Jake tidak tahu ada di mana dirinya sekarang. Setahunya tadi ia berada di tempat gelap di tengah hutan bersama dua makhluk kerdil aneh dan sosok mirip Jay, sampai sosok Jay itu melakukan sesuatu yang tidak Jake mengerti, hinggak membawanya ke sini. Sebuah tempat asing yang sejauh apa pun Jake memandang ia cuma menemukan ruang putih kosong.
Apa sekarang ia berada di surga? Dewa batinnya membisik, seraya tungkai kakinya terus melangkah tak tentu arah.
“Ini bukan surga, Jake.” Jake di bikin terperanjat dengan sebuah suara familiar yang mendadak terdengar menggema di sana. Kepala Jake menoleh ke sana-ke mari mencari-cari siapa gerangan yang baru saja berbicara. “Tidak perlu mencari aku di mana. Karena kau memang hanya bisa mendengar suara ku.”
Jake menggeram. “Siapa kau?”
“Kau pasti sangat bingung sekali bukan, Jake? Saat ini kepala mu pasti sedang di sesaki dengan pertanyaan-pertanyaan berikut dengan asumsi-asumsinya.” Jake tak menyangkal, lantaran memang benar itu adanya. Semua hal yang di alami terlampau ajaib sampai-sampai Jake hampir berasumsi kalalu ini semua cuma mimpi yang tidak berkesudahan. Atau barangkali ada yang rusak dengan otaknya, akibat serangan-serangan yang ia peroleh dari sosok pembulinya di masa sekolah menengah atas dulu.
“Kalau iya memang kenapa? Memangnya kau bisa menjawab semua pertanyaan itu?” tanya Jake pada udara kosong.
“Tentu saja. Itu lah sebabnya aku membawa mu ke dalam bagian memori ku.” Jake mengernyit. Lalu detik berikutnya ruang kosong putih itu, perlahan-lahan tercampur dengan warna lain serta bergetar hingga menghasilkan sebuah frame yang di dalamnya memuat orang-orang berpakaian aneh yang tidak Jake kenali. “Kau bisa melihatnya sendiri jawabannya, Jake. Aku terlalu malas berbicara panjang lebar, yang kemungkinan tidak akan kau percayai kalau hanya sekedar kata-kata.”
Setelah menggemakan rentetetan kalimat itu, suara itu menghilang. Menyisakan Jake yang terpaku pada sesuatu yang di depannya yang terlihat seperti sebuah layar lebar. Ia sekan-akan sedang menonton sebuah film sekarang, sayangnya tidak ada suara yang bisa ia dengar. Selayaknnya putaran video yang di mute.
Di sana menunjukkan adegan seorang pria paruh baya berjubah merah pekat di lengkapi aksesoris mahkota yang nampak berkilauan elegan. Hanya dengan itu, Jake mampu menebak kalau sosok itu adalah seorang raja. Apalagi di tambah dengan seraut wajah tegas dan penuh wibawa. Ia tengah menggendong seorang bayi yang tengah menangis keras di pelukannya. Memang tidak ada suara, tetapi melihat betapa merahnya serta mulut yang terbuka amat lebar, Jake tahu bayi mungil itu menangis histeris. Adegan selanjutnya lantas beralih pada adegan di mana si pria paruh baya tadi, yang berbicara sesuatu pada lelaki bertubuh jangkung serta rambut pirang panjang. Jake nyaris mengiranya wanita tadi, jika saja ia tidak teliti melihat jakun pria itu yang besar bergerak naik turun. Sejurus kemudian bayi tersebut berpindah ke dekapan si rambut pirang. Sementara si pria paruh baya tadi melakukan sesuatu yang tidak Jake mengerti di depan dua pohon besar. Tidak lama kemudian, sebersit cahaya muncul, melintang dari pohon satu ke pohon lainnya, bervolume seperti sebuah tabung. Si pria berambut pirang memasuki cahaya tersebut bersama bayi mungil di gendongannya, menundukkan kepala sejenak memberi penghormatan pada sosok raja itu, sebelum akhirnya, cahaya itu beserta dirinya lenyap dalam hitungan detik.
Kemudian, adegan berikutnya menunjukkan si pria berambut pirang tadi yang tiba di sebuah kepadatan kota. Jake dapat melihat keterkejutan sesaat pada air mukanya. Sementara orang-orang di sekitarnya bertindak seolah-olah dia tidak ada. Seolah-olah tidak ada makhluk aneh yang mendadak muncul di tengah-tengah mereka. Orang-orang itu tetap sibuk dan tekun pada kegiatan masing-masing. Adegan lagi-lagi berganti, kini menunjukkan si pria berambut pirang yang berdiri di depan sebuah rumah megah yang tengah dilanda hujan badai. Detik pertama Jake melihatnya, ia langsung di bikin tertegun, lantaran bangunan rumah itu tidak asing baginya. Itu seperti rumahnya dulu. Rumah yang kini telah di sita oleh pihak bank.
Si rambut pirang tampak melakukan sesuatu pada bayi di dekapannya, yaitu meletakan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengahnya, ke d**a si bayi. Bayi dengan manik merah darah itu tampak memandangnya polos dengan senyuman manis. Kemudian tahu-tahu manik merah itu bertranformasi menjadi warna coklat gelap, seperti warna mata manusia pada umumnya. Warna surai yang tadinya perak terang pun kini bertransformasi menjadi hitam legam. Sejurus kemudian, ia meletakan bayik mungil itu di depan pintu rumah itu, dan pergi begitu saja menembus derasnya hujan. Sebelum si rambut pirang pergi, ia sempat melihat seorang pria paruh baya membuka pintu, ia tampak kebingungan menemukan seorang bayi yang di biarkan kedinginan di depan rumahnya. Tanpa basa-basi, pria itu membawa si bayi masuk.
Jake tanpa sadar menggigiti bibr bagian dalamnnya. Bola matanya memerah menyaksikan itu semua. Walaupun pria itu tampak lebih muda dari ingatan terakhir Jake, tetapi Jake tetap dapat mengenali, kalau pria itu adalah ayahnya. Jake mengepalkan tangannya kuat, otaknya yang sedari tadi bekerja sudah mulai mampu merangkai kepingan puzzle di hadapannya. Namun hatinya masih bebal tak mau mengakui.
Selanjutnya adegan kembali berganti. Menunjukkan dirinya semasa masih balita yang baru lancar berjalan, yang tengah bermain di balkon sendirian tanpa pengawasan. Balita itu tahu-tahu melongok ke sela-sela pagar balkon, tertawa senang seraya melambai-lambai ke arah bawah. Di arah itu ada si pria berambut pirang yang juga tengah melambai. Kemudian dalam hitungan detik, Jake dalam frame itu tahu-tahu terjun. Jake yakin balita itu sudah berakhir mengenaskan, jika saja si rambut prang tidak sigap menangkapnya. Sementara si balita yang tidak tahu menahu kalau ia baru saja menantang maut, cuma bisa tertawa memegangi wajah si rambut pirang.
Dari arah lain, muncul seorang wanita paruh baya yang menatap balita itu dengan pandangan mendelik horor. Itu ibunya. Melihat presensi manusia lain, si rambut pirang segera meletakan balita Jake ke bawah, yang seketika membuat si balita cemberut. Ibu Jake lantas tampak terburu-buru meraih, anaknya yang seketika itu juga menangis histeris dengan tangan yang terjulur pada si rambut pirang.
“Ah, aku harusnya meminta maaf karena sudah membuat wanita itu ketakutan saat itu.” Suara itu muncul lagi, tetapi Jake tak bergeming. “Saat itu ia pasti ketakutan setengah mati karena dalam penglihatannya anaknya mengambang di udara.”
Adegan terus berganti, menunjukkan bagaimana Jake kecil yang selalu bermain dengan sosok berambut pirang itu. Sementara di sisi lain, orang tuanya yang mengawasinya diam-diam justru di landa keresahan. Menyaksikan itu semua, membuat Jake teringat pada cerita ibunya dulu. Wanita itu bilang, kalau Jake saat kecil dulu sering kali tampak bermain seorang diri, tetapi saat di tanya, katanya ia bermain dengan seorang paman beruban. Lantaran cemas anaknya diganggu oleh orang halus. Orang tuanya juga mengaku pernah membawa Jake ke orang pintar, tetapi hal itu juga tak memberi perubahan apa pun. Seiring Jake bertambah dewasa hal-hal aneh itu pun mulai berkurang terjadinya. Sekarang Jake tahu alasannya.
Adegan berikutnya lantas berganti lagi, kali ini hanya menunjukkan si pria berambut pirang, yang tampak sedang berdiri di depan sebuah rumah yang lagi-lagi tidak asing baginya. Itu rumah Jay. Pria itu mengettuk pintu, tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya yang tampak modis muncul. Itu mama Jay, air mukanya di aliri kebingungan. Si pria berambut pirang tadi lantas memainkan jemarinya di depan wajah wanita itu, membuat tatapan mama Jay mengosong selama beberapa saat. Pada selang waktu tersebut, tubuh si pria berambut pirang bertransformasi menjadi tubuh anak muda.
“Jay,” bisik Jake pada dirinya sendiri, setelah mengenali siapa pemuda itu. Detik berikutnya mama Jay tersadar, ia melihat Jay dan langsung membawanya masuk dengan hangat. “Apa yang….”
“Aku mempunyai kekuatan memanipulasi memori,” suara itu menjawab, seolah mengetahui kebingungan Jake. “Selama beberapa lama aku mengamati sepasang suami-istri itu, mereka tidak mempunyai anak. Maka aku masuk ke dalam keluarga mereka sebagai anak mereka dengan memanipulasi memori mereka. Itu aku lakukan agar aku bisa berada di dekatmu yang sudah beranjak remaja.”
Adegan terus berlanjut, memperlihatkan kedekatan antara Jay dan Jake. Lalu sampai akhirnya, menunjukkan kejadian kemarin di mana Jake memasuki sebuah gedung kosong di sana. Begitu Jake masuk, Jay tampak berjalan memutari gedung itu, hingga sampai di bagian belakangnya. Sahabatnya itu tampak berjongkok dengan satu kaki, ia melukai tangannya sendiri dan mengalirkan darahnya ke atas tanah, ia mendongak sejenak dan di sana sudah terlihat Jake bersama Yik dan Yok. Sejurus kemudian, ia tampak menyatukan kedua telapak tangannya, serta memejamkan mata. Lalu secara ajaib, tanah yang di tetesi darah tadi memunculkan sedikit retakan. Hembusan angin datang, lalu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah torpedo yang kian membesar.
Sekon berikutnya Jake nyaris dibikin menganga, sewaktu sayap kecil muncul di balik tubuh Jay, merobek baju pemuda itu. Ia terbang ke atap gedung dan berdiri beberapa meter di belakang Jake. Ia menjadi yang terakhir melompat masuk ke dalam torpedo, sekaligus menutup pintu portal tersebut.
Semua itu lantas berakhir di sana, frame melayang yang memuat potongan memori itu memudar seperti asap. Sementara Jake masih betah termangu di tempatnya.
“Aku, Jay, atau para makhluk di negeri ini mengenal ku dengan nama Yaj. Aku adalah pendamping setia ayahmu, yang bertugas mengawasi mu selama masa pengasinganmu di dunia manusia.” Suara Jay atau Yaj, kembali terdengar. “Aku harap setelah semua yang kau lihat kau bisa memercayai kalau ini semua bukan lah mimpi. Masih banyak yang perlu kau ketahui, dan kurcaci kerajaan itu akan menjelaskannya pada mu. Karena aku tidak bisa menerima mu terlalu lama di labirin pikiran ku.”
Selepas berkata demikian, kegelapan kembali menghampiri Jake.