Saat ini Jake sedang menyusuri jalan yang ia lalui kemarin. Mencari-cari gedung kosong tempatnya ingin mengakhiri hidup kemarin. Waktu itu Jake cuma berjalan tanpa arah, tanpa betul-betul memerhatikan sekitar, jadinya ia tak begitu mengingat jalan kembali ke sana. Jay yang mengikuti di belakangnya tidak berhenti-berhentinya mendumal. Jake sebetulnya ingin pergi seorang diri, tetapi Jay memaksa ingin ikut, dan Jake tak bisa menolak jika tidak ingin terlihat mencurigakan.
“Eh, itu. Ada kafe. Coba gih, siapa tahu lagi butuh karyawan.” Jay menunjuk sebuah kafe di seberang jalan.
Tanpa menoleh sedikit pun Jake menggeleng, respon yang sama seperti yang sebelum-ssebelumnya. Jay sudah ke sekian kali mengusulkan Jake tempat yang mesti ia coba, tetapi pemuda yang lebih pendek tiga centi meter darinya itu terus-menerus menolak. Sedari tadi, mereka cuma berjalan-jalan tidak jelas. Entah apa yang sebenarnya pemuda itu cari. Jay jadi dongkol karenanya.
Jay mendengus keras, mempercepat langkah. Lantas menahan bahu Jake. “Lo sebenernya niat nggak sih nyari kerjaan? Dari tadi lo cuma jalan-jalan nggak jelas, dan lo terus nolak usulan tempat kerja yang kita lewatin. Apa sih yang sebenernya lo cari?”
Jake tak memandang mata Jay. “Lo kalau emang nggak mau bantuin gue, mending balik aja.”
Jay mengerutkan keningnya tak suka mendengar penuturan Jake. Ia tak salah dengar kan? Jay sudah berusaha sebaik mungkin membantunya, tetapi Jake malah berkat seolah-olah ia tak melakukan apa pun dari tadi. “Gue dari tadi udah berusaha bantuin lo ya, asuu! Malah lo yang keliatan yang nggak ada niat sama sekali. Mau lo apa sih? Katanya lo pengen cepet dapet kerjaan supaya lo nggak perlu ketergantungan sama keluarga gue. Tapi sekarang apa? Dari tadi lo malah jalan nggak jelas gini.”
Jake melepaskan cengkraman Jay dari bahunya. “Lo tenang aja, Jay. Gue pastiin gue nggak akan ketergantungan sama keluarga lo. Mungkin mulai besok gue bakal nyari kos-kosan—“
Jay menyentak, nyolot. “Apa sih! Bukan gitu maksud gue.” Air muka Jay bertambah keruh. Melihat hal itu Jake tak bisa menahan tawanya. “Kenapa malah ketawa? Sakit lo?”
Jake menggeleng, berupaya meredam tawamya. “Lo terlallu ngekhawatirin gue Jay. Tapi gue udah gede, gue bisa jaga diri gue sendiri. Kejadian kemarin jujur emang nggak terduga banget, dan hampir bikin gue nggak waras. Tapi lo, kenal gue udah lama ‘kan? Gue ini tipe orang yang bakal sembuh dengan cepat dari luka. Gue bisa melanjutkan hidup gue dengan baik. Lo cuma perlu percaya sama gue. Jangan treat gue seolah-olah gue nggak bakal bisa bertahan tanpa bantuan. Tentu saja gue bakal perlu bantuan, tapi ketika gue bilang gue bisa sendiri. Maka memang begitu.”
Jake sebetulnya belum selesai dengan penuturannyan, namun Jay keburu memotong. “Iya-iya gue ngerti. Jadi sekarang kita mau ke mana?” Jay mengalihkan tatapan ke arah lain.
“Oh masih mau ikut?”
“Hng, gue nggak ada kerjaan.”
Jake mengangguk, sembari mengedarkan pandangannya. Ia mengingat jalan ini, kalau tidak salah gedung itu berada tidak jauh dari sini. Ia pun langsung melenggang. Jay setia mengekori. Lima menit kemudian, mereka pun sampai di depan gedung itu.
“Kita mau ngapain di sini?” tanya Jay heran seraya memandangi gedung tua di hadapannya. “Emangnya ada lowongan kerja apaan di tempat kayak gini?”
Jake memutar bola mata. “Ya nggak ada lah. Gue mau ketemu kenalan sebentar di dalem. Katanya dia bisa ngasih gue kerjaan.”
“Kalian janjian di tempat kayak gini? Seriously?” Jay terdengar tak yakin. Wajar saja, bila Jake yang ada di posisi pemuda itu Jake juga akan bereaksi demikian. “Kenalan lo ini apa sih? Masa ngajak janjian di tempat kayak gini.” Tatapan Jay lantas berubah penuh selidik. “Ini nggak ada kaitannya sama hal-hal ilegal ‘kan? Dia bukan penjual narkoba—“
“Sembarangan.” Jake meninju pelan bahu Jay. “Dia bukan orang yang kayak gitu. Gue jamin seratus persen. Lo percaya sama gue ‘kan?”
Jay tanpa basa-basi menggeleng. Jake pun langsung mengumpat. “Anyiing.” Jake kembali menatap gedung itu, menatap ke lantai paling atas. “Pokoknya lo percaya aja sama gue. Lo tunggu di sini, temen gue ini orangnya pemalu akut, jadi takut nggak bisa ngomong kalau tahu gue ngajak orang asing.” Sebetulnya ada untungnya juga Jay ikut dengannya sekarang. Sebab Jake masih belum yakin dan tidak percaya sepenuhnya pada makhluk-makhluk aneh itu. Ia bahkan takjub pada dirinya sendiri, lantaran Jake benar-benar mengikuti instruksi makhluk aneh tersebut.
Setidaknya dengan kehadirna Jay di sini, jika makhluk-makhluk itu sampai berani macam-macam padanya. Jake bisa meminta pertolongan dengan cepat. “Udah, ya, lo tunggu di sini. Gue nggak bakalan lama kok.” Walau pun terlihat masih ragu, tetapi Jay tak melarang Jake pergi.
Jake pun segera berlari kecil memasuki gedung kosong yang sudah tua itu. Udara masih terasa dingin, sebab matahari baru akan terbit beberapa menit lagi. Memasuki gedung kosong ini untuk yang kedua kalinya, kini Jake bisa melihat bagian dalamnya lebih jelas, karena kemarin ia datang saat hari sudah gelap sehingga tak terllihat apa pun. Dinding gedung itu dilapisi oleh cat putih yang kebanyakan telah mengelupas. Di beberapa bagian terdapat coretan-coretan abstrak serta jorok dari cat pilox, pasti ulah orang-orang gabut. Bekas-bekas botol pilox tergeletak di dekatnya. Jake menggelengkan kepalanya, itu tidak penting. Tujuannya sekarang adalah atap gedung ini. Ia harap makhluk-makhluk itu tidak membodohinya, kalau samapi saja iya. Lihat saja apa yang bisa Jake lakukan nanti.
Sewaktu Jake membuka pintu yang terhubung ke atap itu, ia tak melihat siapa pun berada di sana. Jake mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Jake mendengus dongkol, jadi benar ia di bodohi? Belum selesai praduganya, suara itu menyentak gendang telinga Jake.
“Akhirnya kau sampai juga, Pange—maksud ku, Jake.” Jake membalikan badan, menuju sumber suara. Di sana sudah berdiri dua makhluk aneh itu. Entah dari mana datangnya, Jake tak mau memusingkan karena memang tak akan ada hal yang normal bila sudah berkaitan dengan makhluk seperti mereka ini.
“Nah, Jake apa kamu sudah siap melihat bukti yang kamu minta itu.” Yik tersenyum begitu lebar pada Jake.
Sedangkan Jake cuma mendengus. “Cepat tunjukkan. Gue nggak punya banyak waktu untuk bermain-main. Datang ke sini saja sudah sangat membuang-buang waktu gue. Gue harap apa yang bakal kalian tunjukin nggak mengecewakan.”
Yik seperti biasa tak tersinggung sama sekali dengan nada ketus dari Jake. Senyum Yik masih bertahan, bahkan lebih lebar. “Kau tenang saja. Aku pastikan kau tidak akan kecewa.”
Sudut bibir Jake berkedut. “Cih. Percaya diri sekali kalian.”
Yik tak menghiraukan perkataan Jake yang satu itu. “Nah untuk permulaan. Kita harus mendekat ke bibir gedung terlebih dahulu.”
*
Di Balik Layar
Yik menggoyang-goyangkan tubuh Yok, berusaha membangunkan saudara kembarnya itu. “Yok, bangun, cepat.”
Yok menepis tangan Yik. “Eumm, sebentar lagi. Aku masih mengantuk.”
Yik geram, lantas menarik telinga kecil Yok kuat-kuat. Membuat saudaranya mengaduh dan langsung terbangun. “Adu-duh. Sakit Yik, lepaskan.”
Yik pun melepaskannya. “Apa aku harus selalu menggunakan kekerasan dulu supaya kau mau mendengarkan ku?” Yok tak menjawab, ia cuma mengelus-neglus kupingnya yang mungil itu. “Kita ke sini bukan untuk bersantai-santai apa lagi tidur—“
Yok memotong perkataan Yik, sebab ia mulai lelah mendengar Yik mengatakan hal yang sama lagi dan lagi. “Aku tahu itu, Yik. Berhenti mengatakannya terus.”
“Kau tahu, tapi tindakan mu justur berbanding terbalik!” Yik menarik napas dalam, lalu mengembuskannya lewat rongga mulut. Berusaha meredam emosinya. “Baiklah lupakan. Sekarang berikan aku sobekan pakaian mu. Aku harus meninggalkan pesan untuk, Pangeran.”
Yik mengernyit. “Kenapa harus pakaian ku?” serunya tak setuju. Namun melihat delikan tak ingin di bantah oleh Yik, Yok pun pasrah menyobek sedikit pakaiannya. Yik menerimanya dengan senyuman. Ia pun lantas menuliskan sesuatu di bagian kain yang tidak berisi corak menggunakan arang kecil yang ia bawa dari negeri I Land. Begitu selesai, ia menyelipkannya di bawah kaki sofa.
“Selesai. Nah sekarang kita tinggal menunggu Jake datang pada kita.”
Yok menaikan alisnya, tak yakin dengan kata-kata Yik barusan. “Menunggu? Kau yakin anak bo-doh itu akan datang.”
“Berhenti memanggil, Pangeran tidak sopan begitu Yok,” peringat Yik, yang tak diindahkan oleh saudaranya. “Kau tenang saja, aku aku yakin, Pangeran pasti akan datang. Aku sudah mengatur segalanya. Percaya saja pada cara ku ini.”
“Ya, ya. Terserah kau saja.”