Menantu Durhaka

1599 Words
Saat aku baru saja ingin menutup mataku, tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan ibu mertuaku yang memanggilku. "Istri Miko ...," suara teriakan ibu mertuaku yang sangat memekakkan telinga. Sontak aku langsung terbangun dengan jantung yang masih tak beraturan karena saking kagetnya. Yah benar sekali, ibu mertuaku tak pernah memanggilku dengan namaku ataupun panggilan menantu. Dengan tergopoh-gopoh aku keluar kamar dan menghampiri ibu mertuaku. "Iya Bu, ada apa?" tanyaku dengan suara lembut. "Kamu itu ya, kalo dipanggil mbok ya cepetan nyaut. Lelet banget sih," ucap ibu mertua yang lagi-lagi memakiku. "Maaf Bu, saya tadi ketiduran," jawabku dengan nada yang serendah mungkin agar ibu mertuaku tidak semakin marah. "Enak banget ya, kerjaannya hanya makan tidur. Kerja tuh kayak si Salma, jadi wanita karir," lagi-lagi ibu mertuaku membandingkan aku dengan si Salma, wanita yang menjadi idamannya untuk dijodohkan dengan Mas Miko. Aku hanya diam saja mendengar penuturan ibu mertua yang serasa merobek ulu hatiku itu. "Untung saja dia belum menikah, jadi masih ada kesempatan," celetuk ibu mertuaku yang membuatku terkejut. "Maaf Bu, maksud Ibu apa?" tanyaku yang penasaran dengan maksud perkataan ibu mertuaku itu. "Ya kan kalo dia belum menikah, masih ada kesempatan buat jodohin Miko dengan Salma," balas ibu mertuaku yang benar-benar tak punya hati. Ternyata hingga usia pernikahanku dengan Mas MIko menginjak 3 tahun, ibu mertuaku masih berambisi untuk menjodohkan Mas Miko dengan Salma yang rumahnya tak jauh dari rumah kita. Sebenarnya aku ingin menangis mendengar penuturan ibu mertuaku itu, tapi aku berusaha tetap tegar. "Maaf Bu, ibu tadi memanggil saya untuk apa?" tanyaku yang berusaha melupakan apa yang dikatakan ibu mertuaku tadi, padahal sebenarnya kalimat itu masih terngiang di telingaku. "Kamu sekarang juga pergi ke warung bakso Kang Maman di desa sebelah, belikan saya dua bungkus," ucap ibu mertuaku yang menyuruhku namun seperti sedang berbicara dengan budaknya. "Tapi Bu, di Kang Mimin kan ada," balasku yang merekomendasikan bakso di warung Kang Mimin yang jaraknya lebih dekat dari rumah. "Saya nggak mau ya dibelikan disana, baksonya kurang enak. Udah jangan membantah, ayo belikan sekarang juga," ucap ibu mertua sambil mendorongku. "Pake duit kamu ya, jangan perhitungan sama mertua. Nanti kamu kualat, jangan jadi menantu durhaka kamu," ucap ibu mertuaku sambil berlalu ke kamarnya. Aku hanya bisa menambah kesabaranku untuk menghadapi ibu mertuaku itu. Akhirnya aku kembali ke kamar untuk mengambil uang dan juga jaket. Siang itu cuaca sangat terik dan jarak yang aku tempuh lumayan jauh. Saat aku akan menaiki sepeda motor metic milik ayah mertuaku, tiba-tiba ayah mertuaku keluar dari kamar dan memanggilku. "Eh, kamu mau kemana? Jangan bawa motor saya?" tanya ayah mertua kepadaku. "Eh Bapak, maaf ya Pak Gendis mau pinjam motor Bapak untuk ke kampung sebelah membelikan bakso untuk Ibu," balasku dengan raut muka yang sangat teduh. "Nggak bisa. Saya juga mau pergi. motornya mau saya bawa. Kamu pergi naik sepeda saja," balas bapak mertuaku yang membuatku benar-benar tak habis pikir dengan keluarga Mas Miko ini. Jika di luar sana ayah mertua akan lebih sayang dan menghargai menantunya, tapi tidak dengan ayah mertuaku. "Tapi Pak, Gendis cuma pinjam sebentar saja," aku masih berusaha agar dipinjami sepeda motor bapak mertuaku agar lebih cepat sampai rumah. "Nggak bisa, minggir-minggir saya mau pergi," ucap ayah mertuaku yang langsung meraih sepeda motornya yang sebelumnya aku pegang. Tanpa memiliki hati nurani, ayah mertuaku pergi begitu saja menaiki sepeda motornya. Akhirnya aku memutuskan untuk naik sepeda mini mahal yang sering digunakan ibu mertuaku pergi ke pasar. Dengan perasaan yang berkecamuk aku menaiki sepeda mahal milik ibu mertuaku itu. cuaca siang itu benar-benar sangat panas, tapi untungnya aku mengenakan hoodie sehingga kepalaku bisa terlindungi dari panas yang sangat membakar kulit itu. Di sepanjang jalan aku terus membayangkan masa-masa indah saat bertemu dengan Mas Miko suamiku. Aku dan Mas Miko bertemu pertama kali saat menghadiri sebuah acara pernikahan di kampungku, yaitu kampung yang akan aku datangi untuk membeli bakso. Saat itu yang menikah adalah saudara perempuanku dengan teman Mas Miko, saat itu pula Mas Miko jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku. Sejak saat itulah kami mulai dekat. Karena Mas Miko sudah berumur, jadi ia tak butuh waktu lama untuk menjalin hubungan denganku. Tepat setelah satu tahun kami dekat, Mas Miko langsung mengajakku menikah. Karena aku juga mencintai Mas Miko, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan ajakan Mas Miko untuk menikah. Saking terhanyutnya ke dalam lamunan, aku sampai tak sadar jika sudah melewati warung bakso Kang Maman. Akhirnya aku memundurkan sepedaku yang sudah kebablasan. "Gendis apa kabar kamu?' tanya Arum yang juga sedang membeli bakso. Arum adalah sahabatku. Rumahnya bersebelahan dengan rumah ibuku, namun semenjak aku menikah, kita menjadi jarang bertemu. Aku segera menstandarkan sepedaku. "Arum, kamu disini juga," balasku yang kemudian memeluk Arum. Beberapa saat kami berpelukan untuk melepas rindu karena lama tak bertemu. "Kabarku baik Rum, kamu gimana?" tanyaku kepada Arum yang juga sudah lebih lama menikah dan sudah memiliki anak berusia 2 tahun. "Kabarku baik Ndis. Udah lama banget ya kita nggak pernah ketemu, padahal rumah kita jaraknya nggak terlalu jauh, cuma beda kampung doang," balas Arum sambil terus memegang tanganku. "Iya Rum," balasku kepada Arum. "Kamu kok siang-siang gini naik sepeda ngapain? Nanti gosong lo," balas Arum sambil mengarahkan pandangannya ke sepeda yang aku parkirkan disamping warung Kang Maman. "Hehe nggakpapa Rum, sekalian cari keringat karena aku kurang gerak," balasku yang berbohong kepada Arum sahabatku. Padahal aku naik sepeds karena terpaksa. Aku hanya tidak ingin jika Arum sampai mengetahui penderitaanku. Apalagi jika kabar itu sampai terdengar di telinga kedua orangtuaku. "Oh, iyalah kan kamu jadi istri orang kaya, pasti dirumah kerjaannya cuma ongkang-ongkang kaki, pasti punya pembantu kan, makanya sampai kurang gerak," balas Arum yang menganggap aku diratukan dirumah Mas Miko. "Hem," aku hanya tersenyum merespon perkataan Arum yang sangat tidak benar itu. "Kamu kok nggak ada main ke rumah bulek sih?" tanya Arum kepadaku. Bulek adalah panggilan Arum kepada ibuku. "Iya Rum, Mas Miko masih sibuk, jadi tiap kali aku ajak sowan kerumah Ibu dia belum bisa," balasku, padahal sebenarnya aku tidak berani mengajak Mas Miko karena takut dengan ibu mertuaku. Jika aku sering-sering mengunjungi ibuku, ibu mertuaku menganggap jika aku selalu memberikan uang kepada mereka. Makanya aku menghindari hal itu agar kedua orangtuaku tidak difitnah oleh ibu mertua dan ayah mertuaku. "Oh iya ya, suami kamu kan kerjanya di Bank ya, makanya sibuk banget," balas Arum yang menganggap hidupku sekarang sangat bahagia. Saking asyiknya mengobrol dengan Arum, aku sampai lupa jika belum memesan bakso. "Kang, saya pesen baksonya enam bungkus ya," ucapku kepada Kang Maman. "Siap Mbak," balas Kang Maman yang masih sibuk menyiapkan pesanan orang-orang. "Gimana kamu sudah isi apa belum Ndis?" tanya Arum sambil memegang perutku. "Hem, belum Rum," balasku dengan senyum getir. "Kamu yang sabar ya. Tetap semangat dan jangan pantang menyerah," balas Arum sambil mengusap pipiku dengan lembut. "Iya Rum, aku akan selalu sabar," balasku singkat. "Kamu ini kok kelihatannya tambah gemuk, apa jangan-jangan?" ucapku yang kemudian menyentuh perut Arum yang terlihat membuncit. "Hehe iya Ndis, aku hamil lagi," balas Arum dengan raut muka bahagia. "Wahh selamat ya, aku ikut seneng dengernya," balasku sambil memeluk Arum sahabatku. Tanpa kusadari, ternyata air mataku terjatih. Aku memang sudah sangat menginginksn buah hati, makanya aku sering menangis jika melihat orang-orang yang hamil dengan mudahnya. "Semoga nular ke kamu ya. Oh iya Ndis, katanya kalo jempol kaki kamu diijak sama orang hamil, kamu akan tertular hamil Ndis. Sini jempol kakimu aku injak, siapa tau manjur," ucap Arum yang aku ikuti saja. Arum langsung menginjak jempol kakiku. "Nular-nular, semoga Gendis segera hamil," ucap Arum saat menginjak jempol kakiku. Ada-ada saja memang ulah Arum ini. "Baksonya sudah siap Mbak Arum, Mbak Gendis," ucap Kang Maman yang menghentikan keseruan kami. "Eh iya Mang, pesanankku dijadikan dua bungkus ya isinya tiga-tiga," ucapku yang dituruti oleh Kang Maman. "Iya Mbak," balas Kang Maman yang kemudian memberikan dua plastik berisi masing-masing tiga bungkus bakso itu padaku. "Berapa semuanya Kang, pesanan Arum sekalian ya Kang," ucapku kepada Kang Maman. "Eh nggak usah Ndis, aku ini beli banyak loh. Ada tamu soalnya," balas Arum yang melarang Gendis untuk membayar pesanan baksonya. "Enggakpapa Rum, sekali-sekali kok," balasku yang tetap kekeh akan membayar pesanan Arum. "Ya udah kalo gitu makasih ya," balas Arum kepada Gendis. "Totalnya seratus enam puluh lima ribu ya Mbak Gendis," balas Kang Maman yang menerima uang dariku. kebetulan saat itu aku membawa uang dua ratus ribu untuk berjaga-jaga saja. "Rum aku bisa minta tolong nggak?" tanyaku kepada Arum. "Iya Ndis, minta tolong apa?" tanya Arum dengan raut muka serius. "Tolong berikan bakso ini kepada Ibuku ya," balasku yang kemudian memberikan plastik berisi tiga bungkus bakso untuk diberikan kepada ayah, ibu dan adikku di rumah. "Kenapa kamu nggak mampir dulu sebentar sekalian memberikan sendiri kepada Bulek?" tanya Arum kepadaku, apa yang dia katakan memang benar. "Hehe untuk sekarang aku nggak sempet Rum, Ibu mertuaku sudah menunggu, jadi aku harus segera pulang," balasku yang beralasan. Sebenarnya aku menahan tangisan kala Arum mengingatkanku untuk sowan ke rumah ibuku. Betapa durhakanya diriku, untuk memberikan makanan kepada orangtuaku saja harus dititipkan ke orang. "Oh, ya udah kalo gitu. Sekali lagi makasih ya. Aku pulang dulu, nanti tamunya keburu kabur lagi karena keasyikan ngobrol sama kamu," ucap Arum yang kemudian melajukan sepeda motornya. "Ini kembalinya Mbak Gendis," ucap Kang Maman sambil memberikan uang kembalian kepadaku. "Oh iya Kang, makasih ya. Saya pamit pulang dulu ya Kang," balasku yang kemudian menaiki sepeda mahal itu. Di sepanjang perjalanan yang sangat panas itu aku terus mengayuh sepeda. Keringat bercucuran membasahi tubuhku. Rasanya sangat panas dan gerah. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Arum agar aku sowan ke rumah ibuku. Sudah satu bulan lebih aku tidak mengunjungi kedua orangtuaku. Akhirnya akau memutuskan untuk mengajak suamiku sowan ke rumah ibuku nanti malam, apapun yang terjadi aku tidak perduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD