"Marah sama papa?" Ia menarik nafas dalam. Tak bermaksud begitu. Ia hanya kecewa. Sudah menyabarkan diri. Tapi yang namanya manusia ya begitu lah. Ia pun tak lepas dari khilaf. "Bukan begitu, pa. Serena malas berurusan dengan keluarga papa. Maaf." Ia jujur. Bukan untuk menyakiti tapi ia tahu kalau mereka tak akan bisa bersatu. Papanya menarik nafas dalam. Ya paham dengan perasaannya. "Oke. Maaf kalau papa terlalu memaksakan." "Papa pulang saja. Serena bisa urus semuanya sendiri. Bukan mengusir. Tapi Serena sudah besar, pa." Ia masih belum membaik. Tapi tak betah juga kalau hanya berdiam di rumah. Ia mungkin akan tetap bekerja sementara dari rumah ini. Terutama urusan perkuliahan di kampus. Bisa ditransformasikan ke ranah online untuk seminggu ini. "Ya, papa tahu. Tapi kamu tahu

