BAB 3

2001 Words
Mounara terus menatapnya, tatapannya mengikuti arah Riza berjalan. Ia terlihat masih kesal. "Dih, sok banget nih berondong kampret." Gerutunya dalam hati. Riza menjauh dan berjalan ke arah toilet, dia berniat membasuh kepalanya yang berlumuran jus alpukat itu. Riza pun kembali tampan, wajah rupawannya itu memang tak luntur apapun yang terjadi dalam dirinya. Sukurlah dia membawa jaket dan memasangnya agar menyembunyikan noda bekas minuman Mounara tadi. Dia berjalan keluar dengan perasaan lebih tenang. Namun, saat ia ingin keluar dari kampus dia melihat banyak anak laki-laki dari satu semester dengan nya sampai kakak-kakak kuliahnya sedang ramai seperti ada yang mereka geromboli. "Kakak sayang mau aku anter pulang?" "Kak Mounara sendirian? Nggak papa aku anter kak sampai depan rumah," "Sayang,"  "Tante itu nggak pantes di bilang tante, masih cantik jadi kami panggil kakak aja!"  Ucap mereka berebutan cengengesan sembari nyengir malu-malu tak jelas, ternyata mereka sedang menggeromboli Mounara. Mereka berlomba-lomba menggombal dan ingin mengantar Mounara pulang. Mounara terlihat pusing dan bingung sendiri. "Ehehee makasih-makasih semuanya. Aku bawa sopir sendiri kok," jawab Mounara nyengir sembari ingin lewat.  Namun, mereka terus menghalangi sampai kakak kelas mereka yang paling tampan namun agak badboy dan terkenal kaya disana menghampiri dan menghalangi Mounara lewat. Dia menatap Mounara dengan sangat genit, mereka semua pun kesal namun tak berdaya ingin memarahi nya karena takut. Mounara membelalakkan matanya kaget. Riza melihat tak sengaja pemandangan itu. Dia terkejut ternyata yang sedang di geromboli semua siswa di sana itu adalah tante-tante menyebalkan yang menumpahkan minuman ke diri nya tadi. Dia pun bersembunyi di balik salah satu tiang kelas kampus dekat sana agar tak terlihat oleh Mounara dan yang lainnya. Riza memang anak yang tak bisa membuat keributan di kampus juga sekolahnya dulu, dia hanyalah siswa yang baik dan biasa saja, dia pun jarang main basket atau bola karena bagi nya hidupnya sudah melelahkan dan tak perlu lagi untuk dibuat lelah. Dia hanya sangat menyukai badminton itupun saat waktu luang saja dia main. Maka dari itu dia adalah orang yang apa ada nya. Tak sekeren siswa yang jago basket atau ekskul lainnya.  Di balik semua itu, walau Riza adalah pemuda yang biasa dan apa adanya. Riza memiliki paras yang rupawan, badan yang tinggi, agak berisi, dan bahu lebar yang bagus. Maka tak kalah dari pemuda keren-keren lainnya. Banyak juga wanita seumuran dia sekarang dan dari saat dia masih smp mengejarnya. Namun, dia hanya menganggap mereka sahabat tak lebih karena dia memang tak ingin dulu untuk membawa anak orang sebelum dia benar-benar bekerja nanti ujarnya. Dia adalah orang dengan tipikal yang bertanggung jawab.  "Ayoo waduh Nes! Mounara digeromboli siswa kampus tu mampus kita!" Celoteh Surbhi sembari lari bersama Nesa di belakang Riza. Riza mengerutkan keningnya dan melihat ke arah sumber suara itu, betapa kagetnya dia saat melihat mereka adalah teman-teman Mounara tadi, dia pun dengan secepat kilat berpindah posisi membelakangi mereka agar tak ketahuan. Dia pun panik namun akhirnya selamat. Surbhi dan Nesa memang terlihat bergegas menyusul Mounara maka dari itu mereka tak perduli dengan sekitar. Syukurlah.. . Mounara membalas tatapan siswa tampan bergaya badboy itu. "Elu mau apa?" Tanya Mounara Dia hanya menyeringai. Mounara semakin kesal. "Oke, kalau nggak ada apa-apa saya permisi. Mau cepat-cepat pulang makasih,"  Mounara melanjutkan langkah nya dan ingin meninggalkan diri nya. Namun, dia menarik tangan Mounara.  "Woyyyys!!!"  Mereka sontak memberontak terlihat marah dan cemburu karena lelaki itu sangat egois. Mounara kaget ia pun dengan sigap berusaha melepas genggaman siswa itu. "Lepasin!" Cetus Mounara  "Maaf ya kak, kakak terlalu cantik. Maka dari itu kakak cuman cocok sama aku." Ucapnya menyeringai sembari menatap Mounara dengan senyuman yang manja. "WOOHHHH!!"  Mereka semua berteriak marah kepada nya tak terima. Mounara hanya membelalakkan matanya. "Diam kalian!" Bentaknya kasar. "Maaf ya. Gua nggak bisa bercanda dulu," pungkas Mounara  "Iya, aku juga nggak mau bercanda sama kakak cantik." Sahutnya dengan lembut. Mounara semakin takut dan jijik dibuatnya. "Heh! Siapa sih lo! Nggak sopan ya, gua ini koreografer kampus kalian!" Gerutu Mounara marah kepada pemuda itu. Riza yang memantaunya pun juga ikut kesal kepada Derby kakak kelas kaya raya itu. "Ohh iya kak, aku lupa ngenalin diri aku. Namaku Derby, anak dari kepala kampus ini." jawabnya dengan santai. "Oohh... Okee." Ucap Mounara sembari tersenyum tipis. Mounara menghempas tangan nya dan berhasil melepas cengkramannya. "Gua nggak perduli ya elo anak kepala kampus ini kek atau DPR kek. Kalau kamu bukan anak latihan gua, gua nggak perduli. Maaf permisi," bentak Mounara menatap tajam ke arah nya. Ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Derby pun mengangkat keningnya. Mereka pun terlihat mengejek dan menertawakan Derby. Riza yang dari kejauhan pun ikut ngakak dan tertawa sembari menutup mulutnya agar tak terlalu keras. Derby sadar dengan sekelilingnya. Dia marah dan kesal. "Apa kalian!" Gertaknya marah. Mereka mencoba menghentikan tawa mereka lalu satu persatu pun pergi. "Bos! Lu kenapa bos?" Ucap salah satu teman nya yang baru saja menghampiri Derby, mereka ber empat terlihat heran. Ya, mereka anak geng yang paling berkuasa di kampus itu. Terlihat juga tempat di depan mereka Surbhi dan Nesa sudah sampai. Derby pun malu dan ia juga meninggalkan tempat itu. Anak buahnya pun bingung dan terheran-heran. Akhirnya mereka pun ikut mengejar Derby. Akhirnya Surbhi dan Nesa lah yang tertinggal di sana. Riza tertawa terbahak-bahak sendiri di sana. Ya, dia memang orang yang seperti itu. Dia hobi menertawakan orang-orang yang konyol dan sok berkuasa. "Hahahaha! Mampus sok keren sih lu," ucapnya sendiri terbahak-bahak. Namun, Surbhi dan Nesa ternyata agak mendengar suara Riza saat tertawa. Mereka pun heran. "Sur, lu denger nggak ada suara orang ketawa?" Tanya Nesa. "Iya, denger kok. Siapa ya," jawab Surbhi.  Mereka membalikkan kepala mereka. Dan mereka melihat Riza di sana seperti orang gila. Mereka pun heran dan mengangkat kening. "Lha, itu kan berondong yang dilempar jus alpukat gak enak tadi sama Mounara." ujar Nesa tertawa. Riza tersadar, dia melihat ke arah Surbhi dan Nesa, dia kaget panik bukan kepalang, akhirnya dia langsung berbalik cepat dan mencoba tidak melihat mereka. Betapa malunya dirinya saat itu. "Iya ya, ngapain dia disitu. Ketawa-ketiwi nggak jelas lagi." kata Surbhi nyengir. Mereka pun menertawakan Riza.                           *** Riza pulang dengan keadaan yang masih panik. Dia mencoba melupakan semua kejadian yang terjadi saat di kampus tadi. "Haduhhh! Ngapain sih gua ketawa keras nyaring banget kek gitu tadi! Gila kan! Habis kedenger sama teman-teman tante ngeselin tadi!" Gerutu nya sendiri sambil melepaskan helm. Riza memang orang yang nggak mudah melupakan sesuatu dan akan merasa bersalah sendiri dengan dirinya. "Woyy!" Dari kejauhan terdengar ada memanggil dirinya. Riza pun memalingkan wajahnya. Ternyata yang memanggil diri nya adalah kakak sepupunya. "Udah pulang?" Tanya Shella sembari membawa sebungkus nasi. "Iya kak udah, soalnya tadi masuk kelasnya bentar aja." jawab Riza tersenyum. "Baguslaah, udah jam 11 tuh. Ayo berangkat kerja sana. Riza kaget saat melihat jam, ia pun segera bergegas ganti baju dan berangkat ke kantor. Walau ia memang kerja sambil kuliah. Ia juga tetap panik.                              *** "Oke, jadi meeting kita hari ini kita tutup dulu sampai di sini."  Karu sembari berdiri tegak sambil memegang sebuah spidol di antara kedua tangannya di depan papan layar besar untuk menayangkan LCD proyektor pekerjaan. Mereka pun bertepuk tangan dan bersorak kecil tanda puas. Karu memang seorang manajemen yang selalu memuaskan hasil meeting kantor. Maka dari itu ia sangat di sayangi oleh CEO perusahaan itu karena sangat pintar dalam memecahkan permasalahan-permasalahan bisnis di kantor. Karu tersenyum manis, gigi atasnya yang rapi dan putih terlihat jelas serta lesung pipi sebelah kanannya. Sungguh cantik dan manis wanita karir satu ini. Mereka pun satu persatu berdiri dari kursi meeting yang melelahkan itu. Lalu keluar satu sembari menyapa Karu. "Nyonya Karuu! Anda sangat brilian! Kami sangat puas dengan ide anda," ucap salah seorang laki-laki berbaju jas hitam berdasi rapi sembari menyentuh bahu Karu tanda bangga.  Karu hanya tersenyum. "Terima kasih pak, semoga pekerjaan kita berjalan dengan baik nantinya." jawab Karu sopan sembari memejamkan matanya menunduk sedikit ke bawah. Dia mengangguk hebat lalu pergi duluan keluar. Hanya Karu yang tersisa. Entah mengapa ia masih tak mau keluar. "Apa Riza sudah datang atau belum ya?" gumamnya dalam hati. "Kenapa aku mempertanyakan anak itu?" Tanyanya sendiri lagi kikuk. "Ya iyalah, dia kan karyawanku. Kalau dia terlambat, aku harus menghukumnya kan?" sambungnya lagi. Ia bicara sendiri.  Ia pun keluar ingin melihat Riza apakah sudah datang atau belum.                           *** Riza memakirkan motor maticnya di parkiran depan. Lalu dia bergegas masuk perusahaan besar itu. Dia pun memakai topi OB nya. Setelah masuk ia langsung menuju ke tangga lalu naik ke lantai 2.                              *** "Selamat pagi bu Karu," sapa 4 orang karyawan perempuan yang berpapasan dengan Karu. "Iya pagi juga," Karu pun tersenyum ramah pada mereka. "Pagi bu Karu," sapa 2 karyawan laki-laki lagi yang berpapasan dengannya. "Pagi bu bos Karu,"  Karu terus membalas dnegan senyuman ramahnya. Mereka yang berpapasan dengan Karu terus menyapa dan menghormati Karu. Karena jabatan Karu di sana memang seorang manajer. Maka dari itu ia wajar dihormati di sana. Karu terus berjalan dan turun ke lantai bawah.                              *** Riza terlihat sangat tergesa-gesa. Dia menghampiri pria paruh baya yang sudah lebih lama bekerja di perusahaan sana sebagai cleaning servis. "Permisi om!" sapa Riza sembari ingin memegang ember berisi air dan sabun pel lantai. "Ohh hay. Ayo sini nak," ucapnya sambil mengarahkan Riza. Ya, begitulah pekerjaan juga kewajiban Riza di sana. Kalau tidak ada perintah dari Karu, dia juga wajib membantu menjaga kebersihan kantor. "Iya om," sahut Riza sopan. Dia berdiri berhadapan dengan orang tua bernama om Supri itu. "Sekarang kamu ya yang lanjutin, om sudah pel semua lantai di sini juga di sana." beritahu om Supri sembari menyerahkan pel-pel an ke Riza. "Ah, baik om." jawab Riza mengangguk pelan. "Kamu pel bagian situ saja, sampai ujung sana nya. Oke?" perintah om Supri menunjuk tempat untuk Riza pel. Dari kejauhan Karu tampak berjalan. Namun, ia masih tak melihat Riza ada di tempat itu. Ia masih melihat ke arah yang berlawanan dari Riza. Handphonenya berdering, ia pun memeriksa handphone nya. Riza melihat Karu di sana dan kelihatan nya ia ingin melewati lantai yang baru saja di pel om Supri. Riza agak khawatir kepada Karu jikalau Karu terpeleset. "Bu, bu Karu!" Teriaknya mencoba memperingati Karu agar hati-hati melewati lantai di sana. Namun, Karu tak mendengar teriakan Riza tadi. Ia mengangkat telpon yang masuk dan tidak fokus memperhatikan lantai yang basah itu. Om Supri pun juga mulai panik. "Non Karu! Jangan lewat situ hati-hati atuh!" Teriaknya khawatir namun Karu masih saja memfokuskan untuk mendengarkan telpon yang ia terima karena sepertinya memang penting, ia juga mencoba menutup telinga kanan nya agar fokus mendengar kan. Ia terus berjalan. Riza agak kesal, dia mencoba ingin menghampiri Karu agar Karu tak terpeleset. Dia bergegas menghampiri dan juga hampir terpeleset. Tak di sangka ternyata yang di khawatirkan memang terjadi, Karu pun terpeleset. Ia nyaris terjatuh dan hampir melepaskan handphonenya tetapi Riza dengan sigap menangkapnya meski Riza juga ikut terpeleset.  Om Supri sangat panik dan sangat takut. Semua orang yang di sana juga terkejut. Namun, saat mereka melihat dengan jelas, mereka lega.  Riza sempat menangkap Karu dan menyelamatkannya dari terhempas ke lantai. Sungguh romantis nya posisi mereka saat itu, Riza memegang erat kepala Karu agar tak menyentuh lantai, hanya tangannya yang tadi terhempas ke lantai, dia memeluk Karu dengan sangat erat.  Sampai-sampai salah satu karyawan wanita mereka terkagum kepada Riza. Karu terdiam seribu bahasa, ia terlihat sangat terkejut dan kaget. Sampai-sampai ia tak bisa mengedipkan matanya. Namun, saat ia sadar ia tak jadi terhempas ke lantai dan kepala nya tak sakit. Ia sadar ada seseorang yang menyelamatkannya. Karu pun semakin membelalakkan matanya. Riza pun mencoba meleburkan pelukannya dari Karu lalu dia menatap Karu. Kini mereka saling bertatapan sangat dekat. Karu tersungkur di dekapan bahu Riza yang lebar itu. Sebelah tangan Riza terus memegang erat kepala Karu agar tak mengenai lantai. "Ibu tak apa-apa?" ucap Riza khawatir. Karu tak menyangka akan hal itu. Ia masih terdiam seribu bahasa. "Non Karu!! Non Karu teh tak apa-apa?" Teriak om Supri panik. Riza terus menatap Karu, dia juga seakan terpanah dengan wajah cantik manis wanita itu. Begitu juga sebaliknya. Om Supri menghentikan langkahnya saat melihat Riza berhasil menyelamatkan manajer perusahaan mereka itu. Karu juga membalas menatap Riza, mata sipit Riza seakan menghanyutkannya serta menghipnotisnya tak berdaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD