Empat Belas

1016 Words
Jake tak bisa menahan kernyitan penuh kecurigaannya pada dua makhluk aneh itu, begitu mereka memintanya berdiri di mulut gedung. Baik lah barangkali Jake kemarin sempat berpikir mengakiri hidupnya, tetapi ia tak akan sudi bila harus meliabatkan makhluk aneh seperti mereka. “Kenapa harus ke pinggir gedung? Emangnya nggak bisa di sini aja? Atau jangan-jangan kalian punya rencana busuk?” tanya Jake penuh selidik. Yik lagi-lagi cuma tersenyum. Ia sudah menduga kalau Jake akan berprangsangka demikian. “Kau tenang saja, Jake, kami tidak akan menyakiti mu. Kau bisa memegang kata-kataku.” Yik mengulurkan tangannya ke arah Jake. Sementara Yok cuma menguap, berlalu menuju pinggir gedung lebih dahulu. Ia memandangi uluran tangan Yik. Ada keraguan tentu saja, tetapi entah mengapa jauh di dalam dirinya ia memercayai perkataan itu. Pada akhirnya, Jake menerima uluran itu. Tangan itu terasa kasar. Sama seperti sebelumnya. Senyuan Yik masih bertengger di bibirnya, bahkan bertambah lebar sewaktu Jake menerima genggaman tangannya. Ia pun memimpin langkah menuju pinggir gedung. Cahaya jingga mulai membasuh tubuh ketiganya. Jake menunduk, melihat jauh ke bawah. “Sekarang apa?” tanya jake tak sabaran. “Kami, akan menunjukkan pintu portal antar dunia, Jake,” ujar Yik tenang, memandang jauh ke depan. Posisi Jake sekarang berdiri di apit oleh Yik dan Yok. Lalu di sebelah kirinya Yok tahu-tahu mengeluarkan sebuah benda tajam berwarna emas. Benda itu berbentuk seperti keris. Jake mendelik panik. “Mau apa lo sama benda itu?!” “Tenang, Jake. Aku sudah bilang kalau kami tidak akan menyakitmu.” “Tenang gimana?” seru Jake nyolot. “Gimana gue bisa tenang kalau nih kerdil nyebelin ngeluarin pisau kayak gitu!” Jake dapat merasakan genggaman Yik mengeras, ringisan nyaris lolos dari belah bibir Jake. Kemudian, tahu-tahu Yok mengulurkan benda semacam keris itu pada Yok, sementara di telapa tangannya sendiri ada sayatan melintang di telapak tangannya. Yik menerimanya, dan langsung menyayat telapak tangannya juga tanpa ragu. Jake kontan di bikin melongo karenanya. Perasaannya semakin resah. Rasanya ia ingin kabur saja, tetapi seperti ada sesuatu yang menahannya, sehingga kaki Jake cuma bisa mematung di sana. Kini Yik mengacungkan keris emas itu padanya, membuat Jake berjengit sedikit. “Kau mau melakukannya sendiri, atau aku bantu?” “Ngelakuin apa?” Jake tak mengerti. Yik menghela napas, lantas mengangkat genggaman mereka berdua, membuka kepalan tangan Jake. Tanpa sempat Jake berpikir, Yik sudah melakukan hal yag sama pada telapak tangannya seperti apa yang ia lakukan pada telapak tangannya sendiri. “Melakukan ini.” Jake mendesis, menahan nyeri. Ia melotot menatap Yik, dengan perasaan terkhianati. “Tadi lo bilang nggak akan menyakiti gue! Terus ini apa? Kata-kata kalian memang nggak bisa dipegang!” “Maaf aku lupa tentang ini. Tapi aku janji ini yang terakhir,” ujar Yik. Kembali menggengam tangannya, membuat darah mereka bercampur, di sebelahnya, Yok ikut-ikutan menggengam tangannya, alhasil darah ketiganya bercampur sekarang. Yik dan Yok mengangkat tangannya ke udara. Tetes demi tetesan darah mereka meluncur jatuh ditarik gravitasi. “Sebenernya apa yang mau kalian lakuin?’ suara Jake sedkit mengeras, sebab entah dari mana datagnya embusan angin yang setiap detiknya semkain kencang. Beberapa debu nyaris memasuki mata Jake, membuatnya kesulitan membuka mata. “Kami hanya sedang berusaha memberikan bukti yang kau minta itu, Jake.” Jake mendesis sebal, sebab Yik tetap mengatakn hal yang sama, tanpa memberi tahunya detailnya. Detik berikutnya, Jake merasakan sapuan udara yang jauh lebih kencang dari sebelumnya. Jake merasa ada yang aneh. Ia yakin ia merasakan terpaan angin yang amat kencang, tetapi begitu ia mendapat kesempatan untuk melihat ke sekitar, beberapa pohon di sekitarnya tak ada yang bergerak seolah-olah tak terkena efek angin itu. Daun itu memang bergerak, tetapi cuma melambai-lambai gemulai. Dengan kekuatan angin yang sekencang ini, rasanya itu tidak mungkin. Atau barangkali angin itu cuma ada di hadapan mereka? Tidak! Itu jelas sangat tidak masuk akal. Sibuk dengan pikirannya sendiri, Jake sampai tidak menyadari adanya pusaranudara yang perlahan-lahan terbentuk di bawah sana, semakin tinggi sampai mencapai posisinya saat ini. “Bersiaplah, Jake!” seruan Yik yang tiba-tiba memintanya bersiap membuat Jake tersentak serta ling-lung di saat bersamaan. Ia tak tahu ahrus bersiap untuk apa. Lalu begitu menoleh ke bawah, dan melihat pusaran torpedo, Jake kembali di bikin terkejut. Tubuhnya mendadak kaku. Dari mana datangnya torpedo ini? Mengapa sangat tiba-tiba? Anehnya torpedo itu cuma berputra di satu tempat, stagnan, tidak bergerak ke sisi mana pun barang seinci pun. Belum sempat jake berpikir lebih jauh. Ia merasakan dirinya di tarik jatuh, bersamaan denagn seruan Yik lainnya. “Sekarang!” Bola mata Jake membelalak lebar, menyadari dirinya dalam seperkian detik akna di telan oleh torpedo tersebut. Adrenalin jake terpacu ratusan kali lipat lebih cepat. Begitu pula dengan degupan jantungnya, Jake bahkan bisa merasakan kalau jantungnya itu bisa copot kapan saja. Jake tak menyangka kalau hidupnya akan berakhir setragis ini, gara-gara dua makhluk aneh ini. Jake seharusnya dari awal memang tidak perlu memercayai mereka. Jake menyesal pertemuan terakhirnya dengan Jay tidak begitu baik sebab di isi dengan perseteruan. Ia harap, Jay akan memaafkannya. Jika tahu begini, Jake pasti akan membuat perpisahan yang jauh lebih indah. Tidak! Pikiran apa-apaan itu! Jika tahu akan begini, jake tentu tidak akan sudi memberikan kepercayaannya yang berharga pada dua kurcaci penjahat ini. Maka hidupnya tidak akan berakhir seperti ini. Sialan! Dirinya sungguh kelewat bodoh, dan ia baru menyesalinya sekarang, yang mana semua itu tak ada gunanya sekarang. Jake merasa tubuhnya berputar-putar secara cepat, membuat perutnya terasa seperti di aduk-aduk, hingga terasa mual. Tidak jauh berbeda dengan kepalanya yang pusing buak main, seakan-akan isi otaknya sedang di acak-acak. Jake juga sudah tidak mersakan genggaman tangan Yik dan Yok sejak tornado itu menelan tubuhnya. Satu yang Jake yakini, kalau kedua makhluk itu juga turut terseret tornado bersamanya. Ombang-ambing yang tubuh Jake rasakan perlahan mulai berkurang. Kemudian detik berikunya, tubuhnya terasa melayang dan dalam seperkian sekon terhempas menghantam sebuah bidang keras. Nyeri menjalari seluruh persendian tubuhnya. Tubuhnya mendarat dengan posisi tengkurap. Ia sempat membuka matanya sedikit hanya untuk di sambut dengan pemandangan yang buram. Beberapa kali ia coba mengerjapkan kelopak mata, guna menjernihkan pandangan, tetapi pusing yang mendera kepalanya terlampau hebat hingga ia kalah dengan kegelapan yang menelannya. Meski samar Jake sempat mendengarseruan-seruan dari suara yang ia kenali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD