3.3

1443 Words

Juna merasakan pasokan udara tenang dan perih bersamaan saat Hilara muncul di ambang pintu. Tatap mereka saling bertubrukan. Juna melihat kilat rindu di permukaan bening netra putrinya. Sama seperti Juna yang kalau bisa berdiri, dia ingin merengkuh tubuh mungil Hilara. Sayang, kecelakaan itu menyebabkan kakinya sulit digerakan untuk beberapa hari ke depan. Juna benci mendengar Bahar mengjelek-jelekan Hilara seolah anaknya itu tukang pulang malam dan nakal. Juna benci melihat air mata Hilara mengalir deras hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Tidak bersala, tidak berbohong. Sulit menghentikan omongan tajam Bahar. Ketika Hilara menatap Juna sarat akan permohononan, Juna hanya bisa memalingkan muka. Bukannya tak percaya, Hilara pasti punya alasan pulang hampir tengah ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD