Setelah terus mengayuh sepeda di bawah terik matahari yang sangat membakar kulit itu, akhirnya aku sampai di rumah orangtua suamiku.
Aku segera menstandartkan sepeda dan meletakkan plastik berisi tiga bungkus bakso itu di meja. Karena badanku sangat berkeringat, akhirnya aku memutuskan untuk mandi. Meski mertuaku tergolong orang kaya di kampungnya, tapi kamar mandi di rumahnya hanya ada satu, yang dipakai untuk bersama.
Jadi bisa dibayangkan, gimana antrinya jika ada acara keluarga yang dimana semua anggota keluarga mertuaku harus datang. Yang pasti aku selalu mendapat giliran mandi paling belakang.
Kadang Mas Miko yang mengalah untukku, agar aku bisa bermake-up.
Pasti sangat mantul, habis mandi makan bakso yang masih anget, minumnya air dingin, pikirku yang sudah berada di dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti baju aku pergi ke kamar untuk memakai body lotion. Tipe kulitku memang kering jadi setiap kali selesai mandi, aku harus selalu memakai body lotion.
Setelah membalurkan body lotion marina biru yang wanginya sangat aku sukai, aku segera keluar kamar untuk memberikan bakso yang telah aku beli kepada ibu mertuaku sekalian memakan bakso yang kubeli untukku sendiri, karena tadi aku melebihinya satu bungkus.
Aku mendekati meja makan, dimana aku meletakkan bakso yang aku beli tadi. Namun, saat aku melihat ke meja, aku tak melihat ada bakso disana. Aku segera mencari ke kolong meja barangkali dijatuhkan oleh kucing.
Namun aku tidak melihat apapun di kolong meja, dan tak ada bekas kuah bakso sama sekali. Seharusnya jika bakso itu memang jatuh pasti pecah, kuah dan isinya pasti berceceran di lantai, namun ini tak ada bekas sama sekali.
Kulihat ibu mertuaku keluar dari dapur dan langsung masuk ke kamarnya. Ayah mertuaku yang entah sejak kapan sudah berada di rumah juga keluar dari dapur.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan kepada ibu mertuaku, apakah baksonya memang sudah mereka makan atau hilang digondol kucing.
"Tok ... tok ...," aku mengetuk pintu di kamar ibu mertuaku.
"Ada apa?" balas ibu mertua yang ada di dalam kamar tanpa mau keluar untuk menemuiku yang sedang menunggu di depan pintu. Aku seperti seorang b***k yang berbicara dengan tuannya saja.
"Maaf Bu, saya mau tanya. Apakah Ibu sudah memakan bakso yang saya belikan tadi, saya taruh di meja Bu," ucapku dengan sangat hati-hati, karena takut ibu mertuaku tersinggung.
"Iya, memangnya kenapa?" Jawab ibu mertuaku dengan suara yang kasar hingga membuatku tersentak, karena aku tak melihat wujudnya.
"Itu Bu, tadi saya belinya saya lebihkan satu bungkus untuk saya sendiri. Ibu simpan dimana ya?" tanyaku dengan nada yang sangat lembut sekali.
"Oh jadi yang satu bungkus tadi untuk kamu?" jawab ibu mertua dari dalam kamar.
"Iya Bu, saya mau memakannya. Ibu simpan dimana baksonya?" tanyaku yang sudah tak sabar untuk memakan bakso Kang Maman yang terkenal enak itu.
"Sudah habis," balas ibu mertuaku dengan ketus, namun aku pikir ia sedang bercanda.
"Loh memangnya yang satu bungkus untuk siapa Bu? Apakah Ibu simpan untuk Mas Miko?" tanyaku yang masih berpikir positif mengenai ibu mertuaku itu. Aku pikir ia hanya bercanda.
"Dibilangin sudah habis ya sudah habis, satu porsi untuk suami saya dan yang dua porsi untuk saya," balas ibu mertua yang membuatku terkejut.
Betapa rakusnya ibu mertuaku itu. Ia tak memikirkan diriku yang panas-panasan membelikan bakso untuknya, ia malah memakan jatahku. Boro-boro mengingatku, sekedar mengucapkan terimakasih saja tidak.
Dengan perasaan penuh kekecewaan dan kekesalan terhadap ibu mertuaku, aku meninggalkan kamar ibu mertuaku. Aku memutuskan untuk makan nasi dengan lauk yang tersisa yaitu tumis kangkung, tempe dan kerupuk.
Sebenarnya tadi pagi aku juga masak ayam, tapi sudah habis untuk sarapan dan bekal untuk suami, kakak iparku dan suaminya. Bahkan akupun tak kebagian, tapi tak apa aku ikhlas.
Padahal yang belanja aku dan suamiku, tapi yang makan seluruh keluarga. Kadang-kadang Mas Dani, suami Mbak Dina diam-diam memberiku uang sekedar untuk menambah uang belanja seluruh anggota keluarga. Mungkin ia sungkan harena harus numpang makan dengan kami.
Mas Dani memang baik. Meski ia adalah menantu yang sangat dibanggakan oleh kedua mertuaku, namun ia tetap menghargai aku. Ia bekerja di kantor dengan jabatan yang cukup tinggi, namun Mbak Dina enggan untuk diajak tinggal di rumah sendiri.
Untuk membeli rumah, mereka sudah pasti mampu, tapi Mbak Dina lebih senang tinggal bersama kedua orangtuanya, dan kedua adiknya di rumah mertuaku ini.
Karena sangat lapar, aku makan sangat lahap dengan lauk seadanya yang masih tersisa. Kebiasaan di rumah ini, aku harus masak dua kali yaitu pagi dan sore dengan menu yang berbeda. Bisa dibayangkan, berapa pengeluaran untuk biaya makan kami sekeluarga setiap bulannya.
Meski gaji Mas Miko tujuh juta, tapi jika segala kebutuhan keluarga besar mertuaku semua Mas Miko yang menanggung, mulai dari makan, keperluan sehari-hari seperti keperluan mandi, keperluan kebersihan rumah dll, bagaimana aku dan Mas Miko memiliki tabungan. Bekum lagi ibu mertuaku selalu minta jatah bulanan, dengan alasan sebagai imbalan karena telah menyekolahkan Mas Miko hingga S2.
Untuk masalah itu aku tak masalah, tapi setidaknya mereka menghargi ku selayaknya menantu. Tapi hal itu sama sekali tak pernah terjadi. Kebencian meetua dan iparku sepertinya sudah mendarah daging.
Namun meski begitu, aku tetap berusaha untuk menabung, dengan gaji yang Mas Miko berikan kepadaku. Aku lebih mengesampingkan belanja baju dan skincare agar aku bisa menabung.
Tapi tabunganku itu sangat rahasia, tidak ada seorangpun yang tau, termasuk Mas Miko, suamiku sendiri. Aku rela berhemat dan mengesampingkan kebutuhanku demi menabung. Tabungan itu bisa digunakan saat ada kebutuhan mendesak, seperti saat melahirkan atau apapun.
Setelah selesai makan aku ingin masuk ke kamar, tempat yang paling nyaman untukku. Aku membuka social media untuk melihat-lihat postingan-postingan teman-temanku yang sangat bahagia dan sering jalan-jalan bersama suami dan anak-anaknya itu. Tak bisa dipungkiri, aku iri dengan mereka.
Belum sempat aku istirahat ternyata waktu sudah menunjukkan jam empat sore, akhirnya aku bergegas untuk pergi ke dapur dan memasak untuk makan malam seluruh anggota keluarga.
Sore ini aku akan memasak gulai kambing kesukaan ibu mertuaku. kebetulan masih ada sisa daging kambing di freezer, namun karena membeku, jadi aku harus menunggu lama agar daging kambing itu mencair.
Satu persatu anggota keluarga yang bekerja sudah pulang, pertama Mas Dani dan Mbak Dina, dan yang terakhir suamiku. Namun aku masih sibuk mencairkan daging kambing yang masih keras itu.
Aku sudah pasrah jika nanti akan kena amukan oleh ibu mertua ataupun kakak iparku karena telat menyiapkan makan malam. Biasanya di keluarga ini, jam enam kurang mereka sudah makan malam.
Aku mengulek bumbu sambil menunggu daging kambing itu mencair, tapi karena sangat lama yang akhirnya aku memutuskan untuk merebusnya, padahal sebenarnya tidak boleh daging dari frezzer direbus, tapi peduli amatlah. Yang penting nggak kena marah sama keluarga suamiku.
Aku terus melirik ke arah ponselku untuk melihat jam, aku seperti dikejar waktu. Aku bagaikan mengikuti kompetisi masak yang akan dinilai oleh juri yang lebih garang daari cheff Juno.
"Halo Sayang," ucap Mas Miko yang mendatangiku ke dapur.
"Mas, maaf ya aku belum bisa buatin teh untuk kamu. Aku dikejar waktu nih," balasku kepada Mas Miko yang baru saja pulang dari kantor dan masih berpakaian lengkap dengan kemeja dan dasinya.
"Iya Sayang nggakpapa, kamu selesaikan dulu masakannya, masalah kopi gampang, nanti aku bisa buat sendiri," balas Mas Miko yang sangat pengertian padaku.
Aku sangat beruntung karena memiliki suami seperti Mas Miko, yang sangat baik dan pengertian, itulah alasanku masih tetap bertahan sampai saat ini ditengah genpursn mertua dan ipar yang jahat.
"Kamu mandi dulu gih Mas, habis mandi aku buatkan kopi," ucapku yang masih menumis bumbu gulai.
"Iya Sayang," ucap Mas Miko sambil menowel pipiku.
Hal seperti itulah yang membuatku semakin bersemangat. Perlakuan Mas Miko yang sangat manis padaku, mampu mengobati luka hatiku akibat hinaan dan makian mertua dan kakak iparku.
Mas Miko pergi ke kamar untuk meletakkan barang-barang sebelum mandi. Tiba-tiba Mbak Dina memanggilku dengan kencang.
"Gendis ...," teriak Mbak Dina yang memanggilku.
"Bentar Mbak, aku masih masak," sahutku dari dapur, aku belum bisa menghampirinya karena takut masakanku gosong.
"Ngapain aja sih sok sibuk banget," ucap Mbak Dina yang menghampiriku di dapur.
"Aku masak Mbak,"balasku sambil terus mengerjakan sesuatu.
"Ya ampun, ini udah jam setengah enam tapi kamu belum juga kelar masak? Ngapain aja kamu seharian di rumah ha?" bentak Mbak Dina yang sudah sering aku dengar.
Aku tak menghiraukan perkataan Mbak Dina dan segera mengaduk nasi yang baru saja matang.
"Kamu ini ya bener-bener deh, diajak ngomong malah nggak didengerin," Mba Dina terus ngoceh padaku.
"Maaf Mbak, aku lagi sibuk banget. Apa Mbak bisa bantuin aku untuk mengaduk sayur di panci itu?" tanyaku dengan penuh harapan.
"Heh, enak aja kamu. Tanganku bisa lecet kalo harus pegang alat dapur," balas Mbak Dinia yang malah marah-marah.
"Kalo nggak mau ya udah Mbak, nggak usah marah-marah," balasku yang kemudian mengaduk sayur gulai yang sudsh meletup-letup itu.
"Kamu buatin teh untuk suami saya sekarang," ucap Mbak Dina yang menyuruhku seenaknya.
"Nanti ya Mbak, aku masih sibuk," balasku dengan lembut.
"Heii, kamu udah berani melawan sama saya ya," teriak Mbak Dina padaku.
"Bukannya aku melawan atau nggak mau menjalankan perintahmu Mbak, tapi Mbak bisa lihat sendiri kan kalo aku lagi sibuk. Kalo Mbak nggak sabar nungguin saya, Mbak bisa buatkan sendiri tehnya untuk suami Mbak, nggak akan membuat tangan Mbak lecet kok kalo sekedar membuat teh," balasku yang membuat Mbak Dina melotot dan semakin emosi.
"Kamu berani nyeramahin saya, mau saya tampar kamu?" ucap Mbak Dina yang sudah mengangkat tangannya dan bersiap untuk menamparku, tapi tiba-tiba ada tangan yang menghentikannya.
"Mas ...," ucap Mbak Dina yang sangat syok kala ia mengetahui jika yang memegang tangannya adalah Mas Dani, suaminya.
"Kenapa kamu harus ribut hingga mau menampar Gendis hanya masalah teh Din, kamu kan tau dia lagi sibuk menyiapkan makanan untuk kita semua. Kamu yang tidak ada kerjaan seharusnya membantunya, dan untuk membuatkanku teh, itu kan sebenarnya tugas kamu sebagai istriku, bukan malah kamu menyuruh orang lain untuk melayaniku," ucap Mas Dani menasehati istrinya dengan sangat bijaksana.
Mendengar Mas Doni yang malah memihakku, Mbak Dina semakin marah.
"Mas, kamu kok malah jadi bela orang miskin ini sih. Aku ini istri kamu loh," ucap Mbak Dina dengan amarah yang meledak-ledak.
Aku yang masih sibuk dengan pekerjaanku tidak menggubris pertengkaran mereka.