BAB 5

2014 Words
Hertanti bersama Meri berjalan keluar gedung itu. Riza yang sedang istirahat di kursi yang memang sedari tadi menunggu Hertanti keluar pun melihat. "Ibu pemimpin!" Serunya sembari ingin berdiri dari kursi. Hertanti terus berjalan melaju bersama Meri asyik mengobrol sampai mereka keluar dan melewati pintu utama. "Ibuuu! Permisiii..." Teriak Riza terus berlari menyusul Hertanti. Orang-orang di sana heran dengan pemuda itu siapa yang dipanggilnya sampai sepanik itu. Sampai akhirnya, Riza pun berhasil menyusul mereka. "Permisii buu! Huuh..." Keluhnya menghentikan langkahnya dan menekuk lututnya. Hertanti dan Meri pun menengok ke belakang. "Eehh, iya ada apa nak? Apa kamu memanggil saya?" tanya Hertanti terheran-heran. Riza ngos-ngosan. Dia mencoba mengatur nafasnya untuk menjawab Hertanti. Meri sangat senang dan keegeran, ia terlihat merapikan dan sesekali mengibaskan rambut ber cat pirangnya. "Uhh, iya Bu. Maaf, sebenarnya sedari tadi. Saat Ibu keluar dari mobil. Dompet Ibu terjatuh dan saya tak sengaja melihatnya saat saya menyapu halaman di sana. Jadi, saya ambilkan tadi tetapi Ibu sedang sibuk meeting bersama Bu Karu," Riza memberi penjelasan. Hertanti terkejut mendengarnya. Ia langsung memeriksa seluruh bagian tasnya dan ternyata benar, tidak ada dompetnya di sana. Betapa bersyukurnya ia saat Riza mengembalikan dompet itu. Ia pun sangat berterima kasih kepada pemuda yang jujur dan baik hati itu. "Ya ampunn, benar sekali. Ini, memang dompet saya. Saya sangat berterima kasih nak! Kamu baik sekali." Ucap Hertanti sangat bersyukur sembari tersenyum bahagia melihat dompetnya kembali. Riza lega dan senang, dia turut tersenyum juga kepada Hertanti. "Hehe iya sama-sama Bu," jawab Riza sopan sembari tersenyum. "Huhh, kamu ini. Untung aja dia yang dapet. Jika orang lain. Pasti udah hilang tuh dompet kamu!" gerutu Meri juga merasa sangat lega. "Iya, aku sangat bersyukur," sahut Hertanti sangat bahagia. Riza yang merasa sudah di abaikan ingin langsung pamit, dia terlihat bingung. "Ee, maaf Bu kalau gitu saya permisi dulu ya." izin Riza sembari berbalik arah. "Tunggu nak!" gertak Hertanti menghentikan langkah Riza.  Riza berhenti dan membalikkan badannya lagi. "Kamu sudah mendapatkan dompet saya, yang di dalamnya terdapat kartu-kartu penting yang saya punya termasuk atm, dan uang saya! Jadi, kamu harus saya kasih imbalan," ujar Hertanti tersenyum sumringah kepada Riza, Riza pun sangat malu dan tak percaya akan hal itu. "Ahh, tidak usah bu! Saya cuman mau nolong Ibu aja kok nggak papa Bu!" tolak Riza merasa tak enak. Hertanti malah tersenyum, ia mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya 500 ribu kepada pemuda itu. "Ini, ambilah. Tidak apa-apa. Anggap saja ini memang rezeki kamu hari ini Nak." Hertanti sembari menyodorkan 5 lembar uang 100 ribu.  Riza sangat terkejut karena itu bukan uang yang sedikit. Dia mencoba menolak sekali lagi dengan cara yang sopan. "Aduhh, kebanyakan Bu! Terimakasih nggak papa kok Bu!" tolaknya sembari menahan uang itu. Namun, Hertanti terus memaksa juga agar Riza mengambil uang itu sembari tersenyum. "Tidak apa-apa Nak! Ambilah! Sudah Ibu bilang ini memang rezeki kamu," pungkas Hertanti sembari meletakkan uang itu di genggaman Riza. Riza sangat senang. Dia pun sangat berterima kasih kepada Hertanti. "Ahh, ya ampunn. Terima kasih banyak Bu! Saya jadi nggak enak." sahut Riza gemeteran. Hertanti lega dan tertawa kepadanya. "Buat apa kamu tidak enak, kamu sudah berbuat baik." jawab Hertanti. Riza terdiam sejenak lalu mengangguk malu. "Hehe iya, sekali lagi. Terima ksih banyak bu." ucap Riza malu. "Sama-sama,"  "Oh iyaa, siapa nama kamu Nak. Kalau Ibu boleh tau?" tanya Hertanti mencoba agar Riza melupakan rasa tak nyaman nya itu. "Aaa, Ri, Riza Ananda bu." jawab Riza gagap. "Ahh Riza ya. Baik, salam kenal ya Riza. Semoga kamu betah bekerja di sini. Dan kalau ada yang macam-macam sama kamu. Bilang saja ke saya," balas Hertanti sembari mengusap bahu anak muda itu. Riza semakin malu dan terseyum lebar. Dia mengangguk mantap. "Iya Bu, terimakasih banyak Bu." ucapannya yang selalu keluar dari mulutnya. Hertanti tersenyum dan merasa sangat bangga kepada pemuda itu. "Iya, kalau gitu saya permisi dulu ya Nak."  "Baik Bu, hati-hati di jalan," sahut Riza sembari tersenyum. "Ohh iya satu lagi. Jangan lupa nanti minggu depan kita akan mengadakan pesta besar-besaran, untuk merayakan kerja sama kita bersama perusahaan Ibu Meri ini. Kamu jangan sampai tidak datang ya Nak!" undang Hertanti ramah kepada Riza. Riza pun terkejut mendengar hal itu. Dia pun bingung harus berkata apa. Karena, dia tak punya baju yang pantas untuk menghadiri pesta mewah itu. Dia pun terdiam dan mencoba tersenyum saja kepada Hertanti. "Ahh, tapii Bu.. iya saya akan berusaha datang." sahut Riza agak ragu. Hertanti merasa pemuda itu seperti tak ingin menerima undangannya. "Ada apa Nak? Apa kamu tak ingin hadir di pesta saya?"  Pertanyaan itu seakan membuat Riza mati berdiri. Dia sangat takut jika Hertanti marah. "A, eng, enggak Bu. Saya hanya.."  "Hanya apa?" pungkas Hertanti. "Sa,saya hanya masih belum punya pakaian yang pantas untuk menghadiri pesta Ibu." jawab Riza sedih. Meri pun semakin luluh mendengar nya. Ia sangat memiliki peluang besar untuk mendapatkan pemuda tampan itu. Hertanti hanya tersenyum ramah kepada Riza. "Haha ini lah yang saya harapkan. Kamu mau terus terang kepada saya. Saya sengaja memancing kamu agar kamu mau menerima tawaran saya lagi. Saya juga mempunyai seorang putra Nak. Namun, dia sepertinya lebih tua dari kamu. Namanya Candra, nanti kamu akan saya kenalkan ke dia mengajak kamu berteman bersamanya untuk datang ke pesta. Dan kamu tenang saja, masalah pakaian dan jemputan, akan saya siapkan semuanya untuk kamu." bujuk Hertanti dengan panjang lebar. Betapa terkejutnya Riza mendengar hal itu. Dia sangat takut. Bersamaan dengan putra anak kaya raya dari seorang CEO?  Lebih parah dari dia bersama dengan Karu. Meri menganggukkan kepalanya tanda setuju akan hal itu. Riza sangat tak percaya dan dia pun mencoba menolak lagi namun Hertanti menahannya. "Sudah, kamu jangan menolak ya. Kanu tenang saja Candra putraku adalah orang yang suka berteman kok. Jadi saya akan membuatnya akrab dengan pemuda baik sepertimu yang pantas menjadi temannya bahkan adiknya," ucap Hertanti menahan Riza. Riza hanya sangat berterima kasih. Dia pun hanya mengangguk kepada Hertanti. "Kamu tinggal suruh saja Karu untuk mengantarkan kamu mengambil baju ke saya nanti untuk persiapan pesta nanti ya," sambung Hertanti. Riza pun tersenyum dan mengangguk mantap sekali lagi. Hertanti pun izin pergi kepada Riza. Riza sangat bahagia tak menyangka hari ini dia banyak mendapat keberuntungan. Namun, saat ingin pergi. Meri menatapnya dan membiarkan Hertanti berjalan duluan. Ia mendekati Riza. Riza sangat kaget dan takut. "I, Ibu mau apa?" Gertak Riza. "Hmhm, jangan kasar gitu dong." Meri malah menyeringai. Riza semakin takut dibuatnya. "Jujur, dari pertama kita bertemu di ruang manajemen tadi. Adek udah menarik hati tante," desahnya sembari membelai dagu Riza dengan lembut. Betapa terkejutnya Riza saat mendengar semua pernyataan itu. Dia pun langsung menangkis jari telunjuk Meri dari dagunya. Riza menjadi sangat takut dan terlihat dia sangat panik, wajahnya melotot kepada Meri, badannya bergetar hebat dari kaki sampai kepala, matanya terus terbelalak ketakutan. Meri pun kaget saat Riza menangkisnya. Namun, ia malah tersenyum dan terus menggoda layaknya wanita muda. "Okee Riza, sampai bertemu lagi." ujar Meri sembari ingin mencium pipinya Riza pun berteriak kecil. "Meri! Apakah kamu sudah siap?" Hertanti memanggilnya dan Riza pun sangat bersyukur. Ia mengurungkan niatnya itu lalu menyusul Hertanti agar Hertanti tak curiga. Namun, ia terus memandangi Riza sampai ia masuk ke mobil. Riza sangat ketakutan dan marah kepada wanita tua kaya raya bau tanah itu.  Hertanti melihatnya dan tersenyum, Riza mencoba untuk tenang agar Hertanti tak tau tentang kejadian yang baru terjadi kepada dirinya tadi karena ulah rekan kerjanya yang biadap itu.  Riza pun sangat cemas, panik dan takut, dia masih gemetaran, keringatnya semakin bercucuran. Dia pun berteriak kecil lalu pergi dari tempat itu. . . . Dia berlari dan terduduk lemas, dia masih ketakutan dan gemetar akibat kejadian tadi. Dia sangat tak menyangka mengapa orang yang baru saja di temui dan tidak kenal bisa seperti itu kepada diri nya. Alhasil, dia menjadi seperti orang yang trauma. Riza memang pemuda yang polos dan memang belum pernah melakukan apa-apa dengan wanita. Maka dari itu, dia masih tidak biasa akan hal itu. Apalagi yang ingin melecehkannya adalah seorang wanita tua yang klerot. Dia sangat trauma dan menjadi gelisah sendiri. Dia mencoba menenangkan diri  nya sendiri. Dia mengelap peluhnya dan mengatur nafasnya yang sedari tadi ngos-ngosan karena menahan ketakutan.  Dia terus gemetaran dan memeluk lututnya. Dan tiba-tiba ada yang memegang bahunya. "HAH!!" Riza langsung teriak seakan ingin memusnahkan tangan itu. "Hey, aku Karu."  Ternyata itu adalah tangan Karu. Riza pun menjadi planga-plongo sendiri. Dia memandang Karu dengan panik dan cemas. Karu heran mengapa dia menjadi seperti orang yang sangat ketakutan seperti itu. "Ada apa? Kamu nggak kenapa-kenapa?" tanya Karu mengerutkan keningnya. Riza pun meneguk air liurnya. Dia tidak ingin bilang ke bosnya sendiri tentang perlakuan buruk orang yang ingin bekerja sama dengan perusahaan mereka itu. Karena Riza tak ingin Karu marah kepada dirinya karena menuduh dan mengira memfitnah Ibu Meri. Riza mencoba membuang semua ketakutannya tadi agar Karu tak khawatir. "Uh, ma, maaf Bu. Sa, saya hanya kecapean." jawab Riza gagap dan tak beraturan. Karu menghela nafasnya pelan, dan mengedipkan matanya. Sepertinya dia iba kepada Riza. "Ya sudah, kamu pulang aja. Ini juga sudah jam 4 sore kok. Bentar lagi aku juga bakal pulang," saran Karu sembari menatap Riza dengan lembut. Riza tak menyangka bahwa hari sudah menunjukkan jam 4 sore. Dia memang sangat menghayati pekerjaannya tadi sampai Karu, Meri dan Hertanti selesai meeting.  Juga karena Meri yang tiba-tiba memperlakukannya seperti itu tadi. Dia membelalakkan matanya tak percaya. "Udah jam 4?" tanya nya tak percaya. "Iya, ini." sahut Karu sembari memperlihatkan jam tangan manisnya. Riza membuang nafasnya lega. Matanya ia pejamkan sembari membuang nafas. Karu pun tersenyum melihat nya. "Iya, sekarang kamu percaya kan? Ya sudah silahkan pulang." kata Karu lembut. Riza menatapnya. Dia seperti merasa ada yang berbeda dari Karu. Karu pun malu dan mengalihkan matanya ke bawah. Ia terlihat dalah tingkah. Riza hanya ternganga dan seakan tak percaya di perlakukan Karu sebaik itu. "Ahh, iya. Terima kasih banyak Bos. Kalau begitu. Saya pamit duluan ya Bu," Riza tersenyum sumringah. Dia tersenyum lebar kepada Karu, membuat lesung pipi di pipi kiri nya terlihat sangat jelas serta gigi gingsulnya sebelah kanan nya yang menjorok ke dalam, betapa manisnya senyuman pemuda itu. Semakin membuat Karu terpesona dan salah tingkah. Ia membelalakkan matanya yang bulat itu memandang kagum kepada Riza. Karu pun malu dan membuang pandangannya ke bawah. Riza pun bingung dengan muka polosnya. "Ibu kenapa?" tanya Riza. Karu sadar lalu ia mencoba mencari alasan agar tak ketahuan Riza bahwa diri nya sedang mleyot melihat senyumannya. "Enggak, enggak papa. Kamu pulang aja." jawabnya datar. Riza pun mendatarkan matanya. Dia sangat bosan melihat tingkah Karu yang memang dingin seperti biasa itu. "Hehe, sukurlah kalau tidak ada apa-apa." ucap Riza nyengir. Karu pun menatapnya. Riza menghentikan ketawanya. Karu tersenyum. Riza pun merenggangkan matanya sembari tersenyum melihat nya. Ia tak percaya Karu tersenyum manis lagi kepadanya. Dia membalas senyuman Karu dengan tawa. Dan mereka pun sama-sama tertawa. "Saya bersyukur bisa mempunyai Bos yang baik hati dan pengertian seperti Ibu," puji Riza. Entah mengapa sore itu mereka bisa bersama lebih lama. Karu juga sepertinya ingin berlama-lama dengan Riza. Apa memang benar-benar Karu telah menyukai Riza sekarang. Karu mendengar hal itu menyeringai. "Terimakasih," jawabnya singkat. Riza mengangkat keningnya. Dia bingung harus mencari topik apa lagi untuk bisa berbincang sekedar basa-basi sekali-kali dengan bos pendiamnya itu. Memang Karu tak pernah membuka pembicaraan karena ia memang orang yang pemalu dan pendiam. Riza hanya nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya. "Kamu berangkat kerja pakai apa?" tanya Karu Riza tak percaya ternyata Karu peka kepada dirinya dan mencoba membuka pembicaraan dan mencari topik kepada diri nya. Dia pun sangat heran dan merasa sangat langka kejadian itu terjadi. "Ummmm, pakai motor." jawab Riza semangat sembari salah tingkah. "Ohh iya?" balas Karu sembari mengalihkan pandangannya memandangnya. "Hehe iya," sambung Riza malu-malu. "Motor matic?" ujar Karu lagi. Riza sangat tak menyangka mengapa hari ini sangat tumben sekali Karu mengajaknya bicara terus-menerus seperti ini. "Ehee iya Bu, soalnya matic enak. Tinggal starter langsung jalan." jawab Riza nyengir. "Hmm, iya bener sih. Tapi kalau mobil sebaliknya loh menurutku." sahut Karu tertawa kecil. Riza pun mengangkat keningnya. "Hah, ohh jadi kalau mobil lebih enak yang pake manual?" tanya Riza sembari melihat Karu. "Iya, karena kalau manual bisa di atur kecepatannya, tidak seperti matic. Matic bisa bahaya kalau nge gasnya nggak hati-hati," 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD