Riza masih trauma dengan kejadian siang tadi. Dia masih gemetar dan memeluk gulingnya erat. Dia terus ketakutan hingga dering dari telponnya membuyarkannya. Dia kaget karena saking takutnya, dia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia mengambil telponnya dan ternyata dari Karu.
Dia tak menyangka tumben sekali Karu menelponnya malam-malam begini. Namun, dia seketika teringat karena saat Meri menculiknya, sejak saat itu dia tak kembali lagi ke kantor. Mungkin karena itu lah Karu menelponnya, dia semakin panik dan bingung harus bilang apa ke Karu. Dia tak mungkin berkata jujur kepada Karu karena bisa-bisa masalahnya akan menjadi semakin rumit, dia hanya membiarkan saja dering dari Karu itu sampai mati. Dia memegang kepalanya bingung lalu menangis.
Shella mengetok pintu Lnya lalu membuka pintu kamarnya. Riza langsung memanggilnya sambil menangis.
"Hehh, kamu kenapa Rizaa? Ya udah cerita apa yang terjadi siang tadi sampai-sampai malam begini kamu masih ketakutan kek gitu, kenapa hmm?" tanya Shella mencoba menenangkannya.
Rahman kekasih Shella berbadan setara dengan Riza namun agak lebih kurus itu juga mencoba membantu menenangkan calon adik iparnya itu.
"Iya Dek, kamu kenapa? Bilang aja sama kami kakakmu dan aku akan membantu kok, ya?" bujuknya juga sembari memegang bahu Riza ramah.
Shella prihatin melihat kondisi adiknya sekarang ini.
"Ta,tadi kan Kak. Aku di culik tante-tante tua!" jawabnya terbata-bata.
Betapa terkejutnya Shella mendengar hal itu.
"Hah?! Siapa yang nyulik kamu Za?" jawab Shella kaget.
Sontak amarahnya langsung membara, Rahman mencoba menenangkannya.
"Apakah Nona Karu yang mau nyekap kamu itu?!" tuduhnya, karena hanya Karu lah yang berada bersamanya saat bekerja, juga tante-tante tua yang di katakan Riza.
"Hehh kamu jangan nuduh-nuduh orang sembarangan dulu dong sayang," pungkas Rahman menasehati.
"Enggak Kakk! Bukan Ibu Karu!" sahut Riza sedih.
Shella akhirnya percaya dan merasa sangat bersalah telah menuduh Karu yang tidak-tidak.
"Ohh ya ampun, maafkan Kakak Za. Kakak menyesal menuduh Non Karu yang tidak-tidak. Padahal Non Karu sangat baik kepadamu mana mungkin melakukan hal itu," jawabnya menyesal.
"Dia adalah orang yang sudah paruh baya Kak, seperti nya dia sudah 60 tahun lebih, huhh!" kata Riza sembari ketakutan saat mengingat hal itu.
Shella dan Rahman terbelalak kaget saat mendengar umurnya, mereka semakin kepo membara dan mendengarkan apa yang dikatakan adik mereka.
"HAH?! 60 TAHUN LEBIH?" sontak Shella dan Rahman bersamaan kaget.
Riza mengangguk pelan.
"Katanya dia adalah orang yang mau bekerja sama di perusahaan Ibu Karu Kak, karena perusahaan mereka itu lebih maju dan besar dibandingkan dengan perusahaan kami. Jadi, mereka ingin bekerjasama dengannya," jelas Riza tertatih-tatih.
"Iya terus?"
"Dan ternyata dia itu adalah nenek-nenek yang mata keranjang, dia sangat tak bisa melihat laki-laki muda seperti aku, kami juga tak sengaja bertemu saat aku mengasih dompet Ibu pemimpin perusahaan kami Kak, dia ada bersamanya dan melihatku. Dan aku tak menyangka saat setelah itu dia nekat mencari aku! Dia membohongi Om Supri dan menyuruhku untuk menemuinya di hotel dan aku ingin di sekap! Aku takut sekali kak tolong aku aku nggak mau lagi kerja di sana kak...!" jelasnya panjang lebar berterus terang tak tahan lagi memendam, dia mengeluh dan menangis kepada Shella dan Rahman.
Mereka juga benar-benar syok saat mendengarnya juga bergidik geli. Mereka tak percaya ada saja kelakuan orang-orang kaya yang tidak beretika seperti itu.
Mereka sangat prihatin kepada Riza.
"Astaga! Terus? Kamu sempat di kurungnya Dek?" tanya Rahman melotot khawatir.
"Iya Kak, tapi Alhamdulillah aku masih di selamatkan oleh yang di atas. Aku menendangnya lalu mngambil kunci itu dan keluar. Syukurlah saat aku keluar bodyguard dia yang juga sempat mencegat aku nggak lihat. Aku benar-benar panik dan takut saat itu Kak." jawab Riza sembari ingin menangis. Dia gemetar saat memberitahukan hal itu.
Shella dan Rahman menenangkannya dengan mengusap-ngusap belakangnya agar lebih tenang dan memberi kode bahwa mereka prihatin dan akan memberikan solusi untuk Riza.
"Alhamdulillah syukur banget kamu bisa selamat Za! Kakak juga benar-benar kaget saat kamu bilang ya Allahh keterlaluan banget tu orang mentang-mentang banyak duit! Ini nggak bisa di biarkan!" ucap Shella sangat marah, ia tak terima adiknya di perlakukan seperti itu.
"Iya aku juga sayang, ya udah Riza. Kamu istirahat aja ya. Jangan mikirin hal tadi lagi, kamu makan dulu ya jangan lupa." sambung Rahman sembari menyodorkan piring berisi nasi dan ayam goreng tepung kesukaannya. Riza sempat menolak. Namun, Rahman memaksanya akhirnya dia mau menerimanya.
"Riza, kalau kamu nanti kerja terus ada dia. Kamu telpon aja ya kami. Kami akan menyusul mu..."
"Tapi Kak, aku sangat takut. Dia enggak sendirian kak dia banyak bodyguard Kak aku takut! Walau aku laki-laki tapi kalau aku menghadapi 4 preman sekaligus aku juga bisa mati kak aku takut aku nggak mau lagi kerja di sana Kak," potong Riza tak terima, dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menangis dan mengelak tak ingin lagi bekerja di sana.
"Rizaa, kalau kamu nggak kerja lagi di sana bagaimana sama Non Karu? Masa iya kamu langsung resign begitu aja. Ya sudah, kalau kamu memang nggak mau kerja di sana lagi. Nanti bilang aja dulu ya ke Non Karu," jawab Shella sedih, dia mencoba menjelaskan kepada adiknya.
Riza teringat lagi dengan Karu, dia sangat-sangat tak bisa bilang kepada Karu bahwa ingin berhenti sekarang, karena Karu baru saja melatihnya untuk menjadikannya sebagai asisten pribadinya sekarang. Riza menjadi bingung.
"Aku harus bagaimana kak? Aku bingung," jawabnya menangis.
Rahman ikut berpikir keras.
"Aku paham kok Riza perasaanmu, kamu tak nyamankan dengan Non Karu," sahut Shella menatap Riza iba.
Riza mengangguk, dia menceritakan ke mereka bahwa Karu baru saja ingin menjadikannya sebagai asisten pribadinya.
"Benarkah? Ya ampun tu kan, ya sudah Riza. Jalani aja dulu ya sayang, kesian Non Karu kalau kamu tiba-tiba resign, apalagi dia udah baik banget sama kamu kemarin, dia jenguk kamu bawain kamu parcel sama obat kan?" lanjut Shella menekankan.
"Iya Dek, ada baiknya kamu lanjutin aja demi dia. Dan kalau nenek-nenek tua itu datang lagi ke perusahaanmu. Kamu bilang saja langsung ke Nona Karu, tapi katamu kamu akan jadi asisten pribadi nya kan sekarang?" sambung Rahman.
Riza semakin sedih terdiam lalu mengangguk.
"Nah berarti kamu aman Za sekarang, otomatis kamu pasti akan terus bersama Nona Karu sekarang. Dan kakak yakin nenek-nenek tua itu nggak bakal lagi bisa dekatin kamu." ucap Rahman meyakinkan.
Shella mengangguk tanda setuju dengan perkataan kekasihnya itu.
"Iya Za, mulai sekarang kamu harus jangan jauh-jauh dari Nona Karu. Biar nenek-nenek tua itu nggak bisa deketin kamu lagi oke?" sahut Shella sembari memegang bahu adiknya, ia menatapnya seakan yakin bahwa Riza bisa melakukannya.
Riza merasa dilema, dia masih takut walau dia selalu bersama Karu. Karena memang Meri adalah orang yang sangat cerdas, pasti dengan segala cara dan uangnya itu ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan bahkan Karu sekalipun tak akan bisa menghalanginya. Namun, Riza juga setuju dengan pendapat dan nasehat dari kakak-kakaknya itu. Dia tak bisa langsung meninggalkan Karu begitu saja karena dia sangat berhutang budi kepada Karu karena Karu adalah Bos yang sangat baik kepadanya. Tak semua orang bisa mendapatkan Bos begitu baiknya seperti itu ujarnya.
Setelah terdiam beberapa lama, Shella dan Rahman juga memberikannya waktu untuk memikirkan semuanya. Riza menganggukkan kepala.
Shella dan Rahman tersenyum melihatnya.
"Ya sudah, nggak usah kamu takut lagi. Aku yakin kamu masih khawatir lantaran nenek-nenek tua itu punya segalanya, tetapi dia pasti nggak mungkin berani melukaimu dan Karu karena Karu adalah kepercayaan nya Ibu Hertanti, kan katamu juga?" ujar Rahman meyakinkannya.
"Iya Za, dan kami janji. Kalau sampai kamu bertemu dengannya lagi. Maka kamu jangan tunda-tunda lagi untuk nelpon kami berdua ya. Kami akan selalu aktif untuk telponmu," sambung Shella menenangkan adiknya.
Riza menjadi agak tenang sekarang, dia mulai bisa tersenyum kembali.
"Iya, terimakasih banyak ya kak. Kalian udah perduli dan memberi saran sama aku," jawab Riza terharu.
Mereka mengangguk mantap sembari mengelus kepala Riza dan bahunya mempercayai Riza.
"Iyaa sama-sama, memang di tempat orang kaya seperti itu, kita memang selalu dianggap remeh oleh mereka," kata Shella mengerutkan dahi dengan tatapan kosong.
Rahman menunduk mendengus ikut kesal.
"Iya, maka dari itu kamu buktikan saja Riza sama mereka. Bahwa kita juga bisa mendapatkan apa yang kita mau tanpa bantuan dan ajakan mereka," sambung Rahman menggenggam bahu Riza kuat.
Riza menganggukkan kepala mantap tanda setuju, dia menyipitkan matanya tanda sangat marah dan ingin membuktikan itu.
Rahman merasa bangga padanya.
"Ya sudahh, kamu makan ya habiskan. Habis itu istirahat langsung dan tidur," perintah Shella sembari mengelus kepala adik kesayangannya itu.
Mereka tersenyum bersama dan bahagia. Namun, hari sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Rahman izin untuk berpamitan pulang. Karena memang Shella dan Rahman masih hanya berstatus pacaran, tetapi semua teman-teman nya tahu saja mereka tak berduaan di dalam. Mereka memang sudah izin untuk menjenguk Riza yang sedang terpuruk tadi. Maka dari itu Rahman menemani mereka sampai malam hari ini sekali itu saja.
"Ya udahh, kakak keluar dulu ya, kak Rahman juga mau pulang. Udah kemaleman nggak enak sama tetangga," kata Shella.
Akhirnya Shella dan Rahman izin keluar pamit dan Riza mengizinkannya.
Setelah selesai, Riza termenung lagi. Dia melihat layar telponnya dan memeriksa notif di atas layarnya.
"Riza? Kamu di mana? Kenapa dari siang sampai sore tadi kamu nggak balik lagi ke kantor?"
Isi chat w******p dari Karu, dia bingung membalas pesan Karu beralasan apa.
Setelah berpikir, dia menemukan ide untuk beralasan kepada Karu. Dia pun membuka chat dari Karu lalu mulai mengetik chatnya, tetapi sepertinya dia mengurungkan niatnya.
***
Karu masih memikirkan Riza, ia sangat khawatir mengapa Riza sejak siang tadi menghilang bagai di telan bumi begitu saja. Juga WA dan telponnya tidak aktif sampai sekarang dan tidak ada jawaban saat ia menelpon tadi. Namun, saat ia mondar-mandir di dalam kamarnya ia akhirnya mendapatkan telpon dari Riza.
"Riza? Huhh," tanya sangat senang sembari tersenyum. Ia pun langsung mengangkat telponnya.
"Iya halo?" sapa Karu.
.
"Iya halo, selamat malam Bu Karu," ucapnya gagap.
"Kamu kemana aja dari habis latihan tadi hah? Kenapa baru saja kamu mengabari saya?" selidik Karu dengan nada yang serius.
Riza agak takut jadinya, dia mendengar sepertinya Karu memang benar-benar marah padanya saat ini bahkan sampai Karu memakai bahasa forma lagi kepadanya seperti itu.
"Ma, maaf Bu saya... Saya tadi muntah Bu, saat selesai latihan. Magh saya kambuh lagi walau saya sudah makan. Entah kenapa, saya fikir mungkin karena saya baru sembuh dari sakit kemarin Bu..., jadii saya langsung pulang saja nggak sempat ngasih kabar sama Ibu, mm maaf," jelas Riza terbata gugup.
Dia sangat takut dan gugup saat berbohong itu kepada Karu. Karu pun terkejut mendengar penjelasan Riza itu.
"Ooh, jadi kamu sakit lagi? Apa besok kamu nggak bisa kerja dan latihan lagi?" ucap Karu mengerutkan keningnya.
"Ahh besok saya Alhamdulillah bisa kok Bu, soalnya saya dari pulang tadi saya tidur Bu setelah minum obat. Jadi, saya sekarang sudah sehat kembali. Ibu tenang saja," jawab Riza sembari menatap ke arah kanan mengingat perkataan yang sudah dia rancang.
Karu menghembuskan nafasnya pelan.
"Ya sudah, kalau kamu nggak bisa jangan dipaksa, nggak papa kok aku mengerti,"
"Enggak Bu, saya sudah sembuh kok dan besok saya akan masuk kerja lagi untuk bertemu dengan Ibu, terimakasih banyak Bu, sekali lagi saya mohon maaf," pungkas Riza meyakinkan.
Karu mempercayainya dan tak memaksanya, ia hanya mengiyakan apa kata Riza.
"Ohh ya sudah, kalau kamu bisa saja nggak papa kamu masuk besok. Besok jangan terlambat ya," sahut Karu.
Riza sangat senang karena alasannya berhasil membuat Karu tak curiga dan percaya dengannya.
"Iyaa Bu, terimakasih banyak ya Bu," jawab Riza sangat senang.
"Hehe iyaa, kamu istirahat saja ya sekarang," ucap Karu menyeringai.
"Iya Bu, Ibu juga ya. Kalau begitu saya tutup dulu Bu, Ibu pasti mau istirahat juga kesihan. Selamat malam," sahut Riza tersenyum lembut.
Karu bahagia saat di ucapkan Riza selamat malam, ia seperti salah tingkah. Ia pun juga sangat tenang dan tidak gelisah lagi saat Riza sudah mengabarinya.
"Haha iyaa selamat malam juga Riza, cepat sembuh ya,"
Mereka mengakhiri percakapannya.
"Pantas saja dia menghilang, ternyata maghnya kambuh lagi. Kasihan Riza, besok akan aku perhatikan lebih lagi dia," lirihnya.
Karu memang sangat menyayangi Riza sekarang, ia sangat perduli dan memperhatikan Riza. Ia akan terus mencoba memperhatikan Riza dan perduli padanya entah sampai kapan, Riza juga seperti nya masih tak peka dengan perasaan Karu sekarang.
"Sebenarnya aku gak tega banget bohongin Ibu," ujar Riza lirih merasa sangat sedih sambil menarik selimut sampai lehernya.
Mereka istirahat dan sama-sama menuju ke alam mimpi mengistirahatkan badannya untuk besok.