Bab 7

2007 Words
Riza mulai terbangun dari tidurnya, dia mengedipkan matanya kuat ingin terbangun. Dia pun menggerakkan kedua tangan menggeliatkan tubuhnya pelan. Dia membuka matanya pelan. "Ughh,"  Dia merengek kesakitan, sepertinya dia baru sadar bahwa dia sekarang sedang demam parah. Dia memegang kompres di kepala nya. "Apakah ini kak Shella yang melakukannya? Syukurlah, terimakasih kak," lirihnya dalam hati sembari memejamkan mata nya lagi. Tak berapa lama Shella pun menjenguknya kembali. "Eehh Riza sudah sadar ya?" Tanya nya senang. Riza begitu bahagia mendengar itu. Namun, dia masih terlihat tak berdaya. "Yukk, makan lagi. Tadi Kakak belikan bubur ayam bandung di depan jalan situ. Biar kamu lahap makannya, kan bubur kesukaan kamu," kata Shella tersenyum sembari mengeluarkan Styrofoam yang berisi bubur ayam dari kantong kresek putih. Riza terus memegang kepalanya sembari membuka matanya pelan. Dia pun menatap kakak sepupu kesayangannya itu. "Maaf Kak, nggak lapar, masih nggak bisa makan," jawab Riza lemas. Orang sedang sakit memang wajar mengalami keadaan tak nafsu makan. "Iyaa paham kok, tapii walau kamu masih lemas kamu harus ada makan, biar cepat sembuh. Sedikiit aja, bisa ya?" pinta Shella. Riza mendengus pelan, dia pun mencoba bangun. "Eitt, bisa nggaakk? Kakak suapin kah?" ucap Shella nyengir. Ia seperti mengolok Riza, karena mereka memang suka bercanda. Riza mendengar itu bergidik agak malu, karena dia memang tak terbiasa di suapi. Memang sedari kecil dia tak pernah diberi kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Bahkan sedari kecil pun dia tak pernah disuapi lagi oleh ibunya. Ibunya memang benar-benar meninggalkan dan mencampakkannya. Maka dari itu dia terbiasa hidup sendiri dan tak bisa manja kepada siapapun. Riza memang anak yang kurang kasih sayang dari kecil. "Enggaakk. Aku bisa aja kok Kak," jawabnya ngeyel merasa malu, dia mencoba memaksakan dirinya.  Kakaknya pun tertawa melihat kelakuannya.  "Hahaa ya udah dah, nih. Hati-hati ya," ledek Shella nyengir sembari menaruh bubur ayam itu dan sendoknya pelan kepangkuan Riza, Riza pun mulai memakannya meski masih lesu, dia mencoba menyuap bubur itu sedikit demi sedikit. "Oh iya, atau..." Shella semangat tapi ia malah terhenti seketika, ia ingin memberi tahu bahwa Karu ingin menjenguknya. Namun, ia mengurungkan niatnya. Takut kalau Riza malah semakin berpikiran macam-macam. Riza menatap kakaknya heran. "Atau apa kak?" tanyanya heran dengan muka yang pucat. "Haduhhh, apa nanti aja ya aku beri tau? Atau nunggu Nona Karu biar suapin kamu jiaah," gumamnya tertawa dalam hati malu-malu sendiri. Riza mengerutkan dahinya makin heran melihat tingkah aneh kakaknya itu. "Kak?" Riza memanggil sekali lagi. Shella tersadar dan menghentikan tawanya itu. "Hah, ohh enggak. Enggak papa. Mak-maksud kakak atauu... Atau kamu mau beli makanan lain lagi buat keadaan sakit mu ini?" Sahut Shella sambil berpikir untuk menjawab pertanyaan Riza agar Riza berhenti menanyai nya dan agar dia lihat sendiri nanti apa yang terjadi. "Ohh, enggak kak. Makasih, ini aja aku udah cukup. Aku nggak bisa habisin. Sampai ini aja ya?" jawabnya menyeringai. Dia menutup bubur itu kembali dan mencoba merebahkan badannya lagi. Dia sudah tak tahan dengan pusing di kepalanya. Namun, saat dia merebahkan seluruh badannya. Matanya melotot, seperti ada yang dia lupakan dan sangat penting. Dia langsung bergegas membalikkan badannya dan melihat ke atas meja samping kasurnya. "Eh eh kamu mencari apa Riza?" Tanya Shella heran. "Handphone ku, handphone ku di mana Kak?" tanyanya panik. Shella dengan sigap mengambilkan handphonenya bekas ia menjawab telpon dari Karu tadi. "Kamu mau ngapain?" ujar Shella  "Aku mau izin sama Bu Karu kak," jawabnya.  Shella membukakan matanya lebar. ia menghalangi Riza untuk menelpon Karu lagi karena ia tahu bahwa Karu tadi sekarang sedang sibuk pemotretan. "Uummm! Enggak usah Za!" pungkas Shella sembari merebut handphone Riza.  Riza terheran-heran dan bingung mengapa kakaknya bertingkah aneh dari tadi. "Kenapa kak kenapa kakak..." "Tadii, Nona Karu udah nelpon kamu." Shella langsung memotong pembicaraan Riza. Riza mengangkat alisnya. "Iya, jadi saat kamu tidur tadi... Ia nelpon. Kakak yang angkat, terus kakak bilangin deh kalau kamu izin nggak masuk karena sakit," ucap Shella menjelaskan. "Ohh syukurlah. Terimakasih ya kak," Riza merasa lega. "Aku kira Kakak belum bilangin ke Ibu Karu tentang aku," sambungnya lega. Dia merebahkan kembali badannya ke kasur ternyamannya itu sembari menarik selimutnya. "Terus, apa kata Bu Karu?" Sambungnya lagi. Shella bingung ingin menjawab apa. Apakah ia bilang saja kepada Riza atau tidak kalau Karu ingin menjenguknya sebentar lagi. Ia masih berpikir keras sampai Riza membalikkan badan memandang dirinya penasaran. "Uhh, katanya ia akan menjengukmu nanti sore...," jawab Shella ragu. Riza pun mengernyitkan keningnya seakan tak percaya. Betapa senangnya dia mendengar hal itu namun di lain sisi, dia juga gugup dan malu Karu bertamu ke kost sederhananya ini. "Padahal udah kakak bilangin nggak usah jenguk Riza nya baik-baik aja kok, dan kakak bilang kami nggak mau ngerepotin, ia tetap ngeyel ingin ketemu sama kamu," jelas Shella sembari menatap Riza pasrah. Riza terlihat malu, dia akhirnya pasrah dan mengiakan Kakaknya. "Ohh begitukah kak, ya sudah biarlah beliau datang ke sini. Walau aku malu sama tempat tinggal kita. Karena kan beliau orang terpandang," jawab Riza pasrah. Shella menatap Riza dengan senyuman menyelidik. Seakan menyiduk Riza tertangkap basah dengan senang. Riza yang sembari memegang dahinya itu pun membalas tatapan nyengir kakaknya itu. Ia agak takut dan heran mengapa kakaknya seperti itu. "Kakak, kakak kenapa?" tanya Riza kesal. Namun, Shella terus tersenyum nakal. Riza pun makin heran dan membelalakkan matanya, hahaha.  "Kamu jadian yaaa sama Nona Karuuu..." tuduh Shella sembari nyengir malu-malu. Riza pun terkejut mendengar tuduhan kakaknya itu. Ia langsung membalikkan kepalanya walau dia masih merasa sangat pusing. "Ihh, enggak lah kak! Kakak jangan nuduh yang enggak-enggak lah," Protes Riza mengerutkan keningnya. Dia juga sebenarnya merasa malu. Pipinya memerah karena ulah kakaknya.  "Ohhh, kalau aja. Hahahaa," jawab Shella menyengir lebar. "Yaa, enggaklah. Masa iya Bu Karu mau sama aku," jawab Riza menyingkirkan ucapan kakak sepupunya itu dengan nada yang tak beraturan. Shella menutup mulutnya agar bisa menahan tawanya lagi. Riza melototinya kesal dan kembali rebahan.  "Iya iyaa deh," sahut Shella sembari tertawa. "Ya iyalah dia mau, dia suka sama lu karena berondong tampan." Gumam Shella dalam hati sambil menutup mulutnya terus menahan tawa dan ia malu-malu sendiri. Ia pun pergi keluar meninggalkan Riza agar ia bisa menghentikan tawa nya. Riza menjadi salah tingkah sendiri dan malu-malu tak jelas karena kakaknya. Dia menyelimuti badannya sampai atas kepalanya. . Tak lama kemudian, ada sebuah mobil yang masuk ke halaman mereka. Terlihat mobil itu berwarna biru tua mengkilat bagus. Shella pun heran siapa di dalamnya. Namun, ia teringat jika Karu ingin ke sini karena memang sudah Shella beri tahu alamat mereka di situ. Semua orang-orang di sana terlihat kagum dan melihat-lihat mobil bagus itu. Karena memang di sana rata-rata hanyalah orang kampung biasa yang jarang memiliki mobil yang bagus.  "Eh buset, siapa dah yang mau mampir ke kost an kita cuk," seru teman Shella heran. "Kayaknya bosnya Riza dah dateng," jawab Shella gugup. Temannya pun heran dan bertanya-tanya mengapa seorang bos kok mau kerumah karyawannya. "Ohh ada urusan ya?" tanyanya heran. Shella menganggukkan saja kepalanya agar tak menjadi gosip di tempat mereka. Mobil itu akhirnya berhasil terparkir rapi pas di depan jendela mereka. Ia pun keluar dengan pakaian yang sangat rapi dan manis. Ya, ia memang Karu. Teman Shella yang tidak mengenal Karu itu terlihat tercengang saat melihat Karu keluar dari mobilnya.  "Omaigot, buset langsing ramping banget badannya! Cantik banget pula insecure guah," pujinya sampai-sampai ia ternganga. Shella juga terkagum melihat Karu. Karu membalas melihat mereka. Mereka semakin ternganga melihat wajah cantik Karu. Temannya Shella juga semakin mengangakan mulutnya tak percaya. "What!! Itu, itu Bos nya Riza?" tanyanya tak percaya. Shella mengiakan Mia mengangguk. "Iya, dialah orangnya. Btw dia berteman juga kok sama Sarah sist," jawab Shella. "Ohh, jadi kemarin Sarah ya yang masukin adik lo ke perusahaan dia?" ucap Mia. "Iya, soalnya dia juga sih kata Sarah minta carikan OB," sahut Shella. Karu menghampiri dan menyapa mereka sembari tersenyum. "Ahh ternyata saya nggak salah, permisi," Sapanya sopan. Shella dan Mia hanya ternganga melihat dirinya dari atas sampai ke bawah. Karu agak heran dan malu mengapa mereka seperti itu. "Maaf, apa ada yang salah?" tanya Karu heran sembari menatap mereka malu. Mereka buyar dari lamunan mereka. "Ahhh enggakk kokk Mba, malah kami tercengang sama anda karena sangat cantik!" Sahut Mia tersenyum lebar, Mia memang tipe orang yang blak-blakan. Shella menjadi ikut malu dan tersenyum kepada Karu. Karu mendengar hal itu pun tertawa. "Hahaa, terimakasih. Kalian juga cantik kok," jawab Karu. Mia semakin tersenyum dibuatnya ia menepuk bahu Shella. "Ahahaha Mba bisa aja aamiinkan deh! Ya udah Shella anterin tu mba nya ke dalam," ujar Mia tersipu malu. Karu tertawa melihat tingkah lucu mereka berdua. "Iya mari sini Non!" kata Shella sembari memimpin Karu untuk masuk ke dalam.  Mereka berdua masuk. Tak lama mereka sampai ke depan pintu kamar Riza. Karu melihat sekelilingnya, ia terlihat heran. "Ayo masuk aja Non, Rizanya lagi rebahan kok," Shella tersenyum sembari membuka pintu. Karu mengangguk sopan, dan mereka berdua telah melihat Riza. Betapa sedihnya Karu melihat Riza terbaring lemas seperti itu. "Rizaa! Nih, Bos mu datang!" teriak Shella. Karu pun agak malu. Ia agak gugup saat Shella menyuruhnya untuk duduk di samping Riza. Riza membalikkan badannya berkali-kali dan. Mereka pun saling bertatapan. Betapa malu lnya Riza saat dia tahu Karu sudah ada di depannya. "Ibu, Ibu Karu?" tanya Riza kaget seakan tak percaya. Karu memberikan senyum kepada dirinya. Terlihat Karu juga membawakan parcel berisi buah-buahan untuk Riza. Riza mencoba bangun namun dicegat oleh Karu. "Nggak usah, kamu rebahan aja," pungkasnya sembari memegang bahu Riza. Shella yang melihat semua itu salah tingkah sendiri tersipu malu menutupi mulutnya, ia mulai ingin membiarkan mereka berdua saja dan ia tak ingin mengganggu momen mereka. "Aummm, sepertinya saya ingin keluar dulu nih ya," ucap Shella agak keras agar mereka mendengarkannya.  Riza semakin gugup saat Shella membiarkannya hanya berduaan dengan Karu di kamar, dia sebenarnya kesal karena Shella ingin meninggalkannya karena dia sangat malu kepada Karu. Karu menatap Shella dan mengiakannya. Betapa malunya Riza tak percaya saat Karu malah meng iyakan hal itu. Riza semakin bingung apa yang harus dia lakukan setelah ini. Shella pun berjinjit pergi dari kamar itu lalu saat keluar ia malah menutup pintu nya lalu berlari kecil. Kini tertinggal hanyalah mereka berdua. Riza kembali merebahkan badannya. Dia menatap Karu. "Makasih banyak ya Bu Karu, terimakasih telah menjenguk saya repot-repot begini," katanya malu. Karu hanya tersenyum, lalu ia langsung memegang dahi Riza, Riza jadi salah tingkah. "Badan kamu memang sangat panas, kamu istirahat saja ya sampai kamu sembuh, kalau sudah pulih baru kamu masuk kerja lagi, nggak papa kok," ucap Karu perduli.  Riza terhenyak, dia tergugu dan bibirnya kelu, dia tersenyum dan merasa bahagia Bosnya sangat pengertian seperti itu. "Iya Bu, terimakasih ya," jawabnya tersenyum senang. "Iyaa, ini aku bawakan sedikit buah-buahan. Kamu makan ya buat nambah vitamin, biar cepat pulih."  Riza sangat malu dan merasa sangat merepotkan Karu. "Ahh nggak usah Bu, buat Ibu aja. Perhatian Ibu pun udah cukup kok buat saya," gombalnya sembari menolak pemberian Karu. Karu meyakinkannya agar dia memang tidak merepotkan Karu. "Enggak, aku emang niat beliin ini buat kamu kok. Terima aja ya?" pungkas Karu lembut, ia menaruh parcel buah-buahan itu ke atas meja. Riza menatapnya lembut, dia sangat bahagia Karu memperhatikannya, tak pernah ada orang seperhatian Karu kepada dirinya. Dia tersenyum bahagia dan melupakan sakit di deritanya. "Oh iya, aku juga beliin ini. Aku pakai in ke kamu ya," ucapnya mengeluarkan sebuah kompres yang instan. Riza hanya pasrah dan membiarkan Karu menempelkan kompres ber gel biru itu ke dahinya. Mereka sekarang sangat dekat, Karu dengan hati-hati menempelkan itu ke dahi Riza yang lembut. Riza merasakan betapa lembutnya belaian dari jari-jari panjang Karu, dia menikmatinya, dia merasa seperti mendapat kasih sayang yang tulus yang bahkan Ibu atau semua wanita yang menaksirnya dulu pun tak pernah melakukan hal itu kepadanya. Dia menatap Karu penuh kententraman. Karu memang tak main-main kalau ia sudah jatuh cinta, ternyata Karu tipe orang meski cuek, dingin, kalem tetapi saat ia sayang maka ia akan sangat perhatian kepada orang itu. Ia akan selalu ada untuk orang yang ia sayangi dengan sangat tulus tanpa mengharapkan imbalan. Termasuk dengan Riza sekarang. Ia juga tak perduli dengan perkataan orang di sekitarnya, baginya kebahagiaannya bukan orang lain yang membuatnya. Tetapi dirinya sendiri dan orang yang ia cintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD