yang tinggal sepuluh persen. Jay mendecak sebal, sebelum memilih mematikan laptopnya itu. “Ah, kenapa pas kayak gini semuanya pada lowbat sih,” gerutu Jay seraya meletakan benda elektronik tersebut di atas meja samping tempat tidur. “Ini juga, mau sampai kapan pemadaman kayak begini.” Jake tak menghiraukan gerutuan Jay yang tak bakalan ada habisnya itu, memilih membaringkan diri hendak berkelana ke alam mimpi. Lagian tidak ada yang bisa mereka lakukan jika gelap gulita begini. Keluar pun tidak bisa, sebab kalau begitu mereka harus meninggalkan rumah tanpa pengawasan, dan itu rawan. Maling bisa masuk mencuri kesempatan dalam kesempitan dengan merampok seluruh barang berharga di rumah ini. “Ett, lo mau ngapain?” “Tidur,” jawab Jake singkat. Namun Jay sepertinya tidak akan membiarkannya tidur dengan tenang, sebab tahu-tahu pemuda itu menimpa tubuhnya. “Apaan sih? Lo ngapain? Minggir nggak!” “Jangan tidur dong. Gue belum ngantuk nih. Kalau lo tidur ntar gue sendirian dong.” “Gue tidur di sebelah lo ya bego, sendiri dari mananya?” Jake berbaring miring memunggungi Jay, yang cuma bisa cemberut. Tanpa Jake duga, pemuda itu tidak protes lagi. Bermenit-menit berlalu dalam keheningan. Jake memejamkan matanya berusaha keras untuk tidur, tetapi susah sekali. Alih-alih dia yang tidur, ia justru mendengar dengkuran keras dari sosok di belakangnya. Jake beralih telentang, memandangi kegelapan. Omong-omong ia jadi teringat kehadiran duo makhluk asing tadi. Entah ke mana sekarang perginya mereka, Jake juga sudah terlanjur lupa tadi. Jake pun memutuskan bangkit, bisa gawat kalau makhluk-makhluk itu masih berkeliaran di dalam rumah Jay. Jake masih belum tahu maksud makhluk-makhluk aneh itu. Jake melangkah pelan, berjinjir-jinjit ke luar ruangan sembari membawa senter kecil milik Jay. Memastikan agar pemuda itu tidak terbangun. Dan ternyata memang benar, mereka belum pergi dari sini. Jake kontan melepas hela napas berat sewaktu menemukan mereka berada di ruang tamu, duduk di sofa sembari bersanddar dengan mata terpejam. Entah mereka tidur atau tidak. Sewaktu Jake menyorot senter ke wajah ke duanya, makhluk-makhluk itu mengernyit lalu perlahan-lahan membuka mata. “Oh, Pangeran?’ seru Yik begitu tersadar. Pangeran-pangeran. Jake muka mendengar sebutan itu terus-menerus diserukan oleh maakhluk itu. “Ngapain kalian masih di sini? Kalian pikir ini penginapan?” Yok menguap lebar, tadi ia sempat membuka matanya, begitu melihat Jake ia kembali bersiao tidur. “Kami tidak tahu harus pergi ke mana,” jawab Yik. Jake mengangkat sebelah alis. “Terus?” “Untuk sementara kami akan berada di sini sembari mengawasi, Pangeran.” Mata Jake memicing. Untuk apa pula ia perlu di awasi, memangnya dia pelaku kriminal. Yang ada mereka yang harusnya di awasi oleh Jake. “Kalian pikir gue bakal ngizinin kalian diem libh lama di sini? Apa-apaan juga kata lo barusan, mau ngawasin gue? Yang orang asing di sini itu kalian, harusnya gue yang ngawasin kalian. Kalian ini bener-bener makhul nggak jelas ya?” “Pangeran—“ Jake menggeram. “Stop panggil gue pangeran-pangeran. Gue bukan pangeran.” “Tapi—“ “Kalau lo manggil gue pangeran terus gue bakal melakukan tindakan yang nggak pernah lo bayangkan.” Jake memandang mereka tajam, mengeluarkan aura mengintimidasi yang tidak ia sadari. Seseuatu yang membuat Yik tertegun sejenak. Segaris senyum tipis lantas muncul di bibir makhluk itu, sesuatu yang membuat Jake mengernyit bingung. “Kenapa lo senyum-senyum? Ada yang lucu?” Yik menggeleng singkat. “Baik kalau begitu. Tapi untuk permintaan pergi dari sini kami tidak bisa melakukannya.” Jake berdecak. “Kalau kalian nggak mau pergi sendiri, maka gue yang akan seret kalian berdua keluar dari sini.” “Tuan—“ Belum selesai Yik bicara, Jake sudah meraih pergelangan tangan makhuk itu. Kulitnya terasa kasar dan bertekstur keras. Ia sempat terkejut sesaat, dalam pikirannya menerka-nerka makhluk apa sesungguhnya mereka ini. Ia tak bisa terus-menerus berpikiran naif, dengan menganggap mereka cuma bocah kurang kerjaan yang sedang memakai kostum setelah apa yang ia alami beberapa jam yang lalu. Namun tidak sempat Jake menariknya ke luar, tangannya tahu-tahu di pelintir oleh Yik. Jake spontannya saja mengaduh kesakitan. Ia mendeliki Yik, yang menatapnya tanpa dosa. “Maaf, Pa—maksud ku Tuan. Aku terpaksa melakukan ini. Kami tidak akan melakukan kekerasaan, jika Tuan mau mendengarkan penjelasan kami.” Jake mendesis, ia berusaha membebaskan tangannya yang dipelintir, tetapi tenaga makhluk ini terlalu kuat. Sangat berbanding terbalik dengan ukuran tubuhnya yang kerdil. Jake membuang wajah. “Oke-oke. Tapi lepasin ini dulu.” Tanpa harus berkata dua kali, Yik membebaskan lengan Jake. Jake mengurut-ngurut lengannya dalam gerakan yang ia samarkan, terasa nyut-myutan. Tetapi ia gengsi mengakuinya. Entah mengapa di kalahkan oleh makhluk kerdil ini, harga dirinya terlukai. Tatapan lurus Jake lantas menyublim menjadi serius. “Sebenernya kalian siapa? Dan apa mau kalian?” Yik menjawab dengan tenang. “Jawaban kami masih sama dengan yang sebelumnya, Tuan. Kami utusan dari negeri I Land, untuk membawa Tuan kembali.” Pernyataan Yik di balas dengan diamnya Jake, dan dengkuran Yok.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD