Lima Belas

1266 Words
“Yok!” Yik langsung memelototi Yok begitu mereka sampai, di dunia mereka. Apa yang membuatnya marah adalah, kondisi Jake yang terkapar mengenaskan tak jauh dari mereka. Padahal ia suda meminta Yok untuk menahan tubuh Jake bersamanya, sebab Yik tak bisa melakukannya lantaran tenaganya yang lebih sedikit. Akan tetapi, Yok seolah-olah tak bersalah, ia cuma mengedikkan bahu. “Apa? Lagi pula dia tidak akan mati. Duh, tenang saja.” Tanpa perlu perhitungan, Yik memukul kepala Yok sangat keras. Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, ia bergegas menghampiri tubuh Jake yang tergeletak di atas tanah. Kurcaci wanita itu membalikan tubuh jake, dilanda cemas waktu mendapati pemuda itu pingsan. “Kalau terjadi apa-apa pada, Pangeran, aku pastikan akan memanggang mu Yok!” ancam Yik seraya menatap saudaranya tajam. “Ada apa ini.” Seruan lain muncul. Seruan dari seorang pemuda yang baru saja melopat ke luar dari sebuah cahaya. Cahay yang sama tempat Yik, Yok, dan Jake ke luar tadi. Cahaya tersebut adalah pintu yang terhubung dengan pusara tornado yang mereka ciptakan di dunia manusia. Tepat setelah pemuda itu keluar dari sana, cahaya tersebut perlahan-lahan memudar sampai akhirnya memudar dan akhirnya musnah. Pemuda itu menatap silih berganti antara Yik, Yok, dan terakhir Jake. “Yok tidak menahan Jake dari guncangan portal,” adu Yik masih sangat dongkol. Pemuda itu pun mendekati Yik dan Jake. “Tidak usah berlebihan, Yik. Dia tidak akan mati. Lagi pula dia lemah sekali sampai pingsan begitu,” cecar Yok. Yik mendelikinya. “Diam kau, Yok. Sekali lagi aku dengar kau bersuara, aku akan mememparkanmu ke sarang troll!” Yik terdengar tak main-main dengan ucapannya. Maka dari itu Yok memilih menutp rapat-rapat bibirnya. Enggan menambah kemarahan saudaranya itu. Pemuda itu mengangkat tubuh Jake. “Hentikan perdebatan kalian sebentar. Lebih baik kita mencari tempat yang lebih aman terlebih dahulu. Pemuda itu melihat sekitarnya yang jauh berbeda dari yang terakhir kali ia lihat. “Wah, sudah perah ini ya?” gumamnya, yang di dengar oleh Yik juga Yok. “Jika tidak separah ini kai jelas tidak akna mengambil resiko dengan meminta bantuan pada, Pangeran.” Penuturan Yik, membuat pandangan pemuda itu teralih ke arah jake yang berada di punggungnya. “Tapi apa kalian yakin dia akan membantu san tidak sebaliknya?” Yik terdiam untuk sejenak. “Aku tidak yakin….” Yik memberi jeda. “Tapi tidak ada salahnya berharap bukan?” Sudut bibir pemuda itu berkedut. “Uah, apa boleh buat.” Ia pun bangkit, melennggang diikuti dua kurcaci bersaudara itu. “Omong-omong.” Itu Yok ayang bersuara, ia lupa tidak boleh bersuara sehingga mendapat delikn dari Yik. Namun sepertinya Yik sudah sedikit mereda, jadi Yok melanjutkan kata-katanya. “Kenapa kau tidak mengubah wujud mu? Kau kan sudah berada di sini. Tidak ada gunanya masih menggunakan penyamaran itu. Pemuda itu tersenyum sampai matanya cuma segaris. “Ah itu. Aku berencana mempertahankan wujud ini lebih lama. Aku tampak jauh lebih muda dan tampan pada wujud ini. Lagi pula aku yakin kalau Jake akan lebih nyaman melihatku yang begini, ketimbang wujud asliku.” * Kepala Jake terasa sedikit pening sewaktu ia mendapat kembali kesadarannya. Kelopak matanya yang mengerjap terbuka, di sadarai oleh Yik yang sedari tadi cemas menunggunya sadar. “Jake kau sadar? Kau bisa mendengarku?” Kalimat Yik itu di dengar oleh dua insan lain yang juga berada di sana. Jake mendengarnya, ia memusatkan pandangan ke arah sumber suara. “Kau…,” ujarnya antara sadar dan tidak sadar. Detik berikutnya, bola matanya membelalak lebar diikuti tubuhnya yang berjengit bangkit. “Kau mau membunuh ku, ya?” seru Jake waktu teringat bagaimana Yik dan Yok menariknya untuk bersama-sama terjun ke pusaran torpedo. Yik menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak. Tentu saja tidak mungkin. Kami tidak mungkin berniat membunuh, Pangeran.” Jake mendesis tajam. “Tapi kau….” Pandangannya ia edarkan ke sekitar, tempat ia berada sekarang lebih terlihat seperti hutan. Ada banyak pepohonan yang berkali-kali lipat lebih besar dari apa yang pernah ia lihat. Kegelapan di sekitarnya menandakan saat ini sudah malam, seingat Jake kejadian tadi itu masih pagi. “Di mana kita sekarang?” Jake berpikir torpedo tadi yang membawanya ke mari. Tapi, seingatnya di kota tempatnya tinggal tak ada hutan selebat ini. Apa memang terpedo itu bergerak jauh? “Kita sudah berada di Negeri I Land, Pangeran.” “Kita—kita apa?!” Jake memelotot, ingin memastikan apa yang barusan ia dengar salah. “Kita ada di negeri I Land. Duh, sudah bo-doh, tuli pula ternyata.” Itu jelas bukan Yik, Jake menoleh, menemukan Yok yang duduk bersandar pada sebatang pohon tidak jauh darinya. Akan tetapi bukan itu yang membuatnya terperanjat sampai kata-katanya hilang, melainkan presensi lain yang berada di dekat api unggun kecil. Dia—dia mirip sekali dengan….”Jay?” panggilnya setengah tak percaya. Bagaimana mungkin ia juga ada di sini. “Kau, Jay?” Merasa di panggil, sosok yang di panggil Jay pun menoleh, langsung melempar senyum bersahabat pada Jake. Jake yang melihatnya di bikin merinding. Itu memang senyuman Jay, tetapi entah mengapa seperti ada yang terasa berbeda. “Kenapa Jay juga bisa ada di sini? Terus apa kata kalian tadi? Kita ada di negeri I Land? Jangan ngawur, kita nggak mungkin di sana, gimana bisa caranya kita ada di sana? Lagi pula tempat itu nggak bener-bener ada ‘kan? Kalian….” Jake menunjuk Yik dan Yok sillih berganti dengan sorotan penghakiman. “Apa yang kalian udah lakuin kepada ku… dan Jay.” Jake agak ragu-ragu waktu menyebut nama Jay. “Pangeran tenang lah,” ujar Yik seraya maju selangkah mendekati Jake. “Jangan panggil aku, Pangeran!!” teriak Jake kalut. Ia lantas perlahan bangkit menggunakan kedua tungkai kaki yang masih terasa sedikit gemetaran. Pikirannya terlampau kalut mencerna semua ini. Ia sulit berpikir logis sekarang. Pusaran torpedo tadi seharusnya mampu membunuhnya, tetapi kenapa ia tidak mati? “Aku bukan pangeran atau apa pun itu.” tekan Jake dengan mata nyalang. Ia lantas beranjak menghampiri Jay yang sedari tadi cuma diam. Ia tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu sekarang, tetapi yang terpenting sekarang adalah menjauhkannya dari makhluk-makhluk tidak waras ini. Ia meraih lengan Jay, sembari berkata, “Ayo, Jay, kita harus pergi dari sini.” Jake menarik Jay, tetapi anehnya pemuda itu menahannya. Sesuatu yang membangkitkan emosi Jay. “Jay! Ayo kita harus segera pergi dari sini, aku tahu kau pasti bingung, tapi aku bakalan jelasin itu nanti.” Jake berpikir kalau Jay pasti lah turut di culik oleg dua makhluk kerdil itu tanpa sepengetahuannya. Seharusnya Jake tidak memang tidaj perlu melibatkan Jay kalau begini jadinya. “Kau mau membawa ku pergi ke mana, Jake?” Tubuh Jake kontan di bikin menegang. Jay berbicara seperti Yik dan Yok berbicara. Perlahan-lahan cengkramannya terlepas, ia memandangi Jay yang cuma menyemat senyum dengan bola mata bergetar. “Kita ada di I Land sekarang, kau tidak tahu arah di tempat ini bukan? Biar aku yang memimpin.” Jake tidak mengerti sama sekali dengan apa yang barusan sosok Jay itu katakan. Ketika sosok itu hendak meraih lengannya, Jake sigap menghindar. “Siapa kau? Kau pasti bukan Jay ‘kan?” Jake beralih pada Yik dan Yok. “Ini pasti ulah kalian juga! Apa yang udah kalian lakuin sama Jay!” Yik baru saja membuka mulutnya, ingin menjelaskannya pada Jake, tetapi sosok Jay itu mengangkat tangannya udara, tanda agar Yik diam. Ia berucap, “Biar aku yang urus, Yik.” Jay memandang dalam ke sorot mata Jake yang di sesaki kebingungan dan kekalutan. Sosok Jay tersebut lantas meletakan tangannya di bahu Jake. Ada sebuah aliran yang terasa menyengat Jake sewaktu tangan itu menyentuh bahunya, kemudian detik berikutnya tubuh Jake ambruk kehilangan kesadaran. Begitu pula dengan sosok Jay itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD