Karu semakin hanyut, bola mata coklat tua Riza seakan menenggelamkannya jauh, sampai ke dalam lautan paling dalam. Ia mengedipkan mata coklat tua terangnya pelan. Riza pun terpana dan juga merasa sangat dekat dengan Karu.
Namun, Om Supri dan salah satu karyawan memecahkan suasana mereka. Riza pun melepas Karu, dengan sigap Karu pun bangun.
"Kalian tidak apa-apa?!" tanya Om Supri cemas.
"Iya, apakah Bu Bos Karu atau Adek ada yang sakit?" tanya karyawan laki-laki berkemeja biru muda berdasi juga memakai kacamata.
"Ahh tidak, kami. Tidak apa-apa kok," sahut Karu gagap.
"Iya Kak, saya juga tidak ada yang sakit kok. Aman," sambung Riza meyakinkan.
Mereka bersyukur dan sangat lega melihat Karu dan Riza tidak terluka.
"Alhamdulillah, maafkan saya ya Non, saya nggak tau kalau Non mau lewat situ dan nggak sempat bilaang Non teh tadi dipanggil nggak dengaar," kata Om Supri merasa sangat bersalah.
Karu tersenyum ramah kepadanya.
"Iyaa nggak papa Om, Om nggak salah kok. Ini emang aku yang nggak liat-liat dan memperhatikan." jawab Karu.
Riza tertawa, Karu menatapnya. Riza pun menghentikan tawa nya.
"Makasih ya, kamu udah nyelamatin aku." ucap Karu gugup.
Riza tersipu malu, pipinya memerah. Om Supri yang melihat itu tertawa.
"Aa, iya. Sama-sama Bu," jawab Riza gugup.
Karu tersenyum lembut kepadanya, membuat Riza semakin salah tingkah saja. Karu, mencoba bangun Riza kembali membantunya. Karu memandangi Riza, ia sangat tersipu malu. Mereka terlihat malu-malu kucing. Karu tak berhenti memberi senyuman kepada pemuda baik hati itu. Karu semakin menyukainya, hati Karu sekarang tak karuan. Jantungnya berdebar, ia pun membalas memegang tangan Riza. Betapa tak menyangkanya Riza, pipi nya kembali memerah.
"Makasih," ucap Karu sekali lagi sembari tersenyum manis kepada Riza. Riza hanya terdiam menahan salah tingkahnya.
Om Supri tertawa, sepertinya dia sadar bahwa Riza mengalami kegugupan saat atasannya yang terkenal sangat cantik itu berterimakasih kepadanya.
"Ya udahh, kamu anter aja sekalian Non ke ruangannya. Siapa tau nanti Non butuh apa-apa minta tolong kamu to," pungkas om Supri terseyum sumringah, Riza semakin gugup di buatnya.
"I, iya. Apa Ibu mau aku anterin dulu?" tanya Riza gugup. Karu mengangkat keningnya.
"Haha, enggak usah Riza. Kamu beresin saja dulu pekerjaanmu, aku nggak ada yang sakit kok. Nanti kalau aku ada perlu aku bisa saja memanggilmu seperti biasa," jawab Karu sembari tersenyum.
Riza mengangguk pelan.
"Om Supri, aku pergi dulu ya." ujar Karu sumringah.
Ia menatap Riza sekali lagi sembari memberi senyum manisnya lalu pergi. Riza pun membalas senyumannya dan terdiam tak berdaya.
"Hahaha, bagus kamu Nak. Kamu udah nyelamatin Non Karu. Enggak biasanya loh dia bahagia kayak gitu." ucap Om Supri nyengir.
"Alahh Om bisa aja. Ibu kan berterimakasih aja sama saya jadi Ibu ramah deh sama saya," sahut Riza dengan polosnya.
Om Supri pun tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Riza pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
...
Karu terus mengingatkan kejadian tadi di ruangannya sembari menyusun dokumen nya di lemari. Ia tersenyum sendiri. Ia menggenggam erat sebuah map dokumen jepit klip warna biru itu melamun sembari tersenyum tak jelas. Ia membayangkan wajah rupawan Riza saat dekat dengannya tadi. Ia tersenyum sendiri sembari memandang map dokumen itu.
"Apa aku benar-benar suka padanya?" gumamnya sendiri
"Hahaha," dia menyeringai senang.
***
Setelah lebih sekitar 2 jam. Riza pun menyelesaikan pekerjaannya. Dia terlihat senang dan bahagia.
"Yess!! Selesai! Huhh," sorak nya keras bahagia.
Dia menyeka peluh di wajahnya dengan handuk kecil yang dia bawa sendiri.
Dia menatap ke arah luar.
"Astagaa, di luar lagi Riza sekali!" keluhnya kesal.
Dia pun berjalan keluar untuk menyapu halaman depan kantor.
Di lihatnya lumayan banyak dedauan kering dan sedikit sampah berserakan, dia pun sigap mengambil sapu untuk menyapunya.
Dia memulai pekerjaannya.
***
Saat Karu memeriksa dokumen-dokumen kantor. Ia mendapat telpon lagi. Diangkatnya lah telpon itu.
"Iya halo selamat siang," sapa Karu sopan.
"Ohh, bu Hertanti. Ya ada apa bu?" ujarnya, ia agak serius.
"Ohh iya ya, aku ada aja bu di ruangan. Silahkan saja ibu menemuiku,"
"Iya, baik bu. Terimakasih bu ditunggu kedatangannya," katanya menyahut telpon itu dengan sangat sopan.
Ia mematikan telponnya.
"Ada apa ibu Hertanti ingin menemuiku? Apa beliau ingin menjalin kerjasama lagi dengan perusahaan lain?" gumamnya penasaran.
Ternyata yang menelponnya tadi adalah CEO perusahaan itu. Sepertinya ia berkepentingan makanya ingin menemui Karu.
***
Riza terus menyapu halaman dengan tekun, semua daun dan sampah dia serok lalu dimasukkannya ke dalam tong sampah.
Dia sesekali menyeka peluh di dahinya. Dia pun mencoba berhenti sejenak sembari membalikkan badannya. Dia pun menaruh sapu dan serok itu kepinggir taman dahulu lalu dia duduk melepas penatnya sebentar. Dia melepas topinya yang sudah basah karena keringat, dia mengipas-ngipaskan topinya untuk menyejukkan badannya.
Saat dia istirahat, ada sebuah mobil dua buah yang membuat menarik perhatiannya. Mobil itu berwarna hitam terlihat sangat mewah, satu hitam satu lagi berwarna putih. Dia pun berfikir bahwa itu adalah milik sebuah atasan yang tinggi jabatannya. Memang benar saja.
Seorang wanita berumur sekitar enam puluhan keluar di bukakan pintu oleh pria berseragam sopir dengan pakaian yang sangat elegan. Wajahnya pun terlihat oleh Riza saat ia berbalik, betapa kagumnya Riza melihat seorang wanita bisa sekaya raya itu.
"Wow, apakah beliau CEO perusahaan ini? Kata om Supri pemilik perusahaan ini adalah wanita karena suami nya sudah meninggal dunia." tanya-tanya Riza dalam diri nya. Dia mengelap peluhnya dengan handuk kecilnya sembari terus melihat mereka.
Ya, ia adalah ibu Hertanti, beliau adalah CEO perusahaan PT. Maju Sentosa dimana Karu dan Riza berada, ibu Hertanti adalah wanita yang ramah, beliau terkenal tidak sombong dan sangat membanggakan Karu manajernya. Karena memang dari orang tua Karu merintis bersama beliau akrab dan berteman dengan mereka, maka dari itu Karu lah yang meneruskannya.
"Ahh saya sendiri saja, kamu tunggu di mobil saja ya. Karena saya juga bersama Ibu Meri," ujar wanita CEO itu memerintahkan sopirnya, sopirnya pun mengangguk.
Di sampingnya juga keluar wanita yang terlihat seumuran dengan Hertanti dari mobil mewah putihnya, ia berkacamata hitam sangat berkelas. Saat menghampiri ibu Hertanti ia pun melepaskan kacamatanya. Ia terlihat berbincang dengan Hertanti, Hertanti mengangguk lalu ia berjalan duluan mendahului Hertanti.
Hertanti membetulkan kemejanya dan tergesa-gesa, ia berjalan menyusul temannya tadi. Namun, karena ia tergesa-gesa ternyata ia tak sadar bahwa sebuah dompet dari dalam tasnya terjatuh ke tanah. Riza yang dari tadi memperhatikan pun melihat, dia mengerutkan dahinya.
"Ehh, apaan tu hitam-hitam kecil yang jatuh dari tas beliau? Apa beliau tak sadar?" tanya Riza panik.
"Haduhh, beneran beliau malah makin jauh. Aku ambilin aja ya. Pasti penting tu semua kartu-kartu penting, atm beliau pasti di situ, duitnya juga pasti tak sedikit!" lirih Riza sembari berdiri ingin memanggil Hertanti.
Riza masih takut dan berpikir. Hertanti terus berjalan dan ia sampai memasuki gedung.
"Eh, kalau aku ambil apa nanti tak dikira mengambil? Aku panggil aja kah dulu ya?"
"IBUUU! MISI BUU MAAF! BU! DOMPETNYA JATUH!" teriak Riza namun tak terdengar karena jarak mereka lumayan jauh. Riza pun panik.
Dia tak pikir panjang berlari menghampiri dompet itu sebelum ada orang lain yang lewat.
"Ya ampunn ternyata beneran dompet?!"
Dia pun berhasil mengambil dompet itu. Dia mencoba menyusul Hertanti ke dalam.
Dia berlari cengengesan, namun dia memang sudah ketinggalan jauh. Dia pun bingung ingin mencari kemana, tetapi dia berfikir, jikalau ada orang penting seperti ibu Hertanti maka yang selalu di temuinya adalah atasannya, ya Karu. Dia pun tak pikir panjang berlari ke ruangan Karu.
Namun, saat dia mendekati ruangan Karu, dia di sapa oleh seorang karyawan laki-laki.
"Ehh kamu tadi di cariin ibu Karu, katanya buatkan minum untuk pemimpin perusahaan kita, mereka ada diruangan ibu Karu sekarang." ucapnya serius kepada Riza.
Riza pun bingung, dia mengurungkan niatnya dahulu untuk mengembalikan dompet itu kepada Hertanti.
"Berarti mereka sedang sibuk sekarang, ya sudah setelah selesai saja aku kasih dompet beliau," gumamnya.
Dia membuatkan minum, dengan hati-hati dia membawakan teh manis hangat itu untuk mereka. Dia mengetok pintu ruang Karu.
"Maaf, permisi." izin Riza sopan.
Karu pun mendengar dari dalam.
"Iya silahkan masuk," sahutnya.
Riza pun membuka pelan pintu dan...
Mereka pun bertemu.
Riza sangat gugup melihat tiga orang sangat penting sedang berkumpul bersama. Dia memberi minuman itu ke hadapan mereka masing-masing dengan sopan dan ramah.
Teman Hertanti tadi memandang Riza, ia seakan terpesona dengan senyuman manis berondong itu. Ya, dia adalah adik dari CEO yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Hertanti, karena kakaknya sedang sibuk dan tak bisa menemui Hertanti jadi ia lah yang mewakili, ia bernama Meri.
Ia ternyata memang mata keranjang yang genit, dia adalah wanita kaya raya yang sangat menyukai laki-laki muda dan tampan yang agak susah ekonomi nya untuk memperoleh hasratnya. Karena kaya raya ia pun tak segan-segan untuk mendekati dan memberikan apapun untuk lelaki yang ingin di mangsanya.
"Ohh hmmhmm terimakasih," godanya langsung mengambil cangkir dari tangan Riza, Riza pun agak kaget namun dia tetap bersikap sopan.
"Ahh iyaa terimakasih juga ya nak," ucapnya Hertanti tersenyum ramah.
Karu pun tersenyum kepada Riza. Riza pun mengangguk lalu ingin permisi. Namun, si Meri terus saja menatapnya dengan manja. Riza pun sadar dia sedikit merasa takut dan risih, tetapi dia tetap harus bersikap sopan. Dia pun tersenyum kepada Meri lalu keluar.
Meri terus saja menatapnya dengan tatapannya yang genit, ia menghirup teh itu lembut sembari terus mengarahkan pandangannya ke Riza yang sudah keluar.
Riza sangat geli dan takut, dia mengusap-ngusap tangannya yang di belai Meri tadi. Dia merinding, namun dia mencoba berpositif thinking bahwa Meri memang cara bicaranya seperti itu dan tak sengaja menyentuh nya karena dia memang baru pertama kali melihat.
Dia mencoba melupakan kejadian tadi lalu melanjutkan pekerjaan nya lagi sembari menunggu Hertanti keluar.
...
"Iyaa, jadi kami kemari mau mengabarkan ini Karu. Kita akan bekerja sama dengan perusahaan mereka yang lebih maju dan memiliki pasaran yang lebih luas daripada kita." Hertanti menjelaskan dengan gembira.
Meri tersenyum dan meng iyakan Hertanti.
"Wah waah, benar. Ini adalah ide yang sangat bagus ibu Hertanti, kami sangat senang jika kita memang sudah resmi nanti bekerja sama ibu Meri." sahut Karu tersenyum lebar ramah.
"Iya, dengan senang hati juga mba Karu." jawab Meri membalas senyuman Karu.
"Terimakasih bu Meri, saat peresmian nanti. Kita akan membuat pesta untuk menyambut kalian ke perusahaan kami." sambung Hertanti senang.
Karu kaget, ia membelalakkan matanya, senang.
"Ya ampunn jeng, benarkah?" pungkas Meri sembari memegang bahu Hertanti.
"Iya, sebagai tanda terimakasih kami untuk kalian yang menerima tawaran kami untuk bekerjasama. Maka dari itu tidak apa-apa kita adakan pesta besar-besaran Meri, juga agar memper erat hubungan kerja kita." ucap Hertanti tersenyum meyakinkan.
Meri pun menerima dengan senang hati tawaran itu.
"Oh yaa, jadi kapan rencana kita mengadakan pesta? Apakah untuk semua karyawan juga?" tanya Karu gembira.
"Iya semua karyawan kita dan karyawan bu Meri. Untuk menyenangkan karyawan-karyawan kita tentang kabar ini." jawab Hertanti dengan bangga. Karu pun tersenyum menerima dengan baik rencana itu.
"Kita persiapkan saja dari sekarang Karu, minggu depan kita adakan acaranya." sambung Hertanti menjelaskan.
"Baik siap bu, nanti akan aku kabarkan kepada seluruh staff tentang kabar baik ini." jawab Karu senang.
"Baik Karu, senang sekali saya mendengarnya. Kalau begitu, apakah ada yang ingin di tanyakan atau di perjelas lagi, bu Meri?" tanya Hertanti sangat senang.
"Hmm, sepertinya saya sudah sangat setuju dan puas dengan rencana dan pendapat kalian, okeyy sepertinya tidak ada." jawab Meri tersenyum ramah.
"Ahh haha baiklah kalau begitu, sepertinya untuk pertemuan kita hari ini kita tutup saja dulu. Biar Karu yang mengurus kedepannya,"
Meri mengangguk mantap dan menyetujui itu.
"Karu, jangan lupa mulai hari ini kamu kabarkan ke semua staff dan karyawan tentang acara kita nanti. Dan persiapkan saja semuanya dari sekarang." sambung Hertanti tegas.
Karu pun mengangguk mantap sembari tersenyum ramah kepada Hertanti. Hertanti dan Meri pun berdiri dan berjabat tangan satu sama lain.
"Baik bu, saya laksanakan." sahut Karu sembari berdiri menutup pertemuan mereka.
Karu pun berjabat tangan dengan Hertanti juga Meri. Mereka mengakhiri pertemuan mereka dengan ramah.
"Baik, terimakasih banyak atas waktunya hari ini Meri." Sanjung Hertanti sembari menjabat tangan Meri sekali lagi dan mengusap bahunya.
"Iyaa jeng, terimakasih juga atas semua sambutanmu untuk kami." jawab Meri lembut menatap Hertanti.
Mereka berpamitan dengan Karu dan keluar dari ruangan ber AC milik Karu itu.
Meri berjalan mengikuti Hertanti. Ia pun berpikiran dengan Riza tadi, ia sangat senang Hertanti ingin mengadakan pesta besar-besaran karena otomatis, ia akan bertemu terus dengan pemuda itu dan mendapatkannya.
"Pemuda ini membuat aku jatuh cinta pandangan pertama saja,"
Meri dalam hati sembari melirik manja kepada Riza.