Jungkook meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum memulai latihan taekwondonya sebentar lagi lengkap dengan setelannya dengan sabuk hitam yang melingkari pinggang, ketika seseorang turut berdiri di sebelahnya. "Kau yakin ikut latihan kali ini, Kook? Bukannya tadi kau bilang kakimu terluka?"
Jungkook menoleh, dan menemukan temannya, Mingyu di sana. "Tentu. Lagipula lukanya tidak seberapa, kok. Aku tidak boleh melewatkan latihan, turnamen sudah di depan mata."
"Tidak latihan barang sekali tidak apa-apa kali, Kook. Tapi ya sudalah, terserahmu saja."
Jungkook tak menanggapi lagi. Fokus dengan gerakan pemanasannya. Ia harus bersungguh-sungguh dalam latihan untuk turnamennya bulan depan. Sehingga ia mampu membawa medali emas bagi sekolah serta para kakaknya. Jungkook juga tak ingin kalah, kakak-kakaknya itu adalah orang-orang hebat dalam bidang mereka masing-masing, dan Jungkook tak mau tertinggal menjadi yang terpayah dalam keluarganya. Ia juga harus bisa menjadi bungsu yang hebat dan membanggakan bagi para kakaknya.
Setelah lima menit ia habiskan untuk pemanasan, pelatihannya hari itu pun dimulai. Jungkook harap kakinya bisa bekerja sama.
*
Yoongi sedang mengemudikan mobilnya menuju sekolah Jungkook berada. Untuk hari ini ia bertugas menjemput anak itu, mengingat Jungkook belum diperbolehkan membawa sepeda mengingat kakinya yang belum pulih total. Sebetulnya Seokjin dan yang lainnya menyarankan anak itu untuk tidak sekolah sementara, tetapi Jungkook terlampau keras kepala untuk dibantah. Entah mengapa begitu, padahal seingat Yoongi, bungsunya itu bukan jenis anak yang rajin belajar. Bukan berarti Yoongi mengatakan kalau Jungkook itu malas. Hanya saja Jungkook itu salah satu remaja biasa yang akan senang kalau dapat izin dari belajar di sekolah karena suatu alasan.
Tiga puluh menit kemudian Yoongi masih menunggu di depan sekolah Jungkook. Jam pulang sekolah sudah terlewat dua puluh menit yang lalu, dan Yoongi tidak menemukan ada tanda-tanda kalau Jungkook akan ke luar dari gedung besar di depannya. Yoongi jadi kesal. Ia paling kesal nan anti kalau harus menunggu-menunggu tidak jelas begini.
"Ke mana anak itu? Dia tidak membolos 'kan? Kalau sampai iya, lihat saja nanti. Kemarin merengek ingin tetap sekolah, tapi ujungnya malah membolos."
Yoongi berdecak jengkel. Memilih merebahkan tubuhnya pada sandaran, melipat kedua tangan di depan d**a lalu memejamkan matanya. Tidak mau tahu, dia mengantuk. Jungkook seharusnya mengenali mobil milik Yoongi, jadi ia akan bangun nanti kalau Jungkook sudah tiba. Ya, Yoongi hanya tidur sebentar saja, kok. Tidak lama.
*
Rintik-rintik gerimis mulai turun membasahi bumi. Sehingga menurunkan suhu udara. Nyatanya, telah menjelang satu jam Yoongi tertidur di dalam mobil. Ia terbangun begitu saja, dan terkejut kala melihat waktu yang telah berlalu cukup lama. Pandangannya ia edarkan ke area sekolah yang tampak sepi.
"Ke mana anak itu? Apa dia sudah pulang?" gumam lelaki pucat itu. Tak lama berselang, sosok yang ditunggu-tunggu muncul dengan jaket yang tersampir di atas kepala. Jungkook berjalan agak terpincang dengan seorang pemuda sebayanya. Kening Yoongi berkerut, buru-buru ia mencari sebuah payung kecil yang memang selalu berada di dalam mobil. Lantas berlari ke luar mendekati adiknya.
"Eoh, Hyung? Kau di sini?" kaget Jungkook, ketika melihat kakak keduanya tiba-tiba muncul memayunginya.
"Ke mana saja? Kenapa baru muncul. Bukankah jam pulang sekolah sudah lama lewat?" Yoongi tak merasa perlu menjawab pertanyaan Jungkook, memilih balik melempar tanya.
"I-itu...." Jungkook tergagap. Tampak ragu menyampaikan bahwa ia tadi turut serta dalam sesi latihan taekwondo. Bisa-bisa kakaknya itu marah, mengingat kakinya yang belum sembuh betul.
"Tadi kami latihan taekwondo, Hyung. Makanya kami pulang agak telat." Bukan. Itu bukan Jungkook. Melainkan Mingyu. Jungkook sontak mendelik pada sobatnya itu. Sementara Mingyu cuma menatapnya polos.
"Kau latihan taekwondo, Kook? Kau sudah gila? Sudah tidak sayang pada kakimu?"
"Bukan begitu, Hyung."
"Pegang ini." Yoongi berujar datar. Raut wajahnya semakin mendingin dari biasanya. Ketika Jungkook telah memegang gagang payung, tanpa mengatakan apa pun lagi Yoongi memasuki mobilnya lagi.
Jungkook sontak mendesah pendek. Ia mendelik pada Mingyu yang setia menampangkan mimik polos tanpa dosa. "Kenapa kau malah memberi tahu Yoongi Hyung."
"Apa? Aku kan cuma mengatakan fakta. Aku yakin Yoongi Hyung tidak akan marah. Palingan nanti kau dipanggang saja olehnya, karena kelewat nakal."
Jungkook mendelik. Bukannya terlihat seram, ia justru terlihat menggemaskan dengan kedua manik bambinya. "Sudah tidak usah mendelik menggemaskan begitu. Lebih baik, cepat kau temui Yoongi Hyung sebelum kata-kataku menjadi kenyataan."
Jungkook mendesis. "Kau sangat menyebalkan."
Mingyu cuma tertawa menanggapinya.
*
Selama perjalanan pulang, keadaan dalam mobil itu sungguh hening. Hanya suara rinai hujan disertai bunyi mesin yang terdengar. Sementara Jungkook cuma mampu terduduk kaku di kursi penumpang. Padahal cuaca sedang dingin-dinginnya, tetapi entah mengapa ia justru berkeringat seperti ini. Sedangkan di sebelahnya, Yoongi fokus pada tugasnya mengemudi.
Jungkook menggigit bibir bagian dalamnya. Manik hitamnya sesekali melirik Yoongi. Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, belah bibirnya pun terbuka. "Hyung...," panggilnya lirih.
Yoongi berdeham singkat.
"Hyung, a-aku... aku minta maaf...," cicit Jungkook, tambah gugup.
Yoongi tak segera merespon, membiarkan mobilnya terhenti di lampu merah, barulah ia menoleh pada presensi adiknya. "Kenapa minta maaf?"
Jungkook menundukkan kepala, tetap mengigiti bibir bagian dalam. "Karena aku sudah nakal."
"Pada siapa kau berbicara, Kook?"
Jungkook meringis, lantas mengangkat kepalanya ke arah Yoongi. Kembali berujar, "Karena aku sudah nakal, Hyung."
Yoongi menghela napas. "Kook... Hyung tahu kau ini cinta sekali dengan taekwondomu itu. Kau ingin menjadi yang terbaik. Tetapi ingat, kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Sanggupkah dirimu? Sanggupkah tubuhmu jika kau perintahkan untuk berlatih sekeras itu? Jika kau tetap memaksakan ketika tubuhmu berkata tidak, maka pada akhirnya dirimu sendirilah yang akan rugi, bukan orang lain. Paham?"
Jungkook menganggukan kepalanya. "Paham, Hyung."
Yoongi kembali menatap ke depan. Menginjak pedal gas ketika lampu berganti warna ke hijau. "Bagaimana kakimu sekarang? Merasa lebih baik setelah berlatih taekwondo tadi?"
Jungkook menggeleng. "Tidak. Kurasa justru bertambah sakit," sesal anak itu.
"Nah. Itulah dia. Hasil dari kekeraskepalaanmu."
Bibir Jungkook mengerucut. "Iya, Hyung. Aku salah. Maaf."
"Jangan minta maaf pada, Hyung. Minta maaflah pada kakimu. Gara-garamu, dia harus menderita lebih lama."
Jungkook sontak menunduk. Menatap pergelangan kakinya yang membiru. "Kaki Jungkook, maafkan aku, ya. Aku janji setelah ini aku akan merawatmu lebih baik lagi."
Yoongi melirik Jungkook yang tengah berbicara pada kakinya sendiri. Bibirnya tertarik ke atas meski sedikit. Jungkook kalau sudah dalam mode polos begini, tidak akan ada yang mampu tahan dengan kegemasannya.
Behind The Scripts
Yoongi dan Jungkook akhirnya sampai di rumah mereka. Kala Jungkook hendak ke luar dari mobilnya. Yoongi mencegat anak itu, lalu buru-buru berpindah posisi ke hadapan Jungkook. Ia memunggungi adiknya. Jungkook kontan mengerutkan kening bingung.
"Hyung, apa yang kau lakukan?"
"Apa lagi? Memberi kaki adikku tumpangan sampai di kamarnya lah. Hyung tidak sejahat tuannya yang membiarkannya merasakan sakit."
Jungkook terkekeh. Segera naik ke punggung Yoongi. Ia menaruh dagunya di pundak kakaknya. "Hyung sering-sering begini, ya. Manis sekali tahu. Gula kalah jauh."
•
Sesuai dengan perkataannya kemarin, kalau Jungkook berjanji akan merawat kakinya lebih baik lagi. Maka hari ini, sesuai dengan saran berbalut perintah dari para kakaknya, Jungkook memutuskan mengambil waktu istrihat total sehari dari kegiatan sekolah atau apa pun itu. Semua itu agar penyembuhan kakinya dapat berjalan lancar, lebih cepat. Kendati demikian, bagian lain dalam dirinya menganggap bahwa dirinya begitu lemah. Hanya karena terjatuh tempo hari waktu mengejar Taehyung, ia harus sampai begini.
Jungkook mengembuskan napas lelah. Ia bosan. Sendirian di rumah, sementara kakaknya yang lain sibuk sekolah, kuliah, dan bekerja. Ini masih siang hari, dan tidak mungkin rasanya salah satu dari mereka akan pulang dalam waktu dekat. Sedari tadi Jungkook cuma mampu mengisi waktu dengan menonton televisi serta bermain game. Tetapi itu semua sama sekali tidak ada seru-serunya ketika ia harus melakukannya sendiri. Akan lebih menyenangkan kalau ada Taehyung atau Jimin yang menjadi lawan bermainnya.
Yah, Jungkook sadar sekarang. Hidup bersama keenam pemuda yang lebih tua darinya itu, membuatnya tak bisa jauh-jauh dari mereka. Semua itu terasa nyata waktu ia hanya sendirian seperti sekarang.
Sejurus kemudian, terdengar suara pintu terbuka diikuti seruan lantang. "Jungkookie, Hyungie pulang!" Jungkook kontan mengernyit heran. Jam-jam seperti ini seharusnya Hoseok masih berada di kampus.
"Hyung? Sudah pulang? Tumben jam segini sudah pulang."
Hoseok tersenyum lebar. Melangkah lebar mendekati Jungkook yang rebahan di sofa ruang keluarga. Langsung saja ia memeluk bungsunya itu, sembari tetap berhati-hati agar tidak menyenggol kaki keseleo Jungkook. Bisa berabe nanti. "Iya. Dosen mata kuliah tadi, ada halangan jadi tidak bisa mengisi kelas. Hyung juga tidak ada kegiatan lain lagi hari ini, jadi dari pada menganggur tidak jelas dikampus, lebih baik Hyung pulang. Hyung tahu kau bosan bukan?"
Jungkook menangguk, tak menampik kenyataan itu. "Sangat. Aku nyaris mati bosan seandainya Hyung tidak datang lebih cepat."
Hoseok tertawa keras. Lantas bangkit, seraya berkata, "Tunggu di sini." Setelahnya, Hoseok kembali menghilang di balik pintu. Sementara Jungkook cuma dapat terdiam, agak bingung dengan tingkah kakaknya itu.
Tidak lama kemudian, Hoseok datang lagi. Kali ia membawa sebuah kanvas beserta alat-alat lukis lainnya. Jungkook sukses semakin mengernyit heran dibuatnya. Tidak mengerti mengapa Hoseok membawa semua itu. Seingatnya jurusan kakaknya yang satu itu, adalah seni tari, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan lukis melukis meskipun sama-sama cabang seni.
"Lihat. Apa yang, Hyung bawa?"
"Hng... kalau penglihatanku masih normal. Itu alat lukis, Hyung."
"Betul sekali. Dan ini untukmu."
Bola mata bambi Jungkook spontan membulat. Pemuda empat belas tahun itu, menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Iya!"
"Tapi... Hyung. Kenapa tiba-tiba memberiku alat lukis begini? Aku juga tidak bisa melukis." Jungkook merubah posisi menjadi duduk, Hoseok pun turut duduk di sebelahnya.
"Hyung sering melihat ada gambar-gambar yang terbuang di tempat sampah di kamarmu. Dan Hyung tahu itu milikmu, kan?" Ah. Soal itu. Tidak dapat Jungkook pungkiri, ketika dirinya sedang iseng, dan mumet dengan pelajaran-pelajaran di sekolah. Tangannya secara tanpa sadar bergerak membentuk sketsa-sketsa abstrak. Dan pada akhirnya semua itu akan berakhir di tempat sampah.
"Lalu?"
Hoseok berdecak. "Sketsamu itu indah sekali, Kook. Hyung bahkan tidak mengerti kenapa kau membuang sketsa sebagus itu."
"Itu hanya iseng, Hyung."
"Nah, itu dia! Iseng saja hasilnya indah, apalagi kalau kau serius. Akan seindah apa jadinya hasil coretan tanganmu itu. Maka dari itu, Hyung iseng membelikanmu kanvas ini. Hyun berikan kau media iseng yang lebih bagus." Hoseok menampilkan cengiran lebarnya. Saudara-saudaranya selalu bilang kalau cengirannya itu mirip sekali dengan cengiran kuda.
"Tapi, Hyung, ini berbeda. Menggambar di atas kertas jauh berbeda dengan melukis di atas kanvas. Aku tidak bisa."
Hoseok menghela napas panjang. Memandangi alat-alat lukis yang ia beli. "Jadi kau tidak suka dengan hadiah, Hyung."
Jungkook menggaruk tengkuknya tak gatal. "Tidak bukan begitu. Aku suka, kok—"
Belum selesai perkataan Jungkook, Hoseok langsung memotongnya dengan seruan antusias. "Nah, kalau gitu, cepat lukis sesuatu di sini. Hitung-hitung menghilangkan rasa bosanmu itu. Nanti hasilnya akan Hyung pajang di kamar."
Jungkook menerima alat-alat lukis yang Hoseok berikan. "Tapi... kalau hasilnya buruk bagaimana?"
Hoseok meletakan telapak tangannya pada kepala Jungkook. Seolah tengah menyalurkan semangat serta energinya pada remaja yang satu itu. "Apa pun hasilnya, kalau itu dari kerja keras tanganmu, bagi Hyung itu akan selalu sempurna."
Jungkook terkekeh kecil. Tidak habis pikir dengan kakaknya yang satu ini. Namun tidak ada salahnya juga Jungkook coba melukis di atas kanvas. Sepertinya akan menyenangkan. Jungkook tidak mengerti, Hoseok Hyungnya itu selalu mengerti akan hal-hal yang mempunyai potensi membuat saudara-saudaranya senang.
Atau barangkali di kehidupan sebelumnya, Hoseok Hyung adalah penyihir baik yang gemar menyebar benih-benih kebahagian?
Behind The Scripts
Hoseok tengah memerhatikan Jungkook yang tengah sibuk melukis di halaman belakang, ketika getar ponsel di saku celananya merebut atensinya.
"Ya! Hoseok-ah! Di mana kau sekarang? Kenapa tidak kembali-kembali? Katanya cuma sebentar? Ini sudah hampir sejam kau pergi."
Hoseok meringis kecil. Lupa kalau tadi pergi dari sela-sela kegiatannya melatih dance di studio.
"Asataga. Maaf, Jeongin-ah. Sepertinya aku tidak bisa kembali, dan ikut melatih hari ini. Ada urusan penting yang harus kau lakukan."
Temannya di seberang terdengar mendecak. "Urusan penting apa?"
Pandangan Hoseok otomatis tertuju pada Jungkook. Raut fokus anak itu, terlihat menggemaskan di matanya. Menemani bungsunya jelas termasuk dalam urusan penting bukan?
•
Mode rajin, check.