Gulai kambing yang aku masak sudah matang dan siap di hidangkan. Jam pada ponselku sudah menunjukkan jam enam kurang lima menit. Satu persatu anggota keluarga suamiku sudah berdatangan ke meja makan untuk makan malam, namun aku belum mengeluarkan satu masakanpun.
Aku masih sibuk memindahkan nasi ke bakul dan sayur di panci saji. Karena saking kacaunya pikiranku, hingga tanganku menempel dengan panci masak yang sangat panas itu.
"Auu ...," aku merintih karena merasakan tanganku yang terluka.
"Ini mana makanannya, kamu sengaja mau membuat kita mati kelaparan?" Mbak Dina meneriakiku dari tempatnya duduk, yaitu di meja makan.
Mendengar teriakan Mbak Dina, aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang terhenti.
"Cepetan dikit bisa nggak sih?" ucap Mbak Dina yang masih terus meneriakiku.
Meski Mbak Dina terus berteriak namun aku tetap diam, karena jika aku membalasnya, maka amarah Mbak Dina akan semakin menjadi.
"Sini Sayang aku bantuin," ucap Mas Miko yang tiba-tiba masuk ke dapur. Mas Miko bisa membaca kekalutanku.
"Kamu bantu bawa gulainya ya Mas, pake serbet ini biar nggak panas," ucapku kepada suamiku sambil menyodorkan serbet kepadanya.
"Siap ...," balas suamiku yang kemudian membawa gulai itu ke meja tamu. Tak lama kemudian Mas Miko kembali.
"Apa lagi Sayang yang harus aku bawa keluar?" tanya Mas MIko kepadaku.
"Nasinya itu Mas," jawabku yang masih menyiapkan es teh di teko besar.
Kebiasaan di keluarga mertuaku, setiap makan malam harus ada minuman es teh. Jika aku lupa sekali saja, mereka akan sangat marah padaku.
Tanpa banyak bicara Mas Miko langsung membawa keluar nasi di bakul besar itu.
Setelah selesai membawa keluar nasi di bakul, Mas Miko kembali lagi untuk membantuku. Akhirnya aku meminta Mas Miko untuk membawakan tumpukan piring dan sendok, sedangkan aku membawa keluar es teh dan gelas yang kujadikan satu di nampan.
Semua tatapan mata melototiku penuh dendam, kecuali Mas Dani, ia hanya duduk sambil menatap layar ponselnya. Begitu aku mulai duduk di kursi, Ibu mertuaku mulai meluapkan amarahnya.
"Loh, cuma ini aja makanannya? Mana lauk yang lain?" ucap ibu mertuaku dengan suara dan ekspresi wajah yang penuh amarah.
Kebiasaan di keluarga mertuaku, menu makan harus terdiri dari makanan empat sehat lima sempurna. Mereka tak mau makan yang seadanya.
"Maaf Bu, bahan masakan yang ada di kulkas tingal daging kambing ini. Jadi saya hanya bisa menyiapkan lauk ini Bu. Besok saya baru akan belanja ke pasar," balasku dengan sangat lembut.
"Apa ...?" Teriak Mbak Dina yang tampak sangat marah dan kesal padaku.
"Jadi istri nggak becus banget sih. Harusnya kamu cek kulkasnya, sebelum bahan masakan habis kamu belanja. Atau memang kamu sengaja ya, ha?" ucap Mbak Dina sambil menunjuk wajahku yang sudah sangat pucat, aku menahan air mataku.
"Din, udah makan seadanya. Hargai usaha Gendis yang sudah masak untuk kita makan malam," balas Mas Dani yang mencoba menasehati istrinya yang sedang kesetanan itu.
"Kamu bela aja terus Mas perempuan kampungan itu. Gara-gara kamu sering membela perempuan miskin ini, sekarang dia mulai ngelunjak dan berani ngelawan sama aku dan Ibu," balas Mbak Dina yang membuatku tak bisa lagi untuk menahan air mataku yang sedari tadi sudah ingin terjatuh.
"Cukup ...!!" Teriak Mas Miko dengan suara yang sangat lantang sambil menggebrak meja membuat semua orang yang ada disana tersentak, begitupun aku.
"Sudah cukup Mbak menghina istriku. Selama ini aku hanya diam saat Mbak menghina istriku di depan mataku, karena istriku melarangku untuk membalas Mbak. Tapi kali ini, aku tidak bisa untuk diam saja melihat Mbak Memaki-maki istriku. Aku tidak terima Mbak," ucap Mas Miko dengan penuh amarah. Ia meluapkan amarahnya yang selama ini ia pendam.
Memang benar, selama ini aku melarang Mas Miko untuk membalas perlakuan kakaknya itu padaku. Aku selalu menasehatinya agar dia sabar untuk menghadapi kakaknya yang tak pernah menghargaiku itu.
"Mas udah Mas," ucapku sambil memegang lembut tangan suamiku yang sangat marah itu.
Aku terus menangis melihat pemandangan ini, sebenarnya aku tak ingin hal seperti ini terjadi. Aku hanya ingin memiliki keluarga yang harmonis, itulah alasannya kenapa aku selalu mengatakan tentang yang baik-baik kepada suamiku. Aku selalu menutupi perlakuan buruk mereka padaku.
"Nggak Sayang, selama ini aku udah sabar menghadapi sikap mereka yang memperlakukanmu dengan buruk, bahkan menghinamu secara terang-terangan di depanku. Orang seperti dia nggak bisa dibiarin, karena jika dibiarksn akan semakin ngelunjak," ucap Mas Miko dengan bola matanya yang memerah.
Semua orang yang berada di meja makan itu terkejut kala melihat Mas Miko semarah itu. Selama ini Mas Miko adalah tipe orang yang sangat lembut dan ramah, ia tak pernah sama sekali marah kepada siapapun termasuk kakaknya sendiri. Benar kata pepatah, lebih menakutkan marahnya seorang pendiam.
"Miko, kenapa kamu seperti itu kepada Kakakmu, kenapa kamu lebih membela orang asing dibandingkan keluargamu sendiri, dia Kakak kandungmu," ucap ibu mertuaku yang juga ikut berdiri untuk membela Mbak Dina.
"Apa Ibu bilang? Orang asing Bu? Gendis ini istriku Bu, semenjak aku menikahinya, dia bukan orang asing lagi bagiku Bu. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita," balas Mas Miko dengan suara yang sangat lantang.
"Kenapa kamu jadi berani sama Ibu, kamu berani membentak Ibu. Apa istrimu yang sudah membujukmu agar berani melawan Ibu dan Kakakmu," balas ibu mertuaku yang malah menyalahkanku.
"Istriku bukan orang jahat Bu, dia sama sekali tidak pernah menjelek-jelekkan kalian di depanku. Bahkan dia selalu memintaku agar tetap baik kepada kalian," balas Mas Miko yang tak terima karena aku yang hanya diam saja disalahkan dalam hal ini.
Selama perdebatan antara Mas Miko dan ibu mertuaku berlangsung, Mbak Dina hanya terdiam dengan tatapan tak percaya. Ia tak percaya jika Mas Miko sudah berubah total, sedangkan aku hanya bisa menangis sambil terus memegangi tangan suamiku yang sedang berdiri.
Bapak hanya diam dan terus menatap tajam mata Mas Miko, Mas Dani malah sibuk dengan ponselnya dan tak perduli dengan apa yang terjadi. Sebenarnya Mas Dani juga muak melihat aku selalu dimaki dan dihina oleh istri dan ibu mertuanya.
"Miko ...," Teriak ayah mertuaku dengan suara yang sangat memekakkan telinga.
"Kenapa? Bapak mau ikut-ikutan menghina istriku?" balas Mas Miko yang membuat amarah ayah mertuaku semakin memuncak.
"Jaga mulut kamu Miko. Bapak sudah menyekolahkan kamu agar kamu menjadi orang yang sukses, tapi kamu malah berani memarahi Ibu kamu demi membela istrimu yang nggak tau diri itu," Ayah mertua semakin mengeraskan suaranya, matanya melotot seperti sudah siap menerkam sasaran.
"Cukup Pak ...," balas Mas Miko sambil menggebrak meja hingga membuat semua orang kembali terkejut.
"Jangan lagi kalian menghina istriku. Jika kalian menghina istriku, itu artinya kalian juga menghinaku," ucap Mas Miko yang terlihat sangat marah, sebenarnya aku juga terharu melihat Mas Miko yang sebegitunya untuk membelaku.
"Pergi kamu dari rumah ini," ucap kakak iparku yang mengusir kami agar kami pergi dari rumah ibu mertuaku itu.
"Dasar nggak tau diri," balas Miko kepada Mbak Dina yang telah mengusirnya.
"Apa kamu bilang? Udah numpang, belagu lagi, Nggak tau diri banget," balas Mbak Dina yang tak terima dengan hinaan dari adiknya.
"Kamu yang nggak tau diri. Jika kamu lupa, baik akan saya ingatkan," ucap Mas Miko dengan senyuman meremehkan.
"Selama ini, kita tinggal di rumah ini. Apa pernah kamu ikut iuran untuk kebutuhan keluarga ini ha?" ucap Mas MIko dengan suara yang sangat memekakkan telinga.
"Mulai dari kebutuhan makan, listrik, biaya keperluan yang lain, semuanya aku yang bayar. Mana pernah kamu ikut membayarnya, sekalipun tidak pernah," Mas Miko terus mengungkapkan kekesalannya selama ini.
"Bahkan, istriku yang selalu kalian hina dan kalian rendahkan ini, ia rela mengesampingkan gengsinya agar gajiku cukup untuk memberi kalian makan dan memenuhi kebutuhan kalian. Tapi apa balasannya?" Mas Miko terus mengungkit apa yang sudah kamu lakukan selama tiga tahun ini.
"Kalian masih terus memandang istriku sebelah mata. Selama ini aku diam dan mengikhlaskan semua yang telah kuberikan kepada kalian, karena aku pikir kalian keluarga yang baik, tapi ternyata kalian tak sebaik yang aku pikir," Mas Miko terus mengucapkan kata-kata yang sangat menyakiti mereka.
"Bahkan, karena uang gajianku selalu habis untuk kebutuhan hidup keluarga ini, aku sampai tak punya tabungan sama sekali," ucap Mas Miko dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Plakkk ...," satu tamparan dari ayah mertua melayang di pipi Mas Miko.
"Kamu benar-benar lancang Miko, jaga mulut kamu. Apa kamu sadar? Kamu sudah mengolok-olok kami, kedua orangtuamu. Apa kamu mau menjadi anak durhaka?" ucap ayah mertuaku dengan penuh amarah hingga nafasnya tersengal-sengal.
"Itu adalah kewajiban kamu untuk membalas materi yang sudah kami keluarkan untuk menyekolahkanmu sampai ke perguruan tinggi. Kenapa kamu mengolok-oloknya. ?" balas ayah mertuaku dengan tangan yang mengepal.
"Maaf Pak, untuk Bapak sama Ibu dan Lala, saya tidak mengolok-olok kalian, saya ikhlas. Tapi saya tidak ikhlas dengan wanita tidak tau diri ini," balas Mas Miko sambil menunjuk Mbak Dina yang ada di seberang meja.
"Mas, dia menghinaku kok kamu diam aja," ucap Mbak Dina yang malah memarahi suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Lalu aku harus apa?" tanya Mas Dani yang membuat Mbak Dina melotot.
"Ya kamu bela aku dong Mas," balas Mbak Dina dengan suara yang meledak-ledak.
"Apa yang Miko katakan itu benar, lalu aku harus membelamu bagaimana?" balas Mas Dani dengan ekspresi tenang namun bisa membuat Mbak Dina kelabakan.
"Plakkkk ...," Mbak Dina melayangkan tamparan indah di pipi suaminya.
"Dina, jangan main tangan sama lelaki," ucap ayah mertuaku saat Mbak Dina menampar suaminya.
"Nah, ini sifat buruk kamu, sangat kasar. Kamu sangat suka menyakiti orang lain, tidak hanya dengan mulutmu, tapi juga tanganmu. Kamu tidak pernah menghargai dan mendengarkan nasehatku sebagai suamimu," ucap Mas Dani yang tetap tenang, ia terus meluapkan unek-unek yang selama ini ia pendam.
"Selama ini aku menyuruhmu untuk menyumbang uang kebutuhan hidup kita kepada Gendis, tapi kamu selalu menolaknya. Padahal kita dan anak kita ikut numpang makan dengan mereka, seharusnya kamu malu. Kita berdua yang bekerja, sedangkan Gendis tidak bekerja," ucap Mas Dani yang membuatku semakin menangis, ia memang orang yang baik.
"Tapi kamu malah sangat pelit dan perhitungan, padahal untuk isi perut kita dan anak kita sendiri. Jujur aku malu sama mereka Din," ucap Mas Dani yang dapat menyakiti Mbak Dina meski tanpa menyentuh, bahkan lebih sakit dari tamparan yang Mas Dani rasakan tadi.
"Kamu Didik istri kamu yang b******k itu Mas," balas Mas Miko yang kembali memaki Mbak Dina.
"Sudah Mas sudah," ucapku yang mencoba menenangkan Mas Miko.
"Nggak usah sok baik kamu, kamu senang kan melihat Miko memakiku seperti itu, itu kan yang kamu inginkan?" ucap Mbak Dina yang lagi-lagi menyalahkanku.
"Udah Sayang, nggak usah dibaikin orang gila seperti dia. Mending kita makan di luar aja, aku ngga nafsu makan disini," ucap Mas Miko yang mengajakku untuk makan di luar.
"Sebentar Mas, aku ganti baju dulu," ucapku kepada Mas Miko, karena saat itu bajuku sangat lusuh.
Akhirnya aku dan Mas Miko masuk ke kamar untuk berganti baju yang lebih layak.