BAB 6

2013 Words
Riza memandangi wajah Karu yang sangat indah itu. Bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, pipi tirus serta bibir tipisnya saat berbicara sangatlah manis. Riza seakan melayang dan sangat menikmati pemandangan yang begitu menakjubkan itu. Dia hanyut sendiri. Mata bulat Karu itu menatapnya, seakan sadar akan semua hal itu. Bola mata coklat tua terangnya itu menatap semu ke arah Riza. Riza pun tersenyum melihatnya. Membuat Karu terdiam dan mengedipkan mata nya polos. "Hmm, begitu ya? Kalau begitu saya akan belajar membawa mobil juga agar tahu sepertimu." Riza terus menatap Karu. Pipi Karu memerah, ia merasa sudah tak tahan menahan perasaannya. "Apa kamu bisa nyetir?" tanya Karu nyengir kecil. Riza melotot sangat malu dengan pertanyaan itu. Haha dia masih belum bisa menyetir. "Hehe, ma-masih belum sih Bu," jawabnya pelan malu. Karu tertawa mendengar hal itu. Baru kali dia melihat Karu tertawa lepas begini. Dia pun terdiam kaku memandangi Karu. Betapa manisnya senyuman Karu, membuat Riza terdiam seribu bahasa, dia sangat bahagia dan seakan bermimpi bahwa dia bisa membuat wanita yang dia kagumi bisa dibuatnya tertawa walau dia merasa malu. Dia ikut tertawa malu. "Nggak papa, nanti kapan-kapan aku akan mengajarkanmu menyetir." Ucapan itu membuat pipi Riza memerah. Karu menghentikan tawanya, ia pun menatap Riza dengan senyuman termanisnya. Riza membalas menatapnya. "Te-terimakasih Ibu." Riza terbata gugup. Karu berdiri. "Ya sudah pulang saja sekarang, pergi istirahat dan jangan lupa makan," ucap Karu memberi perhatian. Semakin membuat Riza ternganga. Dia tak bisa menjawab Karu matanya tak bisa berkedip. Karu tersenyum kepadanya, ia pergi meninggalkan Riza. Barulah Riza bisa mengedipkan matanya berkali-kali. Dia mengangakan mulutnya tetapi tak bisa berkata. "HAH!!" teriaknya panik sendiri. "Hohh, ya ampun. Ada apa tadi? Kenapa?" "Kenapa Ibu Karu bersikap tidak biasa seperti itu kepadaku?" "Dan selalu tersenyum kepadaku? Padahal biasanya biasa saja dan tidak pernah memberi perhatian seperti itu?" "Apa dia ingin berteman denganku? Ta,tapi bukannya dia sudah mempunyai suami? Pacar? Tak mungkin orang secantik dan sekaya ia seperti itu tak memiliki cowok?" Dia panik sendiri dan bertanya-tanya pada dirinya. "Haahh sudahlah, untuk apa aku memikirkannya, terlalu lebay. Mungkin karena memang aku sudah lama kerja maka dari itu ia baik seperti dengan karyawan lainnya. Jangan geer Riza huhh," gerutu nya sembari mengetok-ngetok kepalanya sendiri. Dia juga meninggalkan tempat itu. . . . Pagi pun menyapa kembali. Seperti biasa Riza berangkat kuliah pagi hari namun sepertinya dia terlihat tidak badan. Dia pulang kuliah dengan sangat lesu dan pucat. Sepertinya dia sakit karena kecapekan menyelingkan waktu untuk kerja sembari kuliah itu. "Za, lu kenapa? Sakit?" tanya Saidi sembari memegang pergelangan Riza. "Waduhh, panas bro badan lu. Gue anter aja ya! Bentar gw panggil temen gw biar bawa motor gw." "Ahh ga usah di, nggak papa. Aku bisa aja kok," pungkas Riza menarik Saidi agar tak perlu repot-repot mengantarkannya. Riza memang orang yang tak ingin menyusahkan orang lain sekalipun dia dalam sekarat. "Lho, tapi lo pucat banget asli. Kalau kenapa-kenapa di jalan gimana!" ketus Saidi marah khawatir. Riza mencoba meyakinkannya agar tak mengkhawatirkannya. "Iyaa bisa aja kok di,gw nggak kenceng kok bawa motornya. Pelan-pelan aja ya bisa lah," jawabnya meyakinkan. Saidi pun akhirnya membolehkannya pulang dengan terpaksa karena memang keinginannya. "Huhh ya udah deh, hati-hati ya di jalan. Kalau sampai rumah chat gua," ucap Saidi kesal. Riza tertawa saat Saidi menyuruh men chatnya apabila dia sudah sampai ke rumah. "Dih perhatian amat kayak pacar," sahut Riza nyengir. Saidi bergidik jijik mendengarnya. Namun, dia juga hanya berpura-pura dia pun ikut tertawa. "Hih apaan! Gua cuman khawatir lu kenapa-kenapa kampret, sebagai sahabat ya kudu gitu lah!" ujar Saidi mengetik bahu Riza. Riza pun mengolok-oloknya sembari nyengir. Namun, dia berterimakasih kepada sahabat nya itu. "Hoohoo iya-iyaa deh. Ya udah makasih ya." Sahut Riza. Dia semakin lemas, dia pun mempercepat pulangnya. Saidi pun juga langsung menyuruh nya pulang saja dan tak lagi bercanda. Akhirnya dia pun pulang. Dia menahan pusing dan sakit kepalanya di sepanjang jalan. . Akhirnya dia telah sampai ke kostnya dengan selamat. Dengan tertatih dia turun dari motornya dan sangat bersyukur masih bisa selamat. Seluruh badannya gemetaran, dia melepas sepatunya, menaruh tasnya dan mencoba mengganti bajunya dengan pelan-pelan agar enak. Dan setelah selesai dia sangat lega, dia terlihat sedikit kejang saat merebahkan badannya ke kasur empuknya. Dia memang sakit parah, keringatnya bercucuran panas dingin, dia pun mengambil handuk yang ada didekat kasurnya dan mengelapnya. Dia pun mencoba memejamkan matanya agar mengurangi rasa pusing dan sakit. Syukurlah Shella menjenguknya karena saat Riza datang terlihat tak biasa dan lesu. "Ya ampunn Zaa, lu sakit?" Sembari berjalan mendekati Riza. "Ya Allahh, panas bener badan ni anak. Bentar ya kakak beliin Paracetamol dulu ke warung." ucap Shella panik, dia segera berjalan keluar dan membeli obat untuk Riza. Riza hanya mendengus menahan sakit, dia pun terus memejamkan matanya. Dia mencoba menahan sakitnya, dia terus menjilat bibirnya karena demam tinggi. Tak berapa lama Shella kembali datang membawakan obat yang ia beli tadi sembari membawa air putih di gelas dari dapur untuk Riza. "Nih Za, kamu minum ya? Kamu juga udah makan kan di kampus atau sebelum berangkat tadi?" ujarnya mencoba mendudukkan Riza pelan. Riza akhirnya berhasil bersandar dan meminum obat itu. Shella sedikit lega. "Ya sudah, kamu tidur aja dulu ya. Kakak keluar dulu ke rumah sebelah biar kamu tenang nggak keganggu, nanti kakak jenguk lagi kok." ucap Shella meyakinkan. Riza pun mengangguk pelan, dia pun merebahkan badannya lagi dan memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Shella sangat cemas melihatnya namun ia keluar agar Riza bisa tertidur pulas. Akhirnya Riza pun tertidur pulas. *** Karu sepertinya juga agak sedari lebih pagi tadi ia masuk kantor dan kelihatannya ia juga akan pulang sebentar lagi. Ia terlihat senang karena sudah menyelesaikan tugasnya hari ini. Ia menerima telpon dari seseorang dan mengiakannya. Ternyata ia hari ini ada sebentar pemotretan. Pas saja dengan waktu masuk kantor nya hari ini. Karu memang mempunyai kerjaan sampingan sebagai model majalah dan busana di sana. Saat ada waktu luang di kantor nya, ia mengisi jadwalnya dengan pemotretan yang selalu saja menunggu nya. Karena Karu memang memiliki body yang bagus serta wajah yang sangat cantik maka tak salah ia memang di jadi kan seorang model. Hari ini ia hanya di panggil untuk foto di suatu studio. Ia terheran mengapa Riza sampai sekarang belum masuk. Padahal ia ingin berniat kepada Riza untuk mengajaknya untuk menemani ia pemotretan. Ya, Karu sudah sadar dan mengakui dirinya menyukai pemuda polos itu. Namun sayang, niatnya ter urung karena pemuda itu sedang tidak masuk kerja sekarang. "Kok Riza nggak masuk sampai sekarang ya? Sudah jam stengah 1 loh," keluhnya sembari memperhatikan jam tangannya. "Kalau dia nggak masuk kenapa dia nggak izin sama aku nggak ngabarin aku? Emang dia kenapa?" tanya nya sendiri. "Aku telpon saja lah ya," Karu lalu menekan nomor Riza di handphone nya. . Handphone Riza berdering, Shella agak kaget ia pun dengan sigap mengangkat telpon dari Karu itu. Riza masih tidur lelap, Shella pun bersyukur. "Iyaa haloo selamat pagi dari siapa," sapa Shella mengangkat telpon. Karu kaget saat wanita yang mengangkatnya. Ia pun merasa cemburu dan kesal, sedih. Namun, ia masih mencoba berprasangka baik kalau-kalau wanita itu bukan siapa-siapa Riza. "Ah iya halo, ini siapa ya? Maaf apakah Riza nya ada?" jawab Karu. Shella heran siapa yang menelpon Riza dan saat ia melihat nama nya. Ia pun tahu bahwa itu Karu yang menelpon. "Ohhh ini Nona Karu ya? Maaf ya Non ini saya Shella kakak sepupu Riza," sahut Shella menjelaskan tersenyum. Karu mengangkat keningnya dan memperbesar bola matanya. Ia terlihat tenang sekarang ternyata seorang wanita yang mengangkat telponnya itu adalah Shella kakak sepupu Riza yang menemani Riza saat mereka mengantarkan Riza melamar kemarin, bukan pacar Riza. "Ahh hehe iya mba. Saya Karu. Oh iya, kenapa ya Riza nggak masuk kerja hari ini?" malu-malu Karu mengatakannya. "Ohh apa dia tadi nggak sempat izin sama Nona Karu? Maaf ya Non, Riza sedang sakit, badannya sangat panas, saat pulang kuliah dia sudah sangat lemas syukur lah dia tak pingsan saat di jalan," jelas Shella sedih memandang adik sepupu kesayangannya. Mendengar hal itu Karu kaget. "Hah benarkah Mba? Terus gimana dia sekarang?" tanya Karu khawatir. "Ehee Alhamdulillah dia sedang tidur pulas nih Non, setelah saya minumi obat Paracetamol tadi." jawab Shella sembari menekan-nekan kompres di kepala Riza. Karu agak lega mendengarnya. Ia pun sangat cemas mendengar hal yang Shella sampaikan ia mengerutkan keningnya gelisah. "Maafin Riza ya Non nggak sempat bilang izin ke Non," ujar Shella merasa malu dan bersalah. "Ah baiklah nggak papa kok Mba, makasih banyak ya Mba info nya." "Iya Non sama-sama terimakasih juga Non," Shella sangat bahagia. "Ee kalau boleh saya mau jenguk dia nanti sore-sore setelah saya selesai pemotretan, boleh nggak?" ucap Karu . Shella mengangkat keningnya sebelah, ia merasa seperti Karu sangat khawatir dengan Riza, lalu melihat Riza yang sedang lemas tertidur pulas itu. Ia kaget saat mendengar Karu se khawatir itu dengan dirinya. Ia pun tersenyum malu sembari menutup mulutnya agar tak kedengaran Karu. "Ohh boleh, boleh banget Non ngapain nggak boleh. Tapii apa nggak ngerepotin Non, nggak papa Non kalau Nona capek nggak usah kesian," sahut Shella memancing, ia sengaja menguji Karu. Apakah yang ia duga benar, Karu perhatian kepada Riza dan seperti suka kepada adik sepupu nya itu atau tidak. "Enggak papa kok mba, saya nggak merasa direpotkan. Lagian memang saya ingin melihat keadaan Riza sekarang." Karu langsung menyahut dengan sangat meyakinkan. Shella semakin tertawa mendengarnya. Ia terus mencoba menutup mulutnya agar tak terdengar Karu dan mengganggu tidur Riza. Ia merasa menjadi kantor pos untuk hubungan Karu dan Riza, ia pun menatap adik sepupunya dengan penuh tawa. "Ya ampunn, makasih banyak ya Non. Ya sudah hati-hati ya Non nanti di jalannya kami tunggu, juga semangat untuk pemotretannya hehe." jawab Shella nyengir. Karu tersenyum dan mengiakan Shella. "Iyaa makasih ya Mba atas izinnya, kalau begitu saya tutup dulu ya, Assalamualaikum." "Hehe iyaa Non Waalaikumsalam," Karu pun menutup telponnya. Ia sangat sedih mendengar hal itu. "Mantep juga ni adek gue dapat tante cantik kaya raya pula," ucapnya nyengir sembari menepuk kompres Riza pelan lalu keluar. "Ya ampunn, pantas saja Riza enggak masuk. Kesian banget, semoga tak apa-apa. Pengen banget langsung aku samperin, tapi sayang aku harus pemotretan dulu karena sudah ditunggu dari tadi. Duhh ya sudah, aku pergi dulu deh," gerutunya kesal sekaligus cemas kepada Riza. Riza memang sudah membuat hati nya luluh dan leleh seketika. Memang benar-benar tak di sengaja Riza membuka pintu hatinya yang sudah bertahun-tahun tertutup rapat dan tak bisa terbuka untuk siapapun. Namun, Riza dengan mudahnya membuka dan melelehkan hati wanita cantik dingin itu yang awalnya memang sekeras dan sedingin es. Karena Riza tak pernah memaksa Karu seperti semua yang naksir dan mendekati Karu lainnya. Mereka sering memaksa wanita itu dengan kasar maka dari itu Karu tak suka dan tak membalas mereka. Tetapi tidak dengan Riza, Riza hanyalah lelaki yang polos, tulus, dan tak bisa memaksa orang lain untuk menyukainya. Maka dari itu Karu luluh padanya. Juga dia juga selalu menuruti apa yang di perintahkan manajer cerdas itu. Dia tak pernah ngeyel ataupun mengeluh sedikitpun saat diperintahkan Karu. Walau Karu dulu pernah memarahi nya dan bahkan sering cuek, dingin kepadanya. Riza memang pemuda yang apa adanya. Tak sombong dan sederhana, dia juga tak mengikuti remaja-remaja yang nakal untuk trend dan terlihat keren seperti sekarang. Dan yang membuat Karu jatuh hati kepada nya adalah juga dia adalah tipe pemuda yang polos dan tidak genit, dia tak pernah sekalipun bersikap melecehkan atau bersikap genit kepada Karu dan wanita lainnya. Maka dari itu Karu jadi nyaman dekat dengannya. Padahal mereka sering berduaan di ruangan saat Karu butuh bantuannya. Dia juga tak pernah menggombal genit dan centil kepada Karu layaknya berondong-berondong lain atau lelaki yang pernah Karu temui. Itu lah yang membuat Karu tak ilfiel kepada nya dan menjadi jatuh cinta kepada anak lelaki satu ini. Dia memang anak laki-laki yang tidak seperti anak laki-laki atau lelaki pada umumnya. Riza memang pemuda yang baik hati dan ramah kepada semua orang karena memang dulu terutama almarhumah neneknya, paman serta tantenya lah yang mengajarkan semua itu kepada Riza. Juga ibu dari Shella yang juga sering menasehati nya agar tak menjadi seperti anak broken home di luar sana yang umumnya. Dia harus terus berbuat baik maka dari itu Riza menurutinya dan didikan almarhumah neneknya itu berhasil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD