Berat hati Juna menutup pintu. Menutup kepeduliannya terhadap jerit tangis Hilara. Hanya untuk sejenak, biarkan dia lari dari kekecewaan tak dianggap ada. Bukan tega Juna mendiamkan Hilara menangis parah. Walau namanya tak disebut dalam tangisan Hilara, Juna merasa hatinya terpanggil. Hilara membutuhkannya. Sekuat tenaga Juna menahan diri untuk tidak menyeruak masuk dan memberi gadis kecilnya pelukan. Juna membiarkan linu menggeliat, merongrong hingga dia lemah, kehilangan daya untuk sekadar berdiri. Juna menyandarkan punggung di pintu. Dia menengadah menghalau umpahan air mata. Perkataannya tadi disadari keterlaluan. Mengungkit sisi sensitif yang bisa membawa seseorang kembali mengenal hal buruk. Juna lagi-lagi menyakiti Hilara, melanggar janjinya pada diri sendiri yang akan menjad

