"Zayn akan dengar apapun, pa." Ia bukan Zara yang mudah percaya. Ia menelaah semuanya. Ia menganalisis semuanya. Ia mencoba menjadi orang yang bisa menerima kenyataan meski pahit. Papanya menarik nafas dalam. Tentu sulit. Tapi anak SMP ini jauh lebih dewasa dibandingkan perkiraannya. Zayn mungkin memang lebih banyak mewariskan sifat-sifat darinya. Meski wajah mereka jelas berbeda. Karena kedua anaknya memang jauh lebih mirip dengan istrinya. Banyak juga yang sering berkata sesuatu yang tak sengaja menyakiti hatinya atau bahkan anak-anaknya hanya karena tak begitu mirip dengannya. "Kalau mirip denganmu, Wan. Pasti seperti anak pertamamu." Kata-kata itu jelas menyakitkan. Apalagi mengungkit Serena yang sempat dianggap telah mati. Rasanya tak etis. Dan lagi, setiap orang itu kan unik. "

