Tujuh Belas

554 Words
  Seorang dalam wujud remaja lelaki itu, menjadi yang pertama sadar. Ia bangkit dan menemukan Jake masih memejamkan mata di sebelahnya. “Bagaiamana, Yaj?” Yik yang sedari tadi berada di sisi mereka, langung mengutarakan tanya mengenai perkembangan dari tindakan yang lelaki itu lakukan. “Aku sudah menunjukkan semuanya padanya, ku harap dengan begitu ia bisa percaya dan mengerti. Nanti adalah giliran mu untuk menjelaskan semuanya padanya.” Yik mengangguk paham. Tidak lama berselang, kelopak mata Jake bergetar terbuka. Bola matanya bergulir, menemukan Yik, Yok, dan terakhir Yaj. Melihat sosok dalam wujud Jay itu, kini justru mengingatkannya pada sosok pria dewasa berambut pirang. Jake membuang mukanya ke arah lain, pikirannya sedang terlampau kusut sekarang menerima informasi-informasi itu. Jake lantas bangkit, lalu tanpa mengatakan apa pun melenggang pergi dari sana. Yik yang melihatnya hendak menahannya, tetapi Yaj mencegahnnya melakukan itu. “Biarkan dia, YIk. Dia perlu waktu untuk sendiri dan berpikir.” “Tapi—“ Yik tamapk tak setuju, tetapi Yaj tak menghiraukannya. Ia berteriak pada Jake. “Hei! Jangan pergi terlalu jauh, dunia ini bukan tempat yang aman sekarang untuk seorang seperti diri mu berkeliaran.” Jake mendengarnya, tetapi ia tak menggubris sedikit pun. Tungkai kakinya terus berjalan ke mana pun, asal ia tak perlu melihat ketiga makhluk itu. * Tungkai kaki Jake berhenti melangkah begitu di rasa ia sudah berjalan terlalu jauh. Ia menghempaskan bokongnya di bawah sebuah pepohonan sembarang. Kepalanya mendongak menatapi langit yang di tutupi kabut gelap, sehingga Jake tidak tahu saat ini pagi, siang, atau kah malam. Ia memerhatikan sekitarnya, yang hanya ada pepohonan, semak-belukar, dan tumbuhan lainnya. Jadi, benar sekarang ia sudah berada di dunia lain? Jake tidak merasakan perbedaannya, rasanya tempat ini sama seperti hutan di dunianya. Kecuali fakta bahwa pepohonan di sini memiliki ukuran nyaris sebesar gedung-gedung di kotanya. Jake mencabuti rerumputan di bawahnya. Pikirannya kusut semrawut serupa gulungan wol yang diacak-acak. Terlampau banyak hal tidak terduga yang terjadi padanya dalam waktu tiga hari ini, sukses membuat kepalanya kepanasan memproses itu semua. Pertama fakta mengenai ayah Dani yang meninggal lantaran berusaha menyelamatkan ayahnya—sosok ayah yang ternyata beberapa menit yang lalu, Jake ketahui bukan ayah kandungnya. Kedua, kematian orang tuanya yang merupakan insiden bunuh diri karena terlilit hutang. Jake bahkan tak tahu kalau kedua orang tuanya memiliki hutang, ia merasa buruk karenanya sekarang. Lalu tidak habis sampai di situ, muncul dua makhluk asing yang memanggilnya dengan sebutan Pangeran, sekaligus terus membuatnya naik darah. Kemudian terakhir, sahabatnya Jay, yang ternyata jelmaan pria dewasa berambut pirang aneh yang mengaku sebagai pengawasnya. Jake mengusak rambutnya frustasi. Agaknya semesta memang senang sekali mempermainkannya. Kehidupan Jake sudah seperti sebuah lelucon. Lelucon yang tak tahu kapan akan berhentinya. Padahal Jake cuma ingin hidup normal, sebagai anak laki-laki normal, tetapi yang ia dapatkan justru sebaliknya. Jake mengembuskan napasnya kasar, melirik ke suatu sudut di antara semak dan ranting pohon sebesar pipa, sejak ia mendaratkan bokongnya di tempat itu Jake merasa seperti ada sesosok yang mengawasinya di sana. “Hei kalian, makhluk kerdil dan om tua, berhenti mengawasi ku begitu dan pergi lah. Aku sedang tidak dalam suasan yang bagus,” sungut Jake. Ia mengira bahwa sosok yang mengawasinya itu pastilah dua kurcaci atau si Yaj. Tidak ada sahutan. Namun tidak lama dari itu sesuatu yang mirip dengan ekor muncul menyabet sisi kiri Jake. Jake kontan di bikin menegang, tidak tahu harus berbuat apa.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD