"Benaran orang kayak gitu lo panggil Om?" Ken memastikan Hilara bercerita. Dan anggukan Hilara didapatkan. "Om terlalu sopan. Orang hajat gitu nggak pantes dibaik-baikin." "Om Bahar sahabat Ayah. Mereka udah dari lama temanan jadi ya udah kayak keluarga, pamanku." Ken berdecak. Dari awal hingga akhir Hilara menceritakan masalahnya seolah apa yang dia terima malam ini. Yaitu terlunta-lunta di jalanan adalah hal biasa. Ken heran, mengapa bisa ketika diperlakukan begitu kejam Hilara tidak marah. Normalnya orang ya pasti nangis kejer. Bahkan wajah kesal pun sama sekali tidak Ken temukan. Malah Ken yang marah. "Kok lu santai banget, anjir? Hila, lo tuh ditinggalin di pinggir jalan, malam-malam, tanpa bekal apa pun. Amit-amit nih ya, gimana kalau disamperin orang jahat? Cuma mau ketemu

