Jake terbangun ketika matahari belum betul-betul muncul di ufuk timur. Sesungguhnya ia tak bisa benar-benar tidur semalam. Entah pada pukuk berapa ia baru bisa tertidur, rasanya benar-benar singkat. Ia tak bisa menikmati waktu istirahatnya gara-gara dua makhluk aneh yang sedari kemarin membututinya itu.
Jake menoleh kan kepalanya ke sebelah Jay, dan detik itu juga langsung di sambut oleh seraut wajah Jay yang masih tertidur, dengan mulut menganga serta aliran sungai di rahangnya. Jake mengernyit jijik. Mendorong dahi Jay agar menjauhi kepalanya, karena posisinya tadi yang sangat dekat sampai-sampai ia bisa mencium aroma busuk dari napas pemuda itu.
Jake kemudian bangkit, melakukan sedikit peregangan sebentar. Sebelum lantas ke luar dari sana, menuju ruang tamu. Pemuda yang penampilannya masih berantakan itu, celingukkan mencari-cari Yik dan Yok yang tak terlihat di sana. “Apa mereka pergi?” gumam Jake tak yakin. Tidak mungkin rasanya mereka pergi begitu saja, melihat betapa kekeuhnya makhluk-makhluk itu kemarin malam. “Ya, tapi bagus juga sih kalau mereka pergi.”
Jake mengedikkan bahu acuh. Namun ketika bola matanya bergulir ke sudut sofa, ia melihat sebuah benda asing, tetapi juga familiar terselip di sana. Waktu Jake meraihnya ia pun teringat kalau benda itu mirip potongan kain yang dipakai oleh i pendek menyebalkan. Aagaknya bukan mirip lagi, tetapi itu memang potongan kainnya, di balik kain itu terdapat coretan aneh yang terlihat amat abstrak. Akan tetapi entah mengapa, setelah Jake menelitinya lebih dalam, Jake justru bisa membacanya.
Datang lah bersamaan dengan matahari terbit, Pangeran. Kami menunggu mu. Bola mata Jake kontan terputar begitu menemukan kata ‘Pangeran’ tertulis di sana.
Tidak peduli bagaimana caranya Jake mengerti aksara-aksara ini, yang lebih menarik perhatian Jake sekarang adalah, mereka pergi tanpanya. Apa yang membuat mereka begitu yakin kalau Jake akan datang. Tidak kah mereka khawatir kalau ia malahan kabur?
Jake mendengus, melempar potongan kain tersebut ke dalam tempat sampah di sudut ruangan. “Bodoh. Mereka terlau percaya diri.” Jake pun beralu kembali ke kamarnya.
Jake tiba di depan pintu yang terbuka setengahnya, tetapi ia urung masuk dan menahan langkahnya, ketika telinganya mendengar cakap-cakap antara Jay dan seseorang d telepon.
“Iya, Jake masih di sini.” Ada jeda sejenak. Jake tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat. “Loh? Kenapa, Ma? Kenapa tiba-tiba gini? Kita ‘kan udah bicarain ini sebelumnnya, dan mama sama papa juga setuju kalau Jake tinggal di sini.” Nada suara Jay agak mengencang, anmun juga tertahan. Seolah i takut bila seseorang mendengarnya. Dan Jake cukup paham, Jay demikian karenanya. “Loh, nggak bisa kayak gini dong, Ma. Kenapa Mama jadi gini sih? Mama ‘kan udah kenal Jake dari lama. Dia sahabat aku, Ma. Mama nggak kasihan sama Jake? Bukannya Mama udah anggap dia kayak anak sendiri.”
Rahang Jake mengeras. Ada sesuatu yang serasa menghimpit dadanya. Walau pun ia tak bisa mendengar apa yang Mama Jake, tapi Jakee cukup paham kalau Mama Jake itu tak mau Jake tinggal lebih lama lagi di sini. Senyum miris Jake terukir, ia mengerti. Siapa pula yag ingin menambah beban di dalam keluarga mereka, terlebih dia yang tak mempunyai hubungan darah.
“Ma!” Kepala Jake bergerak sewaktu seruan Jay terdengar. “Pokoknya aku nggak setuju. Kalau Mama tetep ngotot mau nyurh Jake pergi dari rumah ini, maka aku juga bakalan pergi.”
Dasar bodoh. Gumam dewa batin Jake, antara tersentuh dan geli mendengar rangkaian kalimat Jay barusan.
Setelah berkata demikian, tak lagi terdengar suara apa pun. Jake tebak kalau pembicaraan ibu dan anak itu sudah berakhir. Namun Jake tak langsung masuk, ia menanti beberapa menit di depan pintu sebekum masuk, supaya tidak terlihat mencurigkan.
Begitu Jake mendorong pintu masuk, Jay yang duduk di tepi kasur langsung menoleh padanya. Jake dapat melihat kemuraman diair muka pemuda itu, sebelum secepat kilat berubah seperti tidak trjadi apa-apa. “Udah bangun lo? Tumben bangun jam segini?” tanya Jake basa-basi, berusaha bersikap biasa saja.
Jay berdecak. “Gue tuh udah bisa ya, bangun pagi. Kemarin aja gue bangun duluan dari lo. Yang tumben tuh lo.”
Iya juga. Batin Jake setuju.
“Ya, ‘kan gue udah bilang kemarin, kalau mulai hari ini gue mau coba nyari loowngan kerja. Kudu bangun pagi ‘kan?” Jake mengarang alasan yang lebih masuk akal kali ini. Itu tidak sepenuhnya bohong sih, ‘kan awalnya Jake memang berniat mencari tempat bekereja hari ini. Namun ya dia tidak bangun sepagi ini karena itu saja.
Jay berjingat bangkit. “Okeh, gue temenin.” Jay menepuk-nepuk nahu Jake. “Lo siap-siap sana. Biar gue bikin sarapan dulu.” Jake cuma membalas Jay dengan aggukan singkat. Sejurus kemudian, pemuda itu telah melesat menuju dapur. Jay sebetulnya tidak pandai-pandai amat dalam urusan masak-memasak, tapi kalau memasak masakan sederhana untuk mereka berdua saja, sahabatnya itu bisa di andalkan. Yah, intinya skill memasak Jay lebih unggul di banding Jake yang mentok-mentok cuma bisa memasak mi isi telur.
Mengingat percakapan antara Jay dan mamanya, membuat Jake gundah. Ia jelas harus menemukan tempat tinggal lain secepatnya. Karena meskipun Jay berkata demikian, Jake masih punya malu untuk tidak tetap menjadi parasit di sini. Ia sadar diri, dan tahu di mana tempatnya. Di saat-saat seperti ini penuturan makhluk aneh bernama, Yik itu justru menyambangi gendang telinganya.
“Kami ke mari untuk menjemput, Pangeran. Membawa Pangeran kembali ke negeri I Land.”
Jake mendesah, seraya mengusak rambutnya frustasi. Haruskah Jake ikut saja dengan dua makhluk aneh itu? Kembali ke negeri apa pun itu. Rasa-rasanya itu pilihan yang paling tepat sekarang. Ia tak lagi memiliki keluarga di sini. Hanya Jay yang benar-benar ia milki, tetapi membebani sahabatnya itu, juga tak terasa benar. Maka dari itu, seandainya Jake pergi pun, tidak akan ada yang sedih bukan? Jay barangkali akan merasa kehilangan. Namun itu hanya untuk sesaat. Selanjutnya, Jake yakin pemuda itu bisa melanjutkan hidupnya denga baik.